
"V, kamu gapapa?" Tanya Karel yang baru saja menyusul Vyona ke UKS setelah jam istirahat telah berbunyi.
"Nggak usah sok peduli loe"
"Aku khawatir sama kamu, V"
"Khawatir!" Ulang Vyona sembari tersenyum remeh. "Dulu waktu loe ninggalin gue yang lagi sekarat, apa loe khawatir juga, rel!"
Bungkam, Karel hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Iya dirinya memang bukan manusia, bisa-bisanya dirinya meninggalkan Vyona yang tengah bersimpah darah hanya karena menganggap Vyona pasti sedang pura-pura dan sengaja menabrakkan diri pada mobilnya.
"Nggak bisa jawab kan loe. Mendingan loe pergi deh, muak gue ngelihat muka loe terus"
Bukannya menurut, Karel justru bersimpuh disamping tempat tidur yang kini Vyona tempati.
"V, gue mohon maaf gue. Ayo kita perbaiki semuanya, V. Gue masih sayang banget sama loe" ucap Karel dengan bahu yang sedikit bergetar bahkan suaranya pun mulai bergetar, mungkin saja cowok itu menunduk untuk menyembunyikan tangisnya.
"Apa yang perlu diperbaiki, rel? Udah nggak ada yang perlu diperbaiki, semuanya udah hancur. Kita jalani hidup kita masing-masing, gue udah bahagia sama cowok gue yang sekarang. Loe jalani hidup loe sendiri, jangan pernah loe gangu gue lagi" ucap Vyona sembari bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi namun gerakannya terhenti ketika Karel memeluk kakinya.
"Aku tau betapa cintanya kamu sama aku, V. Aku tau gimana perasaan kamu ke aku, jadi nggak mungkin kalau semua itu hilang hanya karena orang baru. Tolong jangan seperti ini"
"Sebenarnya loe beneran sayang sama gue, atau loe sengaja deketin gue karena loe tau gue anak pemilik gentala grup!" Ucap Vyona sembari menatap remeh Karel.
"Gue bener-bener masih sayang sama loe, V"
"Kalau loe emang masih sayang sama gue, kenapa dulu loe milih buat pergi, rel!" Ucap Vyona mulai emosi ia bahkan menendang Karel hingga cowok itu jatuh terjerembab. "Loe ninggalin gue, hanya karena gue antagonis. Bukannya kalau loe sayang sama gue, loe bakal bertahan dan nerima gue"
"Maafin gue, V. Maafin gue, tapi sungguh sejauh apapun gue pergi, hati gue nggak bisa bohong. Tetep kamu pemiliknya" ucap Karel sembari meraih tangan Vyona. "Aku mohon, V. Maafin aku, beri aku kesempatan kedua. aku janji sama kamu, aku bakal perbaiki semuanya"
Dengan sekuat tenaga Vyona menepis tangan Karel yang sedari tadi menggenggam tangannya, rasanya Vyona ingin sekali menghajar mantan kekasihnya itu.
"Sayang"
Baru saja Vyona mengangkat tangannya bersiap untuk menonjok wajah Karel, Jazz justru datang bersama dengan teman-temannya.
Ketika melihat kedatangan Jazz, Vyona langsung saja berjalan menuju cowok itu. Ia sembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Jazz.
"Kamu kemana aja sih?"
"Maaf ya kalau aku lama. Tadikan aku udah pamit, mau beli makan buat kamu"
"Aku nggak laper, aku mau ke kelas aja"
"Kamu ke kelas dulu bareng Ghea ya" ucap Jazz sembari mengurai pelukannya, tak lupa ia usap kedua pipi mulus milik gadisnya.
"Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Aku mau ngomong sama dia, nanti aku nyusul" ucap Jazz sembari mengendikkan dagunya ke arah Karel yang kini masih bersimpuh di lantai.
"Jangan lama-lama, ya"
"Iya" ucap Jazz sembari tersenyum.
Setelah kepergian Vyona dan juga yang lainnya, Jazz berjalan menghampiri Karel. Sebenarnya tadi Jazz dan juga yang lainnya melihat apa yang terjadi antara Karel dan Vyona, akan tetapi Jazz memilih menunggu diluar sembari mengintip, ia juga melarang teman-temannya untuk masuk kedalam UKS, Jazz rasa Karel dan Vyona memang perlu bicara.
"Loe cowok kan! Nggak seharusnya loe ngerendahin diri loe kayak tadi" ucap Jazz sembari bersandar pada dinding yang ada disebelah Karel.
"Selama ini gue udah cukup capek meringatin loe buat jangan deketin Queen, tapi gue juga sadar setiap orang berhak memperjuangkan orang yang dia suka"
"Tolong, kembaliin Vyona ke gue" ucap Karel sembari menatap Jazz, tatapannya pun sangat terlihat memohon.
"Ckk, loe fikir Queen barang yang bisa di lempar sana, lempar sini" Jazz berdecak sembari menunjukkan senyum smirknya. "Loe lihatkan gimana bencinya dia sama loe, jadi gue mohon sama loe, jangan pernah ganggu dia lagi"
"Gue nggak bisa, apapun bakal gue lakuin buat dapetin dia lagi"
"Percuma, rel. Loe cuma bakal buang-buang waktu, karena yang gue tau hati Vyona sekarang udah bukan buat loe lagi. Didalam sana Sekarang cuma ada gue, dan yang perlu loe tau dia udah kembali pada rusuk yang semestinya" ucap Jazz sembari menepuk pundak Karel sebanyak dua kali, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karel seorang diri.
******
Pagi ini Vyona membantu nenek menyirami bunga-bunga yang ada dipekarangan rumah, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Jazz yang kini tengah bermain basket bersama papa, dan juga kedua kakaknya.
"Nenek apaan sih"
"Dihh muka kamu merah tuh" ucap Rosmalinda sembari terkekeh.
"Kamu benar-benar sangat mirip dengan Dahlia, masa muda mamamu sama persis seperti kamu, Vyo" gumam Rosmalinda dalam hati sembari mengamati wajah Vyona yang kini bersemu merah Karena menahan malu.
"Tau ahh, nenek nyebelin. Vyona mandi dulu"
Pada akhirnya Vyona memilih untuk menyudahi kegiatannya dan memilih untuk membersihkan badannya yang kini sudah lumayan kotor karena terkena tanah.
"Ishh, nenek nyebelin banget sih, akukan jadi malu digodain kayak tadi. Untung aja Jazz nggak denger" gumam Vyona sebelum akhirnya ia sembunyikan tubuhnya didalam bathtub.
Sudah hampir 30 menit Vyona berendam, namun rasanya ia sangat malas untuk beranjak.
Sedari tadi bayangan Jazz selalu memenuhi otaknya, padahal dirinya berendam untuk menenangkan fikiran, tapi ini Jazz justru berlarian didalam otaknya.
"Ahhh, kalau kayak gini terus bisa gila gue" Vyona berteriak cukup keras karena merasa frustasi.
Namun tak berselang lama pintu kamar mandinya di ketuk dari luar, dan disusul dengan suara berat milik Alan.
"Dek, loe gapapa kan?" Tanya Alan yang terdengar sangat khawatir.
__ADS_1
"Gue gapapa kok, bang"
"Terus kenapa loe teriak-teriak kayak gitu, bikin orang khawatir aja"
"Hehe, maaf"
"Cepetan keluar, loe udah lama banget mandinya"
"Iya bawel"
Setelah tak terdengar lagi suara Alan, Vyona segera membersihkan tubuhnya dan memakai baju yang telah ia siapkan tadi, buat berjaga-jaga siapa tau Jazz atau kedua kakaknya sudah masuk kedalam kamarnya, kan nggak lucu kalau ia keluar hanya dibalut oleh handuk.
"Jazz, kamu disini?" Tanya Vyona ketika baru keluar dari kamar mandi dan melihat kekasihnya itu tengah berbaring di atas ranjangnya.
"Iya, aku masuk bareng bang Alan. Kamu ngapain aja sih didalam, aku aja sampai udah selesai mandi"
"Aku berendam" jawab Vyona sembari duduk di depan meja riasnya bersiap untuk mengeringkan rambutnya.
Namun ketika ia baru saja mau mengambil hairdryernya, Jazz lebih dulu mengambil barang itu.
"Jazz, jangan ganggu. Aku mau ngeringin rambut"
"Biar aku yang keringin" ucap Jazz sembari mulai mengeringkan rambut Vyona.
"Emang bisa?"
"Bisa dong"
Vyona hanya bisa diam sembari mengamati pantulan wajah Jazz dari dalam cermin, entah mengapa rasanya Vyona juga pernah mengalami hal seperti ini. Apa dulu Jazz juga pernah melakukan hal ini untuk dirinya.
"Ahhh"
Tiba-tiba saja Vyona berteriak seperti tengah kesakitan, Jazz tau kalau kini Vyona mendapatkan potongan ingatannya. Cowok itu segera berjongkok didepan Vyona, ia usap pelan kedua pundak gadis itu.
"Mana yang sakit, bilang sama aku!"
"Kepala aku sakit Jazz"
Dengan segera Jazz bangkit dan segera memeluk Vyona, ia sembunyikan wajah Vyona di perut sixpacknya.
"Aku tau kamu kuat, ada aku disini. Semuanya bakal baik-baik aja Queen"
"jangan pergi, ya"
"iya, aku janji nggak akan pernah nyoba nggalin kamu" ucap jazz sembari mencium puncak kepala Vyona.
__ADS_1