I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
gaun dari Bunda


__ADS_3

Tadi sebelum Jazz pulang, cowok itu memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepada Vyona. Vyona sendiri juga tidak tau apa isi kotak itu, Jazz bilang itu dari bunda.


"Bawa apaan tuh?" Tanya Areksa yang kebetulan berpapasan dengan Vyona di ujung tangga.


"Dari bunda"


"Ciee, dapat kado dari calon mertua" ledek Areksa sembari menoel hidung mancung sang adik.


"Iyalah punya calon mertua, emangnya kakak" tak mau kalah Vyona pun juga turut menggoda sang kakak, sebelum akhirnya ia lanjutkan niat awalnya untuk segera kembali kedalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Vyona bergegas membuka kotak pemberian Jazz tadi. Vyona tarik pita yang membalut kotak itu, dan segera membuka tutupnya. Setelah tutup kotak itu terbuka dengan sempurna, Vyona begitu tercengang melihat didalamnya ada sebuah gaun yang sangat indah, di atasnya juga ada sepucuk surat.


"Untuk calon mantu kesayangan bunda. Semoga suka sama gaunnya ya sayang. sebenarnya bunda belinya asal, ya karena bunda nggak tau gimana selera kamu. Tapi semoga kamu suka, besok di pakai ya gaunnya" ya kira-kira seperti itulah yang bunda tulis diatas sepucuk surat itu.


"Makasih, bunda. Vyona suka banget sama gaunnya" gumam Vyona sembari mematut dirinya di depan cermin dengan gaun yang ia tempelkan pada badannya. "Gaunnya cantik banget, padahal rencananya mau minta satu gaun sama kak Mita, ehh ini malah di beliin sama bunda"


Setelah selesai mematut diri dengan gaun pemberian bunda, Vyona segera merogoh ponselnya yang masih ia taruh di dalam totbag. Setelahnya ia segera mencari nomor bunda dan menelfonnya.


"Halo, sayang. Kenapa? Sudah sampai rumah kan!" Begitu sambungan telfon terhubung suara lembut bunda langsung mendominasi.


"Vyo, udah sampai rumah kok, Bun. Makasih ya bunda, Vyona suka banget sama gaunnya"


"Ahh syukurlah kalau kamu suka, bunda seneng dengernya. Besok jangan lupa dipakai ya sayang"


"Siap bunda"


"Yaudah kesayangannya bunda cepetan mandi, habis itu langsung istirahat ya. Jangan tidur malam-malam"


"Siap bunda"


Setelah percakapan singkat itu, panggilan telepon pun berakhir. Dan Vyona pun memilih untuk segera membersihkan badannya yang terasa lengket setelah seharian beraktivitas.


Dari siang hingga malam Vyona berada di rumah Jazz, gadis itu berbincang banyak hal dengan bunda dan juga ayah, bahkan sore tadi Vyona juga ikut ayah berkebun dan membantu bunda memasak.


Vyona merasa keluarga Jazz benar-benar keluarga yang sempurna. Jazz begitu beruntung memiliki orang tua yang begitu menyayanginya, tapi Vyona benar-benar tak habis fikir dengan Jazz, yang memilih untuk pergi dari rumah hanya karena hobinya tidak di dukung oleh ayah.


Padahal menurut Vyona, ayah melakukan semua itu juga untuk kebaikan Jazz sendiri. Apalagi Jazz adalah anak tunggal, jadi wajar saja kalau ayah begitu menentang hobi Jazz yang suka ikut balapan.


******


"V, ini loe yakin gapapa kalau kita datang ke acara ultah perusahaan loe?" Tanya Astrid ketika mereka tengah berkumpul di taman belakang sekolah.

__ADS_1


"Iya gapapalah, udah nggak mau tau pokoknya kalian semua harus datang. Awas aja kalau nggak datang, gue bakal marah sama kalian semua" jawab Vyona sembari menatap temannya satu persatu.


"Oke deh" ucap Astrid, Riri, Ghea, Niko, Rafa, dan Andi secara bersamaan.


Sementara itu Jazz sedari tadi tidak ingin ikut menimbrung dengan teman-teman. Yang cowok itu lakukan sedari tadi hanya tidur diatas rerumputan dan menjadikan paha Vyona sebagai bantalan.


Sementara itu Vyona mengusap lembut Surai hitam legam milik Jazz, dalam diam Vyona amati wajah Jazz yang nyaris sempurna bahkan tanpa cacat sedikitpun. Vyona berfikir mungkin dulu Tuhan menciptakan Jazz dengan penuh kehati-hatian, hingga bisa sesempurna itu.


Terkadang Vyona jadi berfikir bagaimana bisa cowok sesempurna Jazz lebih memilih dirinya yang seorang antagonis, sedangkan diluar sana banyak sekali gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hati Jazz. Tapi walau bagaimanapun Vyona sangat bersyukur, karena meskipun banyak yang suka dengan Jazz, hanya dirinyalah satu-satunya gadis yang Jazz suka.


"Terimakasih, karena sudah memilihku. Terimakasih, karena kamu mau menerima segala lebih dan juga kurangku. Aku jadi nggak sabar, buat sembuh dan mengingat semua kenangan kita Jazz" gumam Vyona dalam hati. Bahkan tanpa Vyona sadari dia meminta untuk sembuh, padahal kalau Vyona ingat semuanya, mungkin itu akan menjadi hal yang menyakitkan ketika kenyataan hubungannya dan Jazz hanyalah sebuah sandiwara.


*******


Malam ini Vyona sudah nampak cantik dengan balutan gaun berwarna hitam putih yang bunda belikan kemarin, gadis itu nampak tersenyum manis sembari menatap pantulan wajahnya didalam cermin.


Setelah selesai dengan urusan make-upnya Vyona segera turun ke lantai dasar sembari menunggu Jazz menjemput dirinya. Karena tadi papa, nenek, dan juga kedua kakaknya sudah lebih dulu berangkat.


"Sudah siap tuan putri?" Tanya Jazz yang ternyata sudah menunggu di ruang keluarga. Untuk beberapa saat tadi, Jazz sempat tersihir dengan pesona Vyona. Malam ini Vyona benar-benar cantik. Ahh, tidak. Vyona memang selalu cantik, Dimata Jazz. Apapun yang dilakukan oleh gadis itu, akan selalu mampu menarik bagi Jazz.


Begitupun dengan Vyona, gadis itu juga sempat tercengang melihat Jazz, berpakaian formal seperti ini. Pesona Jazz memang sangat luar biasa, Vyona merasa kalau dirinya benar-benar jatuh sejauh-jauhnya kepada cowok itu.


"Kamu udah nunggu lama ya?" Tanyanya setelah sekian detik diam mematung sembari memperhatikan wajah tampan Jazz.


Dengan segera Jazz menggandeng tangan Vyona, tak lupa sebelum pergi keduanya berpamitan kepada mbok sum dan juga bik yam.


"pasangan yang serasi" ucap mbok sum dan bik yam secara persamaan.


*****


Pesta ulang tahun perusahaan di laksanakan di salah satu hotel bintang lima, yang juga masih merupakan hotel milik papa Vyona.


Sesampainya disana sudah ada banyak orang yang datang, termasuk teman-temannya.


"Vyona akhirnya datang juga" ucap Ghea yang langsung saja memeluk Vyona. "Cantik banget sih sahabat aku ini" lanjutnya sembari mengurai pelukannya.


"Kamu juga cantik kok, ge"


"V, nanti kalau makanan disini habis, loe salahin aja Riri sama Andi ya. Dari tadi mulut mereka nggak henti-hentinya ngunyah" ucap Astrid sembari menatap sinis Andi dan juga Riri, sedangkan Vyona hanya mampu terkekeh melihat wajah kesal Astrid.


"Apa sih loe, trid. Ini makanan disiapin emang buat dimakan anying" Andi dengan mulut penuh berbicara dengan sedikit ngegas, hal itupun juga disetujui oleh Riri.

__ADS_1


"Udah-udah jangan bertengkar. Makan aja semuanya, kan emang itu buat dimakan"


"Tuh dengerin Vyona ngomong apa" ucap Riri dan Andi secara bersamaan, hingga membuat Astrid mendengus kesal.


Tepat pukul 20.00 acara pun telah sampai pada puncaknya. Dengan langkah tegap Alan pun maju ke atas podium untuk memberikan sambutan.


Tak lama setelah itu Alan memanggil Areksa dan juga sang papa untuk ikut bergabung bersama dirinya.


Sementara itu Karel nampak terkejut begitu melihat papanya Vyona ikut bergabung dengan CEO dari gentala grup itu.


"Kenapa?" Tanya Kenan begitu melihat wajah putranya yang nampak terkejut, sudah seperti melihat hantu saja.


"I..itu papanya Vyona, pa" jawab Karel sembari menunjuk Agra yang tengah berdiri diantara Alan dan juga Areksa.


"Mantan pacar kamu itu!"


"Iya"


Sekarang Kenan tau kenapa gentala grup mengakusisi perusahaannya, rupanya itu semua karena Karel telah menyakiti putri dari CEO gentala grup.


Kenan nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh Kenan tak habis fikir dengan semua ini, selama ini Kenan berfikir jika Vyona adalah anak seorang janda pemilik butik, tapi siapa sangka ternyata gadis itu adalah anak dari seorang pebisnis sukses.


"Selamat malam semua" sapa papa kepada para tamu undangan. "Pada malam yang istimewa ini, saya ingin memperkenalkan seseorang yang begitu spesial dalam hidup saya" lanjut papa sembari tersenyum, hingga mengundang tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.


"Selama ini publik tau kalau saya memiliki dua anak laki-laki yang begitu hebat" ucap papa sembari merangkul Alan dan juga Areksa. "Akan tetapi publik tidak pernah tau kalau saya juga memiliki satu anak perempuan yang tak kalah hebat dari kedua kakaknya" lanjut papa sembari menatap Vyona yang duduk diantara teman-temannya.


"Selama ini saya memang sengaja menyembunyikan identitas putri saya, bukan karena saya tidak menyayanginya. Tapi justru karena saya sangat menyayangi dia, makannya saya ingin melindunginya"


Vyona nampak berkaca-kaca mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut papa. Vyona sangat bersyukur memiliki ayah yang begitu hebat seperti papa.


"Pada malam ini saya perkenalkan putri bungsu saya, Vyona Queensha Arabella " ucap papa sembari memberikan isyarat kepada Vyona supaya maju keatas panggung.


Vyona merasa sedikit tidak percaya diri untuk maju kedepan ikut bergabung dengan papa, dan kakak-kakaknya.


"It's oke, semua bakal baik-baik aja" ucap Jazz sembari menggenggam tangan Vyona.


"Kamu temani aku ya"


Dengan lembut Jazz mengusap puncak kepala Vyona sebelum akhirnya mengangguk sebagai jawaban.


"Yuk" ucap Jazz sembari menyerahkan tangannya kepada Vyona, dan dengan senang hati Vyona gamit tangan Jazz

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju podium dan ditatap oleh ratusan pasang mata yang hadir. Semuanya nampak tercengang melihat Vyona yang begitu cantik dan juga nampak anggun.


Sesampainya diatas panggung Vyona segera memeluk sang papa yang sudah nampak merentangkan kedua tangannya. Sementara itu Rosmalinda, melati, Alan, dan juga Areksa nampak tersenyum haru melihat pemandangan itu.


__ADS_2