
Jam di dinding menunjukkan pukul 7 pagi. Jazz, Areksa, dan juga Alan masih setia duduk di depan ruang rawat Vyona. Ketiganya sama sekali tidak menutup mata barang sejenak saja, ketiga cowok itu berharap jika Vyona cepat membuka kedua matanya.
"Kenapa ona belum bangun!" Ucap Jazz tatapannya mengarah pada taman rumah sakit, di sana ada dua orang pasangan muda yang tengah memakan sarapannya. Si cowok terlihat sangat bahagia karena ceweknya terlihat sudah lebih sehat, jujur Jazz iri. Jazz juga ingin Vyona cepat sembuh seperti sedia kala, sungguh Jazz sangat rindu.
"Apa yang harus kita lakuin biar ona bangun!" Kini giliran Areksa yang buka suara, sementara itu Alan hanya bisa diam. Entah apa difikirkan cowok itu, karena dari tadi malam Alan lebih banyak diam.
"Bang Jazz gue bawain loe makanan nih" Azam yang baru saja datang langsung heboh sembari mengangkat rantang makanan yang ia bawa.
"Makan dulu boss, gue tau loe belum makan" ucap Rafa sembari menepuk pundak Jazz.
"Gue nggak lapar" ucap Jazz tanpa ekspresi sedikit pun.
"Gue tau loe sedih, tapi jangan nyiksa diri loe sendiri boss. Kalau Vyona tau loe kayak gini, dia pasti bakal sedih. Loe juga kak, bang" ucap Rafa sembari menatap tiga cowok yang penampilannya terlihat sangat kacau itu.
"Loe bawa apa, cil?" Tanya Areksa kepada Azam.
"Dedek Azam bawa nasi, capcay, ayam goreng. Tapi kalau rasanya nggak enak salahin aja bang Agam, sama bang Rafa karena tadi yang masak mereka berdua kak"
"Ayo makan, jangan sampai diantara kita ada yang sakit. Vyona butuh kita, kita harus kuat buat Vyona" ucap Areksa sembari merampas rantang yang Azam bawa.
Dengan segera Areksa memakan makanan itu, rasanya memang hambar di mulutnya tapi Areksa harus tetap memakannya, tubuhnya butuh asupan agar ia tak jatuh sakit.
"Enak kok, nih makan bang" ucap Areksa sembari menyuapi Alan.
Ketika satu suap nasi masuk kedalam mulutnya tiba-tiba saja air mata Alan jatuh membasahi pipinya. Biasanya kalau dirinya malas makan maka Vyona yang akan menyuapinya, Alan sangat rindu dengan sepupu cantiknya.
"Bangun dek, Abang kangen" gumamnya sembari mulai terisak.
Ini untuk pertama kalinya Areksa melihat Alan menangis seperti ini, sepupunya itu memang sangat jarang menangis. Tak heran jika Alan sering kali meledek Areksa cengeng.
Nahkan benar apa kata Alan. Baru saja melihat Alan menangis, sekarang Areksa juga ikut menangis. Areksa itu memang cengeng.
"Bang, loe jangan nangis. Gue juga ikut sedih lagi"
"Gue kangen Vyona, sa. Kalau gue bisa memilih, gue bakal milih buat pisah jarak sama Vyona. Ini benar-benar menyakitkan"
__ADS_1
******
"Karel bangun, ini sudah siang nak" ucap Dewi sembari menyibak gorden kamar Karel membuat cahaya matahari masuk dan menyilaukan mata.
"Masih pagi kan ma"
"Cepat bangun, kamu udah janji sama mama, papa kalau kamu mau cari siapa adik dari CEO gentala grup. Lalu kenapa kamu malah malas-malasan seperti ini!"
"Ck, Karel udah cari tau kok ma. CEO mereka katanya lagi di Jakarta, Karel udah atur janji sama mereka tapi sampai sekarang nggak juga ada balasan dari mereka"
"Kenapa kamu malah buat janji dengan mereka, mama cuma pengen kamu deketin adiknya. Setelah kamu mendapatkan hati gadis itu, kita bisa mendapatkan perusahaan kita lagi"
Karel nampak menghembuskan nafas jengah, mamanya selalu seperti ini kalau mempunyai keinginan. Gimana Karel bisa mendekati adik dari CEO gentala grup kalau Karel saja tidak tau dia siapa, gadis itu benar-benar sangat misterius.
"Ma, Karel buat janji biar Karel bisa dapetin hati CEO itu. Gadis itu begitu misterius ma, bahkan teman-teman Karel pun tak ada yang tau"
"Mama nggak mau tau ya, pokoknya kamu harus secepatnya mendekati gadis itu" ucap Dewi sembari meninggalkan kamar sang putra.
"Ahhh, pusing kepala gue. Masalah satu belum kelar, ada aja lagi masalah" karel mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya benar-benar terasa pusing.
"Nggak, ini bukan salah gue. Ini pasti emang akal-akalan dia. Sekalinya licik dan jahat, seterusnya akan tetap begitu bukan"
Dengan malas Karel beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi, hari ini ia ada janji dengan Aretha.
Gadis itu berjanji akan membantu Karel untuk mencari tau siapa adik dari CEO gentala grup itu. Karel juga berjanji meskipun nantinya gadis itu sudah ketemu Karel tidak akan meninggalkan Aretha, karel akan berusaha untuk terus mempertahankan hubungannya dengan Aretha. Karena menurut Karel, Aretha itu gadis yang baik dan juga penuh dengan kelembutan.
Sementara itu diruang lainnya, tepatnya dikamar kemal, Kenan tengah menyuapi putra keduanya.
"Pa"
"Kenapa sayang!"
"Papa jangan galak-galak sama Abang, kasihan bang Karel"
Kenan nampak mendengus ketika mendengar kemal berbicara seperti itu, sebenarnya Kenan juga tidak ingin begitu keras dengan putra sulungnya itu. Tapi satu-satunya harapan Kenan hanya ada pada Karel, tumpuan keluarga aswangga ada pada diri Karel.
__ADS_1
"Papa juga ingin, tapi dia satu-satunya harapan papa, cuma Abang kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita dari kehancuran"
"Maafin kemal, pa. Kemal cuma bisa nyusahin papa, mama, sama Abang. Kemal emang nggak berguna banget ya pa"
Kenan mengusap pundak kemal pelan sembari tersenyum. Jujur saja biaya pengobatan kemal memang membutuhkan biaya yang tidak hanya sedikit, tapi kemal juga merupakan berkah tersendiri untuk Kenan dan juga Dewi.
Dulu sewaktu kemal lahir perusahaan Kenan mengalami kenaikan yang begitu pesat, bahkan Kenan bisa mendirikan hotel dan juga restoran untuk Dewi. Tapi sekarang perusahaan itu telah raib di akusisi oleh gentala grup. padahal seingatnya ia tak pernah mencari gara-gara dengan mereka.
Kini yang bisa Kenan lakukan hanya mengelola hotel, dan juga restoran. Sedangkan Dewi, kini sedang membuka butik kecil-kecilan. Istrinya itu juga sudah mulai berubah sedikit demi sedikit, Dewi sudah tak seboros dulu. Bahkan ibu dua anak itu mulai meninggalkan kehidupannya yang begitu glamor.
"Bang, maafin gue. Gue nggak guna banget jadi adik, gue cuma bisa ngerepotin loe" batin kemal, sembari menatap fotonya dan Karel yang terletak diatas nakas.
******
Areksa dan Akbar kini tengah berada di taman rumah sakit. Areksa ingin membahas mengenai tabrak lari Vyona, karena kemarin Akbar mempercayakan semuanya kepada ayahnya.
"Jadi gimana hasilnya?"
"Belum ada petunjuk, sa. Setelah kejadian orang-orang langsung fokus sama Vyona sampai mereka melupakan pelaku. Tapi menurut penjual ice cream yang nabrak Vyona naik mobil sport warna putih"
"Mobil sport warna putih!" Ulang Areksa sembari mengerutkan keningnya.
"Iya. Loe nggak punya musuh kan, sa!"
"Ya nggak lah. Loe kan tau gue orangnya nggak suka nyari gara-gara, apa nggak ada cctv disekitar situ?"
"Loe kan tau, rumah gue di pelosok Eksa. Jadi jarang banget ada yang punya cctv"
"Rumah loe kan ada cctv"
"Lagi rusak"
Areksa nampak menerawang jauh kedepan, entah apa yang cowok itu fikirkan. Sebelum akhirnya ia kembali berucap. "Rumah yang paling ujung harusnya ada cctv dong, bar"
"Rumah haji Ali. Anjir gue sampai lupa, iya disana ada, sa. Bentar gue telfon ayah gue dulu"
__ADS_1
Tanpa membuang-buang waktu Akbar segera menghubungi sang ayah, untuk meminta bantuan agar segera mengecek cctv di rumah haji Ali.