I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
pengen dipeluk


__ADS_3

"boss loe mau kemana?" Andi memperhatikan penampilan jazz dari atas hingga bawah jangan lupakan mulutnya yang menganga karena terheran-heran, karena pada umumnya dihari weekend seperti ini jazz akan bergelut dengan selimutnya. Sedangkan ini pagi-pagi sahabatnya itu sudah sangat rapi, layaknya remaja yang punya pasangan saja.


"Biasa aja dong ngelihatnya kayak nggak pernah lihat cowok ganteng aja" dengan gaya tengilnya jazz menyugar rambutnya kebelakang.


"Mau kencan sama Vyo ya?" Andi mengejek dengan menaik-turunkan kedua alisnya dan jangan lupakan senyumnya yang membuat jazz ingin sekali menjitak kepala anak itu.


"Bachot" ucap jazz sembari menggerakkan kedua tangannya membentuk sebuah pelangi.


"Gue pulang sendiri aja deh jazz" Vyona yang baru saja keluar dari kamar berucap sembari memakai Hoodie milik jazz "ehh iya hoodienya gue bawa dulu, gue balikin kalau udah gue cuci ya"


"Santai aja. Lagian loe punya uang mau pulang sendiri?"


"Ya Loe tinggal kasih gue lah, besok gue ganti"


"Ck, nggak usah. Udah ayo gue anter aja" ucapnya sembari berjalan mendahului Vyona.


"Biasa pak boss emang orangnya kayak gitu, tapi baik kok aslinya"


"Diem gue nggak nanya" ketus Vyona sembari berlari menyusul jazz yang telah dulu meninggalkan dirinya.


"Buset. Sama-sama galak, cucok nih kalau pacaran. Yes akhirnya temen gue akan segera melepas masa jomblonya, yihaaa" Andi melompat dengan girangnya, sungguh dia sangat mendukung jika jazz bersama dengan vyona.


Setelah selesai berjingkrak-jingkrak layaknya orang yang tengah kesurupan reog, Andi segera mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Rafa.


"Hmtt" suara deheman di seberang sana terderdengar jelas sangat malas-malasan, mungkin saja sekarang Rafa masih tidur.


"Loe dimana?"


"Anj*Ng ya dirumah lah, loe ngapain telfon gue pagi-pagi ganggu aja"


"Anjir kita kemarin nggak nongkrong kenapa bisa loe bangkong gini sih"


"Gue tadi malam nge-game Ama si boss sampai subuh tadi"


"Wadidaw, kenapa nggak ada yang ngajakin gue. Emang bener-bener sialan loe pada"


"Siapa suruh jam 10 loe udah molor"


"Ya bangunin kek"


"Ogah loe tidurnya kayak kebo. Udah ahh ganggu aja loe, gue mau tidur juga, bye"


Sambungan telfonnya bersama Rafa terputus begitu saja karena Rafa mematikannya secara sepihak. Sedangkan Andi hanya dapat misuh-misuh dan mengapsen seluruh isi kebun binatang, padahal tadi tujuannya menelfon Rafa untuk membahas jazz dan juga Vyona.


*****


"Sorry ya, gue jadi ngerepotin loe"


"Hmmt it's oke"


"Ini beneran rumah loe?" Tanya jazz memastikan begitu mereka sampai disebuah rumah yang dindingnya bercat putih dan gold.


"Iya ini rumah gue. Mau mampir nggak?"


"Nggak usah lain kali aja"


"Sekali lagi makasih ya"


"Emt"


"Gue masuk dulu" pamit Vyona sembari turun dari motor jazz. Setelah menyerahkan helm yang ia pakai kepada jazz, Vyona segera berlari menuju rumahnya hal pertama yang ia fikiran sekarang adalah ponselnya, areksa sekarang pasti sedang menghawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Dari mana aja kamu?"


Namun ketika Vyona baru saja sampai diujung tangga langkahnya terpaksa terhenti ketika suara sang mama mengintrupsi dirinya.


"Vyo dari rumah temen ma" jawab Vyona dengan menunduk, sungguh ia memang tak pernah berani jika harus menatap mata sang mama. Mata itu selalu saja menatap Vyona dengan penuh rasa benci.


"Kamu tidur di rumah cowok?"


"Iy.... Iya ma" jawab Vyona sedikit terbata-bata pasalnya ini memang untuk pertama kalinya dirinya menginap dirumah teman cowoknya.


"Kenapa nggak pulang. Dan kenapa juga nggak menginap dirumah teman kamu si Ghea itu, kenapa malah milih tidur di rumah cowok?" Dahlia bertanya dengan penuh intimidasi, setelahnya ia tersenyum. "Mau belajar jadi jal*Ng he? Saya nggak pernah mendidik kamu untuk menjadi wanita murahan ya"


Jlebb, rasanya hati Vyona begitu sakit. Bagaimana bisa mamanya mengucapkan hal yang tak pantas seperti itu. Disaat kebanyakan ibu akan menyayangi buah hatinya, tapi kenapa mamanya tidak bisa.


Kemarin ia di usir dari rumah, alih-alih menghawatirkan keadaannya ketika baru pulang malah dituduh yang tidak-tidak.


"Cukup ma. Mama bilang mama nggak pernah mendidik Vyo buat jadi wanita murahan! Tapi emang kenyataannya mama nggak pernah ngedidik Vyo ma. Dari kecil Vyo cuma punya papa, kak Eksa, sama mbok sum. Vyo nggak pernah punya mama, salah Vyo apa ma? Kalau aja Vyo bisa memilih, Vyo juga nggak ingin terlahir seperi ini ma. Vyo juga pengen disayang sama mama, sama kayak mama sayang sama kak Eksa ma" ucap Vyona sembari memekik.


entah dapat keberanian dari mana hingga ia seberani itu bicara dengan nada tinggi kepada sang mama, karena selama ini Vyona akan selalu diam jika sang mama memarahi dirinya. Mungkin saja karena ucapan Dahlia yang keterlaluan hingga membuat Vyona harus melawan sang mama.


Dahlia hanya mampu diam ditempatnya, ini untuk pertama kalinya Vyona berani menjawab seperti ini, apalagi gadis itu menjawab dengan suara yang meninggi.


"Kalau mama malu punya anak kayak Vyo, kenapa dulu mama nggak bunuh aja Vyo ma?" Vyona berucap dengan suara yang sedikit bergetar, sedari tadi air matanya sudah jatuh dengan derasnya. Hatinya sangat sesak dan sakit.


Plakk


Satu tamparan berhasil mendarat mulus di pipi kanan Vyona, hingga membuat gadis itu langsung tertoreh ke kiri.


"Kalau saja papa kamu itu tidak melarang saya, sudah saya pastikan akan mengugurkan kamu dulu"


Apalagi ini? Sungguh Vyona baru tahu tentang hal yang satu ini, jadi dulu sang mama punya niatan untuk membunuhnya, tapi sang papa merusaha melindungi dirinya.


Merasa muak dengan apa yang tengah terjadi, Vyona segera masuk kedalam kamarnya.


"Ahh sial, beneran mati" ucap Vyona ketika menemukan ponselnya diatas kasur dan sudah mati karena kehabisan daya.


"Kak eksa pasti bakal marah-marah deh"


Vyona bergegas mengecas ponselnya agar ia bisa segera menghubungi Eksa dan juga sang papa.


"Kira-kira Karel khawatir nggak ya sama gue. Apa dia masih marah sama gue"


Dengan sesenggukan Vyona melangkah munuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Sakit" gumamnya sembari melihat pantulan dirinya dicermin, pipinya memerah. Ini memang bukan pertama kalinya Dahlia berbuat kasar kepadanya, tapi hati Vyona selalu saja merasa sesak ketika sang mama melalukan hal itu kepadanya.


"Papa, Vyo kangen, papa kapan pulang sih? Vyo pengen dipeluk pa"


Setelah dirasa cukup Vyo segera keluar dan mengambil ponselnya untuk ia hidupkan. Benar saja dugaannya setelah ponsel itu menyala terdapat puluhan notif dari sang papa dan juga kakaknya.


"Astaga, bener kan kak Eksa nyariin. Pasti nanti marah-marah kayak emak-emak"


Tengah asik bergumam dan membaca rentetan pesan yang dikirim papanya tiba-tiba saja kakaknya melakukan panggilan video.


"Mampus, orangnya telfon" Vyona glagapan sendiri begitu kakaknya melakukan panggilan video, mau tidak diangkat tapi takutnya malah kakaknya semakin marah, kalau diangkat pasti langsung ngomel-ngomel.


Pada akhirnya Vyona tak punya pilihan lain selain mengangkat panggilan video tersebut.


"Hai ka__"


"VYONA" baru saja Vyona ingin menyapa sang kakak tapi areksa sudah lebih dulu menyela.

__ADS_1


"Kakak apa-apaan sih teriak-teriak gitu"


"Dari mana aja kamu? Kenapa ponsel kamu nggak bisa dihubungi kemarin? Kamu nggak tau apa kakak sama papa khawatir sama kamu"


"Maaf kak"cicit Vyona sembari menunduk tak berani menatap sang kakak.


"Kamu tau nggak sih, setiap kali kamu nggak bisa dihubungi kakak jadi berfikir yang nggak-nggak. Rasanya kakak pengen melesat pulang buat nyariin kamu"


"Maafin Vyo ya kak" maaf, hanya itu yang dapat Vyona lakukan saat ini. Dapat Vyo lihat seberapa khawatirnya sang kakak.


"Kamu kemana?" Tanya areksa yang mulai melunak.


"Maaf ya kak, kemarin aku tidur dirumah Ghea. Ponselku ketinggalan dirumah"


"Kamu udah berani bohong sama kakak?"


"Ma... Maksud kakak bohong apa?"


"Kakak kemarin telfon Ghea katanya dia nggak lagi sama kamu. Jadi sebenarnya kamu dimana?"


Bodoh, Vyona benar-benar merasa bodoh saat ini. Bisa-bisanya ia melupakan kalau areksa sangat dekat dengan Ghea, lantas harus dengan apa lagi ia beralasan.


"Kenapa diam?"


"Sebenarnya kemarin Vyo mau nginap dirumah Ghea, ehh gheanya malah kerumah neneknya dibandung. Jadinya Vyo nginap dirumah temen Vyo yang lainnya kak"


"Teman kamu yang mana? Kamu kan cuma punya Ghea" areksa bertanya dengan penuh selidik, pasalnya ia tau betul kalau sahabat adiknya cuma ada Ghea saja.


"Vyo nginap dirumah Rafa kak. Iya, dirumah cowoknya Ghea"


"VYONA"


"Ihh kakak jangan teriak-teriak terus dong, sakit nih kuping Vyo"


"Kamu gila ya? Kenapa malah nginap dirumah cowok, kenapa nggak pulang aja"


"Maaf kak, kemarin mobil Vyo mogok. Kebetulan Rafa lewat, yaudah Vyo putusin buat nginap dirumah Rafa. Lagian Vyo bosen dirumah sendirian"


"Jangan diulangi lagi, kakak nggak suka kamu nginap-nginap dirumah cowok"


"Siap komandan" jawab Vyona sembari memberi hormat kepada sang kakak.


"Pipi kamu kenapa merah, terus tadi mata kamu juga sembab!"


"Ini tadi Vyo jatuh kak, sakit banget jadinya Vyo nangis" jawab Vyona sembari menggaruk tengkuknya.


"Beneran nggak bohong?"


"Ihh kakak nggak percayaan banget sih"


"Oke, yaudah kakak kerja dulu"


"Ckk, kerja terus. Jadi kapan Vyo punya keponakan!"


"Berisik" ucap areksa sembari memutus panggilan videonya.


"Kak eksa, kak Eksa. Ganteng doang tapi jomblo" ucap Vyona sembari menggelengkan kepalanya.


Dari sekian banyak notif yang ia terima tak ada satupun notif dari Karel, apa cowok itu masih marah kepada dirinya. Ahh entahlah, makin kesini Vyona merasa semakin jauh dengan Karel.


"Makin kesini, aku makin nggak ngenalin kamu rel" ucap Vyona sembari menatap foto Karel.

__ADS_1


__ADS_2