I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
untuk terakhir kalinya


__ADS_3

Malam ini sesuai dengan janjinya kepada teman-teman Jazz datang ke sirkuit untuk membantu teman-teman mendapatkan uang. Mungkin bagi Jazz, Rafa, maupun Andi uang itu tak seberapa, tapi bagi Agam uang itu cukup membantunya untuk menambah uang jajan ataupun membayar biaya sekolahnya dan juga Azam, begitu pula dengan Eric ataupun si kembar mereka juga akan ikut balapan untuk menambah uang jajan mereka.


"Yo Jazz, nongol juga loe akhirnya" ucap Akbar yang melihat Jazz baru saja datang.


"Kenapa loe bang! Kangen loe sama gue" seru Jazz sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Jijik" Akbar benar-benar merasa geli melihat Jazz yang seperti itu, kemana anak didiknya yang dulu! Cowok dingin yang cuek itu sekarang sudah mencair, aihh Akbar benar-benar tak menyangka kalau pengaruh Vyona sebesar ini untuk Jazz.


"Bang, kalau seumpama gue berhenti sampai disini gimana?" Tanya Jazz secara tiba-tiba tentu saja hal itu membuat Akbar langsung terkejut.


"Maksud loe berhenti?" Tanya Akbar masih setia dengan wajah bodohnya.


"Mungkin ini terakhir kalinya gue ikut balapan, mungkin ivent beberapa bulan yang lalu adalah terakhir kalinya yang gue ikutin" jawab Jazz sembari menatap lurus ke depan rasanya ia tak mampu menatap mata sang pelatih, mengingat selama ini bagaimana usaha Akbar dalam melatihnya hingga bisa jadi seperti ini.


"Gue gapapa, kalau loe mau berhenti sampai di sini. Gue bakal selalu dukung loe, apapun keputusan loe, gue bakal hargain" ucap Akbar sembari menepuk pundak Jazz.


"Loe nggak marah, bang?"


"Ahaha gila loe, buat apa gue marah. Loe emang anak didik gue yang paling jago, bahkan loe yang paling bersinar dari yang lainnya Jazz. Tapi dari dulu gue juga udah nyiapin diri gue kalau loe bakal mundur, apalagi loe anak tunggal harapan orang tua loe"


"Makasih, bang"


"Ngapain pakai makasih segala sih, nanti kalau loe udah nggak ngebalap jangan lupa sama gue"


"Mana mungkin gue lupa sama loe sih, bang"


"Wihh boss udah sampai aja loe!" Seru Eric yang baru saja datang bersama Rafa, Andi, Agam, Eric, dan juga sikembar.


"Loe udah ngomong sama bang Akbar, boss?' tanya Aldi yang baru saja mendaratkan pantatnya di sofa kosong disamping Jazz, kebetulan mereka sekarang sedang berada di cafe dekat sirkuit.


"Udah, sekarang tinggal giliran kalian" jawab Jazz dan langsung diangguki oleh Aldi.


"Bang, gue mau ngomong"


"Mau ngomong apa, Al? Mau ngomong kalau Jazz bakal berhenti ngebalap!"


"Bukan. Sebenarnya bukan hanya si boss aja yang bakal berhenti"


"Ya terus!" Seru Akbar sembari mengerutkan keningnya.


"Kita-kita juga bakal berhenti" ucap Agam, Rafa, andi, Eric, dan juga kembar secara bersamaan.


Sontak saja jawaban kelima cowok itu membuat Akbar sangat terkejut, bahkan jus yang baru saja ia minum langsung menyembur karena saking terkejutnya.


"buset kira-kira dong, bang. basah nih gue" protes Eric ketika kena semburan jus dari Akbar.


"Loe semua nggak lagi bercandakan?" Tanya Akbar, siapa tau anak didiknya hanya bercanda.


"Kita nggak bercanda, bang. Kita mau fokus sama bengkel aja, gue rasa itu cukup buat nambah uang saku kita-kita" jawab Aldi mewakili teman-temannya.


"Loe semua bakal ninggalin gue!" Seru Akbar sembari menatap enam sekawan itu secara bergantian, jujur ini sama sekali tak pernah terlintas di pikiran Akbar. Kehilangan Jazz saja sudah cukup berat untuk dirinya, ini ditambah ke lima teman Jazz juga ikut pamit.


"Kita nggak ninggalin loe, bang. Kita cuma mau fokus ngembangin usaha bengkel kita, kalaupun nanti kita punya waktu luang pasti kita jengukin loe kok" ucap Agam sembari merangkul pundak Akbar.

__ADS_1


Akbar nampak menghela nafas panjang, ini benar-benar berat untuk dirinya. Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun, tapi kini anak didiknya secara bersamaan pamit undur diri.


"Sebenarnya kalau gue boleh jujur, gue berat ngelepas loe semua. Tapi kalau itu buat masa depan kalian gue juga bisa apa"


"Jangan sedih dong, bang. Nanti kita pasti bakal sering-sering jengukin loe kok, atau loe juga bisa main ke bengkel kita" ucap Eric sembari memeluk Akbar, bahkan kedua matanya sudah memerah.


"Anak bontot loe jangan manja terus ya, jangan ngrepotin abang-abang loe" ucap Akbar sembari menepuk punggung Eric. Memang di antara mereka Eric lah yang paling manja, dan yang paling muda. bagi Akbar, Eric sudah seperti anak bungsunya.


"Iya, bang. Gue janji nggak bakalan nakal-nakal lagi"


"Anak pintar"


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 itu tandanya pertandingan akan segera dimulai, dengan segera Jazz, Rafa, Aldi, dan Agam turun ikut meramaikan acara balap motor malam ini.


"Ini Azam kemana? Tumbenan kagak ngintilin abangnya"


"Masuk angin dia, tadi siang dia mandiin si bebek sambil main air"


"Jangan bilang dia mandiin bebek di bathtub basecamp!" Seru andi sembari melotot.


"Emang iya" ucap Eric dengan santainya.


"Mampus" gumam Andi sembari mengacak-acak rambut dengan frustasi.


"Kenapa?"


"Kalau si boss tau, gue yang digantung anji*g"


"Huftt selamat" ucap Andi sedikit bernafas lega. Setidaknya sekarang teman-temannya masih bisa diajak kerja sama, tapi tidak tau nanti kalau tiba-tiba saja Aldo atau dirinya sendiri keceplosan.


"Ayo boss semangat" Eric berteriak heboh ketika seorang gadis cantik sudah berdiri di tengah-tengah lintasan.


Sementara itu dibawah sana Jazz nampak acuh ketika tatapan Yuda monyorotnya secara tajam.


"Ready!" Seru gadis cantik yang kini membawa kain merah itu. "Oke tiga, dua, go" lanjutnya sembari melempar kain merah yang ia bawa.


Setelah hitungan terakhir Jazz segera melajukan motornya dengan kecepatan penuh, yang ia bayangkan sekarang adalah Vyona kini tengah berdiri di garis finis untuk menyambut kemenangannya, entah mengapa setiap kali ikut balapan Jazz selalu mensugesti dirinya sendiri bahwa gadis kecilnya sedang berdiri di garis finis untuk menanti dirinya.


Sejauh ini Jazz masih memimpin dibelakangnya ada Rafa, Aldi, dan juga Yuda. Hingga tinggal beberapa meter lagi Jazz dapat mencapai garis finis, namun kedua matanya langsung terbelalak begitu tau siapa yang berdiri di depan sana.


Dengan sangat berat setelah sampai digaris finis Jazz langsung menghentikan motornya dan menghampiri cowok tampan yang kini sedang bersidekap dada di depannya.


"Ehh ada kak Eksa, sama bang Alan" ucap Jazz sembari cengengesan.


"Udah puas main-mainnya!" Seru Areksa sembari menatap Jazz dengan wajah datarnya.


"Buat terakhir kalinya, kak"


"Bang Eksa" Yuda berteriak heboh ketika melihat Areksa, cowok itu pun tak segan-segan untuk memeluk Areksa. "Gue kangen banget sama loe, bang" lanjut Yuda.


"Lepasin nyet, malu gue dilihatin orang-orang ntar dikira jeruk makan jeruk lagi"


"Loe kapan pulang bang?"

__ADS_1


"Lupa gue, yang jelas udah lama"


"Loe kenal sama si kunyuk ini, kak?" Tanya Jazz dengan sedikit heran.


"Iya, dulu anak didik gue"


"Nah bang, ini nih orang yang dulu gue ceritain sama loe"


"Loe ngalahin bocah tengil kayak gini aja nggak bisa, bikin malu aja"


"Loe kenal Jazz, bang"


"Ya kenal, dia calon adik ipar gue"


"APA?" Yuda langsung ngegas begitu mendengar jawaban Areksa, itu berarti cewek cantik yang akan ia rebut dari Jazz itu adiknya Areksa. Untung saja Yuda belum bertindak lebih jauh, kalau tidak bisa mati dia ditangan Areksa.


*******


Pagi ini Jazz baru saja datang ke sekolah dan langsung disambut oleh Yuna yang kelihatannya sudah menunggunya dari tadi di parkiran.


"Akhirnya datang juga" ucap Yuna dengan wajah berbinar.


"Ngapain loe?"


"Ishh aku tuh nungguin kamu Jazz. Kata Tante kamu sekarang tinggal di apartemen ya, apartemen mana?"


"Kepo loe" ketus Jazz sembari berjalan mendahului Yuna, namun nyatanya gadis itu tak mau berhenti mengusiknya terbukti kini gadis itu malah menggandeng tangannya.


"Loe tuh apa-apaan sih, Yun! Kalau cewek gue lihat nanti dia bisa salah paham" saat ini Jazz masih berusaha mengontrol emosinya tak mungkin jika ia berbuat kasar kepada seorang gadis, sekalipun gadis itu adalah Yuna yang Jazz anggap seperti bakteri karena selalu menempel kepada dirinya.


"Biarin aja, siapa tau nanti kalian putus. Terus loe jadi punya gue" ucap yuna penuh dengan semangat.


"Mimpi loe ketinggian, awas nanti kalau jatuh sakit" sinis Jazz sembari menepis tangan Yuna yang masih bergelayut manja pada dirinya. "Kali ini gue masih ngomong secara baik-baik ya, tolong jauhin gue. Jangan pernah ngusik hidup gue, karena sampai kapanpun cinta gue cuma buat ona" lanjut Jazz sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Yuna.


"Kurangnya gue apa sih? Kenapa loe lebih milih cewek itu"


"Loe nggak ada apa-apanya jika dibandingkan sama Ona, mendingan loe pergi kalau perlu balik lagi aja ke luar negeri" jawab Jazz sebelum akhirnya cowok itu benar-benar pergi.


"Ahhhh, Vyona sialan" Yuna berteriak sudah seperti orang gila hingga membuat beberapa orang yang lewat langsung mencibir dirinya.


******


"Tumben sendirian boss, Bu boss kemana nih?" Tanya Andi begitu melihat Jazz baru saja datang namun tanpa Vyona bersamanya.


"Nggak masuk, lagi demam tinggi"


"Loe sih boss anak orang di ajak hujan-hujanan"


"Loe fikir gue mau ngajak dia hujan-hujanan, gila lu" ketus Jazz sembari duduk di bangkunya, setelahnya ia telungkupkan kepalanya diatas meja.


Bayangan Vyona kembali menguasai kepalanya, dimana tadi ketika ia menjemput Vyona, gadis itu terlihat sedang tidak baik-baik saja, suhu tubuhnya yang sangat tinggi benar-benar membuat Jazz khawatir.


"Ona sayang, cepet sembuh" gumam Jazz sepelan mungkin.

__ADS_1


__ADS_2