I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
di hukum


__ADS_3

"Selamat pagi nenek" sapa Vyona ketika melihat Rosmalinda baru saja keluar dari arah dapur.


"Pagi cucu nenek yang paling cantik, ayo sarapan dulu. Jangan sampai nggak sarapan, lihat badan kamu kurus banget kayak gini"


"Nenek udah sarapan?"


"Nenek tadi sudah sarapan barengan sama papa kamu. ayo buruan sarapan, nanti kamu bisa kesiangan"


"Abang, sama kakak mana?" Tanya Vyona begitu melihat meja makan yang terlihat kosong.


"Abang, sama kakak kamu ada pekerjaan di luar kota jadi pagi-pagi tadi mereka sudah berangkat"


Vyona hanya mengangguk paham, sembari melangkah lesu menuju meja makan. Padahal pagi ini dirinya ingin meminta izin kepada sang papa perihal ingin meneruskan usaha butik sang mama, tapi papanya malah sudah berangkat ke kantor.


"Tumben non kesiangan!" Ucap bik yam sembari menaruh kotak bekal untuk Jazz kedalam tas sekolah Vyona.


"Bukan Vyo yang kesiangan, papa sama yang lainnya kepagian" jawab Vyona sembari cemberut.


Bik yam yang melihat anak majikannya cemberut hanya bisa tersenyum, sebelum akhirnya ia mengelus pelan pundak Vyona.


"Ini kesayangannya bibi kenapa sih, kok pagi-pagi kayak gini udah cemberut aja"


"Vyo kesel, padahal Vyo pengen ngomong langsung sama papa, kalau Vyona pengen nerusin usaha butik mama. Ehh papa malah udah berangkat kerja"


"Mungkin aja tuan ada pekerjaan yang penting non, apa lagi den Alan sama den Areksa kan juga lagi pergi ke Surabaya"


"APA!" Vyona berteriak heboh ketika tau kedua kakaknya sedang pergi ke Surabaya.


"Non jangan teriak-teriak, nanti nyonya besar bisa nyap-nyap"


"Ihh bibik berdosa sekali" ucap Vyona sembari terkikik geli.


"Hustt, jangan ngadu-ngadu" ucap bik yam sembari mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya ia pergi.


"Bik yam ada-ada aja deh" gumam Vyona sembari tersenyum.


Kehadiran bik yam dan juga mbok sum memang menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Vyona. Disaat mood Vyona berantakan ada keduanya yang akan mengembalikan mood Vyona.


Setelah menghabiskan sarapannya Vyona segera bergegas untuk berangkat ke sekolah karena takut jika kesiangan. Namun ketika ia baru saja sampai di ruang tamu, Vyona melihat Jazz dan juga nenek yang tengah mengobrol, bahkan neneknya terlihat begitu akrab dengan Jazz.


"Gimana bisa, gue yang cucunya aja nggak pernah disambut sehangat itu sama nenek" gumam Vyona sembari bersidekap dada, dan bersandar pada dinding.


"Queen, kamu ngapain?" Tanya Jazz ketika melihat Vyona hanya bengong sembari memperhatikan dirinya dan juga neneknya.

__ADS_1


"Hehe gapapa kok, yuk berangkat" jawab Vyona sembari melangkah riang. "Nek, kita berangkat dulu ya" pamit Vyona sembari mencium tangan Rosmalinda dan segera diikuti oleh Jazz.


"Iya, kalian hati-hati ya. Jazz, nenek titip cucu nenek"


"Siap nek" ucap Jazz sembari mengacungkan kedua jempolnya.


Sesampainya di luar Jazz segera naik ke atas motornya tak lupa cowok itu juga memasangkan helm di kepala Vyona.


"Ngomongin apa sama nenek?"


"Kepo" jawab Jazz sembari tersenyum dan mencolek hidung Vyona.


"Ngeselin" ucap Vyona sembari naik ke atas motor milik Jazz.


"Pegangan nanti jatuh" Jazz segera melingkarkan kedua tangan Vyona ke perutnya, takut-takut jika gadis kesayangannya jatuh.


******


Pagi ini Karel sudah berdiri di depan gerbang sekolah untuk mengecek atribut yang dikenakan oleh siswa-siswi SMA Satria Mandala, dan yang tidak memakai atribut lengkap Karel akan menyuruhnya untuk berdiri di lapangan sembari hormat ke arah bendera.


Tak berselang lama Jazz dan Vyona datang, keduanya terlihat sedang mengobrol, bahkan Vyona terlihat tertawa dengan lepas. Karel jadi ingat, dulu senyum itu selalu ia yang menikmatinya. Namun sekarang, senyum itu sudah bukan milik dirinya.


"Ahh, gue mikir apa sih" gumamnya sembari menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba mata Karel langsung tertuju pada kaki Vyona, ahh gadis itu masih tidak pernah berubah, masih saja suka memakai sepatu putih di hari Senin ataupun Selasa. Padahal peraturan di SMA Satria Mandala mewajibkan seluruh siswa dan juga siswinya memakai sepatu hitam dihari Senin dan Selasa, sementara hari Rabu sampai Jumat mereka dibebaskan memakai sepatu apa saja.


"Kenapa?" Tanya Vyona dengan malas.


"Gabung sama anak-anak yang lainnya di lapangan" ucap Karel sembari menunjuk puluhan anak-anak yang tengah dihukum hormat kepada sang bendera merah-putih.


"Salah gue apa?" Tanya Vyona sembari melotot galak, seolah-olah dia tidak mempunyai salah.


"Sepatu loe putih, dan ini hari Selasa"


Mendengar jawaban Karel, Vyona segera menunduk untuk melihat sepatunya. Dan benar saja apa kata Karel, ia benar-benar memakai sepatu putih.


"Mampus, berjemur pagi-pagi ini gue" gumam Vyona pelan.


"Buruan, loe mau nunggu apa lagi"


"Iya bawel banget loe" ketus Vyona, sebelum akhirnya gadis itu menitipkan tasnya kepada Jazz, dan segera ikut bergabung dengan anak-anak yang lain.


Dengan malas Vyona bergabung pada barisan anak-anak yang melanggar aturan. Ahh, lagian kenapa dia bisa lupa sih kalau ini hari Selasa.


"Vyona"

__ADS_1


Samar-samar Vyona mendengar ada yang memanggil namanya, hingga membuat Vyona celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang memanggilnya.


"Hai" sapa orang itu sembari melambaikan tangannya kepada Vyona. orang itu adalah Astrid dan juga Riri, kedua temannya itu hari ini juga menggunakan sepatu putih sama seperti dirinya.


"Ngapain kalian dada-dada!" Seru Karel yang ketika melihat Astrid dan juga Riri berhenti hormat, dan malah melambai-lambaikan tangan kepada Vyona.


"Suka-suka gue, tangan juga tangan gue. Kenapa jadi loe yang ngatur" ketus Riri.


"Udah salah, tapi masih aja nggak tau diri"


"Apa loe, mau ngajak berantem!" Riri langsung nyolot begitu melihat wajah tengil Karel, hingga membuat moto hidupnya langsung keluar, ya moto hidup Riri adalah 'senggol gelud'


"Squat Jump 50 kali" ucap Karel dengan lantang.


"Oashuu" Riri langsung mengumpat begitu Karel menyuruhnya Squat Jump, namun pada akhirnya gadis itu tetap melakukan Squat Jump dari pada Karel mengganti dengan push up.


"Berdiri disini sampai jam pertama selesai, habis itu bersihkan area sekolah sampai bersih" perintah Karel sebelum akhirnya cowok itu pergi karena memang bel masuk telah berbunyi.


"Emang bajing*n tuh si Karel" ucap Riri sembari menatap tajam Karel yang sudah berjalan menjauh.


"Loe sih, banyak bacot. Demen banget nambah-nambahin hukuman"


"Ishh, pengen banget gue santet itu bocah" ucap Riri dengan gigi bergelatuk, menandakan jika gadis itu sangat kesal.


Sudah hampir satu jam Vyona dan yang lainnya di jemur di lapangan, hingga akhirnya Bu Endah datang dan menyuruh mereka untuk segera bersih-bersih.


"Sialan gue capek banget" ucap Astrid sembari menyeka keringat yang membasahi keningnya.


"Bach*t loe, trid. Udah ayo buruan kita selesaikan, abis itu langsung gass ngapelin mbak juminten"


Vyona yang mendengar perdebatan kedua temannya hanya diam dan tak mau berkomentar, ia fokus menjalankan hukumannya.


Karena terlalu fokus menyapu hingga membuat Vyona tak sadar jika Jazz sudah berdiri disampingnya dengan membawa minuman dingin untuknya.


"Dingin" ucap Vyona ketika tiba-tiba saja ada sesuatu yang menempel pada lehernya. Senyum Vyona langsung mengembang begitu tau siapa pelakunya.


"Jazz, kok kamu disini?"


"Aku bawain kamu minuman" ucap Jazz sembari menyerahkan minuman isotonik itu kepada Vyona. "Yang semangat ya jalanin hukumannya" lanjutnya sembari mengelus puncak kepala Vyona, sebelum akhirnya ia menyeka keringat Vyona dengan tangannya.


"Makasih ya" ucap Vyona sembari tersenyum.


"Sama-sama, yaudah aku ke kelas dulu"

__ADS_1


"Emtt"


__ADS_2