I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
berubah


__ADS_3

"sayang nanti pulang sekolah nonton yuk" ajak vyona kepada Karel, gadis cantik itu sedari tadi senantiasa bergelayut manja pada lengan sang kekasih. seolah-olah tak akan membiarkan Karel pergi barang sedetik saja.


"nggak bisa V aku lagi sibuk, lain kali aja ya"


"kamu kenapa sih akhir-akhir ini sibuk terus, nggak pernah ada waktu buat aku" ucap vyona dengan kesal, bahkan gadis itu hingga bangkit dari duduknya. sontak saja aksinya itu langsung menjadi pusat perhatian teman kelasnya.


"Jangan kayak anak kecil deh V, aku emang lagi sibuk" bukannya menenangkan vyona yang sedang kesal, Karel justru keluar meninggalkan kelas.


vyona benar-benar tak habis fikir dengan Karel. kenapa cowok itu akhir-akhir ini berubah, ada apa dengan Karel. atau jangan-jangan Karel punya cewek lain selain dirinya.


tidak-tidak Karel tidak mungkin menghianati dirinya, vyona tau betul Karel itu cowok seperti apa. jadi nggak mungkin kalau Karel menghianati dirinya.


"fa, Karel kenapa sih?"


"lah loe kan ceweknya, kenapa malah nanya sama gue"


"ya Loe kan temennya Karel juga"


"gue nggak tau, cowok loe itu terlalu susah ditebak orangnya"


vyona menghela nafas kasar, seingatnya ia tidak sedang membuat kesalahan lalu kenapa Karel bersikap aneh akhir-akhir ini.


"nggak usah seserius itu muka loe, tambah jelek loe"


"diem loe warga baru, gue nggak lagi ngajak ngomong elu"


"ck cowok itu kalau tiba-tiba berubah pasti karena dia bosen, atau kalau nggak udah ada yang lain"


"sok tau loe"


"emang gue tau" ucap jazz cuek sembari kembali menelungkupkan kepalanya diatas bangku.


"temen kamu satu ini suka makan apa sih yank?" tanya Ghea sembari menatap jazz yang kini mungkin sudah dibuai oleh mimpi.


"kenapa emangnya?" bukannya menjawab Rafa justru ikutan melontarkan pertanyaan kepada Ghea.


"nyebelin banget. kamu nggak boleh sering-sering hama jazz, nanti kamu ketularan nyebelin" ucap Ghea sembari menggembungkan pipinya, membuat Rafa gemas dan langsung menciumnya.


"ihh ayang malu" merasa dilihat oleh teman-teman sekelasnya membuat Ghea malu dan akhirnya bersembunyi di dada bidang Rafa.


*******


"sayang anterin aku pulang ya. aku lagi nggak bawa mobil" pinta vyona kepada Karel.


"nggak bisa V. kamu pulang bareng Rafa dan Ghea ya, aku masih ada urusan. aku pergi dulu" tanpa menunggu persetujuan dari vyona Karel sudah lebih dulu ngacir pergi meninggalkan vyona yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"dia kenapa sih, kenapa kayak ngehindarin gue" gumam vyona sembari menatap mobil Karel yang mulai menjauh.


"Vyo loe ngapain?"

__ADS_1


"gue nebeng ya ge"


"nggak bawa mobil?"


"nggak, tadi pagi due dianter sama pak Agus"


"yaudah yuk pulang"


dengan segera Ghea menuntun vyona menuju mobilnya. Ghea memang tidak pernah berangkat ataupun pulang bersama dengan Rafa, alasannya karena ia tidak ingin naik motor. bukan karena takut hitam, tapi Ghea merasa masih sayang kepada nyawanya. pasalnya Rafa kalau naik motor sudah mirip-mirip pembalap MotoGP, itu mengapa Ghea paling nggak mau dibonceng naik motor oleh Rafa.


"mau langsung pulang, apa ke rumah aku dulu?"


"langsung pulang deh ge"


"kamu ada masalah sama Karel ya V?"


"nggak"


"terus kenapa muka kamu cemberut gitu!"


"lagi kesel aja gue. akhir-akhir ini Karel kayak ngehindarin gue ge, dia berubah banget"


"perasaan kamu aja mungkin V"


"entalah gue juga nggak tau"


"emtt. mau mampir dulu nggak?" tanya vyona begitu sampai di depan rumahnya.


"lain kali deh V"


"yaudah loe pulangnya hati-hati ya ge"


"siap Vyo ku sayang" jawab Ghea sembari memberi hormat kepada Vyona.


Vyona pun segera turun dari mobil Ghea dan masuk kedalam rumah, ketika sampai di pekarangan rumah mata Vyona tak sengaja melihat mobil milik sang mama. itu tandanya sekarang mamanya sedang dirumah.


sudah hampir dua bulan Vyona tak pernah melihat mamanya pulang, rasanya ia sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya itu.


"mama" begitu melihat Dahlia Vyona segera memeluk wanita itu. ia curahkan segala kerinduan yang sekarang ia rasakan.


"ngapain kamu peluk-peluk saya. lepasin, kamu fikir kamu siapa main peluk-peluk aja"


"mama Vyo kangen"


"tapi saya nggak kangen sama kamu" sinis Dahlia sembari pergi meninggalkan Vyona seorang diri.


"mama, kenapa mama begitu membenci Vyo ma? Vyo juga nggak pengen terlahir seperti ini" gumam Vyona sembari menatap punggung Dahlia yang mulai menjauh.


*******

__ADS_1


"nih minum"


"thanks. oh iya cewek yang duduk satu bangku sama cewek loe siapa men?"


"elah Jazziel yang paling cakep, loe masuk sekolah udah dua hari. cewek secakep Vyo loe nggak tau namanya, padahal dia duduk didepan loe"


"oh namanya Vyo"


"iya namanya Vyona, cantikan? jangan-jangan loe suka sama dia, saran gue sih mendingan mundur sekarang. saingan loe Karel"


"siapa juga yang suka sama dia"


"ya Loe nggak biasa-biasanya nanya-nanya tentang cewek"


"ya gue nanya aja anjir. ya kali dia duduk di depan gue tapi gue nggak tau namanya"


malam ini Jazz dan Rafa tengah duduk di basecamp, setelah keduanya ikut balapan.


"lagi pada ngomongin apa sih?" tanya Andi yang baru saja datang dengan satu mangkuk mie instan ditangannya.


"kepo lu"


"loe mau nggak boss?"


"nggak" jawab jazz singkat padat dan jelas.


"loe mau nggak raf?"


"ogah, kalau pun gue mau pasti loe suruh bikin sendiri"


"ya iyalah, ya kali gue masak buat loe. loe suruh aja nih si gemoy buat masak"


"si gemoy siapa?"


"yaelah ya ceweknya Rapa lah boss"


"oh Ghea maksud loe!"


"betul, itu bocah kan gemoy"


"jadi selama ini loe lihatin cewek gue"


"kagak ***, santai aja Napa"


"awas loe kalau sampai ketauan curi pandang sama cewek gue"


"kasian banget si gemoy punya pawang kayak singa"


jazz hanya bisa tersenyum tipis menanggapi perdebatan kedua temannya itu, seburuk apapun kondisi hati jazz akan terasa lebih baik jika sudah bersama dengan Rafa dan juga Andi.

__ADS_1


__ADS_2