I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
pelukan nenek


__ADS_3

Selepas Maghrib Vyona baru saja sampai di butik milik sang mama, karena tadi Vyona menyempatkan diri mampir dulu ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib.


"Malam ada yang bisa saya bantu kak?" Tanya salah satu pelayan butik.


"Saya nyari kak Mita, apa kak mitanya ada?"


"Vyona kamu udah datang!"


Baru saja pelayan butik itu ingin menjawab pertanyaan Vyona, namun Mita sudah lebih dulu datang.


"Iya kak, apa aku ganggu kerjaan kakak?"


"Sama sekali nggak" jawab Mita sembari tersenyum. "Oh iya Elly ini Vyona putri ibu Dahlia" sambung Mita memperkenalkan Vyona pada pelayan butik yang bernama Elly.


"Ohh pantes mukanya sangat mirip dengan almarhumah mbak. Tapi kenapa mbak Vyona. Nggak pernah main-main kesini mbak?"


"Vyona sibuk dengan sekolahnya Elly" bukan Vyona yang menjawab melainkan Mita, Mita tau betul bagaimana hubungan Vyona dan mendiang Dahlia seperti apa, maka dari itu Mita langsung saja menyela.


"Anak orang kaya pasti sekolahnya banyak ekskul ya mbak"


"Kedepannya Vyona bakal bergabung dengan kita Elly, dia bakal menggantikan posisi ibu Dahlia"


"Mbak Mita yakin! Mbak Vyona masih sekolah loh, nanti kalau ngeganggu sekolahnya gimana?"


"Vyona hanya akan bantu desain baju aja Elly, sisanya kita yang akan kerjakan. Jadi Vyona cukup kerja dari rumah"


"Mbak Vyona bisa desain baju?"


"Sedikit kak Elly" jawab Vyona sembari nyengir.


Sampai akhirnya Mita menyuruh Vyona untuk masuk kedalam ruang kerja Dahlia, karena Mita akan sholat terlebih dahulu.


Dan sekarang disinilah Vyona berada, untuk pertama kalinya Vyona menginjakan kakinya di ruang kerja sang mama. Padahal butik ini berdiri sewaktu ia masih berusia 5 tahun, waktu awal-awal mereka sekeluarga pindah lagi ke Jakarta.


Agra dan Dahlia asli Surabaya, akan tetapi Vyona lahir di Jakarta karena setelah kejadian itu, Agra membawa Dahlia pergi dari rumah karena Rosmalinda sangat murka ketika tau Dahlia hamil dengan pria lain. Akan tetapi setelah usia Vyona menginjak 1 tahun, Agra kembali memboyong keluarga kecilnya untuk kembali ke Surabaya karena Kamila ibu Dahlia meninggal, hingga akhirnya mereka sekeluarga menetap di surabaya sampai usia Vyona 5 tahun.


Hingga pada akhirnya mereka harus kembali pindah ke Jakarta karena Arini kakaknya Agra yang tak lain adalah mamanya Alan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Dan sejak saat itulah Alan dirawat oleh Agra dan juga Dahlia.


"Ini untuk pertama kalinya Vyona datang kesini, tapi mama udah nggak ada. Andai aja mama masih ada" ucap Vyona dengan mata berkaca-kaca, ditatapnya kursi kerja sang mama sembari membayangkan jika sosoknya masih ada dan tersenyum ke arahnya.


"Mama, Vyona kangen" lirihnya sembari menghapus air mata nakal yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Vyona berjalan mendekat ke meja kerja Dahlia dan segera duduk di kursi kerja itu. Namun ketika ia baru saja duduk matanya langsung disuguhi oleh sebuah figura kecil yang didalamnya terdapat foto dua orang wanita.


Ya, itu foto dirinya dan juga sang mama. Foto itu diambil waktu acara ulang tahunnya tahun lalu, dan Tante melati lah yang mengambil foto itu. Vyona ingat betul seberapa keras usaha sang Tante untuk membujuk mamanya, karena Dahlia selalu saja menolak untuk berfoto bersama Vyona. Jika difikir-fikir itu adalah foto pertamanya bersama sang mama, bahkan keluarga mereka tak memiliki foto keluarga layaknya keluarga lain, Vyona ingat betul terakhir kali mereka foto keluarga waktu Vyona masih umur 5 tahun dan sebelum meninggal kota Surabaya.


"Mama cetak foto ini! Bahkan Vyona nggak punya foto ini"


Air mata Vyona kembali menetes diambilnya foto itu lalu ia peluk dengan erat, seolah-olah sedang memeluk sang mama.


"Mama doain Vyona dari atas sana ya, semoga Vyo bisa terusin usaha mama. Vyona pengen jadi designer hebat seperti mama"


Ketika tengah asik berbicara pada figura yang ada dalam pelukannya tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk didalamnya.


"Jazz" gumam Vyona setelah melihat siapa sang penelfon.


"Halo Jazz"


"Kamu kemana sih? aku chat tapi nggak dibalas-balas"


"Dih posesif" ucap Vyona sembari terkekeh.

__ADS_1


"Aku cuma khawatir sama kamu. Mana kak Eksa sama bang Alan juga nggak bisa dihubungi"


"Maaf, tadi aku masih dijalan. Dan lagi tadi aku sempat mampir ke masjid, jadi nggak sempat cek HP"


"Emang kamu kemana?"


"Ke butik mama"


"Kok nggak ajak aku!"


"Aku nggak mau ngerepotin kamu, dan lagian kamu tadi bilang katanya ada janji sama pelatih kamu"


"Iya juga sih"


"Yaudah kamu lanjutin acaranya gih"


"Ngusir nih?" Ucap Jazz dengan nada sengit


"Mana ada aku ngusir, aku cuma nggak mau ganggu acara kamu. Dan lagi aku ada hal yang harus dibahas sama kak Mita"


"Ya udah deh, tapi nanti pulangnya hati-hati ya"


"Iya bawel" ucap Vyona merasa gemas sendiri kepada cowok kulkas yang beberapa bulan belakangan ini mengisi hidupnya.


Setelahnya sambungan telfon pun terputus karena Vyona langsung mematikannya secara sepihak sebelum Jazz bertambah bawel.


"Kalau kamu kayak gini gimana aku bisa lepas dari kamu, aku semakin takut kehilangan kamu"


"Hayo takut kehilangan siapa!" Ucap Mita yang tiba-tiba saja nongol.


"Ahh kak Mita ngagetin aja ihh" ucap Vyona sembari memegangi dadanya karena memang ia benar-benar kaget.


*****


"Gue baik bang"


"Udah hampir satu bulan loe jarang banget kesini ngumpul Ama kita-kita. Yang paling sering nongol Andi, sama si kembar. Loe sama Rafa sibuk terus"


"Sorry bang, akhir-akhir ini gue nemenin cewek gue" ucap Jazz sedikit tak enak hati.


"Santai, gue udah denger ceritanya dari Andi. Tapi gue bersyukur sih, akhirnya ada juga yang bisa nyairin kulkas dua pintu kayak loe" ucap Akbar sembari terkekeh.


"Sialan loe bang"


Dari kejauhan Jazz dapat melihat Yuda dan juga teman-temannya juga ada di tongkrongan itu, hingga membuat Jazz ingat kejadian tempo hari sewaktu dirinya menemani Vyona ziarah ke makam mamanya. Itu bukan untuk pertama kalinya Yuda menggangu Vyona, sudah terhitung dua kali ini Yuda berusaha mengganggu Vyona, Jazz jadi sedikit was-was jika cowok tengil itu sampai mengganggu gadisnya.


Selama ini Yuda selalu saja mencari gara-gara dengan dirinya, tapi Jazz sendiri tak paham kenapa cowok itu begitu membenci dirinya dan selalu menganggap Jazz sebagai rival.


"Kenapa loe boss?" Rafa yang sedari tadi melihat Jazz menatap Yuda dan kawan-kawannya akhirnya bertanya.


"Gapapa"


"Gapapa apanya, muka loe nggak bisa bohong Jazz" kini giliran Akbar yang buka suara.


"Kemarin gue sama Queen pergi ke makam, dan lagi-lagi Yuda gangguin cewek gue bang. Ini bukan yang pertama kalinya, dulu sewaktu ada pertandingan persahabatan dia juga berusaha deketin Queen"


"Loe takut cewek loe direbut sama dia?" Ledek Akbar.


"Mana mungkin Vyona mau sama modelan lemper kayak gitu bang, masih mendingan si boss kemana-mana" timpal Andi, sembari memasang ekspresi julidnya.


"Gue cuma takut kalau dia nyakitin Queen, karena mungkin aja sekarang Queen adalah kelemahan gue" ucap Jazz dengan jujur.

__ADS_1


"Sebenarnya cewek loe yang mana sih Jazz? Coba gue lihat, masak gue nggak tau cewek murid kesayangan gue"


Dengan segera Jazz merogoh ponselnya dan menunjukkan foto Vyona kepada Akbar.


"Lah ini mah adiknya Areksa" ucap Akbar begitu Melihat foto Vyona.


"Lah emang iya, Abang kenal?" Ucap Andi dengan hebohnya.


"Areksa itu sohib gue, dia dulu juga sering balapan bareng gue. Si Vyo juga jago banget bawa motor, tapi sayangnya sekarang dilarang bawa motor sama Areksa gara-gara pernah jatuh"


"Gak heran, pantes aja dia bisa bawa motor gue. Emang Vyona cewek multimedia" ucap Andi sembari manggut-manggut.


"multitalent bege" ucap Rafa sembari menampol kepala Andi.


"Nggak usah khawatir, kalau Yuda tau cewek loe adiknya Areksa, dia nggak bakal berani nyentuh cewek loe"


"Emang Yuda kenal kak Eksa, bang?"


"Bukan hanya kenal, dulu Areksa juga sering bantuin gue ngelatih anak-anak sebelum akhirnya dia memilih fokus ngurus bisnis bokapnya"


"Ahh, syukurlah kalau gitu. Gue bisa sedikit lega bang"


******


Jam di dinding menunjukkan pukul 22.00 dan Vyona baru saja menginjakkan kakinya dirumah, suasana rumah sudah sangat sepi, dan beberapa lampu pun sudah nampak dimatikan .


"Darimana kamu?"


Suara ini Vyona sangat kenal, ini suara neneknya. Ya siapa lagi jika bukan Rosmalinda, nenek tua itu memang tidak pernah ramah dengan Vyona.


"Vyona dari butik mama nek" jawab Vyona sembari menunduk karena tidak berani beradu tatap dengan Rosmalinda.


Namun diluar dugaan Vyona, alih-alih memarahi vyona, Rosmalinda justru memeluk Vyona.


"Anak gadis jangan pulang malam-malam Vyo" ucap Rosmalinda lembut sembari mencium pipi Vyona dengan penuh sayang.


Apa ini? Apa dirinya sedang bermimpi, neneknya sekarang tengah memeluknya. Sungguh ini untuk pertama kalinya Vyona dipeluk oleh Rosmalinda.


"Sekarang masuk ke kamar, ganti baju, cuci tangan sama kaki terus tidur. Nenek bakal buatin susu buat kamu"


"Nggak usah, nek. Vyona nggak mau merepotkan nenek"


"Sama sekali nggak merepotkan sayang. maafin nenek ya, selama ini nenek udah jahat sama Vyona" ucap Rosmalinda dengan mata berkaca-kaca.


"Nenek nggak pernah jahat kok, nek"


Rosmalinda mengelus pipi Vyona dengan lembut, Rosmalinda berfikir sebenarnya hati Vyona itu terbuat dari apa kenapa gadis itu dengan mudah memaafkan dirinya, padahal dirinya sangat jahat kepada Vyona.


Rosmalinda ingat dulu dirinya pernah menyiram Vyona dengan sup panas waktu ada acara keluarga, bahkan Rosmalinda mengatai Vyona dengan kalimat-kalimat menyakitkan. Tapi setelah itu, Vyona sudah tak pernah lagi terlihat jika ada acara keluarga.


Tapi lihatlah gadis yang ada didepannya sekarang, bahkan sedikitpun tak memiliki dendam kepada dirinya.


"Yaudah masuk kamar gih, besok sekolah"


"Iya, nek. Nenek juga istirahat ya, jangan capek-capek"


"Iya cucu nenek yang paling cantik" ucap Rosmalinda sembari tersenyum.


Cucu? Ini untuk pertama kalinya Rosmalinda mengakui dirinya sebagai cucu, ada sebuah perasaan hangat yang menjalar di seluruh tubuh Vyona, ketika Rosmalinda mau menganggap dirinya sebagai cucu.


"Selamat malam, nek" ucap Vyona sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya

__ADS_1


__ADS_2