I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
malam tahun baru


__ADS_3

Setelah sampai rumah Vyona segera menyiapkan segala perlengkapan yang akan ia bawa ke puncak Bersama dengan teman-temannya.


Vyona begitu senang ketika bisa pergi berlibur bersama teman-temannya, ia fikir ia akan dirumah saja seperti tahun kemarin. Pasalnya tahun lalu Karel tidak mau diajak pergi, dan Karel pun juga melarang Vyona untuk ikut Astrid pergi ke puncak.


Tapi siapa sangka tahun ini ia bisa pergi, ikut merayakan tahun baru bersama teman-temannya. Vyona sungguh tak menyangka jika Jazz akan menerima ajakan Astrid untuk pergi ke puncak.


Setelah menyiapkan segala keperluannya, Vyona bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Setelah hampir 30 menit akhirnya Vyona telah selesai mandi, ia pun segera memoles bedak dan lipstik tipis diwajahnya.


Tokk.. tokkk... Tokk


"Masuk" ucap Vyona begitu mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Non" panggil mbok sum sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Kenapa mbok?"


"Teman-teman non Vyo udah nunggu diluar"


"Mereka udah datang mbok?" Tanya Vyona dengan panik, pasalnya gadis itu belum selesai make-up, rambutnya pun belum ia keringkan.


"Iya non, mereka baru saja datang non"


"Suruh tunggu sebentar ya bik, Vyo belum keringin rambut ini"


"Baik non" ucap mbok sum sembari berlalu pergi.


"Ishh mereka kok cepet banget sih. Ahh iya gue lupa mereka pasti udah pada packing dari kemarin, sedangkan gue baru packing"


Lagi-lagi pintu kamarnya diketuk dari luar, hingga membuat Vyona kesal sendiri. Padahal ia sedang berusaha memakai make-up kilat.


"Masuk"


Setelah terdengar suara pintu terbuka Vyona segera nyerocos tanpa melihat siapa yang datang.


"Kenapa lagi sih mbok? Vyo kan udah bilang, suruh mereka tunggu dulu. Vyona belum kelar ini"


"Sejak kapan aku jadi mbokmu!"


Suara ini, Vyona hafal betul. Ini suara Jazz, bukan suara mbok sum.


"Jazz, kamu ngapain disini?"


"Mau bantuin kamu packing, udah packing nya?"


"Udah kok" jawab Vyona sembari menunjuk koper yang ia taruh didekat ranjang.


"Aku bantuin keringin rambut kamu" ucap Jazz sembari mengambil hair dryer Vyona dari atas meja.


"Emangnya kamu bisa?"


"Bisa dong, aku sering bantu keringin rambut bunda"


"Oh ya?"


"Emt"


Vyona hanya bisa tersenyum ketika Jazz mulai mengeringkan rambutnya, ternyata cowok itu benar-benar bisa mengeringkan rambutnya. Bahkan cowok itu terlihat begitu telaten.


"YaAllah jantungku kenapa ini" gumam Vyona dalam hati sembari memegangi dadanya.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit"


"Aku gapapa, kamu sering ya ngeringin rambutnya Tante"


"Iya dulu waktu masih di rumah"


Vyona kembali tersenyum, cowok sedingin Jazz ternyata memiliki sisi lembutnya juga. Betapa beruntungnya pasangan Jazz nanti.


Pasangan! Kenapa ketika memikirkan itu hati Vyona terasa sakit. Bagaimana jika suatu saat nanti Jazz menemukan tambatan hatinya! Itu tandanya jazz akan meninggalkan dirinya bukan.


Kenapa rasanya Vyona seperti tidak ikhlas jika Jazz akan meninggalkan dirinya, atau jangan-jangan Vyona mulai jatuh hati kepada cowok dingin ini.


"Nah udah selesai, yuk berangkat sekarang" ucap Jazz sembari mematikan hair dryer milik Vyona. Merasa gadis didepannya tak ada pergerakan Jazz menatap Vyona dari pantulan cermin, dapat Jazz lihat gadis itu kini tengah melamun.


"Hey lagi mikirin apa sih? sampai bengong gitu" tanya Jazz sembari memegang kedua pundak Vyona.


"Ahh, gapapa kok. Yuk berangkat" ucapnya sembari berjalan mendahului Jazz.


Sementara itu Jazz segera mengambil koper milik Vyona, namun begitu ia ingin mengambil koper milik Vyona tak sengaja matanya melihat sebuah figura kecil diatas nakas, didalamnya terdapat foto dua bocah cilik yang tengah berpelukan.


"Jazz, kamu ngapain Malah bengong di situ sih!"


"Ahh gapapa Queen. Ini siapa?" Tanya Jazz sembari menunjukkan figura kecil ditangannya kepada Vyona.


"Ohh itu aku sama jijiel, teman masa kecil aku"


"Sekarang dimana?"


"Entahlah, dia pergi ninggalin aku gitu aja. Bahkan tanpa berpamitan"


"Kamu sayang dia?"


"Tentu, dulu dia berjanji bakalan nikahin aku. Haha lucu ya, padahal dia masih kecil. Aku tebak sekarang dia pasti jadi **** boy" ucap Vyona sembari terkekeh.


"Kamu pasti kangen banget ya sama dia"


"Emt, kangen banget. Aku cuma bisa berdoa di manapun dia berada, semoga dia sehat selalu"


"Dia pasti juga kangen sama kamu Queen"


"Semoga saja. Aku takutnya dia malah lupa sama aku"


"Siapa juga yang bisa lupain cewek secantik kamu"


"Ihh gombal ya. Ternyata cowok kulkas kayak kamu bisa gombal juga"


"Nggak gombal, ini fakta. Yaudah berangkat yuk"


Vyona dan Jazz pun segera turun menuju lantai dasar. Dibawah sana sudah nampak ada Ghea, Rafa, Andi, Riri, Astrid, dan juga Niko.


"Buset, loe berdua ngapain aja sih didalam kamar!" Ucap Riri sembari bersidekap dada.


"Tauk lama bener. Jangan bilang loe berdua nyicil mau bikinin gue keponakan lucu" timpal Astrid.


"Lambemu beb, kalau ngomong di filter dong. Disini ada Ghea, kalau kepolosan Ghea ilang, bisa dibunuh Rafa kamu" ucap Niko berusaha mengingatkan sang kekasih.


"Maaf-maaf keceplosan"


"Emang caranya nyicil keponakan lucu gimana trid?" Tanya Ghea sembari memainkan kancing kemeja Rafa.


benarkan apa kata Niko, si bocah polos itu pasti langsung bertanya, pada akhirnya Astrid hanya dapat merutuki kebodohannya sendiri.

__ADS_1


"Loe pengen tau ge?"


"Iya. Emang caranya gimana Ri?"


"Loe ajak Rafa main adik-adikan"


"Emang gitu bisa?"


"Bisa lah. Nanti setelah pulang dari puncak, loe ajak Rafa main boneka Barbie ya"


"Oke deh Riri" ucap Ghea dengan penuh semangat.


"Sesat loe ri" ucap Rafa sembari melotot galak.


"Biarin dari pada gue rusak kepolosan cewek loe"


"Udah ah ayo berangkat, nanti keburu kemalaman sampai sananya" ajak Astrid.


Dengan segera mereka keluar dan segera masuk kedalam mobil masing-masing. Sebenarnya mereka hanya menggunakan dua mobil saja, mobil milik Jazz dan juga milik Niko.


Karena mereka berdelapan akhirnya dibagi satu mobil empat orang. Di mobil Jazz ada Vyona, Ghea, Rafa, dan juga jazz sendiri. Sedangkan mobil milik Niko ada Astrid, Niko, Andi, dan juga Riri.


******


Sudah hampir tiga jam mereka berkendara namun tak kunjung sampai karena kondisi jalan yang sedang macet, dan ditambah dengan hujan deras.


"Masih lama ya?"


"Bentar lagi juga sampai V, sabar dong" ucap Rafa yang memang sudah tau lokasi villa milik Astrid.


"Gue kebelet Rafa"


"Kenapa tadi kamu nggak bilang, kita kan bisa berhenti di SPBU tadi"


"Tadi belum kebelet" ucap Vyona sembari nyengir, menunjukkan deretan giginya.


"Yaudah tahan bentar ya" ucap Jazz sembari mengelus puncak kepala Vyona, sedangkan Vyona hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah hampir 10 menit akhirnya mereka sampai juga di villa milik Astrid.


Begitu sampai Vyona langsung saja keluar dari dalam mobil dan menerobos derasnya hujan. Vyona benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi, rasanya sudah di pucuk dan sudah hampir keluar. Kalau ia tidak cepat-cepat ke kamar mandi bisa-bisa ia kencing di celana.


"Queen, astaga kenapa hujan-hujanan sih. Kalau loe sakit gimana" lirih jazz namun masih mampu di dengar oleh Rafa dan juga Ghea.


"Elah khawatir banget keliatannya boss"


"Bachoot. Udah ayo keluar"


"mau ikut hujan-hujanan juga!"


"Itu penjaga villa bawain patung bege"


Setelah masuk kedalam villa Jazz segera meminta handuk untuk Vyona, setelah tadi gadis itu menerobos hujan, sekarang bajunya pasti basah. Kalau tidak cepat di keringkan, bisa-bisa Vyona sakit.


"Maaf buk apa ibuk punya handuk bersih? Soalnya tadi pacar saya langsung nerobos hujan"


"Oh ada den, tunggu sebentar ya" ucap wanita paruh baya yang tadi sempat dipanggil Astrid dengan sebutan bu asma.


"Lega banget" ucap Vyona begitu baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Bandel banget sih, basah kan baju kamu. Nanti kalau sakit gimana!" Seru Jazz sembari memeriksa baju Vyona yang memang basah, dan juga lembab.


"Makasih ya buk"


"Sama-sama den. Kalau gitu ibuk ke belakang dulu mau buat teh jahe biar bisa hangatin tubuh kalian" ucap Bu asma sembari pamit ke belakang.


"Nih keringin, aku ke mobil dulu ambilin barang-barang kamu. Biar kamu bisa langsung ganti baju" ucap Jazz sembari menyerahkan handuknya kepada Vyona, sebelum akhirnya cowok itu keluar untuk mengambil koper milik Vyona.


"Jazz dingin kayak kulkas gitu, bisa sweet juga ya V" ucap Astrid sembari menyenggol lengan Vyona.


"Justru yang dingin kayak gitu idaman trid" timpal Riri.


"Lah kok bisa?" Tanya Astrid dan Ghea secara bersamaan.


"Ya iya. Cuek sama cewek lain, tapi care sama cewek sendiri"


"Iya juga sih" gumam Astrid sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah Jazz masuk dan menyerahkan koper yang ia bawa kepada Vyona, gadis itu segera diantar ke kamar oleh Astrid untuk ganti baju.


"V, gue tidur Ama loe ya" ucap Riri yang baru saja menerobos masuk"


"Hlah, nggak bisa. loe sama gue lah" Astrid langsung saja protes begitu Riri bilang ingin tidur bareng Vyona.


"Dihh apaan dah, loe tidurnya ngorok trid. Tidur aja sama Ghea, kalian berdua cocok tuh, sama-sama suka ngorok"


"Yaudah gue tidur bareng Ghea. Hati-hati V, Riri suka ileran kalau tidur"


"Bachot, keluar sana loe" ucap Riri sembari mendorong tubuh Astrid keluar dari kamar.


"Temen dakjal loe ri. Bisa-bisanya gue loe usir dari villa gue sendiri" teriak Astrid dari luar kamar.


"Loe kenapa Ri? Tumben nggak mau tidur sama Astrid"


"Males gue, Niko suka nempel sama Astrid"


"Emang mereka kalau pacaran ngapain aja?"


"Ya loe paham lah ya, cewek sama cowok kalau dikamar ngapain aja"


"What? Mereka nggak mungkin nglakuin hubungan intim kan Ri!"


"Kelihatannya belum sampai tahap itu sih V, ya cuma sebatas____" Riri nampak menggantung ucapannya karena bingung harus menjelaskannya seperti apa.


"Udah nggak udah di terusin. Gue udah paham, kalau gitu panggil Ghea kesini kita tidur bertiga. Jangan sampai kepolosan Ghea rusak"


"Anjir gue lupa V, oke gue panggil Ghea" ucap Riri sembari bangkit dari tidurnya.


"Jangan sampai anak gue rusak kepolosannya" ucap Vyona sembari geleng-geleng kepala.


******


Jam di dinding menunjukkan pukul 23.30 itu tandanya tinggal setengah jam lagi sudah memasuki pergantian tahun.


Sedangkan kini Vyona dan juga teman-teman sedang sibuk pesta barbeque di teras belakang, mengingat sekarang masih sedikit gerimis jadi mereka tidak bisa melakukan pesta barbeque di halaman belakang.


"Guys gue punya sesuatu buat kalian" ucap Astrid sembari membawa empat paper bag besar di kedua tangannya.


"Apaan tuh?" Tanya Riri sembari menatap paper bag yang dibawa oleh Astrid.


"Baju couple, ya nggak couple banget sih. Ya cuma motifnya agak samaan" terang Astrid. "Nah ini buat Ghea, ini buat gue sendiri, ini buat Vyona, dan ini buat Riri ku tersayang"

__ADS_1


"Terus gue loe suruh couple sama siapa Jaenap!" Ketus Riri sembari menatap horor Astrid.


"Sama Andi lah, loe kan sekarang lagi pasangan sama Andi" ucap Astrid dengan entengnya, sebelum akhirnya ia menarik Niko masuk untuk ganti baju.


"Kamu mau pakai?" Tanya Vyona sembari menunjukkan baju yang kini sedang ia pegang.


"Boleh, yuk ganti. Kasian Astrid udah beli" ucap Jazz sembari mengambil baju yang kini Vyona pegang.


Vyona hanya bisa melongo ditempatnya sembari menatap punggung Jazz yang mulai menjauh, ia fikir Jazz akan menolak untuk memakai baju itu. namun ternyata Vyona salah, nyatanya Jazz langsung menerima begitu saja, tanpa harus di paksa. Padahal tadi Vyona sudah berfikir untuk memasang wajah memelas jika Jazz tak mau memakai baju yang Astrid berikan.


"Loe ngapain masih diem disini V, buruan ganti" ucap Riri yang sudah selesai mengganti bajunya.


"Ahh iya Ri, oh iya Ri loe cantik pakai baju itu. Lebih cantik lagi kalau loe beneran pacaran sama Andi" ucap Vyona sembari berlari menuju kamar mandi, sebelum Riri melemparinya dengan jagung bakar.


Jam menunjukkan pukul 23.59 itu tandanya hanya tinggal 1 menit lagi.


Rafa, Niko, dan juga Andi sudah siap dengan petasan ditangan mereka.


"Yuk hitung mundur" ucap Astrid, dan langsung di angguki oleh yang lainnya.


"Tiga,,, dua,,, satu. Happy new year" ucap mereka secara bersamaan dan disusul dengan letusan kembang api.


Vyona menatap letusan kembang api sembari tersenyum, tiba-tiba saja Vyona jadi kangen Areksa. Dulu setiap malam tahun baru, Areksa juga akan mengajak Vyona bermain kembang api.


"Suka?" Tanya Jazz sembari ikut menengadahkan kepalanya.


"Suka banget, jadi kangen kak Eksa"


"Kakak kamu pasti juga lagi kangen sama kamu"


"Itu udah pasti"


"V nih, kembang api" ucap Ghea sembari menyerahkan kembang api kecil kepada Vyona.


"Siapa yang beli?"


"Ayang Rafa yang beli, kata ayang aku nggak boleh main petasan, jadi dibeliin kembang api kecil"


"Kok loe bagi sama gue?"


"Ya gapapa, Vyo kan kesayangannya Ghea" ucap Ghea sembari memeluk Vyona dari samping.


"Utu-utu totweet banget sih, Ghea ku" ucap Vyona sembari membalas pelukan Ghea.


"Woi kalau mau pelukan bilang-bilang dong, biar gue bisa ikutan" ucap Andi sembari ingin memeluk Vyona.


Namun dengan segera Jazz menarik kerah baju Andi hingga membuat cowok itu tertarik kebelakang.


"Mau ngapain loe?"


"Mau ikut pelukan boss"


"Enak aja, nggak usah nyari kesempatan dalam kesempitan ya. Berani loe peluk cewek gue, gue tendang loe sampai ke mars"


"Buset, galak amat sih boss" ucap Andi sembari bergidik ngeri. "V, gue rasa loe bakal susah deket sama cowok lain, orang pawang loe aja kayak setan"


"Gadis iblis, emang harusnya pasangannya sama raja setan kan ndi!"


"Buset bener juga loe. Yaudah selamat berbuwu-uwuan pasangan horor"


Setelah kepergian Andi, Jazz menyerahkan sebuah jagung bakar kepada Vyona. Keduanya duduk di kursi yang telah disediakan oleh Bu asma dan juga suaminya.


"Dingin nggak?"


"Nggak kok, ini jaketnya lumayan hangat juga"


"Dimakan jagungnya mumpung masih hangat"


"Emt. Kamu gimana udah beneran sembuh kan?"


"Nggak lihat aku udah baik-baik aja. Makasih ya, ini juga berkat kamu"


"It's oke"


Setelah selesai memakan jagungnya Vyona segera menyalakan kembang api kecil pemberian Ghea.


"Jadi ingat jijiel, dulu aku sama dia juga suka banget mainan kembang api kayak gini"


"Kalau kamu ketemu sama dia, kamu mau ngomong apa?"


"Aku mau marah sama dia, karena dia udah ninggalin aku"


"Gitu doang"


"Nggak lah. Aku mau tonjok-tonjok muka dia, biar babak belur"


Jazz hanya bisa terkekeh ketika melihat Vyona yang dengan sangat antusias memukul-mukul udara.


"Kalau teman kecil kamu itu ganteng gimana, apa kamu nggak sayang sama muka gantengnya!"


"Bodo amat, habisnya dia jahat sama aku. Padahal dia janji mau nemenin aku, nyatanya dia ingkari janjinya. Dia pergi ninggalin aku Jazz"


"Mungkin dia punya alasan, kenapa dia pergi ninggalin kamu"


"Ihh kamu belain dia, mentang-mentang kalian sama-sama cowok"


"Mana ada aku belain dia, aku kan cuma mengutarakan pendapat aku" ucap Jazz sembari menyelipkan rambut Vyona kebelakang telinga.


"Emt, kamu ada benarnya juga sih" ucap Vyona sembari berdiri dan menatap langit yang terlihat gelap karena diselimuti oleh mendung.


"Boss deketan sama Vyo, gue mau fotoin kalian berdua" ucap Andi sembari menarik tangan Jazz agar cowok itu segera berdiri disamping Vyona.


"Ehh ndi tunggu bentar"


"Apa lagi sih V?"


"Gue mau ambil kembang api" ucap Vyona sembari mengambil kembang apa pemberian Ghea.


" Udah ayo" ucap Andi begitu Vyona sudah menghidupkan kembang api yang tengah dipegang gadis itu. "Agak deketan dong, biar kelihatan romantis" ucap Andi memberi aba-aba.


Vyona pun menurut saja dengan mengikis jaraknya dengan jazz.


"Oke cakep. Satu, dua, tiga senyum" ucap Andi sembari memberi aba-aba.


"Cakep bukan main ini mah" ucap Andi sembari melihat hasil jepretannya.


"Lihat dong"


"Kagak boleh, besok gue kirim" ucap Andi sembari berlalu pergi.


"Ngeselin" ucap Vyona sembari mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2