
Vyona berjalan memasuki rumahnya dengan lesu, dilihatnya rumah besar itu masih tetap sama. Sepi, sama sekali tidak ada kehangatan didalamnya.
Terkadang Vyona suka merasa iri kepada Ghea. Sahabatnya itu memiliki orangtua yang penyayang, keluarganya juga harmonis. Andai saja keluarganya bisa seperti itu pasti akan sangat menyenangkan.
"Non udah pulang?"
"Iya mbok"
"Mau makan sekarang apa nanti?"
"Nanti aja mbok, tadi Vyo udah makan dikantin. Vyo ke kamar dulu ya mbok" pamitnya kepada mbok sum, namun baru beberapa langkah Vyona berjalan tiba-tiba saja ia membalikkan badannya dan langsung menghambur memeluk mbok sum.
"I love you mbok" ucap Vyona sembari mencium pipi mbok sum.
Mbok sum itu adalah perawat yang merawat areksa dan juga Vyona sedari mereka kecil dulu, tak heran jika areksa maupun Vyona begitu menyayangi mbok sum.
Bagi areksa maupun Vyona mbok sum sudah seperti ibu kedua bagi mereka.
Sesampainya dikamar vyona segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Fikirannya kembali kalut pada kejadian siang tadi, bayangan Karel memarahi dirinya kembali berputar didalam kepalanya.
"Kamu kenapa sih rel? Kenapa kamu berubah" Vyona bergumam sembari menatap foto Karel yang ia jadikan wallpaper di ponselnya.
Baru saja Vyona ingin memejamkan matanya tiba-tiba saja terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya, dengan malas Vyona pun bangkit dari tidurnya dan segera membuka pintu kamarnya.
"Mama"
"Keluar, teman-teman saya mau datang ke rumah"
"Kenapa Vyo harus keluar ma? Vyo bisa di kamar aja kok ma, Vyo janji kalau Vyona nggak akan turun kebawah"
"Saya nggak peduli dengan janji kamu, pergi sekarang juga"
Dengan malas akhirnya Vyona mengambil kunci mobilnya, mamanya memang seperti itu jika dirumah ada acara arisan bersama teman-temannya, ataupun acara keluarga Dahlia akan menyuruh Vyona pergi dari rumah. Katanya sih malu kalau Vyona dirumah.
"Vyo pergi dulu ma" pamitnya kepada sang mama.
******
Vyona mengendarai mobilnya tak tentu arah, satu-satunya tempat yang ia tuju adalah rumah Ghea. Namun ketika dalam perjalanan menuju rumah Ghea, Vyona tak sengaja melihat Karel bersama dengan Aretha.
"Karel, ngapain dia sama Aretha malam-malam kayak gini" gumam Vyona.
Vyona berusaha berfikir positif mungkin saja ada urusan mengingat keduanya satu organisasi.
Sebisa mungkin Vyona berusaha menghilangkan fikiran buruk yang terus berputar-putar di otaknya. Ia pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Ghea.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Ghea, Vyona segera memarkirkan mobilnya. Dan segera memencet bel rumah sahabatnya itu.
"Ehh non Vyo. Nyari non Ghea ya?"
"Ya iyalah pak, ya kali Vyo nyari pak Manto"
"Ya siapa tau aja non. Tapi bapak, ibu, sama non Ghea lagi pergi non"
"Kemana pak?"
"Ke Bandung, kakeknya non Ghea lagi sakit non"
"Oh yaudah kalau gitu saya pulang aja deh pak"
"Non Vyo nggak mau nginep aja?"
"Lain kali pak. Saya permisi dulu"
dengan lemas vyona kembali lagi kedalam mobilnya, ia benar-benar bingung harus kemana lagi sekarang. satu-satunya tempat yang biasa ia tuju adalah rumah Ghea, tapi sekarang sahabatnya itu sedang tidak berada di rumah.
"gue harus kemana sekarang. nggak mungkin kan gue pulang lagi, nanti mama bisa marah sama gue"
Vyona bergegas melajukan mobilnya tak tentu arah, mau menginap ke hotel pun ia tak punya uang, karena ketika pergi meninggalkan rumah Vyona melupakan dompet dan juga ponselnya.
"sial gue laper tapi nggak punya duit" gumam Vyona sembari memegangi perutnya yang keroncongan, karena belum di isi dari siang tadi. "papa, kakak Vyo laper" teriak Vyona mendramatisir.
"yahh kenapa nih mobil, heh loe kenapa berhenti nyet. jalan bege, kenapa harus kehabisan bensin disaat kayak gini sih, mobil doang mahal bensin kagak ada" Vyona ngedumel karena tiba-tiba saja mobilnya mogok. "apes banget sih gue, terus gue harus gimana sekarang"
Vyona turun dari mobil berusaha untuk mencari bantuan, namun hasilnya nihil tak ia temua satu orangpun ditempat itu. jalanan begitu sepi dan tak ada seorangpun yang melewati jalanan itu.
"anjir kenapa gue bisa lewat sini sih, ini sepi banget. mana gelap lagi, kak Elsa Vyo takut"
Vyona benar-benar merasa sial hari ini. sudah disuruh pergi dari rumah, nggak bawa uang ataupun ponsel, kelaparan, sekarang ditambah mobilnya kehabisan bensin.
"kak eksa tolongin Vyo" disaat kesusahan seperti ini Vyo seringkali teringat sang kakak, dulu sewaktu areksa belum menyusul sang papa ke luar negeri areksa lah yang selalu ada untuk Vyona, areksa akan lakukan apapun untuk melindungi Vyona.
namun jika kalian bertanya apakah areksa tau perlakuan buruk Dahlia kepada Vyona? maka jawabannya adalah tidak, karena dari dulu Vyo berusaha menutupi luka yang ia rasakan. Vyona tidak ingin areksa ataupun papanya marah kepada mama.
ditengah dinginnya malam, Vyona duduk di pinggir trotoar sembari memeluk kedua kakinya. dalam hati Vyona berdoa semoga saja ada orang yang lewat dan menolong dirinya.
"Tuhan andai aja ada pangeran berkuda putih lewat, terus nolongin Vyo. Vyo bakal jadiin dia suami deh" ucap Vyona sembari menengadah kedua tangannya, namun baru beberapa saat kemudian Vyona sadar kalau sekarang ia sudah memiliki Karel. "nggak jadi deh, kan Vyo udah punya Karel"
asik bermonolog dengan dirinya sendiri tanpa Vyona sadari ada sebuah motor berhenti tepat disamping mobilnya.
"loe ngapain disini malam-malam?"
__ADS_1
"warga baru" ucap Vyona heboh, sekaligus gembira karena melihat kedatangan jazz.
"gue tanya loe ngapain disini?"
"mobil gue kehabisan bensin, terus mau pesen taksi nggak bawa ponsel"
"ck, yaudah ayo gue anter loe pulang"
"beneran?"
"iya, ayo naik"
dengan senang hati Vyona pun naik keatas motor jazz. baru saja Vyona naik, jazz sudah mengegas motornya hingga membuat Vyona hampir terjengkang, untung saja Vyona langsung berpegangan pada pinggang jazz.
"kira-kira dong, gue hampir aja jatuh jazz"
"lama sih loe. rumah loe mana?"
"gue nggak mau pulang"
sontak saja jawaban Vyona membuat jazz terkejut dan tanpa sadar jazz mengerem motornya secara mendadak.
"maksud loe apa nggak mau pulang? loe kabur dari rumah ya!"
"sekata-kata banget loe kalau ngomong"
"ya terus ngapain loe nggak mau pulang?"
"gue nggak boleh pulang kerumah sama nyokap"
"terus sekarang loe mau kemana?"
"gue juga nggak tau" jawab Vyona sembari menunduk lemas.
"gue anter ke rumah Ghea ya"
"Ghea nggak dirumah, dia lagi kerumah neneknya di Bandung"
jazz yang bingung harus mengantar Vyona kemana akhirnya kembali menjalankan motornya.
"loe mau bawa gue kemana jazz?"
"gue mau jual loe sama om-om biar dapet duit"
"jazz jangan bercanda deh loe"
__ADS_1
"ckk. diem, gue bakal bawa loe ketempat yang aman. asal setelah itu loe janji sama gue bakal ceritain semuanya ke gue"
vyona hanya bisa diam dan menurut kepada jazz, walaupun pada kenyataannya ia tidak tau kemana jazz akan mengajaknya pergi. setidaknya ia yakin jazz tidak akan berbuat macam-macam kepada dirinya, ia percaya kalau jazz itu adalah pria yang baik, walaupun tertutup dengan wajah kakunya.