
Hari kedua ujian semester diisi dengan pelajaran fisika dan juga matematika. Di jam kedua ini Andi benar-benar sudah tidak bisa berfikir, otaknya sudah buntu. Bahkan cowok itu terlihat beberapa kali menghitung kancing bajunya untuk menjawab pertanyaan yang benar-benar tidak bisa ia kerjakan.
Bukan hanya Andi saja yang melakukan hal itu, Niko, Ghea, Astrid, dan juga Riri pun juga tampak melakukan hal yang sama. Sedangkan Vyona, Jazz, dan juga Rafa terlihat adem ayem. Karena sudah dapat dipastikan ketiganya dapat mengerjakan dengan mudah, mengingat otak ketiganya sangat encer.
"Gue duluan, ge" pamit Vyona begitu semua soal matematikanya sudah terjawab, dan dengan segera Vyona mengumpulkan lembar jawabannya, dan tak lama Jazz dan Rafa pun menyusul.
"Enak bener kalau punya otak super encer" ucap Astrid sembari menggigit pensilnya. Jujur saja Astrid iri dengan ketiga temannya itu, dirinya memang masuk di kelas IPA 1 tapi otaknya tidak terlalu pintar-pintar banget.
"Udah buruan kerjain lagi, loe pikir dengan ngelihatin Vyona yang udah ngumpulin lembar jawabannya, soal-soal loe dapat kejawab dengan sendirinya gitu" sinis Riri.
"Iya nona Riri"
"Astrid, Riri. kalau kalian masih mau ngobrol lanjutin di luar aja" pak yanu langsung menegur keduanya ketika dua siswanya itu bukannya mengerjakan malah asik ngobrol.
"Maaf pak" ucap Riri dan Astrid secara bersamaan.
*****
"Tega bener loe bertiga keluar kelas ninggalin kita yang lagi mati-matian muter otak" protes Riri begitu bertemu Vyona, Jazz, dan juga Rafa yang kini tengah duduk dibawah pohon mangga sembari belajar.
"Salah loe sendiri, kenapa kemarin nggak belajar. Kita kemarin belajar supaya bisa bahas soal yang sekiranya sulit buat dikerjakan, ehh ketika gue sama Jazz dan Vyona sibuk belajar sambil mecahin soal-soal susah, loe semua malah ngegosip "
"Ishh ayang, kamu kan tau otak kecil aku ini nggak akan mampu kalau harus belajar banyak-banyak " ucap Ghea sembari bergelayut manja pada lengan Rafa.
"Alesan aja" Rafa yang mendengar alasan Ghea langsung saja menyentil kening gadis itu, hingga membuat Ghea meringis kesakitan.
"Lihat loe pada ngerjain sambil ngitung kancing bener-bener buat gue pengen ngakak brutal. Tapi sayangnya gue inget dosa" ucap Vyona dengan terkekeh.
"Tapi sekarang loe ketawa Romlah" Andi jadi kesal sendiri kepada Vyona. Jelas-jelas gadis itu tau jika dirinya dan yang lainnya mengerjakan sembari menghitung kancing baju, bukannya dibantu malah keluar kelas terlebih dahulu.
"Puas-puasin loe ngetawain kita, V. Emang bener-bener temen nggak ada akhlak loe" ketus Niko dengan mulut sedikit monyong membuat Astrid yang berada disampingnya merasa gemas dan langsung saja menarik bibir kekasihnya.
*****
"Vyo,,,, V" Alan yang baru saja pulang dari Surabaya langsung berteriak-teriak mencari keberadaan sepupu kesayangannya.
__ADS_1
"Astagfirullah Abang kenapa sih? Baru juga pulang udah teriak-teriak, kayak idup di hutan aja loe bang" ucap Vyona dari lantai dua, sembari menatap tajam abangnya.
"Sini loe dek" Alan mengayunkan tangannya memberi isyarat kepada Vyona untuk mendekat.
Dengan langkah gontai Vyona menuruni anak tangga, setelah sampai ruang keluarga Vyona segera menghempaskan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Alan sebagai bantalan.
"Ini yang dari luar kota gue, kenapa loe yang lemes sih dek"
"Pusing gue"
"Sakit!" Seru Alan sembari memegang kening Vyona. "Nggak panas kok"
"Cuma sedikit migrain aja, bang. Kenapa manggil-manggil!"
"Loe kan kemarin nyuruh gue buat nyari tau tentang jijiel"
"Iya, terus gimana hasilnya bang?" Tanya Vyona dengan penuh antusias, bahkan gadis itu langsung melompat bangun dan duduk tegak untuk mendengarkan cerita Alan.
"Buset semangat banget sih"
"Oke, gue udah dapat alamat rumahnya yang ada di Surabaya__"
"Terus loe udah ketemu jijiel dong bang" Vyona langsung memotong omongan Alan, tergambar jelas binar kebahagiaan Dimata Vyona.
"Gue belum selesai ngomong, jadi jangan dipotong dong"
"Ya maaf, lanjut deh"
"Tapi dia nggak ada dirumah. setelah dia pergi dulu, dia nggak pernah kembali lagi. Mungkin orang tuanya yang sesekali pulang"
"Yahh" Vyona nampak menghela nafas panjang, bahkan kedua pundaknya nampak merosot. Ternyata temannya itu benar-benar pergi dan tak kembali, kalaupun jijiel kembali apa dia masih ingat dengan Vyona. "Kira-kira jijiel masih ingat Vyona nggak ya, bang!"
"Pasti"
"Dia pergi ninggalin gue tanpa pamit, bahkan sampai sekarang dia masih nggak kembali. Seumpama dia kembali apa dia bakal nyariin gue ya bang" Vyona nampak berkaca-kaca ketika mengingat jijiel pergi meninggalkannya tanpa pamit.
__ADS_1
Dulu sewaktu Vyona baru saja pulang sekolah, ia mencari-cari jijiel sampai mengelilingi rumah namun jijiel tak ia temukan sampai akhirnya pak Harno satpam rumahnya memberitahu kalau jijiel sudah dijemput oleh kedua orangtuanya.
Ketika Vyona tau jika jijiel ternyata sudah pergi, Vyona menangis seharian penuh bahkan Agra dan Areksa pun tak mampu membujuk Vyona kecil.
Jijiel kecil adalah teman pertama Vyona, sedari kecil tak ada satu orangpun yang mau berteman dengan Vyona, karena gadis kecil itu terkenal galak. Namun pada suatu hari jijiel datang, hingga pada akhirnya cowok kecil itu menjadi teman pertamanya.
"Terlepas dia inget sama loe atau nggak, tetap doain semoga temen masa kecil loe itu selalu dilindungi oleh Tuhan"
"Emtt"
"Udah ahh jangan sedih, adik Abang jadi nggak cantik lagi" ucap Alan sembari menarik ujung bibir Vyona.
"Gue kangen dia bang, Sekarang dia kayak apa ya! Pasti sekarang dia ganteng, terus playboy"
"Kenapa bisa gitu?" Tanya Alan dengan mengerutkan keningnya.
"Dulu pas kecil aja dia janji mau nikahin Vyo. apa lagi sekarang, pasti udah banyak cewek yang dia kasih janji-janji busuk" jawab Vyona sembari tersenyum.
"Bisa aja kamu nih, dek" ucap Alan sembari mengelus Surai hitam legam milik Vyona. "Dek, kalau seumpama Juniel ada di sekitar loe, dan loe kenal sama dia kira-kira loe mau apain dia?"
"Kok nanyanya gitu sih bang!"
"Kan seumpama, V"
"Gue bejek-bejek tuh anak, bisa-bisanya ninggalin gue tanpa pamit. Udah gitu nggak balik-balik lagi"
"Udah gue duga" ucap Alan sembari terkekeh sebelum akhirnya cowok itu bangkit dari duduknya.
"Mau kemana bang?" Tanya Vyona begitu melihat Alan bangkit dari duduknya.
"Kamar, mau mandi"
Setelah kepergian Alan, Vyona kembali merenungkan pertanyaan Alan barusan. Mana mungkin jijiel ada di sekitarnya, Alan sungguh ada-ada saja.
Karena terlalu fokus membahas jijiel, sampai membuat Vyona melupakan satu hal. Areksa, dimana kakaknya itu berada. Alan saja sudah pulang kenapa Areksa tak kelihatan batang hidungnya.
__ADS_1
"Lah kenapa gue baru ngeh kalau kakak nggak ada. astagfirullah, gara-gara bahas jijiel sih, sampai-sampai gue lupa kalau gue punya dua kakak yang ganteng"