I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
dijenguk bunda


__ADS_3

"Vyona"


Ghea yang baru saja datang bersama Rafa langsung menerjang tubuh sahabatnya. Dipeluknya Vyona dengan erat seolah-olah takut jika Vyona pergi.


"Ayang, itu Vyona nggak bisa nafas" ucap Rafa sembari menarik baju Ghea bagian belakang.


"Maaf, aku kelewat seneng" Ghea cengengesan seolah-olah tak punya dosa.


"Kalian siapa?" Tanya Vyona sembari menatap Ghea dan Rafa secara bergantian.


Ghea nampak memasang wajah lesu. Tadi sebelum ia dan Rafa berangkat ke rumah sakit, Rafa sempat menjelaskan keadaan Vyona. Mengetahui fakta bahwa sahabatnya mengalami amnesia, membuat Ghea benar-benar sedih.


"Oke, karena Vyona lupa sama Ghea. Jadi sekarang kita kenalan lagi ya" ucap Ghea sembari tersenyum. "Nama aku Ghea. Aku adalah sahabatnya Vyona Queensha Arabella" lanjut Ghea sembari mengulurkan tangannya.


"Loe sahabat gue?" Tanya Vyona sembari menatap gadis polos yang berdiri didepannya.


"Emt, nih kalau kamu nggak percaya" Ghea segera mengambil ponselnya yang ia taruh di dalam totbag miliknya, ia tunjukkan foto dirinya dan Vyona.


"Sekarang kamu percaya kan kalau aku sahabat kamu!"


"Emt"


"Jangan-jangan kamu juga meragukan kalau Jazz itu pacar kamu V" tebak Ghea tepat sasaran.


"Iya, dia beneran cowok gue!" Ucap Vyona setengah berbisik.


"Ya iyalah. Nih kalau kamu nggak percaya" dengan segera Ghea membuka akun media sosial miliknya, ia cari akun milik Vyona di kolom pencarian. Setelah mendapat akun Vyona, dengan segera Ghea menunjukkan foto Vyona yang sedang bersama dengan Jazz, foto yang diambil oleh Andi tepat di tahun malam baru.


"Ini beneran?" Tanya Vyona masih dengan tidak percaya.


"Ya iyalah, ya kali gue buat akun bodong cuma buat edit-edit foto loe sama Jazz"


Vyona melirik Jazz yang kini duduk di sofa bersama dengan Rafa, cowok itu terlihat fokus dengan ponselnya begitu pula dengan Rafa. Demi apa cowok tampan itu benar-benar kekasihnya. Ahhhh, rasanya Vyona ingin berteriak sekeras-kerasnya.


"Vyona" tiba-tiba saja dua orang gadis masuk kedalam ruang rawatnya dan kembali memeluk dirinya persis seperti yang Ghea lakukan tadi. Dibelakang dua gadis itu ada sekitar tujuh orang cowok yang ikut masuk.


"Loe oke kan?" Tanya cewek yang berambut pendek sebahu.


"Ehmttt" Ghea nampak berdeham sebelum akhirnya gadis itu menjelaskan satu persatu teman-teman mereka. Sedangkan yang disebutkan namanya langsung melambaikan tangannya kepada Vyona.


Sementara itu Vyona tersenyum sembari menatap teman-temannya satu persatu. Vyona benar-benar tak menyangka kalau dirinya mempunyai teman sebanyak ini.


"Kakak ipar nih kita tadi beliin kakak ipar buah" ucap Azam sembari meletakkan dua kantong buah-buahan diatas meja.

__ADS_1


"Makasih ya" ucap Vyona sembari tersenyum. "Kamu adiknya Jazz y?" Tanya Vyona pada Azam, karena bocah itu memanggil dirinya dengan sebutan kakak ipar.


"Iyalah" jawab Azam dengan wajah tengilnya hingga membuat Agam kesal dan langsung menjitak kepala adiknya itu.


"Jangan dengerin dia kakak ipar. Mana ada boss Jazz ganteng gitu, punya adik buluk kayak Azam"


"Heh Agam, berdosa sekali kamu nak" ucap Azam sembari mengelus kepalanya yang dijitak Agam.


"Jangan dengerin Azam. Gue, si kembar, Agam, sama Azam emang manggil loe dengan sebutan kakak ipar" jelas salah satu cowok yang di name tag seragam sekolahnya bertuliskan Eric.


"Nanti kalau loe udah sembuh. Gue harap loe nggak tekanan batin ya V. Apalagi buat ngehadapin Andi, Aldo, sama Azam" ucap Rafa penuh harap hingga membuat Vyona terkekeh. Vyona paham maksud Rafa itu apa, karena kelihatannya cowok yang bernama Andi, Aldo, dan juga Azam itu super aktif.


*****


Areksa, Alan, dan juga Akbar kini tengah berkumpul di cafe yang letaknya tak begitu jauh dari sirkuit. Tadi setelah pulang kantor Areksa dan Alan memang memilih untuk menghampiri Akbar yang tengah melatih anak didiknya di sirkuit.


"Ckk, ini udah sebulan, tapi masih aja nggak ada titik terang" Areksa berdecak dengan kesal, namun dirinya juga tak bisa berbuat apa-apa, karena pelakunya kabur dengan sangat rapi.


Namun tiba-tiba Akbar nampak teringat sesuatu. Hingga membuat Areksa dan Alan langsung mengalihkan pandangannya kepada Akbar.


"Gue baru ingat" ucap Akbar dengan menjentikkan jarinya.


"Ngomong yang bener, bar. Loe ingat apaan" Alan langsung ngegas ketika Akbar ngomong dengan begitu ambigu.


"Di desa gue ada gudang kosong yang udah nggak kepakai, itu berada di pinggiran desa"


"Gue belum cek gudang itu, sa. Karena setelah pelakunya kabur, ayah gue berusaha buat ngejar. Tapi begitu sampai di perempatan ayah gue nanya sama orang-orang kalau nggak ada mobil putih yang lewat, itu tandanya mobil itu masih ada di sekitar desa gue"


"Akbar goblok, kenapa loe nggak ngomong dari kemarin-kemarin" Alan langsung menampol kepala Akbar karena merasa gemas dengan teman sepupunya itu.


"Anj*ng, sakit bang" umpat Akbar sembari mengelus kepalanya.


"Kita pergi sekarang" ucap Areksa sembari berlalu pergi dan langsung diikuti oleh akan dan juga Akbar.


Setelah hampir 30 menit menempuh perjalanan akhirnya ketiga cowok itu sampai juga di gudang tua yang Akbar maksud.


"Gudang apaan nih?" Tanya Alan kepada Akbar.


"Dulunya sih lumbung padi milik juragan Narto, tapi setelah juragan Narto wafat gudang ini jadi terbengkalai karena anak-anaknya memilih jadi seorang pengusaha dari pada menjadi seorang petani"


"Terus ini kita gimana masuknya nyet, nggak mungkinkan kita manjat. Lagian itu di atas pagarnya ada kawat, sama pecahan kaca gitu"


Akbar nampak terdiam sembari memikirkan cara bagaimana ia maupun Areksa bisa masuk kedalam gudang itu. Karena setelah juragan Narto meninggal, gudang itu sudah tidak pernah terurus. Mungkin hanya sesekali dibuka oleh istri juragan Narto.

__ADS_1


Namun ketika Akbar tengah memutar otaknya untuk berfikir dari kejauhan ia melihat istri juragan Narto datang bersama cucu perempuannya.


"Sa, itu istrinya juragan Narto"


Areksa nampak melihat seorang nenek-nenek yang dibonceng naik motor oleh anak perempuan yang Areksa perkirakan usianya sebaya dengan Vyona.


Kedua orang itu berhenti tepat di depan gudang. Tak berselang lama sang nenek terlihat membuka kunci gudang, setelah pintu terbuka keduanya masuk kedalam gudang itu.


"Pintunya ditutup lagi, gue semakin yakin kalau di dalam gudang itu ada sesuatu" ucap Areksa sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Alan nampak menjentikkan jarinya, begitu ide berlian muncul dari dalam otaknya.


"Pulang loe, bar"


"Kok loe malah ngusir gue sih, bang"


"Gue kagak ngusir, loe ambil drone. Kalau kita nggak bisa masuk, kita pantau dari atas"


"Cakep, yaudah gue balik dulu"


Setelah kepergian Akbar, Areksa dan Alan berjalan mengelilingi gudang tua itu. Berharap di gudang tua itu ada celah untuk masuk kedalam.


*****


"Vyon___" Octavia yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Vyona langsung dibuat kicep Karena melihat begitu banyak orang didalam ruangan itu, ruang rawat Vyona Sekarang lebih mirip dengan tempat pengungsian daripada sebuah ruang rawat di rumah sakit. "Astagfirullah ini kenapa rame banget, udah kayak tempat pengungsian tau nggak" lanjut Octavia setelah diam cukup lama.


"Dih bunda gitu banget sih. Lagian mana ada di tempat pengungsian orang ganteng kayak kita-kita"ucap Andi tanpa mengalihkan fokusnya pada game yang ada di ponselnya.


"dihh ganteng apanya" ucap Octavia sembari memasang muka julidnya. "Vyona sayang, gimana keadaan kamu?" Tanya Octavia sembari memeluk Vyona, setelahnya ia cium kedua pipi Vyona.


"Maaf ibu siapa?" Tanya Vyona sembari menatap lekat wajah Octavia.


Sebenarnya Octavia sangat sedih ketika Vyona melupakan dirinya, tapi Octavia juga tau kalau ini bukan keinginan gadis itu. Bahkan Vyona pun tak mengenal dirinya sendiri.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang Octavia kembali membawa tubuh Vyona kedalam pelukannya, diusapnya lembut punggung Vyona.


"Ini bunda sayang, bundanya Jazz" lirih Octavia.


"Oh jadi ini ibunya Jazz. Cantik, nggak heran kalau anaknya ganteng" gumam Vyona dalam hati.


"Cepet sembuh ya sayang, bunda sedih banget kalau lihat kamu kayak gini. Nanti kalau kamu udah sembuh, bunda janji bakal ajak kamu jalan-jalan kemanapun kamu mau"


"Emt, doain aja ya bunda" Vyona tersenyum manis sembari mengelus tangan Octavia.

__ADS_1


"Pasti sayang"


"Ini calon mertua gue! ya Tuhan, beruntung banget sih gue. Dapate cowok ganteng, sekarang ibunya sebaik ini pula " lagi-lagi didalam hati Vyona bersorak senang, karena menurutnya ia seperti sedang memenangkan lotre.


__ADS_2