
"keluar sana" ucap Vyona sembari mendorong tubuh Jazz agar segera meninggalkan kamarnya.
"Kamu ngusir aku?"
"Aku mau mandi Jazz, kemarin kan kamu janji mau ngajak aku ke kebun teh"
"Tapikan kamu masih sakit"
"Aku udah sembuh. Udah keluar sana"
Dengan terpaksa Jazz hanya bisa Menuruti keinginan Vyona, dari pada gadis itu mengomel.
Sedangkan setelah Jazz keluar, Vyona segera melesat menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Masih cantik kok, walaupun agak kucel" gumam Vyona sembari mematut dirinya di depan cermin wastafel. "Anaknya pak Agra jelas cantiklah"
Setelah selesai mematut dirinya di depan cermin, Vyona segera membuka semua pakaiannya dan membasahi badannya dengan air.
*****
"Boss loe mau kemana?" Tanya Andi yang melihat Jazz sudah terlihat rapi dengan jaket yang membalut tubuhnya.
"Kebun teh"
"Ngapain?"
"Queen pengen lihat kebun teh"
"Emang udah sembuh si Vyo"
"Udah mendingan"
"Ikut gue" ucap Riri sembari menarik kerah baju Andi, hingga membuat cowok itu hampir saja tercekik.
"Ri loe gila ya. Gue bisa mati ini"
"Makanya buruan bangun, ikut gue"
"Mau kemana?"
"Jalan keluar. Temen-temen pada keluar, ya kali kita cuma diem disini"
"Iya juga sih. Yaudah ayo" ucap Andi sembari merapikan kaosnya. "Gue pergi dulu boss"
"Emt"
Tak lama setelah kepergian Andi dan juga Riri, Vyona juga sudah tampak selesai bersiap.
"Yuk pergi"
"Udah siap?"
"Udah kok"
Jazz segera berdiri dan menggandeng tangan Vyona.
"Kayak mau nyebrang aja pakai gandengan tangan"
"Gapapa biar nggak hilang dicuri orang"
"Apaan sih" Vyona jadi geli sendiri hingga membuatnya memukul lengan Jazz, pada kenyataannya Vyona merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari pada biasanya.
"Kamu udah pernah pergi ke kebun teh?" Tanya Jazz sembari menatap hamparan kebun teh yang berada didepannya.
"Belum, ini untuk pertama kalinya"
"Jadi aku yang pertama dong!"
"Pertama apa?"
"Ngajak kamu pergi ke kebun teh"
"Bisa dibilang gitu. Dulu jijiel pernah janji sama aku, katanya mau ngajak aku pergi ke kebun teh kalau kami sudah besar, tapi nyatanya semua janjinya nggak ada yang ditepati"
"Jangan di ingat lagi, yuk kita kesana"
__ADS_1
"Mau ngapain?"
"Nanti juga tau"
Vyona hanya bisa pasrah ketika Jazz menarik tangan, tanpa tau cowok itu akan mengajaknya kemana.
Tanpa Vyona sangka ternyata Jazz membeli sebuah layang-layang.
"Kamu beli layangan?"
"Emt, ayo kita terbangin"
Vyona hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya, tak lupa senyum manis terpatri di bibir indahnya.
"Dulu jijiel juga Pengan ngajak aku main layang-layang di kebun teh, tapi sayangan bukan jijiel yang ngajak aku main layang-layang. tapi aku bersyukur Jazz wunudin salah satu keinginan aku dulu. Makasih Jazz"
Sudah hampir dua jam Jazz dan juga Vyona bermain-main di kebun teh. Sampai akhirnya keduanya harus mengakhiri kegiatannya bermain layang-layang karena Rafa tiba-tiba saja datang dan mengajak keduanya untuk segera kembali ke Jakarta.
"Padahal masih pengen main" ucap Vyona sembari mencebikkan bibirnya.
"Masih banyak waktu, nanti kalau libur sekolah aku ajak kamu pergi main lagi"
"Janji ya!" ucap Vyona sembari mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji nona" jawab Jazz sembari menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Vyona.
"Oke deh, yuk pulang"
Vyona melangkah dengan riang sembari mendorong tubuh Rafa, sedangkan Jazz yang berada di belakangnya hanya bisa tersenyum ketika melihat Vyona nampak bahagia.
*****
"Baru pulang?" Tanya Alan begitu melihat Vyona baru saja datang dengan menenteng koper.
"Abang" bukannya menjawab pertanyaan Alan, Vyona justru langsung menghambur memeluk Alan.
"Pacar kamu mana V?"
"Udah pulang, kenapa emangnya bang?"
"Gapapa cuma mau ngobrol aja"
"Ini urusan cowok, anak kecil nggak perlu tau"
"Ck, Vyo udah gede ya bang. Abang sama kak Eksa mah nyebelin, selalu ngatain Vyo anak kecil terus"
"Emang kamu masih kecil"
"Terserah" ucap Vyona sembari cemberut.
"Dihh ngambek, mau sebesar apapun kamu, Dimata Abang sama Eksa kamu tetep adik kecil kami" ucap Alan sembari memeluk Vyona.
"Vyo sayang bang Alan" ujar Vyona sembari membalas pelukan Alan.
"Kamu pulang Al?" Tanya Dalia yang baru saja pulang.
"Iya tan" jawab Alan dengan wajah datarnya. Sedari dulu Alan memang tidak menyukai Dahlia, pasalnya wanita itu selalu bersikap dingin kepada adik kecilnya.
"Kapan kamu pulang?"
"Alan rasa itu bukan urusan Tante, mending Tante urus aja urusan Tante sendiri"
"Kamu kurang ajar banget ya. Ingat, kamu itu nggak akan jadi apa-apa kalau tidak ada suami saya"
"Dan apa Tante fikir om saya masih mengakui tante sebagai istrinya!" Bukannya merasa segan Alan justru semakin memancing amarah Dahlia, melihat kemaran Dahlia memang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Alan.
"Anak kurang ajar ya kamu"
"Tante harusnya bersyukur, karena sampai sekarang om saya nggak menceraikan tante, setelah semua perbuatan buruk Tante. Tapi Alan fikir om agra bakal langsung menceraikan tante, kalau om Agra tau tante suka main tangan sama Vyona"
Dahlia sangat kaget, ternyata Alan tau semuanya. Bagaimana bisa Alan tau kalau dirinya kerap kali memukul Vyona.
"Kenapa? Tante kaget!" Ucap Alan sembari tersenyum remeh.
"Tante tenang aja, mungkin nggak lama lagi Tante bakal dapat surat dari pengadilan"
__ADS_1
"Anak sialan" ucap Dahlia sembari berlalu pergi.
"Abang tau darimana kalau Vyo sering dipukul mama?"
"Mbok sum, dan bik yam. Mereka udah cerita semuanya ke Abang, kenapa kamu nggak ngomong sama Abang atau Eksa sih V! Apa kamu fikir kami berdua nggak cukup buat melindungi kamu"
"Vyo cuma nggak mau hubungan papa dan mama semakin memburuk bang"
"Emangnya kamu fikir selama ini hubungan mereka baik-baik aja V. Mungkin aja kalau om Agra nggak mikirin perasaan kamu, om Agra udah tinggalin tante Lia"
"Ini semua salah Vyo ya bang! Andai aja Vyo nggak ada, pasti papa sama Mama sekarang masih baik-baik aja"
"Stop salahin diri kamu V" ucap Alan dengan suara meninggi, ia paling benci jika Vyona menyalahkan dirinya sendiri. "Ini semua terjadi karena tante Lia yang nggak bisa berdamai dengan masalalunya, mungkin kalau dia bisa berdamai dengan masalalunya ini semua nggak akan pernah terjadi"
"Tapi Vyo nggak mau papa sama Mama pisah bang" ucap Vyona sembari terisak, gadis itu sudah menangis sedari tadi ketika Alan mengungkapkan kemungkinan sang papa akan menceraikan mamanya.
"Mungkin ini yang terbaik V" ucap Alan sembari berlalu pergi menuju kamarnya.
Bukannya Alan tak mau menemani Vyona, dan berusaha untuk menghibur gadis itu, Tapi air mata Vyona adalah kelemahan Alan. Alan bukan Areksa yang akan dengan sabar menenangkan adik kecil mereka, dari dulu hanya Areksa yang selalu berhasil menenangkan Vyona jika gadis itu tengah bersedih. Sedangkan Alan, cowok akan langsung emosi dan akan memukul siapapun orang yang telah membuat Vyona menangis.
"Ini gue Alan. Datang kerumah, tolong tenangin Vyo" ucap Alan kepada orang yang berada di seberang sana.
Jika kalian bertanya siapa yang Alan hubungi, sudah pasti itu Jazz. Kemarin setelah tau jika sepupunya memiliki seorang kekasih, Alan segera mencari tau semuanya tentang Jazz, jadi tak heran jika Alan memiliki nomor telefon milik Jazz.
Setelah selesai menelfon Jazz, Alan meraih gelas yang berada di atas nakas dan langsung melempar ke arah dinding. rasanya sekarang Alan ingin sekali menghajar Dahlia jika saja dia bukan orang tua, kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui benar-benar meremukkan hatinya.
Bagaimana mungkin Vyona bisa menutupi semuanya selama ini, hanya karena gadis itu ingin melindungi mamanya. Mama! Alan rasa panggilan itu tak pantas Dahlia dapatkan dari seorang Vyona.
*****
Jazz yang baru saja mengantar Ghea pulang langsung memutar balik mobilnya dan kembali kerumah Vyona, setelah ia menerima telfon dari Alan.
"Kita mau kemana? Kok putar balik sih boss!" Rafa sampai heran karena kini Jazz menambah kecepatan mobilnya.
"Rumah Queen"
"Kan tadi udah dari sana"
"Bang Alan telfon, katanya gue suruh nenangin Queen. Gue jadi khawatir"
"Gass lah kalau gitu. buruan gue juga ikut khawatir ini"
Setelah mengendarai mobil seperti orang kesetanan akhirnya Jazz dan Rafa pun telah sampai di rumah Vyona. Keduanya langsung berlari masuk begitu pak Agus membuka pintu gerbang.
"Kita langsung masuk ya pak" teriak Rafa meminta izin kepada pak Agus.
Kedua cowok tampan itu langsung saja menerobos masuk kedalam rumah Vyona. Begitu sampai diruang tengah Jazz dan Rafa dapat melihat Vyona yang tengah menangis dan sedang ditenangkan oleh mbok sum dan juga bik yam.
"Queen"
Setelah melihat kedatangan Jazz mbok sum dan bik yam pun lantas bangkit dari duduknya, berusaha memberi ruang untuk Jazz dan juga Vyona.
"Jazz" Vyona langsung menghambur memeluk Jazz begitu cowok itu duduk disampingnya.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku"
"Kata Abang, papa bakal cerai sama mama"
Mendengar penjelasan Vyona, Jazz pun semakin mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung Vyona, berusaha memberikan keterangan pada gadisnya.
"Terus bang Alan dimana?"
"Abang di kamar, bisa tolong lihatin. Tadi aku dengar Abang lagi banting-banting barang"
"Fa loe cek bang Alan gih"
"Oke boss" jawab Rafa sembari melesat ke lantai atas dimana kamar Rafa berada.
"Udah jangan nangis lagi'
"Tapi aku nggak mau mama sama papa pisah Jazz"
"Kalau itu benar-benar terjadi, hormati keputusan papa kamu. Mungkin itu yang terbaik"
"Aku anak pembawa sial ya Jazz!"
__ADS_1
"Husst, heii kamu ngomong apa sih" ucap Jazz sembari menangkup kedua pipi Vyona, ia benci jika Vyona menyalahkan dirinya seperti ini. "Nggak ada yang namanya anak pembawa sial Queen, semua anak yang lahir ke dunia ini adalah anugerah paling indah yang Tuhan berikan. Jadi jangan pernah sekalipun kamu nyalahin diri kamu sendiri, oke"
Vyona kembali menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik Jazz, berada dalam pelukan Jazz membuat ketenangan tersendiri bagi Vyona. Pelukannya begitu hangat dan juga menenangkan, berada dalam pelukan Jazz Vyona merasa terlindungi.