I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
sebuah amanat


__ADS_3

Setelah pulang dari danau, Jazz mengajak Vyona menuju apartemennya karena Jazz ingin mandi dan ganti baju, setelahnya akan menemani Vyona untuk menjaga Dahlia di rumah sakit.


"Kamu nggak usah ikut lagi Jazz, kan ada Abang sama kak Eksa juga disana" ucap Vyona begitu melihat cowok tampan itu baru saja keluar dari dalam kamar, dengan kondisi rapi.


"Tapi aku mau nemenin kamu, biar kelihatan aktif di depan mertua"


"Apaan sih, nggak jelas" ucap Vyona sembari mencubit lengan Jazz.


"Udah yuk berangkat"


"Tapikan aku belum mandi" ucap Vyona sembari mencebikkan bibirnya.


"Kan aku antar kamu pulang dulu buat mandi, habis itu baru kita ke rumah sakit lagi Queen"


****


Areksa langsung menghampiri dokter Angga begitu tau dokter itu baru saja keluar dari dalam ruang rawat sang mama.


"Gimana keadaan mama saya dok?"


"Ibu Dahlia baik-baik saja, beliau hanya pingsan. Namun____" dokter Angga nampak menggantungkan kalimatnya hingga membuat Areksa dan yang lainnya menjadi penasaran.


"Namun apa dok?" Tanya Areksa sembari mencengkram kedua pundak dokter Angga.


"Kita harus secepatnya menemukan donor hati untuk mama kamu Areksa, kalau tidak nyawa ibu Dahlia bisa saja terancam"


Apalagi ini, baru saja pagi tadi ia mendapat kabar kalau mamanya telah sadarkan diri. Siangnya malah mendapat berita yang tidak mengenakkan.


"Apa pasien dirumah sakit ini nggak ada yang mati otak dok?" Tanya Alan kepada dokter Angga.


Dengan penuh sesal dokter Angga hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Pupus sudah harapan Areksa dan juga Alan. Padahal itu opsi terakhir yang mereka miliki, karena mendapatkan donor hati secepat itu adalah hal yang sangat mustahil.


Sedangkan Agra yang masih duduk di kursi tunggu, hanya bisa duduk sembari mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut dokter Angga, Areksa, dan juga Alan.


"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter Angga sembari berlalu pergi.


"Mama, bang" ucap Areksa sembari merosot ke lantai.


Alan segera berjongkok dan memeluk sepupunya itu. "Semua pasti bakal baik-baik aja, sa. Mama pasti bertahan"


"Gue takut, bang"


"Loe fikir cuma loe aja yang takut. Gue juga takut, sa. Gue nggak kalah takutnya sama loe, tapi kita nggak boleh lemah, Vyona butuh kita"


Areksa rasa Alan ada benarnya, kalau dirinya ataupun Alan rapuh, lalu bagaimana dengan adik kecil mereka.


"Anak-anak ayo masuk. Sekarang yang mama kalian butuhkan hanyalah dukungan kalian"


Agra melangkah masuk kedalam ruangan Dahlia meninggalkan Areksa dan juga Alan yang masih duduk bergeming didepan.


Baru saja Agra memasuki ruangan itu, matanya mulai terasa panas. Wanita yang selama ini ia cintai sekarang tengah berbaring lemah diatas ranjang pesakitan.


"Dahlia apa kabar?" Tanya Agra sembari duduk di kursi yang ada disamping ranjang Dahlia.


"Kamu tetap cantik walaupun usiamu sudah tidak muda lagi" ucap Agra sembari tertawa hambar. "Itu alasan kenapa dulu aku sangat mencintaimu, bahkan mungkin sampai saat ini, Dahlia"


Diraihnya tangan Dahlia yang terbebas dari selang infus, digenggamnya dengan penuh sayang.


"Andai kamu bisa berdamai dengan masalalu, mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia bersama anak-anak. Dahlia aku mohon, bertahanlah demi anak-anak"


"Demi aku juga" lanjut Agra didalam hati. Agra memang sudah berfikir matang-matang untuk pisah dengan Dahlia, namun tak bisa Agra pungkiri, akan jadi seperti apa jika ia tak bisa melihat senyum indah Dahlia, senyum yang selalu menjadi hal yang paling Agra suka dari Dahlia. dan senyuman manis itu sangat mirip dengan milik Vyona, itu juga menjadi alasan kenapa Agra sangat suka jika Vyona tersenyum.


******


"Loe yakin ini rumah sakitnya?" Tanya Rafa kepada Andi.


"Iyalah, nih kalau loe nggak percaya baca aja chatnya si boss" jawab Andi sembari menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


Sore ini Rafa, Andi, Ghea, Riri, Astrid, dan juga Niko bermaksud untuk menjenguk Dahlia begitu pagi tadi dapat kabar dari Jazz kalau mamanya Vyona sudah sadarkan diri.


"Woy mau kemana? Ini nomor 208 bege" ucap Riri begitu teman-temannya terus saja berjalan, padahal ruangan tempat mamanya Vyona dirawat telah mereka lewati.


"Hlah iya, ini 211" ucap Niko sembari menunjuk ruangan didepannya.


Tokk... Tokk... Tokk


"Assalamualaikum" ucap ke enam remaja itu sembari memasuki ruang rawat Dahlia.


"Walaikumsalam, kalian kesini?"


"Iya bang. Mau jengukin Tante" jawab Rafa, dan segera diangguki oleh yang lainnya.


"Yaudah sini duduk dulu" ucap Areksa sembari menggeser duduknya, memberi ruang untuk teman-teman Vyona.


"Vyona mana kak?" Tanya Ghea yang langsung saja menempel pada Areksa.


"Masih dirumah mungkin, kata Jazz lagi mandi"


"Tapi mereka nggak lagi mandi bareng kan kak?" Tanya Astrid dengan ngegas.


"Astagfirullah Astrid, otak loe ye" ucap Andi sembari menoyor kepala Astrid.


"Gue cuma takut kalau mereka nyicil keponakan lucu buat kita ndi"


"Mereka bukan elu ye trid" sarkas Riri sembari mendengus kesal.


"Udah-udah, anak kecil nggak baik mirik kayak gitu" ucap Areksa sembari tersenyum.


"Ishh kak Areksa ganteng banget sih, Vyona kenapa nggak pernah cerita sih kalau punya kakak ganteng-ganteng. Tau gitu Astrid mau ngantri"


"Terus aku mau kamu kemanain beb?" Tanya Niko sembari melotot galak.


"Berjanda bebeb" ucap Astrid sembari mendusel pada dada bidang Niko.


"bercanda goblok" ucap Andi mengoreksi ucapan Astrid yang sengaja diplesetkan.


Ketika tengah asik bercerita tiba-tiba saja pintu ruang rawat Dahlia terbuka, dan tak berselang lama masuklah Vyona dan juga Jazz.


"Kalian semua disini?" Tanya Vyona kepada teman-temannya, sedangkan Jazz hanya diam saja dan langsung duduk di pangkuan Andi.


"Astagfirullah, boss loe datang-datang langsung jadi beban ya"


"Bachoot, diem napa"


*****


"Jazz"


"Iya tan, ada yang bisa Jazz bantu?"


"Sini" ucap Dahlia sembari menepuk pinggiran ranjangnya.


Dengan patuh Jazz pun mendekat dan duduk di kursi.


"Kenapa Tan?"


"Kamu sayang Vyona?"


"Sangat" jawab Jazz dengan pasti.


"Tante titip dia ya. Jangan pernah kamu sakiti Vyona, cukup saya saja yang membuat dia menangis"


"Tante ngomong apa sih, Tante pasti sembuh. Kita lagi berusaha buat cari donor yang cocok buat Tante"


"Tante tau" ucap Dahlia sembari tersenyum. "Tapi rasanya tubuh Tante rasanya sudah sangat lemah, Tante nggak tau sampai kapan bisa bertahan. Kalau seumpama Tante pergi, tolong kasih ini sama Vyona" lanjutnya sembari memberi sebuah kunci kepada Jazz.


"Kenapa nggak Tante aja yang kasih, atau kak Areksa"

__ADS_1


"Tante titip kamu aja, karena Tante percaya kamu yang bakal berjalan beriringan dengan Vyona"


"Kenapa Tante seyakin itu?"


"Hati kecil Tante yang bilang seperti itu. Kalau Tante udah pergi, tolong jaga Vyona ya"


"Tapi ini kunci apa, Tan?"


"Itu kunci kamar rahasia, cuma saya yang bisa masuk kamar itu. Letaknya ada disamping ruang kerja papanya Vyona"


"Emang isinya apa?"


"Kamu buka aja nanti kalau Tante udah pergi" ucap Dahlia sembari mengulas senyum manisnya.


Tak berselang lama Vyona, Areksa, Alan, dan juga Agra baru saja kembali dari kantin rumah sakit. Vyona nampak membawa satu cup kopi, dan juga sekotak makanan.


"Jazz makan dulu yuk"


"Nanti aja Queen. sekarang udah jam 21.00 dan kita tadi belum sholat isya, kita sholat dulu yuk"


"Iya deh"


"Kita sholat bareng-bareng" ucap Dahlia ketika Jazz dan yang lainnya akan pergi ke masjid.


"Mama mau sholat?" Tanya Vyona sembari mendekati sang mama.


"Iya"


"Yaudah anak-anak ayo semuanya ambil air wudhu dulu" ucap Agra.


Setelah selesai mensucikan diri, mereka semua segera melaksanakan sholat isya secara berjamaah, dan di imami oleh Agra.


Dahlia tersenyum bahagia, rasanya ia sudah lama tidak melaksanakan sholat berjamaah bersama dengan Agra. Perasaan hangat tiba-tiba saja menyelimuti hati Dahlia, bisa berkumpul dan sholat berjamaah seperti ini benar-benar hal yang sangat langka.


Ahh andai saja Dahlia dapat berdamai dengan masalalunya sejak dulu, tentunya ia akan hidup bahagia bersama dengan Agra dan juga anak-anak. Sungguh Dahlia menyesal.


Namun ketika baru rakaat ke tiga mesin EKG berbunyi dengan nyaringnya, mengalihkan fokus mereka semua. Namun Agra selaku kepala keluarga tetap melanjutkan sholat itu hingga rampung, setidaknya kalau sang istri berpulang, Agra telah menyempurnakan sholat terakhir bagi wanita yang sangat ia cintai.


Vyona yang mendengar suara mesin EKG berbunyi dengan nyaring hanya mampu menangis dalam diam, dan terus melanjutkan sholatnya. Perasaannya tiba-tiba saja menjadi campur aduk, demi Tuhan Vyona benar-benar takut.


"Assalamualaikum warahmatullah"


"Assalamualaikum warahmatullah"


Setelah salam, Areksa segera melesat untuk mengecek keadaan sang mama. Tubuh Areksa langsung menegang begitu melihat di layar EKG hanya ada satu garis lurus. Areksa segera memeriksa denyut nadi Dahlia, dan benar mamanya benar-benar sudah berpulang menghadap sang pencipta.


"Inalilahi wainailaihi rojuin" ucap Areksa dengan suara bergetar.


"NGGAK, MAMA" Vyona berteriak dengan keras, berharap jika semua ini hanyalah mimpi. Bagaimana bisa mamanya pergi secepat ini, padahal sore tadi mamanya masih memeluknya.


Demi Tuhan Vyona ingin menolak semua ini. Baru tadi sore Vyona merasakan pelukan hangat Dahlia, tapi sekarang mamanya sudah pergi. Itu berarti pelukan tadi adalah untuk pertama dan juga terakhir kalinya untuk Vyona rasakan.


"Mama jangan pergi" ucap Vyona sembari sesenggukan, sebelum akhirnya gadis itu jatuh pingsan dalam pelukan Jazz.


Berbeda dengan Vyona dan Areksa yang langsung menangis histeris, Alan, dan juga Agra hanya bisa diam. Entah apa yang mereka fikirkan. Mata keduanya memerah, namun tak ada satupun air mata yang jatuh.


"Mama beneran ninggalin kita ya, pa?" Tanya Alan sembari terus menatap Vyona yang kini berada dalam pelukan Jazz.


"Iya, bang. Mama udah nggak ngerasain sakit lagi, kita harus ikhlas ya, kamu harus kuat buat adik-adik kamu"


"Tapi kenapa mama ingkar janji, dia bilang nggak akan ninggalin Abang. Tapi lihat sekarang dia juga pergi kayak mama dan papa, dia pergi ninggalin Alan"


"Kita ini hanya manusia biasa, bang. Ada saatnya kita kembali kepada sang pencipta"


"Papa gapapa?"


"Papa, baik-baik aja"


"Bohong, papa pasti sakitkan! Sebenci apapun papa sama Mama, mama Dahlia adalah satu-satunya wanita yang papa cintai dari dulu hingga kini"

__ADS_1


"Papa memang mencintai mama Dahlia, tapi kalau Allah lebih sayang mama Dahlia, maka papa hanya bisa mengikhlaskan bukan"


Air mata Alan jatuh dengan sendirinya, sebenarnya terbuat dari apa hati Om nya ini. Meskipun telah di hianati dan disakiti, cinta Agra untuk Dahlia sama sekali tidak pernah berubah, sikapnya boleh saja dingin dan terlihat acuh kepada Dahlia, tapi semua orang juga tau siapa pemilik hati Agra, sudah pasti pemiliknya adalah Dahlia Ramlan


__ADS_2