I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
rumah nenek


__ADS_3

Malam ini Vyona masuk kedalam ruang kerja Agra sembari membawa buku yang ditulis oleh sang mama.


"Papa"


"Hey sayang. Kok belum tidur sih cantiknya papa"


"Vyo mau kasih ini" ucap Vyona sembari menaruh buku usang itu didepan sang papa.


"Buku apa ini?" Tanya Agra dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Punya mama, Vyona rasa papa perlu baca ini. Yaudah Vyona ke kamar dulu pa" jawab Vyona sembari mencium pipi sang papa.


Setelah kepergian sang putri, Agra kembali berkutat dengan file-file yang sedari tadi tengah ia kerjakan. Sampai pada akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 24.00 akhirnya Agra selesai dengan segala pekerjaannya.


"Udah malam, ternyata " ucap Agra sembari merapikan semua dokumen yang baru saja ia kerjakan.


Namun begitu ia akan kembali ke kamar, matanya tak sengaja melihat buku yang tadi Vyona berikan.


"Sejak kapan Dahlia suka menulis! Dari dulu dia tidak pernah suka menulis, karena dia lebih suka menggambar. Dan lagi dia tidak begitu pandai menuliskan isi hatinya" gumam Agra sembari tersenyum.


Ia urungkan niatnya untuk kembali ke kamar, dengan perlahan jari jemarinya mulai membuka buku usang itu. Dibacanya setiap tulisan yang ditulis oleh istrinya. Hingga tak terasa air mata Agra jatuh begitu saja.


"Ternyata kamu membohongi aku Lia, kenapa kamu tanggung itu sendirian. Kenapa kamu nggak cerita sama aku, aku benar-benar nggak guna, aku nggak becus jadi suami kamu Lia"


Agra terisak sembari terus menyalahkan dirinya sendiri. Tak mampu Agra bayakan semenderita apa Dahlia, ia pikul sendiri masalah sebesar itu.


"Lia sayang, maaf" gumamnya sembari memeluk buku yang ada ditangannya dengan begitu erat.


Kesalahpahaman ini harus segera diluruskan, Agra tak ingin jika keluarganya terus-menerus mengecap Dahlia sebagai wanita jahat, ia harus segera menjelaskan semuanya kepada keluarga besarnya.


Dengan segera Agra kembali menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil, ia harus segera pergi kerumah bundanya.


"Papa mau kemana?" Alan yang baru saja kembali dari dapur dengan secangkir kopi ditangannya dibuat kaget ketika Agra berjalan dengan tergesa-gesa.


"Kerumah nenek"


"Ini udah malam, pa. Apa nggak lebih baik besok aja"


"Ini penting bang. papa pergi dulu, Kamu jaga adik-adikmu"


"Alan ikut" ucap Alan sembari mengikuti langkah Agra.


"Papa bisa sendiri bang"


"Alan mau ikut. Dan Alan nggak terima penolakan" ucap Alan kekeh pada pendiriannya.


Sebenarnya Alan merasa khawatir kepada Agra, Alan dapat melihat dengan jelas kalau mata Agra memerah, sudah pasti Om nya itu habis menangis. Alan fikir Agra telah membaca buku itu, mengingat buku itu memang sedang Agra bawa.


"Dirumah aja ya bang, kalau mau ikut nanti-nanti aja waktu kita ada kumpul keluarga"


"Alan nggak mau. Papa duduk aja, biar Alan yang nyetir"


Pada akhirnya Agra hanya bisa pasrah ketika Alan benar-benar ikut pergi kerumah neneknya.


"Papa udah tau semuanya?"


"Abang tau?" Bukannya menjawab Agra malah berbalik bertanya.


"Emt, Alan tau satu hari setelah mama Dahlia pergi"


"Jadi Abang yang bisa buka pintu kamar itu!"


"Bukan, yang bisa buka pintu itu Jazz. Karena mama emang ngasih kuncinya sama anak itu"


"Kenapa Abang nggak bilang!" ucap Agra sembari memijat pelipisnya.


"Abang nggak tega mau bilang. kita baru aja berduka, pa. Kalau Abang bilang, Abang nggak tau akan sehancur apa papa waktu itu" ucap Alan sembari mencengkeram erat stir mobilnya, sekuat tenaga Alan berusaha untuk tidak menangis. Sudah cukup sering ia menangis akhir-akhir ini, padahal Alan adalah orang yang nggak gampang menangis.


Setelah menempuh perjalan hampir satu jam akhirnya Agra dan juga Alan sampai juga. Dan tanpa menunggu lama Agra segera berlari masuk kedalam rumah.


"BUNDA" Agra berteriak sudah seperti orang kesetanan. "BUNDA"

__ADS_1


"Agra, apa-apaan kamu. Kamu datang kerumah bunda ditengah malam seperti ini, dan kamu teriak-teriak seperti orang gila. Dimana etika kamu, apa bunda pernah mengajarkan hal seperti ini" rosmalinda nampak murka ketika buah hatinya datang ditengah malam dan membuat onar seperti ini.


"Pa, tanah emosi papa" ucap Alan sembari memeluk Agra dari belakang.


Mendapat pelukan hangat dari Alan membuat Agra sedikit melunak, dan dengan perlahan tubuh Agra mulai meluruh.


"Alan, ada apa ini sebenarnya. Ada apa dengan papa Agra mu itu?" Tanya rosmalinda sembari menatap cucu tertuanya.


"Nenek duduk dulu nek, Alan akan jelaskan semuanya" ucap Alan kepada sang nenek, cowok tampan itu pun juga menuntun Agra untuk duduk di ruang keluarga.


"Alan jelasin sama nenek, ada apa ini sebenarnya?"


Dengan segera Alan mengambil buku Dahlia yang tergelatak di atas lantai dan segera memberikannya kepada sang nenek.


"Apa ini?"


"Nenek baca aja, itu punya mama Dahlia"


Dengan segera Rosmalinda membuka dan membaca isi buku itu, setelah cukup lama akhirnya Rosmalinda selesai juga membaca buku itu. Mata Rosmalinda sudah beruraian dengan air mata, ternyata selama ini menantunya tidak salah apa-apa, menantunya hanya korban.


"Dahlia, maafin bunda nak" ucap Rosmalinda sembari sesegukan.


"Istri Agra nggak salah bunda, bahkan sampai akhir hayatnya pun bunda masih sangat membenci dia. Padahal dia cuma korban, Arga benar-benar gagal menjaga Dahlia"


Sungguh hati Agra rasanya seperti sedang dicabik-cabik oleh ribuan belati. Sakit! Itu sudah pasti, dia telah kehilangan cintanya, ditambah Sekarang ia tau fakta bahwa istrinya tidak pernah menghianati dirinya.


"Maafkan bunda Agra, bunda kecewa kepada Dahlia. Bunda fikir dia benar-benar menduakan kamu"


"Selama ini bunda telah membenci istri Agra, jadi sekarang Agra minta sama bunda tolong terima Vyona bunda. Dia nggak tau apa-apa, bahkan kalau anak itu bisa memilih, dia nggak akan mau terlahir sebagai anak hasil pemerkosaan"


"Baiklah, karena kamu begitu menyayangi Vyona, bunda akan terima dia sebagai cucu bunda" ucap Rosmalinda sembari tersenyum. "Sekarang kalian tidurlah, ini sudah malam"


*******


"Pagi kakakku sayang" sapa Vyona sembari mencium pipi kanan Areksa.


"Pagi juga adik kesayangan kakak"


"Kerumah nenek"


Mendengar jawaban Areksa membuat Vyona mengerutkan kedua alisnya, untuk apa papa, dan juga bang Alan pergi kerumah nenek sepagi ini.


"Kok pagi banget"


"Banyak tanya udah kayak Dora aja, udah makan gih"


Vyona mencebikkan bibirnya kesal karena disamakan dengan Dora, sebelum akhirnya gadis itu menjulurkan lidahnya untuk meledek Areksa.


"Non bekalnya" ucap bik yam sembari menaruh kotak bekal disamping Vyona.


"Makasih bibikku sayang"


"Sama-sama" jawab bik yam sembari mencubit pelan pipi Vyona.


"Kakak perhatikan loe sekarang makannya banyak ya dek"


"Masak sih kak!"


"Iya, itu buktinya dirumah udah sarapan tapi masih bawa bekal, nanti disekolah masih beli makanan di kantin"


"Ini itu buat Jazz kak, bukan buat gue"


"Uluh-uluh soswet banget sih"


"Iyalah punya pacar, kalau kakak mau uwu-uwuan cari pacar sana. Nggak capek apa jomblo terus" ledek Vyona sebelum gadis itu pergi meninggalkan meja makan.


"Emang adik kurang ajar, gue sebenernya juga pengen bisa uwu-uwuan. Tapi gue nunggu loe dapetin cowok yang tepat, cowok yang bisa jagain loe. Jadi biar nanti kalau gue punya pacar, gue bisa tenang karena adik gue ada yang jagain, lah ini malah tu bocah kunyuk ngledekin gue Mulu" gumam Areksa sembari menatap punggung Vyona yang mulai mengecil.


Sesampainya di depan rumah Vyona melihat Jazz baru saja datang dengan motornya.


"Wah panjang umur banget pacar akuhh" ucap Vyona sembari senyam-senyum sendiri.

__ADS_1


"Pagi nona" sapa Jazz sembari melepas helmnya.


"Pagi"


"Cerah banget hari ini, lagi bahagia ya?"


"Nggak juga, yaudah yuk berangkat"


"Oke, nih pakai dulu helmnya" dan dengan telaten Jazz memasangkan helm yang ia bawa.


"Terimakasih" ucap Vyona sembari tersenyum semanis mungkin.


"Sama-sama nona, cantik banget sih bikin gemes aja" ujar Jazz sembari mencubit kedua pipi Vyona.


Setelah Vyona naik keatas motornya Jazz segera melajukan motornya membelah keramaian kota Jakarta.


Sesampainya disekolah Jazz segera menggandeng tangan gadisnya untuk menuju kelas.


"Gandengan tangan terus bang, mau nyebrang ya!" Ledek Niko yang tiba-tiba saja muncul bersama Astrid.


"Syirik aja lu, tong"


"V, loe nggak punya cita-cita nyari cowok yang mukanya nggak kaku apa? Gue kalau jadi loe, juga nggak betah kalau punya pacar mukanya kaku terus gitu"


"Luambemu, trid. Belum pernah gue sumpel mulut loe pakai tromol" ucap Jazz sembari melotot galak.


"Tromol apaan beb?" Tanya Astrid kepada Niko.


"Sebangsa seblak beb" jawab Niko sembari tertawa.


"Seriusan? Enak dong, gue mau kalau loe sumpel pakai tromol Jazz"


"Tauk ah, setres gue ngomong sama loe" ucap Jazz sembari menarik Vyona menjauh dari pasangan prik itu.


"Lah emang aku salah ya beb, kata kamu kan tromol itu kayak seblak"


Dengan segera Niko menunjukkan layar ponselnya kepada Astrid, hingga membuat gadis itu nampak mengerutkan keningnya karena tidak paham.


"Itu apaan beb?"


"Ini namanya tromol"


"Tadi kamu bilang tromol itu kayak seblak"


"Aku bercanda, lagian kamu bego banget sih beb" ucap Niko sembari kabur.


"NIKO" Astrid langsung berteriak kesal ketika sang kekasih langsung saja melarikan diri, setelah menipu dirinya.


********


Sore ini setelah mandi, Vyona sudah nampak rapi. Gadis itu akan pergi ke butik sang mama, setelah kemarin menerima laporan dari Joy asisten pribadi sang mama.


"Mau kemana dek?" Tanya Areksa dan Alan secara bersamaan.


"Ke butik mama"


"Mau ngapain?"


"Mulai sekarang Vyona udah memutuskan buat ngelanjutin usaha butik mama"


"Loe yakin dek, loe masih sekolah loh. Abang takut kalau itu bakal ngeganggu sekolah loe" Alan langsung mengutarakan isi hatinya begitu mendengar bahwa Vyona akan meneruskan usaha butik Dahlia.


"Nggak akan bang. Lagian Abang sama kakak tau kalau dari dulu gue juga pengen jadi designer seperti mama, jadi ini adalah salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita gue"


"Kalau kamu yakin bisa ngurus butik sambil sekolah, kakak sih setuju-setuju aja. Yang penting kamu ngomong sama papa"


"Oke. Jadi sekarang Abang juga setuju kan!"


"Yaudah deh. Yang penting loe seneng" final Alan.


"Yey, sayang kak Eksa, dan bang Alan" ucap Vyona sembari menghambur memeluk kedua pria tampan itu.

__ADS_1


__ADS_2