I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
perkara cabe


__ADS_3

Tak terasa satu Minggu berlalu dengan begitu cepat, hari ini adalah hari terakhir ujian semester dengan mata pelajaran sejarah yang lumayan menguras pikiran.


Setelah bel pulang berbunyi Vyona dan teman-temannya bukannya langsung pulang tapi justru langsung menuju kantin untuk mengisi perut.


"Wah gila kenapa sih dulu negara kita harus dijajah, bikin orang pusing aja. Andai negara kita nggak dijajah, mungkin aja nggak akan ada pelajaran sejarah" ucap Andi sembari memakan sotonya.


"Iya, Gedeg banget gue. Otak gue yang cuma sebesar biji kedelai sampai nggak sanggup mempelajari sejarah Indonesia" timpal Niko, dan di angguki oleh Astrid, Ghea, dan juga Riri.


"Emang dasarnya loe semua malas belajar. Pakai banyak banget alasan"


"Loe mah enak V, otak loe encer" ucap Riri sembari mencomot gorengan di atas meja.


"Loe semua itu juga pinter, nyatanya bisa masuk IPA 1. Cuma malas aja kalian itu"


"Susah emang kalau ngomong sama anak pinter" ucap Niko sembari mengelus dada.


"Cabe gue tuh" ucap Riri dengan ngegas ketika cabe yang tinggal satu biji diambil oleh Andi.


"Yaelah pelit banget, pakai saus tuh"


"Ogah. Punya gue itu, bawa sini"


"Bagilah, Ri. Satu doang"


"Kagak ada ya, itu cabe tinggal satu-satunya. Lagian loe itu makan soto, ngapain pakai cabe sih"


"Sambelnya abis"


"Loe kembaliin atau gue sumpel mulut loe pakai sepatu"


"Iya-iya nih, dasar Mak lampir " pada akhirnya Andi memberikan cabe itu kepada Riri daripada masalahnya malah berbuntut panjang.


"Ati-ati loe berdua, cinta itu bisa tumbuh secara tiba-tiba" ledek Vyona.


"Gue suka sama dia!" ucap Andi dan Riri secara bersamaan, keduanya pun saling menunjuk satu sama lain. "Ogah" lanjut keduanya"


"Dih sok kecantikan loe Mak lampir"


"Loe tuh sok ganteng"


"Lah gue emang ganteng, anjir. Nyatanya mantan gue ada dimana-mana"


"Dih, barang bekas mah emang harganya murah"


"Ente jangan ngadi-ngadi ya, beraninya ngatain gue barang bekas"


"Lah emang nyatanya gitu kan"


"Sarap loe, pantes aja nggak ada yang mau sama loe"


"Bachoot loe"


Melihat kedua temannya yang tengah adu mulut membuat Vyona pusing sendiri, hingga pada akhirnya ia memberi isyarat kepada jazz, dan juga yang lainnya untuk segera pergi meninggalkan Andi dan Riri.


"Mau sampai kapan berantemnya mas, mbak!" Tanya mbak juminten sembari membereskan mangkuk bekas Vyona dan yang lainnya. "Berantem terus sampai teman-temannya pulang aja nggak sadar"


Mendengar perkataan mbak juminten Riri dan Andi pun langsung celingukan mencari keberadaan teman-temannya, dan benar saja kini suasana kantin sudah sangat sepi menyisakan mereka berdua dan juga mbak juminten saja.


"Mbak minten kenapa nggak bilang sih, kalau yang lainnya udah pulang" sewot Riri.

__ADS_1


"Gimana mbak mau bilang, orang kalian tengkar terus dari tadi"


"Dia nih yang mulai mbak" adu Andi sembari menunjuk tepat pada wajah Riri.


"Enak aja, elo tuh yang mulai"


"Elo"


"Elo"


"Elo ya"


"Elo, cowok nggak mau ngalah banget sih"


"STOP" teriak mbak juminten sembari menggebrak meja, membuat Andi dan Riri langsung terjingkat kaget.


"Berantem terus. Mbak doain kalian berdoa berjodoh" ucap mbak juminten sembari berkacak pinggang, tak lama setelahnya terdengar suara petir yang sangat keras, hingga membuat Andi dan Riri langsung ketakutan.


"Apa sih mbak, berjandanya nggak lucu" ucap Andi sembari meringis dan langsung merangkul pundak Riri.


"Kita itu emang sering berantem mbak, tapi kami saling menyayangi kok" timpal Riri sembari ikut merangkul bahu Andi.


"Nah kalau gini kan manis, jangan berantem-berantem lagi. Mbak aja pusing dengerinnya, apalagi teman-teman kalian"


"Iya mbak minten yang paling cetar di SMA Satria Mandala "


"Yaudah pada pulang sana, mbak juga mau tutup"


Dengan segera Andi mengeluarkan satu lembar 100 ribu dan menyerahkannya kepada mbak juminten, setelahnya ia segera menarik Riri untuk segera menjauh dari mbak juminten.


"Kembaliannya mas andi" ucap mbak juminten sembari mengangkat uang yang Andi berikan.


******


Malam ini Vyona tengah berkumpul bersama Alan, Areksa, dan juga neneknya diruang tengah.


Gadis itu nampak tengah bermanja dengan sang kakak. Tiduran di karpet dan menjadikan paha Areksa sebagai bantalan serta dengan penuh kasih sayang Areksa membelai lembut Surai hitam legam milik Vyona.


"Sebentar lagi kan liburan, kamu mau ikut kakak sama papa ke LA?"


"Nggak mau" jawab Vyona sembari memainkan kancing baju Areksa.


"Kenapa?"


"Mana bisa dia jauh-jauh dari Jazz, bucin akut gitu" ledek Alan sembari melempar kulit kacang ke kepala Vyona, hingga berakhir Alan mendapat pukulan dari Areksa.


"Sakit bege" ucap Alan sembari mengelus punggungnya yang kena pukulan dari Areksa.


"Makannya jangan jail loe, bang"


"Mampus loe bang" ledek Vyona sembari menjulurkan lidahnya.


Sementara itu Rosmalinda yang melihat kedekatan cucu-cucunya hanya bisa tersenyum. Ternyata Alan dan Areksa sesayang ini kepada Vyona, andai saja dirinya tak berlarut-larut dan bisa berdamai dengan masalalu, mungkin saja ia juga akan sangat sayang kepada Vyona. Apalagi dulu waktu kecil Vyona sangat manis dan juga menggemaskan.


"Vyona sayang, nggak boleh gitu sama Abangnya" peringat Rosmalinda ketika mendengar cucu perempuannya berbicara sedikit kasar.


"Maaf nenek" ucap Vyona sembari tersenyum manis dan mengangkat kedua jarinya.


"Menggemaskan" gumam Rosmalinda dalam hati, ia baru menyadari kalau cucu perempuannya itu sangat mirip dengan almarhumah Dahlia. Tak heran jika putranya dan kedua cucu laki-lakinya sangat menyayangi gadis itu.

__ADS_1


"Sudah jam segini tapi kenapa papa belum pulang juga" gumam Vyona sembari melirik jam dinding. Gadis itu lalu bangkit dari tidurnya.


"Mau kemana dek?" Tanya Alan dan Areksa secara bersamaan.


"Kedepan lihat papa" jawab Vyona sembari berlalu pergi.


Sementara itu Areksa maupun Alan hanya mampu menggelengkan kepalanya, padahal tanpa dilihat pun jika papanya pulang akan tetap tau.


"Adek loe tuh bang"


"Adek loe juga bege, posesif banget dia kalau sama papa. Nanti apakabar ya kalau papa nikah lagi"


"Gila loe bang"


"Apanya yang gila!" Seru Alan sembari memiringkan kepalanya, menatap Areksa dengan sedikit bingung.


"Papa mana mau nikah lagi, orang dia bucin gitu sama Mama"


Ahh, sial Alan fikir Areksa ada benarnya juga. Bahkan walaupun hubungan rumah tangga Agra dan Dahlia sudah renggang dari belasan tahun lalu, tapi Agra sama sekali tak berkeinginan meninggalkan Dahlia jika saja Agra tak mengetahui fakta bahwa Dahlia kerap kali kasar terhadap Vyona.


*******


Setelah sang papa pulang, Vyona langsung masuk kedalam kamarnya.


Namun bukannya langsung tidur, Vyona justru mengambil alat tulisnya. Sudah beberapa hari Vyona sering bergadang untuk menggambar desain baju.


"Dulu mama pasti capek banget ya, dari pagi sampai siang kerja, malam-malam kayak gini juga masih harus menggambar" gumam Vyona sembari menatap foto Dahlia yang ia taruh diatas meja belajarnya, seolah-olah ia sedang bicara kepada sang mama.


Jam di dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari akan tetapi rasa kantuk belum juga menghampiri Vyona. Hingga pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat susu.


"Vyo, kamu ngapain?" Tanya rosmalinda yang tiba-tiba saja sudah berada di dapur.


"Ehh nenek, ini Vyona bikin susu nek. Nenek kenapa belum tidur?"


"Nenek haus, pengen ambil minum"


"Yaudah nenek duduk dulu, biar Vyona ambilkan minum"


Dengan segera Vyona menuangkan minum untuk sang nenek.


"Ini, nek"


"Makasih"


Setelah memberi Rosmalinda minum, Vyona kembali melanjutkan membuat susu.


"Vyona"


"Iya nek" jawab Vyona sembari mengaduk susunya, sebelum akhirnya ia mendekat kearah sang nenek.


"Jangan tidur terlalu malam, nggak bagus buat kesehatan" ucap Rosmalinda sembari membelai pipi Vyona.


"Iya nek, habis ini langsung tidur kok" ucap Vyona sembari tersenyum manis.


"Anak ini benar-benar sangat mirip dengan Dahlia, apa yang Dahlia fikirkan saat mengandung anak ini! Bahkan semuanya sangat mirip dengan Dahlia, yang mirip dengan Tyo hanya matanya saja" gumam Rosmalinda dalam hati sembari terus menatap Vyona.


"Nenek kenapa lihatin Vyo kayak gitu?"


"Nenek baru sadar, kalau cucu nenek ini sangat cantik" jawab Rosmalinda sembari tersenyum hingga membuat Vyona pun ikut tersenyum. "Yasudah nenek tidur dulu, kamu juga habis ini langsung tidur"

__ADS_1


"Iya nek"


__ADS_2