I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
buah seri


__ADS_3

Setelah pergi meninggalkan rumah sakit, Jazz mengajak Vyona pergi ke danau yang dulu pernah mereka kunjungi.


"Kok kamu ajak aku pergi sih tadi Jazz!" Setelah sekian lama bungkam akhirnya Vyona buka suara juga.


"Aku ga tega lihat kamu nangis terus"


"Tapi sebenarnya aku masih pengen dengar penjelasan mama Jazz"


"Bodoh" ucap Jazz sembari menyentil kening Vyona, hingga sang empunya meringis.


"Sakit tauk" ujar Vyona sembari mengelus keningnya yang terasa sedikit panas.


"Otak kecilmu ini isinya apa sih! Tanpa kita harus dengar penjelasan lanjutan dari mama kamu, kita udah dapat simpulkan Queen"


"Kesimpulannya apa?" Tanya Vyona dengan memiringkan kepalanya.


"Mama kamu sayang sama kamu, tapi karena kamu memiliki mata yang begitu mirip dengan laki-laki itu membuat beliau tidak bisa berdamai dengan masalalunya sendiri"


"Tapi kalau mama sayang aku, kenapa mama sering pukul aku jazz?" Tanya Vyona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Mungkin itu salah satu hal yang dapat beliau lakukan untuk melampiaskan segala amarahnya. Mungkin kebanyakan orang berfikir mama kamu jahat, sering pukul kamu, sering bentak kamu. Tapi nggak banyak orang tau hal apa saja yang udah mama kamu lalui untuk membawa kamu kedunia ini"


"Apa mama dulu begitu menderita ya Jazz!"


"Mungkin. Setelah keluarga besar papa kamu tau, bahwa mama kamu berselingkuh bahkan sampai hamil dengan pria lain, sudah pasti keluarga besar papa kamu selalu menempatkan mama kamu pada posisi yang sulit"


"Kamu benar, aku emang pembawa sial ya" ucap Vyona sembari mulai terisak.


"Hey, lihat aku" ucap Jazz sembari memegang kedua pundak Vyona. hingga membuat Vyona yang awalnya menangis sembari menunduk, perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan menatap kedua netra teduh milik Jazz.


"Nggak ada yang namanya anak pembawa sial Queen. Semua anak yang terlahir di dunia ini adalah anugerah, jadi stop bilang kalau kamu adalah anak pembawa sial"


"Tapi mama menderita karena aku"


"Tapi kamu juga harus lihat perjuangan mama kamu ketika membawa kamu lahir ke dunia ini. Untuk melahirkan kamu ke dunia ini butuh pengorbanan yang tidak kecil Queen, jangan pernah lihat penderitaan mama kamu. Karena sejatinya orang tua akan melakukan apapun untuk anak-anaknya"


"Terus sekarang aku harus gimana Jazz. Harus dengan cara apa aku menebus semua perjuangan yang mama kasih buat aku?"


"Terus berbakti, dan juga hidup dengan bahagia" jawab Jazz sembari menghapus air mata Vyona. "Mulai sekarang jangan pernah bilang kalau kamu adalah anak pembawa sial, oke"


Dengan perlahan Vyona mengangguk dan segera menghambur memeluk Jazz, dan dengan penuh sayang pula Jazz membalas pelukan hangat Vyona.


"Udah jangan nangis lagi, masak antagonis cengeng sih"

__ADS_1


"Makasih ya, kamu selalu ada buat aku" ucap Vyona sembari mendongak menatap Jazz.


"Sama-sama pacar" ucap Jazz sembari tersenyum menggoda Vyona.


"Pacar ya! Hanya pura-pura ya Jazz, tapi ini berasa begitu nyata. Boleh nggak kalau aku minta untuk benar-benar jadi pacar kamu" gumam Vyona dalam hati sembari terus menatap wajah tampan yang kini ada didepannya.


"Udah melownya, aku petikin buah seri buat kamu. Kamu mau nggak?"


"Mau" jawab Vyona dengan penuh antusias, hingga membuat Jazz merasa gemas sendiri kepada gadis itu.


******


"Mama habis ngomong apa sama Vyo?" Areksa menatap intens sang mama yang kini tengah menangis.


"Mama cuma minta maaf sama adik kamu Eksa. Mama takut kalau umur mama nggak lama lagi, sedangkan mama belum minta maaf sama Vyona"


"Mama ngomong apa sih! Jangan ngomong yang nggak-nggak"


"Tante pasti bakal sembuh, aku sama Eksa pasti bakal nyari donor hati buat Tante"


"Eksa, Alan" panggil Dahlia sembari merentangkan kedua tangannya, berharap dua anak tampan itu memeluk dirinya.


Tanpa diminta lagi Areksa dan juga Alan langsung saja memeluk Dahlia. Dengan penuh sayang Dahlia kecup pipi Areksa dan juga pipi Alan secara bergantian. Dua anak laki-laki yang selama ini ia asuh dengan penuh dengan kasih sayang, dua anak laki-laki yang sangat Dahlia banggakan.


"Mama ngomong apa sih ma! Mama pasti sembuh, jadi jangan ngomong yang nggak-nggak ya ma"


"Eksa, tubuh mama sakit nak. Rasanya sakit semua, mama juga nggak tau sampai kapan mama akan bertahan. Kalaupun mama harus pergi, kalian harus ikhlaskan mama ya"


"Tante nggak boleh pergi. Dulu Tante pernah janji sama Alan, kalau Tante akan selalu ada buat Alan. Tante nggak akan ninggalin Alan, seperti papa, dan mama yang ninggalin Alan"


"Abang kan sekarang udah besar, Abang bukan anak kecil lagi yang harus Tante Nina boboin"


"Tapi sampai kapanpun Alan tetap butuh Tante. Maaf kalau Alan kemarin sempat bentak Tante, tapi itu karena Alan kecewa sama Tante, Alan benci ketika tau Tante jahat sama Vyona"


"Tante paham sayang. Jangan nangis, Abang kan yang paling kuat dibanding adik-adik"


"Jangan kemana-mana Tan, jangan pergi" ucap Alan sembari memeluk erat tubuh Dahlia.


"Tante masih disini kan bang, tapi kalau Abang peluknya kayak gini Tante bisa langsung meninggal bang" ucap Dahlia sembari menepuk punggung Alan.


"Maaf, Alan terlalu takut ma"


Dahlia tersenyum dengan haru ketika Alan memanggil dirinya dengan sebutan mama, hal itu sudah Dahlia nanti-nantikan dari lama, akan tetapi Alan selalu menolak untuk memanggilnya mama.

__ADS_1


"Abang panggil apa tadi?"


"Mama"


Air mata Dahlia kembali jatuh. Di rengkuhnya tubuh Alan kedalam pelukannya.


"Terimakasih sayang" ucap Dahlia.


"Mama harus sembuh, buat Abang, Eksa, dan Vyona"


Bukan jawaban yang Alan dapatkan, tapi pelukan Dahlia yang mulai mengendur seiring dengan tertutupnya mata wanita paruh baya itu.


"Mama" Areksa berteriak heboh ketika melihat sang mama memejamkan matanya.


Alan yang melihat hal itu segera memencet tombol emergency, perasaan takut yang sedari tadi ia rasakan sekarang bertambah lebih parah.


Tak berselang lama dokter Angga datang bersama dengan dua orang perawat.


"Areksa, Alan ada apa?" Tanya dokter Angga dengan tergopoh-gopoh.


"Nggak tau dok, tadi setelah mama peluk Abang. Mama pingsan"


"Kalau begitu kalian tolong tunggu di luar dulu ya"


Dengan patuh kedua laki-laki tampan itu pergi meninggalkan ruang rawat Dahlia, untuk memberikan ruang bagi tim medis untuk memeriksa keadaan Dahlia.


"Alan, Areksa Kenapa kalian diluar?"


"Papa" Areksa nampak terkejut melihat kedatangan sang papa, pasalnya selama Dahlia dirawat di rumah sakit Agra sama sekali tidak mau menjenguk, tapi lihatlah sekarang Agra datang.


"Kalian kenapa diluar?"


"Mama tiba-tiba pingsan om, jadi sekarang dokter Angga sedang memeriksa keadaan mama" terang Alan.


"Manggil Dahlia mama, lantas kenapa manggil saya om" ucap Agra dengan melotot galak.


"Om jelek banget kalau melotot kayak gitu. Kenapa juga dulu mama punya adik yang jelek kayak om Agra"


"Berdosa sekali kamu nak" ucap Agra sembari memegangi dadanya.


"Abang cuma bercanda pa" ucap Alan sembari memeluk Agra "makasih selama ini udah sayang sama Abang"


"Nggak usah berterimakasih bang. bagi papa, kamu, Eksa, dan juga Vyona adalah harta yang paling berharga yang papa punya di dunia ini" ucap Agra sembari mengelus punggung Alan

__ADS_1


__ADS_2