
Kabar tentang Jazz yang mengalami kecelakaan sudah tersebar di SMA Satria Mandala, bahkan sampai kini cowok itu belum sadarkan diri.
"Vyona mana?" Tanya Karel pada Ghea yang kini sedang berkumpul bersama Riri dan juga Astrid.
"Ngapain loe nanyain Vyona, jangan karena Jazz nggak ada loe mau nyari kesempatan ya" ucap Riri sembari menggebrak meja hingga membuat Astrid dan Ghea kaget. Entah mengapa jika itu berhubungan dengan Karel, Riri langsung emosi.
"Gue nggak nanya sama loe" ketus Karel.
"Yaudah pergi sana, pengen muntah gue lihat muka loe"
Dengan perasaan dongkol akhirnya Karel berjalan menuju bangkunya, Karel sama sekali tidak mengelak ketika Riri bilang ingin memanfaatkan keadaan saat Jazz tidak ada, karena faktanya Karel memang mau mendekati Vyona lagi siapa tau Vyona kembali menjadi miliknya, Karel tau itu sedikit egois, tapi sungguh Karel tidak bisa kehilangan Vyona, dirinya yang terlampau bodoh karena mau dihasut oleh Aretha.
*******
Dari kemarin Vyona masih setia menemani Jazz di rumah sakit, bahkan gadis itu tak mau pergi ke sekolah.
"Jadi kayak gini ya rasanya waktu kamu nungguin aku yang lagi koma kemarin!" Seru Vyona, dari kemarin perasaannya sangat tidak tenang ketika sang kekasih tak kunjung membuka kedua matanya.
"Sayang bangun, aku mohon. Jangan buat aku takut" ucap Vyona sembari memeluk Jazz, air matanya pun sudah membasahi kedua pipinya. Kedua matanya Vyona bahkan jadi bengkak karena kebanyakan menangis.
"Kak Vyona"
"Ngapain loe kesini? Pergi, gue nggak mau lihat muka loe" ucap Vyona.
Gadis yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Jazz adalah Karin, gadis yang kemarin diselamatkan oleh Jazz. Dia adalah gadis yang selalu mendapatkan perlakuan buruk dari ibunya, kemarin Karin melarikan diri ketika ibunya kembali memukulinya tapi siapa sangka justru aksi kaburnya itu malah membuat orang lain celaka.
"Maafin aku kak"
"Gue tau loe nggak salah, gue juga tau nggak seharusnya gue benci sama loe. Tapi gue nggak bisa, loe lihat sekarang cowok gue belum juga sadar"
"Pukul aku kak, ayo pukul. Lakuin apapun yang kakak mau, bahkan jika kakak mau bunuh aku, aku ikhlas kak" ucap Karin sembari bersimpuh disamping Vyona.
"Tolong pergi, gue lagi nggak mau di ganggu" pinta Vyona untuk sekali lagi.
Tak berselang lama bunda terlihat masuk kedalam ruang rawat Jazz. melihat Vyona yang sudah menangis, bunda segera membawa Karin untuk meninggalkan ruang rawat Jazz.
"Ibu, aku pengen minta maaf sama kak Vyona"
"Saya tau, tapi ini bukan waktu yang tepat, Karin" ucap bunda sembari memeluk Karin. Bunda tau posisi gadis itu tidaklah mudah, dan bunda pun juga tidak menyalakan Karin atas apa yang Jazz alami saat ini, mungkin saja kalau bunda di posisi Jazz, bunda juga akan melakukan hal yang sama.
"Ibu nggak benci Karin, kayak kak Vyona benci Karin?" Tanya Karin sembari mengurai pelukannya.
Bukannya menjawab bunda malah tersenyum sembari mengelus pipi Karin.
"Saya, ataupun Vyona tidak membenci kamu Karin. Tolong maafin Vyona ya kalau sikapnya mungkin agak kasar"
"Kak Vyona nggak salah kok, Bu. Saya memang pantas mendapatkan itu" ucap Karin sembari menunduk.
"Vyona gadis yang baik, mungkin dia masih nggak bisa menerima kenyataan dengan apa yang Jazz alami, saya tau betapa besar cinta mereka"
"saya tau kok, Bu"
"Yaudah ayo temani saya makan" ucap bunda sembari tersenyum, sebelum akhirnya ia menggandeng tangan Karin untuk menuju kantin rumah sakit.
******
Sudah dua hari ini Vyona hanya duduk melamun dirumah sakit. Tidak mau makan, tidak mau sekolah.
"Jazz, aku tau kamu dengar setiap kali aku ngomong sesuatu. Bangun sayang, aku mohon" ucap Vyona sebelum akhirnya gadis itu memejamkan kedua matanya Karena tiba-tiba saja kantuk menghampirinya.
Sementara itu dari depan pintu Ghea, Rafa secara bergantian mengintip dari depan kaca. Keduanya tidak mau masuk karena dari kemarin Vyona tidak ingin diganggu siapa-siapa.
"Gimana kondisinya si boss?" Tanya Andi yang baru saja datang bersama Riri, Astrid dan juga Niko.
"Masih belum ada perubahan" jawab Rafa dengan lesu. "Yang lainnya mana?"
"Masih didepan, pada beli cincau"
__ADS_1
"Emtt"
Tak berselang lama Agam, Eric, Azam, Aldi, dan Aldo pun datang. Kelima manusia itu juga tak kalah lesu dari Rafa dan Andi.
"Si boss gimana?" Tanya Aldi.
"Belum ada perubahan"
"Kasihan kakak ipar, dia pasti sedih banget" ucap Azam sembari melihat dari depan kaca kecil yang berada di pintu.
"Udah berapa lama dia tidur kayak gitu?" Tanya Aldi ketika melihat Vyona tidur disamping ranjang Jazz.
"Mungkin sejam yang lalu" jawab Rafa.
"Udah ayo kita solat, sambil ngaji bareng" ajak Agam.
Dengan segera mereka semua menuju masjid untuk melaksanakan solat isya dan melakukan ngaji bersama untuk mendoakan Jazz agar cepat sembuh.
*******
Sementara itu Jazz dengan perlahan membuka kedua matanya, ia mengerjap beberapa kali karena merasa penglihatannya agak sedikit kabur. Sampai akhirnya ia sadar jika gadisnya tertidur dikursi samping ranjangnya.
Senyum tipis jelas tercetak dibibir pucat itu, dengan perlahan ia mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Vyona.
"Sayang, maaf" lirih Jazz.
Merasa ada seseorang yang mengelus kepalanya, Vyona segera membuka matanya. Sebelumnya akhirnya kedua matanya bertubrukan dengan kedua mata teduh milik Jazz. Mata yang selalu Vyona rindukan, mata yang beberapa hari ini hanya terpejam dan membuat dirinya takut, takut jika ia kembali kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
"Sayang, kamu udah sadar" ucap Vyona sembari bangkit dari duduknya dan segera memencet tombol emergency untuk memanggil dokter Dimas.
"Maaf udah buat kamu khawatir" ucap Jazz sembari menghapus air mata yang mengalir dari kedua pipi gadisnya.
"Kamu nggak salah, jadi jangan minta maaf. Kamu sekarang udah sadar aja, aku sangat bersyukur"
Tak berselang lama dokter Dimas datang bersama dua orang perawat untuk mengecek kondisi Jazz.
"Aku ingin disini" jawab Vyona.
Dokter Dimas hanya bisa memaklumi sikap Vyona, mengingat gadis itu tak pernah sekalipun pergi meninggalkan Jazz.
"Bagus kondisi kamu sudah mulai setabil, jadi tinggal masa pemulihan" ucap dokter Dimas sembari tersenyum. "Kalau begitu saya pamit dulu, istirahat yang cukup" lanjutnya sembari menepuk pundak Jazz.
"Makasih, dok" ucap Jazz dan dibalas senyum oleh dokter Dimas.
Setelah dokter Dimas keluar, ayah, bunda dan juga yang lainnya segera masuk kedalam ruang rawat Jazz.
"Sayang gimana keadaan kamu, nak?" Tanya bunda sembari memeluk putra semata wayangnya itu.
"Jazz baik-baik aja bunda, udah jangan nangis, nanti jadi jelek loh" ledek Jazz
"Kamu ya, udah buat bunda khawatir tapi masih sempat-sempatnya kamu ledekin bunda"
"Maaf bundaku sayang"
"Boss gue kangen" ucap Aldo dan Eric secara bersamaan.
Sementara itu Jazz menatap kedua temannya dengan tatapan jijik dan ingin mual.
"Loe semua pada ngapain kesini, kamar gue jadi penuh. Udah macam tempat pengungsian aja" ucap Jazz sembari menunjuk teman-temannya.
"Bener-bener ya loe Jazz, kita itu khawatir sama loe. Apalagi loe udah buat temen gue kagak makan berhari-hari" ucap Riri dengan ngegas.
"Kamu bandel banget sih" ucap Jazz beralih menatap Vyona, ada perasaan tidak suka dari tatapan mata cowok itu. Bagaimana bisa Vyona mengabaikan kesehatannya sendiri. "Aku nggak suka kamu nyiksa diri sendiri kayak gini"
"Maaf" ucap Vyona sembari menunduk Karena tak berani menatap kedua mata Jazz yang kini terlihat sangat mengintimidasi.
"Jangan pernah diulangi"
__ADS_1
"Iya, janji" ucap Vyona sembari mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V, tak lupa gadis itu menggembungkan pipinya agar terlihat lucu, berharap sang kekasih tidak marah lagi.
Melihat gadisnya bertingkah selucu itu langsung membuat amarah Jazz hilang begitu saja, rasanya sekarang Jazz ingin menciumi gadis itu.
"Aku ada sesuatu" ucap Vyona sembari membuka laci meja yang ada disampingnya. "Kamu masih harus pasangin ini dijari manis aku ya" ucap Vyona sembari cemberut.
"Emang gapapa kalau kita tunangan disini?"
"Gapapa, yang penting aku sama kamu" jawab Vyona sembari tersenyum.
Dengan segera Jazz mengambil kotak cincin itu, sebelum memasangkan cincin itu Kejari Vyona Jazz menatap kedua orangtuanya, papa Arga, Areksa, Alan, juga Kevin bermaksud meminta izin. Setelah mereka semua mengizinkan Jazz tanpa ragu menyematkan cincin itu Kejari manis Vyona. Setelahnya giliran Vyona yang menyematkan cincin ke jari manis Jazz.
"Yey, makan besar" sorak Azam setelah kedua sejoli itu selesai bertukar cincin.
"Ganggu momen aja loe azamblung" tegur Agam, dan Aldi secara bersamaan.
Setelah selesai acara tukar cincin Kevin memesankan banyak makanan untuk teman-teman Vyona, katanya sebagai perayaan pertunangan Vyona dan Jazz.
"Sayang makasih udah bertahan sama aku" ucap Jazz sembari menggenggam tangan Vyona.
"Aku yang harusnya berterimakasih. Makasih untuk sabarmu selama ini, makasih untuk cinta yang kamu kasih buat aku, aku beruntung punya kamu disamping aku" ucap Vyona sembari memeluk Jazz "jangan pernah tinggalin aku ya" lanjutnya.
"Aku janji bakal selalu ada disamping kamu" ujar Jazz sembari mencium kening Vyona. Sebelum akhirnya turun kemata, dan bibir gadis itu.
Sementara itu semua orang yang ada di ruangan itu berpura-pura menutup matanya, agar dua sejoli itu tidak malu.
"I love you, Vyona Queensha Arabella" bisik jazz tepat di telinga Vyona
"I love you too, Jazziel Devandra Alaris" balas Vyona juga ikut berbisik.
END
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai guys, aku mau ucapin makasih banyak buat kalian yang sudah setia baca tulisan aku dari awal hingga akhir, ya walaupun cerita ini masih banyak banget kurangnya 😂
Sekali lagi aku mau bilang makasih buat kalian yang sampai sekarang masih bareng aku buat menyelesaikan cerita ini.
Sampai ketemu di cerita berikutnya
Untuk terakhir kalinya aku mau bilang terimakasih telah membaca, sehat selalu kalian semua ❤️
__ADS_1
Ily