I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
minta Restu


__ADS_3

"APA? NIKAH!" Areksa dan Alan langsung berteriak heboh ketika Jazz membahas rencananya untuk menikahi Vyona.


"Jangan bilang loe ngehamilin adik gue ya Jazz" ucap Alan sembari menatap tajam Jazz.


"Mulut loe, bang. Gue nggak sebrengsek itu"


"Terus kenapa loe pengen buru-buru nikahin adik gue anjir"


Kalau ditanya kenapa dirinya ingin cepat-cepat menikahi Vyona, Jazz pun juga tak mengerti apa alasannya. Entah mengapa tadi ketika di pasar malam melihat pasangan muda dengan kedua anak kembarnya Jazz jadi pengen menikah muda.


"Pa, papa kenapa malah diam aja sih! Nenek juga" Areksa jadi kesal sendiri ketika papa dan juga neneknya hanya diam saja tanpa bereaksi apapun, wajah keduanya pun nampak datar-datar saja. Jadi ini bagaimana konsepnya dirinya dan Alan saja yang lebih tua belum menikah lah ini Jazz dan Vyona yang lulus SMA aja belum sudah pengen menikah.


"Papa nggak ngebolehin ya kalau aku sama Jazz nikah?" Tanya Vyona sembari menatap sang papa.


"Papa akan ikut keputusan ayahnya Jazz" final Agra sebelum akhirnya ia mengambil ponselnya untuk menelfon Bram.


Tak berselang lama panggilan telfon pun terhubung dengan segera Agra melospeaker agar semua orang dapat mendengar respon ayahnya Jazz.


"Apasih gra? Ganggu aja loe" ketus bram dari seberang sana.


"Abis ngapain loe?"


"Bikin adik buat Jazz lah, loe malah telfon ganggu aja. Kenapa?"


Jawaban ayahnya barusan benar-benar membuat Jazz sangat malu, bagaimana ayahnya bisa bicara sefrontal itu. Ahhh, rasanya Jazz ingin menghilang sekarang juga.


"Heh lambemu, malu di dengerin anak loe nih"


"Jazz disitu!" Serunya Bram dengan suara yang terdengar terkejut ketika mengetahui putranya tengah bersama dengan sahabatnya.


"Iya. Ini anak loe pengen nikahin anak gue, gimana ini?"


"Asyhuuu, jangan ngaco loe"


"Gue serius, mending loe kesini kerumah gue"


"Oke-oke gue sama Octavia kesana sekarang. Jagain itu anak setan, jangan sampai kabur" ucap Bram sebelum akhirnya panggilan telfonnya terputus.


"Kita tunggu ayah dan bundamu"


"Pa, kalau om Bram sama Tante Octavia setuju, apa papa bakalan bener-bener nikahin mereka berdua! Ayolah pa, jangan bercanda. Aku sama Abang aja belum nikah, yakali kita di loncatin sih. Ini nggak adil" protes Areksa dengan menggebu-gebu.


Vyona yang melihat kakaknya melayangkan protes hanya bisa menatap tajam Areksa. Begitu pula dengan Areksa, ketika ia merasa mendapat tatapan maut dari adiknya ia pun balas melototi adiknya itu.


"Udah nggak usah saling melotot"


"Papa mah nggak adil belain Vyona terus" ucap Areksa sembari bersidekap dada.


"Makannya cari pacar, giliran mau dilangkahi adiknya protes" ucap nenek sembari tertawa. "Jazz, Vyona. Kalian udah yakin mau nikah muda? Kalau kalian masih ragu jangan dulu, nak. Nenek nggak mau kalau nanti kalian menyesal" lanjut nenek sembari menatap dua sejoli yang kini duduk di depannya.


"Aku udah yakin kok nek" jawab Jazz dengan penuh kepastian.


"Sebenarnya Vyo nggak terlalu yakin, nek. Tapi kalau sama Jazz, Vyo bersedia " jawab Vyona juga ikut meyakinkan keluarganya.


"Oke, kalau kalian sudah yakin nenek, dan papamu hanya bisa mendukung" ucap Rosmalinda sembari tersenyum.


"Nenek serius?" Tanya Jazz dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya" jawab nenek sembari terkekeh geli melihat seberapa antusiasnya Jazz.


"Tapi ingat, semua keputusan ada ditangan ayah kamu" ucap Agra mengingatkan kekasih dari putrinya itu.


"Siap papa mertua"


"Huahh bocah asyhuu" ucap Areksa dan Alan secara bersamaan, bahkan keduanya pun kompak melempar bantal sofa ke kepala Jazz.


"Belum juga jadi adik ipar, udah dianiaya aja"


Sembari menunggu kedatangan Bram dan juga Octavia. Agra memutuskan untuk bermain catur bersama dengan Alan, sedangkan Areksa dan Jazz memilih bermain game. Tadi Jazz juga sudah mengganti bajunya dengan baju milik Areksa, karena memang baju yang ia pakai tadi basah.


"Ini gimana ceritanya loe jadi ngebet pengen nikah kayak gini?" Tanya Areksa sembari fokusnya masih tertuju pada layar Tv.


"Tadi gue sama ona pergi ke pasar malam, terus gue lihat pasangan muda lagi bareng sama anaknya. Nggak tau kenapa gue pengen kayak gitu juga"


"Ckk, otak loe isinya perkembang biakan kalau kayak gini" Areksa berdecak kesal ketika mendengar alasan Jazz ingin nikah muda.


"Mana ada kayak gitu. Gue nggak akan bikin ona bunting sebelum lulus sekolah"


"Kalau prediksi gue sih keinginan loe nggak akan kesampaian"

__ADS_1


"Kenapa gitu?"


"Bokap loe pasti nggak akan setuju, gue cukup paham gimana sifat bokap loe"


Seketika kedua pundak Jazz langsung merosot, benar juga kata Areksa, ayahnya pasti akan sangat menentang keinginannya.


"JAZZIEL ANAK SETAN" Bram yang baru saja masuk langsung berteriak heboh seperti orang kebakaran jenggot, begitu melihat sang putra tengah duduk santai sembari bermain game bersama dengan Areksa tanpa mau mengidahkan panggilannya membuat Bram semakin murka.


Pria paruh baya itu segera berjalan mendekati sang putra begitu sampai disamping Jazz, Bram langsung menjewer telinga Jazz hingga membuat Jazz langsung meringis kesakitan.


"Auu sakit, yah" ucap Jazz sembari berusaha melepaskan telinganya.


"Ayah lepasin, anak kita bukan bocah lagi, yah" Octavia langsung memukul tangan Bram agar segera melepaskan telinga Jazz.


Dengan berat hati Bram pun melepaskan jewerannya karena takut jika Octavia marah, nanti malah berimbas pada dirinya yang tidak mendapatkan jatah.


Sembari berkacak pinggang ia tatap putra semata wayangnya yang kini berada dalam pelukan istrinya.


"Kamu yakin mau menikah?"


"Iya, ayah. Lagian sejak kapan sih Jazz suka bercanda"


"Nggak ada nikah-nikah. Sekolah dulu yang bener, kamu sekolah tinggal beberapa bulan aja Jazziel"


"Tapi Jazz pengen mengikat ona, yah"


"Kan bisa tunangan dulu, Jazz. Ayah nggak mau ya menantu ayah yang cantik ini hidup blangsak karena punya suami kayak kamu, disuruh belajar ngurus perusahaan nggak mau, kerjaannya cuma balapan aja. Kamu taukan betapa bahayanya hobi kamu itu! Apa kalau kamu menikahi Vyona, kamu mau buat dia jantungan setiap saat karena hobi kamu yang nggak jelas itu"


Jazz hanya bisa menundukkan kepalanya, selama ini ia sadar kalau ayahnya melarangnya ikut balapan bukan karena tidak mendukung hobinya, tapi ayahnya hanya takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dan membahayakan nyawanya.


"Jazz, kamu tau selama ini ayah sama bunda selalu nggak tenang kalau dengar kamu ikut balapan. Ayah takut, takut kamu kenapa-kenapa. Kamu itu satu-satunya harta yang paling berharga untuk ayah dan bunda, cukup kamu buat ayah dan bunda aja yang merasa khawatir karena hobi kamu itu, jangan seret Vyona juga"


Jazz tarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya ai angkat kepalanya untuk menatap kedua manik hitam milik sang ayah.


"Ayah, maafin Jazz. Maaf kalau selama ini Jazz bikin ayah dan bunda khawatir, tapi kalau ayah izinin aku buat nikah, aku janji bakal berhenti buat balapan" ucap Jazz dengan penuh kesungguhan, walaupun sebenarnya berat baginya untuk melepaskan hobi sekaligus profesi yang sudah ia tekuni selama bertahun-tahun, bahkan di bidang itu pula ia menoreh begitu banyak penghargaan, dan di bidang itu pula dirinya dikenal banyak orang, bukan hanya karena parasnya yang rupawan, tetapi juga bakatnya.


"Ayah tetap nggak izinkan kamu menikah, Jazz" ucap ayah tetap pada pendiriannya, pria paruh baya itu sama sekali tak ingin dibantah oleh sang putra. "Tunangan aja dulu ya, nanti setelah lulus kuliah baru kalian menikah. Ayah mau ketika kamu menikah kamu benar-benar sudah siap, bukan hanya kamu ingin menikah karena kamu takut gadismu diambil oleh pria lain"


Ada sedikit perasaan tak terima ketika sang ayah menolak keputusannya untuk menikah muda, akan tetapi Jazz juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Apalagi ia juga dapat melihat kecemasan yang sama dari sorot mata papanya Vyona, mungkin kedua pria paruh baya itu masih belum yakin kepada dirinya.


"Kalau itu keputusan ayah, Jazz akan terima"


"Oke"


"Jazz nggak mau"


"Terus kamu maunya apa Jazziel?" Tanya ayah, dengan sedikit kesal.


"Jazz, pengennya Minggu depan"


"APA?" Semua orang nampak kaget dengan apa yang baru saja Jazz katanya, tentunya kecuali Vyona. Gadis itu sudah paham dengan tingkah kekasihnya itu.


"Kenapa? Pada nggak mau, ya! Kalau pada nggak mau yaudah, Jazz bakal bawa ona kawin lari" ucap Jazz mengancam.


"Oke-oke Minggu depan, jangan berani-beraninya loe bawa adik gue kabur" final Alan.


"Oke, deal" ucap Jazz dengan senyum penuh kemenangan.


"Jazziel anak setan, ayah lelah nak" ucap bram sembari mengusap wajahnya, sedangkan papa Agra langsung menepuk pundak sahabatnya itu berusaha menyalurkan kekuatan.


******


"Selamat pagi kawan-kawanku tersayang" sapa Jazz begitu ia baru saja sampai di basecamp, moodnya hari ini sangat bagus karena kedua orangtuanya dan keluarga Vyona mengizinkan dirinya dan Vyona untuk bertunangan Minggu depan.


Namun perubahan sikapnya yang secara tiba-tiba membuat semua teman-temannya langsung merasa bingung.


"Loe sehat bos?" Tanya Eric sembari memegang kening Jazz. Namun setelah ia menyentuh kening Jazz suhu tubuh cowok itu normal. Lantas kenapa temannya itu berubah secara dramatis seperti ini.


"Bocah asyhuu, gue sehat ***"


"Tapi hari ini loe aneh boss" ucap Aldi langsung pada intinya, dan hal itupun langsung disetujui oleh yang lainnya.


"Aneh apanya! Perasaan loe aja kali"


"Serah loe deh, bang. Yang penting jangan diam-diam jadi gila" ucap Azam yang masih setia bermain dengan bebek.


"Oh iya boss, loe nanti malam ikutan kan?"


"Iya, tapi mungkin ini yang terakhir kalinya gue ikut balapan" Jawab Jazz sembari menatap teman-temannya.

__ADS_1


Mendengar jawaban Jazz membuat Rafa, Andi, Eric, Agam, Azam, dan si kembar langsung diam. Seolah-olah mereka semua tak percaya akan jawaban yang keluar dari mulut Jazz.


"Bang, bercanda loe nggak lucu deh" ucap Azam.


"Gue nggak bercanda Azam ganteng. Serius ini gue"


"Seriusan boss?" Tanya Eric berusaha memastikan kembali.


"Serius, gue pengen fokus sekolah sama belajar ngurus perusahaan bokap"


"Tobat loe, bang? Dulu aja loe nggak pernah mau kalau disuruh ngurus perusahaan bokap loe "


"Itu dulu, lagian mau nggak mau gue harus mau kan! Secara gue anak mereka satu-satunya, jadi udah kewajiban gue buat nerusin usaha mereka kan!"


"Iya juga sih, tapi loe nggak bakal lupain kita kan bos?" Tanya Agam, entah mengapa ada perasaan sedih ketika Jazz bilang akan berhenti ikut balapan.


"Mana mungkin gue lupa sama kalian, kalau gue nggak sibuk pasti gue kesini. Ya tapi sebelum lulus sekolah"


"Lah emang kalau udah lulus kenapa boss?" Tanya Andi masih dengan bebek di pangkuannya.


"Karena nanti setelah lulus, gue mau kuliah di London"


"Anji*g, dadakan banget sih boss" ucap Andi dengan ngegas, bahkan bebek yang tadi berada di pangkuannya langsung dibanting karena saking kagetnya.


"Nggak dadak, sebenarnya ini termasuk salah satu keinginan gue dari kecil" dusta Jazz, tak mungkin ia bilang kepada teman-teman kalau ini merupakan salah satu syarat untuk dirinya menikahi Vyona. Jazz hanya tak mau jika teman-temannya berfikir Vyona ataupun keluarganya mengatur-atur dirinya dan membuat teman-temannya membenci gadisnya.


"Bang, loe nggak berpri kebebekan banget sih" Azam langsung marah-marah ketika bebek dibanting begitu saja oleh Andi.


"Berarti nanti kita bakal jarang ketemu dong boss!" Seru Aldi, cowok dingin satu ini juga merasa sedih dengan apa yang baru saja Jazz sampaikan.


"Emtt, mungkin untuk beberapa tahun kedepan, sampai gue lulus kuliah" jawab Jazz sembari tersenyum. "Gue juga udah siapin sesuatu buat kalian semua" lanjutnya sembari bangkit dari duduknya dan langsung mengambil helmnya.


"Ayo pergi" ucapnya ketika, teman-temannya sama sekali tidak ada pergerakan.


Setelah itu Jazz segera memacu motornya menuju tempat yang akan ia tunjukkan kepada teman-temannya.


"Si boss mau kemana sih?" Tanya Agam kepada Rafa.


"Mana gue tau, udah ayo ikutin" jawab Rafa sembari melajukan motornya, begitu pula dengan yang lainnya yang juga ikut menyusul.


Tak beberapa lama tempat di ujung jalan tepat di pinggir jalan raya Jazz menepikan motornya disebuah bengkel yang cukup luas. Bengkel ini baru saja jadi beberapa Minggu yang lalu, karena sebelumnya lahan itu adalah bekas ruko yang telah terbengkalai.


"Ini ngapain kita malah ke bengkel sih boss, kita kan bisa benerin motor sendiri. Sayang duitnya boss, mending loe kasih ke kita-kita aja" ucap Eric sembari melepas helmnya.


"Siapa yang mau benerin motor! Ini bengkel kita"


"APA?" Ucap Rafa, Andi, Eric, Agam, Azam, dan juga si kembar. Mereka semua benar-benar tidak bisa santai. Bagaimana mereka bisa santai ketika Jazz dengan gampangnya bilang kalau bengkel megah itu milik mereka.


"Gue sengaja bangun bengkel ini, biar bisa nambah uang jajan kalian. Jadi nanti kalian nggak perlu ikut balapan lagi"


"Boss, loe serius?" Tanya Aldi berusaha memastikan kembali bahwa Jazz tidak sedang membuat sebuah lelucon.


"Iya, jadi nanti kalau gue udah berangkat gue minta kalian bener-bener serius jalanin usaha ini. Buat masa depan kalian juga kan"


"Boss loe emang yang terbaik" ucap Eric sembari memeluk Jazz.


"Bang meskipun loe dingin kayak kutub Utara, tapi loe emang yang paling terbaik" ucap Azam juga ikut memeluk Jazz.


"Udah lepasin gue, ingus loe bisa nempel di baju gue" Jazz langsung merasa geli ketika kedua bocah tengil itu memeluknya.


"Ini kita gimana ngelolanya boss? Ujian tinggal beberapa bulan"


"Kita fokus aja ke ujian, untuk sementara gue udah dapat mekanik buat jalanin bengkel ini. Nanti setelah selesai ujian baru kita turun tangan"


"Gue, Eric sama si kembar pasti bakal kesini kalau pulang sekolah, orang kita butuh duit" ucap Agam.


"Emtt, selama itu nggak nyita waktu belajar loe semua nggak masalah buat gue. Gue pengen, nanti setelah lulus kalian semua kuliah, jangan sampai ada yang berhenti sampai di SMA aja"


"Kalau kita kuliah gimana sama nih bengkel boss?" Tanya Eric.


"Pagi sampai sore kalian bisa kerja, sedangkan malamnya kalian bisa kuliah kan, mungkin memang melelahkan, tapi gue mohon jangan sampai ada yang nggak kuliah, buat masa depan kalian juga kan!"


"Kita janji bakal nerusin kuliah boss" ucap Aldi, dan langsung disetujui oleh Aldo, Agam, dan juga Eric.


"Makasih, gue bangga punya teman-teman yang hebat kayak kalian semua"


"Harusnya kita yang berterimakasih boss, bahkan loe mikir masa depan kita semua. Gue bersyukur punya loe boss" ucap Eric, bahkan cowok itu sudah menangis.


"Kita yang bangga punya temen kayak loe boss, loe dari keluarga berada tapi nggak malu punya teman kayak gue, Aldo, Agam, dan juga Eric. Gue bersyukur punya temen kayak loe, Rafa, dan juga Andi. Kalian dari keluarga yang berada, tapi mau berteman dengan kami" gumam Aldi dalam hati bahkan tak terasa kedua matanya mulai memanas.

__ADS_1


__ADS_2