
Sorenya setelah pulang sekolah Rafa dan Andi langsung menuju apartemen Jazz, kedua cowok itu merasa khawatir dengan kondisi sahabatnya.
"Anjir sejak kapan si boss suka nonton drakor Rapa!" Ucap Andi begitu mereka baru saja masuk, namun televisinya menyala dan menampilkan drama Korea.
"Mungkin Vyo, tu bocah kan sama aja kayak ayang gue, maniak drakor. Gue aja sering diajak nonton sama ayang Ghea"
"Rapa-Rapa tampang loe doang sangar tapi sama Ghea takut"
"Bacot loe, gue tendang kaki loe baru tau rasa"
"Tega bener loe. Ini aja belum sembuh total"
Rafa memilih mengabaikan Andi, ia pun berjalan menuju kamar Jazz. Begitu melewati sofa depan TV Rafa melihat Vyona yang sedang tertidur dengan pulas.
Rafa terlihat tersenyum ketika melihat wajah lelah Vyona, dapat Rafa tebak kalau Vyona tadi malam pasti begadang buat menjaga Jazz.
"Boss loe udah oke?" Tanya Rafa begitu cowok itu masuk kedalam kamar Jazz.
"Emtt. Loe sendirian?"
"Ama Andi, palingan tu bocah masih di dapur"
"Kebiasaan"
"Vyo belum pulang dari kemarin?"
"Belum, padahal gue udah nyuruh dia pulang, tapi dianya nggak mau"
"Itu karena dia sayang sama loe, jadi mana mungkin dia tega ninggalin loe sendirian" ucap Rafa sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Sementara itu Jazz hanya menanggapinya dengan senyum. Sayang! Hemtt Jazz sendiri juga tidak tau bagaimana perasaan Vyona kepada dirinya, namun jika ditanya bagaimana perasaan Jazz untuk Vyona? Jazz sendiri juga tidak tau, tapi yang jelas Jazz selalu merasa nyaman berada disamping Vyona.
"Boss gue mau tanya boleh?"
"Mau tanya apaan?"
"Loe kenapa bisa tiba-tiba jadian sama Vyo? Emang loe beneran suka ama dia?"
"Gue juga nggak tau, tapi yang jelas gue selalu merasa nyaman kalau didekat dia. Kalau masalah cinta, bukannya itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu"
"Loe bener juga sih boss. Jaga dia ya, jangan pernah loe sia-siain"
"Pasti"
Sementara itu Vyona baru saja membuka matanya setelah mendengar benda jatuh dari arah dapur.
"Apaan tuh, ya kali disini ada kucing" gumam Vyona. Setelahnya gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengecek benda apa yang jatuh tadi.
"ANDI" Vyona berteriak kesal ketika melihat Andi memakan semua masakannya.
"Ehh V, loe udah bangun ya. Sini makan, enak banget loh ini, tumben-tumbenan si boss masakannya enak"
"Enak ya?" Tanya Vyona dengan memiringkan kepalanya,
"Enak banget" jawab Andi sembari cengar-cengir seolah-olah tidak memiliki dosa.
Vyona yang kesal akhirnya maju mendekati Andi, begitu sudah berada disamping cowok itu Vyona segera menjambak rambut Andi.
"Ahh sakit V, gila ya loe" ucap Andi heboh ketika rambutnya dijambak dengan kasar oleh Vyona.
Jazz dan Rafa yang mendengar kegaduhan dari arah dapur segera berlari.
setelah melihat Vyona menjambak rambut sahabatnya, Jazz segera memeluk Vyona dari belakang sembari berusaha melepaskan tangan Vyona yang sedang menjambak rambut Andi.
"Queen lepasin, kasihan itu Andi"
__ADS_1
"Biarin aja. Lihat aku udah masakin buat kamu, tapi malah di habisin sama dia"
"Udah biarin, nantikan kita bisa gofood"
Vyona segera melepaskan rambut Andi, gadis itu segera berbalik dan menatap jazz.
Apa dia bilang tadi? Gofood, sial nggak tau apa dia perjuangan Vyona yang memasak hingga terkena percikan minyak panas.
"Gofood ya!"
"Iya, kita kan bisa beli lagi"
"Yaudah pesen sana, kelihatannya emang percuma aku masak" ketus Vyona sembari berlalu pergi.
"Marah dah" gumam Rafa begitu melihat Vyona pergi dari apartemen jazz tanpa berpamitan.
"Emangnya gue salah ya?" Tanya Jazz sembari melirik Rafa.
"Salah banget boss, Loe lihat itu makanan semuanya makanan sehat.Vyona masak buat loe supaya loe cepet pulih, tapi sialnya bocah nggak tau diri ini malah habisin makanannya" ucap Rafa sembari menampol kepala Andi.
Jazz rasa Rafa ada betulnya juga, ahh Vyona sekarang pasti sedang kesal kepada dirinya. Gadis itu pasti berfikir bahwa Jazz tak menghargai usahanya.
*****
Pagi ini Vyona melangkah begitu lesu, bahkan ketika sampai gadis itu langsung menelungkupkan kepalanya diatas meja.
"V kamu kenapa?" Tanya Ghea sembari mengelus punggung Vyona.
"Gue gapapa ge"
"Jazz gimana? Udah sembuh kan dia!"
"Tauk, loe tanya aja sama cowok loe"
"Loe marahan sama jazz!" Terka Riri, yang sedari tadi juga ikut memperhatikan tingkah aneh Vyona.
"Kata siapa, gue sama Vyona ikut kok" ucap jazz yang baru saja datang bersama dengan Rafa dan juga Andi.
Setelahnya Jazz berjongkok didekat Vyona, sembari mengelus Surai hitam legam milik gadis itu.
"Marah ya?" Tanyanya sembari menaruh sebatang coklat kedalam bangku Vyona. "Iya maaf, bukannya aku nggak menghargai kamu. Tapi ya mau gimana lagi, udah terlanjur habis juga kan makanannya. Udah ya jangan marah lagi"
Perlahan-lahan Vyona mengangkat kepalanya, dan menatap Jazz yang kini sedang berjongkok disampingnya.
"Kamu nggak lihat nih tangan aku sampai kena minyak, kamu malah belain Andi" ucap Vyona sembari menunjukkan tangannya yang kemarin terkena cipratan minyak goreng.
"Astaga, kok kamu nggak bilang sih kalau tangan kamu sampai kayak gini" ucap Jazz sembari meniup-niup luka bakar Vyona.
"Gapapa kok, udah nggak sakit"
"Jangan marah lagi ya. Kamu bikin aku khawatir semalaman karena kamu terus-menerus abaikan telfon aku"
"Iya maaf"
"Nanti siap-siap kita ikut anak-anak pergi"
"Nggak usah, kamu baru aja sembuh" ucap Vyona sembari menyugar rambut Jazz.
"Aku udah sembuh, nanti kita berangkat"
"Makasih" ucap Vyona sembari menghambur memeluk Jazz
"Ehemm tolong hentikan ke uwuan ini, hargai jomblo kayak gue" ucap Riri sembari menopang dagunya.
"Iri bilang, Andi nganggur Ri"
__ADS_1
"Ogah" ketus Riri sembari melengos kesal.
****
Ketika bell pulang telah berbunyi seluruh siswa-siswi SMA Satria Mandala berbondong-bondong segera pergi meninggalkan kelas mereka. Begitu pula dengan Vyona dan ghea.
Kedua gadis itu langsung melesat pergi dari dalam kelas, karena ingin segera sampai rumah untuk prepare segala keperluan di puncak nanti.
Namun langkah keduanya berhenti ketika di parkiran terlihat sangat ramai sudah seperti kedatangan seorang artis Korea saja.
"Ehh ada apaan kok didepan rame banget?" Tanya Vyona sembari menghentikan salah satu adik kelasnya.
"Itu kak kata temen aku di sana ada cowok ganteng banget. Yaudah ya kak aku pergi dulu, dada kak Vyona, kak Ghea"
"Ada-ada aja" ucap Ghea sembari geleng-geleng kepala. Mau sebanyak apapun cowok tampan, bagi Ghea ya cuma Rafa yang paling tampan.
Memilih mengabaikan kerumunan yang ada di dekatnya Vyona segera melangkah menuju mobilnya. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba saja ada yang memanggil namanya.
Dengan senyum yang merekah Vyona segera berbalik dan langsung menubruk tubuh cowok tampan yang memanggil namanya tadi.
Semua orang nampak melongo begitu Vyona langsung memeluk cowok tampan yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan mereka.
"Ghea nggak kangen sama Abang?" Tanya Alan kepada Ghea yang dari tadi cuma diam di tempatnya.
"Kangen lah bang" ucap Ghea sembari ikut memeluk Alan.
"Bagus ya, peluk-peluk cowok lain di depan pacar sendiri" ucap Jazz sembari bersidekap dada.
"Ayang kamu selingkuh! tega kamu. Kenapa juga kalian selingkuh sama orang yang sama, gue sama Jazz kurang apa sih" Rafa yang melihat pujaan hatinya tengah memeluk cowok lain langsung naik pitam, mungkin saja cowok itu akan langsung memukul Alan jika saja tidak di pegangi oleh Andi.
"Siapa yang selingkuh sih! Jazz kenalin ini bang Alan, sepupu aku. Dia baru aja balik dari LA"
"Sepupu!" Ulang Jazz dan Rafa secara bersamaan.
"Iya, lagian mana mungkin aku selingkuh. Otak kecilmu ini, isinya apa sih" sembari terkekeh Vyona menyentil kening Jazz, sungguh berani sekali Vyona ini. Karena selama ini tak pernah ada seorang pun yang berani terhadap Jazz.
"Bang Alan ngapain disini?"
"Abang mau jemput adik-adik Abang lah"
"Gue bawa mobil bang"
"Ghea juga bawa mobil"
"APA?" Alan langsung saja ngegas begitu tau gadis-gadis kecil kesayangannya mengendarai mobil sendiri, sedangkan keduanya memiliki seorang kekasih.
"Loe berdua sebagai pacar gunanya apaan ha!" Ucap Alan sembari menunjuk Jazz dan Rafa secara bergantian. "Bisa-bisanya loe berdua biarin adik gue bawa mobil sendiri"
"Maaf bang, tadi pagi Vyona ngambek pas gue jemput dia dirumah, ternyata dia udah pergi duluan" jawab Jazz dengan santainya.
"Terus kamu, kenapa nggak jemput Ghea?"
"Ghea nggak suka kalau gue bonceng pakai motor bang, katanya takut jatuh"
"Habisnya ayang kalau naik motor udah kayak Jazz, suka kebut-kebutan"
"Hadeh, yasudah pada pulang sana. Kalau kalian bawa mobil sendiri-sendiri Abang balik ke kantor aja"
"Abang nggak mau pulang?"
"Nanti kalau pekerjaan di kantor udah selesai Abang pulang" ucap Alan sembari mengelus rambut Vyona. "Yaudah Abang pergi dulu"
Setelah kepergian Alan, Vyona dan juga teman-temannya pun juga segera pulang kerumah masing-masing.
Alan sandi Prakoso
__ADS_1