I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
apartemen


__ADS_3

"ini loe bawa gue ke apartemen siapa jazz?" tanya Vyona begitu mereka berdua telah sampai disebuah apartemen.


"apart gue, udah ayo masuk"


"loe nggak mau macem-macemin gue kan?"


"ck otak loe tuh dangkal banget sih, kalau gue emang punya niat mau ngapa-ngapain elo, udah dari tempat gue nemuin loe tadi gue sikat"


"iya juga ya"


jazz memilih mengabaikan Vyona dan berjalan mendahului gadis itu, hingga mau tak mau Vyona pun mengikuti kemana jazz melangkah.


"jazz ini apartemen mewah banget loh, loe nggak salah tempat kan"


"nggak" jawab jazz singkat, padat sudah seperti orang sakit gigi.


"loe beneran punya unit disini?"


"hmtt"


"buset, loe nggak ngepet atau buka peternakan tuyul kan jazz"


"nggak"


"ishhh cuek banget sih, dari tadi gue ngomong panjang lebar loh, tapi loe jawabnya cuma satu kata doang"


"diem, loe berisik banget"


setelah sampai di lobi jazz segera menekan tombol lift untuk membawanya ke lantai 28 dimana unitnya berada.


"loe tinggal sama siapa jazz?" tanya Vyona berusaha mencairkan suasana, karena jazz hanya diam saja dari tadi.


"sendirian"


"anjir, loe jangan apa-apain gue ya"


jazz jadi heran sendiri kepada Vyona, kenapa sedari tadi Vyona takut kalau ia melakukan hal-hal yang tidak baik kepadanya. tiba-tiba saja ide jail keluar dari dalam otak jazz.


jazz berjalan maju mendekat kearah Vyona hingga membuat gadis itu panik sendiri, jantung Vyona sudah berdetak tak karuan.


"kalau loe gue apa-apain mau nggak?" ucap jazz sembari menunjukkan senyum smirk yang cukup menyeramkan bagi Vyona.


"jazz jangan macam-macam, nanti kalau ada yang lihat gimana"


"otak loe isinya apaan sih Queen? predikat gadis iblis, gini aja ketakutan udah kayak orang lihat hantu. tenang aja, gue juga nggak selera sama loe, orang tepos gitu" ucap jazz sebelum pada akhirnya ia keluar dari dalam lift karena memang sudah sampai di lantai 28.


"tepos" gumam Vyona sembari melihat dadanya sendiri. "ahhh jazz anj*Ng" umpatnya sembari berlari menyusul jazz.


setelah sampai jazz segera memencet pin apartemennya. sementara itu Vyona yang sedari tadi membuntutinya hanya bisa melongo takjub.


"mulut loe bisa mingkem nggak"


"apartemen loe keren banget njir. ini kita nggak salah unit kan?" tanya Vyona berusaha memastikan kembali, bahwasanya ia dan jazz tidak salah kamar.


"nggak. loe tidur di kamar tamu" ucap jazz sembari menunjuk salah satu pintu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


"jazz tapi gue laper" ucap Vyona memelas sembari memegangi perutnya.


"Queen loe bisa masak kan?"


"loe kenapa sih manggil gue Queen, nama gue Vyona"


"iya Vyona Queensha kan. dan gue lebih suka manggil loe Queen"


"terserah loe deh"


"kalau loe laper masak aja, semua bahan-bahannya ada didalam kulkas. gue mau mandi dulu" ucap jazz sembari meninggalkan Vyona.


"ngeselin"


dengan berat hati Vyona pun melangkah menuju dapur. ia mulai membuka kulkas milik jazz, dan benar saja didalam sana terdapat banyak sekali sayuran dan juga bahan makanan lainnya.


"cowok modelan jazz bisa masak juga, kok gue ragu ya. tapi kalau dia tinggal sendirian pastinya ini punya dia dong, ahh bodo amat gue mau masak, perut gue udah melilit banget"


Vyona pun mulai mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan, mengingat perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, Vyona pun memutuskan untuk masak nasi goreng saja simpel dan juga hemat waktu.

__ADS_1


hanya butuh waktu 15 menit nasi goreng buatan Vyona sudah selesai, Vyona tersenyum puas melihat hasil masakannya sendiri.


"wangi banget masak apaan?"


"nasi goreng" jawab Vyona sembari menunjukkan satu piring nasi goreng kepada jazz.


"abis makan mandi, gue udah siapin baju buat loe. tapi mungkin agak kebesaran di elo, lumayan lah dari pada loe nggak ganti baju"


"makasih ya jazz, gue jadi ngrepotin"


"it's oke"


"nih buat loe" ucap Vyona sembari memberikan sepiring nasi goreng yang ia bawa kepada jazz.


"loe buatin juga buat gue?"


"iyalah, loe pasti belum makan juga kan. yuk makan bareng"


"emt"


setelahnya hanya dentingan sendok yang garpu yang beradu dengan piring yang terdengar, keduanya saling bungkam dan hanya menikmati makanan mereka.


"gue nggak nyangka cewek kayak dia bisa masak" gumam jazz sembari terus melahap makanannya.


"loe dikit banget makannya?"


"nanti kalau banyak-banyak gue bisa gendut jazz"


"kenapa emang kalau gendut?"


"nanti Karel malu kalau punya cewek gendut"


"ngapain juga mikirin cowok loe nggak penting banget, loe cukup jadi diri loe sendiri. kalau loe gendutan dan dia nggak mau sama loe, terus dia ninggalin loe. itu tandanya dia nggak tulus sama loe"


"manusia dingin kayak loe, bisa juga ya ngomong panjang"


"ckk dibilangin juga malah ngledek"


"hehehe iya-iya maaf mas jazz"


"nggak usah, biar gue aja"


sambil menunggu Vyona mencuci piring jazz memilih memainkan game diponselnya. namun baru saja ia membuka ponselnya tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk didalamnya, dengan segera jazz mengangkatnya.


"halo kenapa? kalau mau ngajak gue nongkrong, gue nggak bisa"


"anjir gue belum ngomong nih. bantuin gue nyari Vyo"


"kenapa emang?"


"Vyo dari tadi ponselnya nggak aktif. cewek gue nangis-nangis anj*Ng, gue juga jadi khawatir sama tu anak"


"cewek loe kan Ghea kenapa loe khawatir sama si Queen"


"ya karena gue udah anggap dia kayak adik gue sendiri"


"loe udah minta tolong sama cowoknya?"


"Karel nggak bisa ikut nyari, dia lagi sibuk"


"cowok macem apa dia. ceweknya hilang tapi masih bisa bersikap sesantai itu, udah loe ataupun Ghea nggak usah khawatir Queen ada sama gue"


"gimana bisa?" tanya Rafa seolah-olah tak mempercayai perkataan jazz.


"tadi gue Nemu dijalan"


"Rafa ya?" tebak Vyona


"iya" jazz pun dengan segera melospeker ponselnya agar Vyona juga bisa mendengarkan suara Rafa yang ada diseberang sana.


"hai Rapa. gue baik-baik aja kok, nggak usah khawatir"


"anak anj*Ng loe kemana aja sih V? kenapa ponsel loe nggak aktif, bikin khawatir aja. loe tau nggak? sahabat loe yang cengeng itu udah nangis-nangis dari tadi"


"maaf ya, gue jadi bikin loe sama Ghea khawatir. gue diusir sama nyokap, terus ponsel gue ketinggalan mungkin aja sekarang kehabisan baterai, makannya nggak aktif"

__ADS_1


"terus kenapa bisa sama jazz?"


"tadi mobil gue macet, nggak sengaja ketemu jazz. terus dia ajakin gue ke apartemennya"


"heh pak boss jangan loe apa-apain tuh anak orang"


"dih loe fikir gue cowok apaan anj*Ng"


"gue tau loe nggak pernah mainin cewek, gue cuma mewanti-wanti aja men"


"hemtt" dengan segera jazz menutup panggilan telfon dari Rafa, padahal cowok itu masih berselera ngomong panjang lebar.


"kenapa dimatiin?"


"gue males dengerin tu bocah ngomel"


Vyona hanya mampu tertawa mendengar jawaban jazz, Vyona benar-benar nggak habis fikir kenapa Rafa bisa berteman dengan jazz yang sama dinginnya dengan Rafa.


"udah mandi sana"


"iya"


*******


setelah selesai mandi, Vyona keluar dari dalam kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. baju yang ia kenakan sekarang terlihat begitu kedodoran.


mendengar suara TV Vyona pun memilih keluar dari dalam kamar, dan menyusul jazz yang tengah menonton TV.


"belum tidur?"


"belum"


"loe suka motor GP?"


"iya, gue bahkan pernah ikut secara langsung"


"bohong banget" ucap Vyona sembari terkekeh karena menganggap jazz hanya membual saja.


"gue nggak bohong, tuh coba lihat foto itu" ucap jazz sembari menunjuk figura yang ia gantung didinding. "itu gue"


"masak sih!" Vyona seolah masih tak percaya kalau itu jazz.


pada akhirnya jazz mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan fotonya yang tidak berbalut dengan helm.


"huahh Daebak. keren banget loe, jazz"


"gue emang terlahir dengan keren"


"besar kepala kan loe"


"fakta"


"serah loe deh. emt btw ortu loe kemana?"


"nyokap sama bokap tinggal dirumah lah"


"masih di Jakarta juga kan?"


"masih"


"terus kenapa loe milih tinggal di apartemen?"


"gue males dengerin ayah gue marah-marah terus"


"emang ayah loe kenapa?"


"dia nggak pernah setuju kalau gue jadi pembalap, itu kenapa gue memilih pergi dari rumah"


"tapi loe sering pulang kan?"


"itu pasti, mana mungkin gue nggak pulang. bunda gue bisa nangis kalau gue nggak pulang"


Vyona hanya mampu ikut tersenyum, kenapa hubungan teman-temannya dengan sang ibu begitu harmonis, kenapa ia dan sang mama tidak bisa seperti itu. sungguh Vyona merasa iri.


"ma Vyo juga pengen bisa akur sama mama, salah Vyo apa ma? Vyona juga nggak pengen terlahir seperti ini" gumam Vyona dalam hati sembari tersenyum getir, ketika mengingat ia dan mamanya tak pernah akur.

__ADS_1


__ADS_2