I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
Jangan tidur


__ADS_3

Jam dipergelangan tangan Jazz menunjukkan pukul 8 malam, kini cowok itu tengah berjalan di pinggir trotoar bersama dengan Aldi. Keduanya baru saja mencari makan karena memang tadi mereka semua belum makan sejak pulang sekolah.


"Boss loe nggak bercandakan!" Seru Aldi, berharap apa yang tadi Jazz bilang tidaklah benar.


"Gue serius"


"Secepat itu? Loe beneran udah yakin!"


"Gue yakin banget, Al"


"Semoga itu yang terbaik buat loe boss"


Ya tadi Jazz menceritakan pertunangannya dengan Vyona. Aldi benar-benar terkejut, ia fikir Jazz hanya bercanda, karena menurut Aldi ini benar-benar mendadak, bahkan yang Jazz beritahu baru dirinya dan juga Rafa.


"Nanti kalau gue udah pergi ke London gue titip bengkel sama anak-anak ya, Al"


"Yaelah boss, loe ngomong kayak nggak mau balik lagi aja"


"Yakin gue nggak tau sampai kapan gue akan disana"


Aldi hanya bisa diam sembari tersenyum, dalam hatinya ia berkata "mana mungkin si boss bisa pisah lama-lama dari kakak ipar"


"Gue yakin loe nggak akan lama disana boss"


"Kenapa?"


"Separuh nyawa loe masih disini, dan gue yakin loe bakal cepet kembali" jawab Aldi sembari menghentikan langkahnya.


Jazz rasa Aldi benar, bagaimana ia bisa pergi lama-lama meninggalkan gadisnya sendiri disini. Tidak bertemu dengan Vyona sehari saja Jazz rasanya sudah hampir gila.


Namun tiba-tiba saja atensi Jazz dan Aldi langsung mengarah pada seorang gadis yang penuh dengan luka lebam di seluruh tubuhnya, gadis itu berjalan terseok-seok dan tak tentu arah. Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kencang dari sisi kanan gadis itu.


"Ahh, ****" dengan secepat mungkin Jazz berlari menghampiri gadis itu, sesampainya didekat gadis itu Jazz langsung mendorong gadis itu dan......


Brakkk


Kecelakaan tidak bisa dihindari lagi, tubuh Jazz terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi, darah juga sudah mulai membasahi tubuh Jazz.


"Boss" Aldi yang melihat Jazz tergeletak dan bersimpah darah langsung berteriak dan lari, bahkan nasi bungkus yang ia bawa langsung ia buang begitu saja.


"Boss, bangun. Loe harus bertahan, loe nggak boleh pergi" dengan tubuh yang bergetar Aldi memeluk tubuh Jazz.


"Al" panggil Jazz pelan, bahkan nyaris tak terdengar.


"Iya boss, bertahan ya. Kita kerumah sakit"


"Sakit, Al"


"Lawan, boss. Gue tau loe kuat" ucap Aldi dengan berlinangan air mata. "Tolong, tolong teman saya, saya mohon"


"Bawa ke mobil saya aja dek" ucap seorang bapak-bapak paruh baya yang kebetulan lewat dan berhenti Karena melihat kecelakaan itu.


Dengan segera Aldi membopong tubuh Jazz, dan membawanya ke mobil milik bapak itu, begitu pula dengan gadis yang tadi Jazz selamatkan.

__ADS_1


"Al" panggil Jazz untuk kedua kalinya.


"Iya, boss"


"Gue titip Queen ya"


"Loe ngomong apa sih boss, loe sendiri bisa jagain kakak ipar, kenapa loe harus nitip ke gue. Loe fikir kakak ipar barang yang bisa di titip-titipkan"


"Al, gue ngantuk"


"Nggak, jangan tidur, loe nggak boleh tidur, boss" bentak Aldi. "Ini semua gara-gara loe, dasar cewek ceroboh. Gara-gara loe temen gue jadi kayak gini, anj*ng"


"Ma____ maaf" ucap gadis itu dengan terbata-bata, sedari tadi gadis itu juga menangis. Air matanya semakin deras saat ia menatap tubuh Jazz dari pantulan kaca yang ada didepannya. "Tuhan, tolong selamatkan dia" mohon gadis itu didalam hati.


"Pak, tolong lebih cepat"


"Baik, mas"


********


"Adik Abang udah besar ya sekarang, bahkan udah mau tunangan" ucap Alan sembari mengelus puncak kepala Vyona, bahkan gadis itu kini tengah berbaring di atas karpet dan menjadikan pahanya sebagai bantalan.


"Ya kan papa ngasih makan kita biar kita cepet besar bang.ayam aja bisa besar, ya kali gue loe suruh jadi bocah terus" ketus Vyona hingga mengundang gelak tawa Areksa, Kevin, papa, dan juga nenek.


Ya mereka sekeluarga kini tengah berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya. Bisa berkumpul seperti ini benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri untuk Vyona.


"Kak, Vin"


"Kenapa?"


"Kenapa gitu?"


"Mereka berdua kan jomblo"


"Bocah sialan" ucap Areksa dan Alan secara bersamaan.


Namun tiba-tiba saja ponsel milik Alan berdering dengan nyaringnya, dilayarnya tertera nama Rafa.


"Halo kenapa, Fa?"


"Bang, loe dimana?" Tanya Rafa dari seberang sana.


"Dirumah, gue" jawab Alan mulai tak enak hati, pasalnya suara Rafa terdengar bergetar seperti tengah menahan tangis.


"Loe ke rumah sakit harapan ya, bang"


"Kenapa?"


"Bo___boss Jazz kecelakaan" jawab Rafa dengan terbata-bata, bahkan kini suara Isak tangis Rafa dapat Alan dengar dengan jelas.


"Nggak mungkin" gumam Alan sembari menjatuhkan ponselnya, kemudian dengan secepat kilat ia dorong Vyona untuk bangun.


"Issh, loe kenapa sih bang?"

__ADS_1


Bukannya menjawab Alan justru langsung memeluk Vyona dengan sangat erat.


"Loe kenapa sih , bang?" Tanya Vyona dengan bingung, bagaimana tidak bingung abangnya berubah setelah menerima telfon.


"Loe yang sabar ya, dek"


"Loe ngomong apa sih bang? Gue nggak ngerti apa maksud loe"


"Jazz___"


"Jazz kenapa? Dia ada di bengkel kok sama anak-anak" ucap Vyona memotong omongan Alan.


"Jazz, kecelakaan"


Mendengar apa yang baru saja Alan katakan, Vyona merasa kalau dirinya baru saja disambar oleh petir. Bagaimana mana bisa, bahkan kekasihnya baru mengiriminya foto beberapa puluh menit yang lalu.


"Loe jangan bercanda dong, bang. Ini nggak lucu tau"


"Ayo ganti baju, kita kerumah sakit sekarang" ucap Alan sembari menyingkirkan anak rambut Vyona.


Dengan patuh Vyona berjalan menuju kamarnya untuk mengganti baju. Iya akan buktikan pada Alan, bahwa yang Alan bilang tadi salah. Vyona percaya bahwa sekarang kekasihnya baik-baik saja.


******


Sesampainya di rumah sakit dapat Vyona lihat dengan jelas kalau teman-teman Jazz juga berada di situ, bahkan kedua orang tua Jazz juga sudah ada disitu. Mereka semua kini menangis dan mencoba saling menguatkan.


"Ini ada apa? Jazz mana?" Tanya Vyona sembari menatap semua orang yang berada di situ.


Namun bukannya jawaban yang Vyona dapat, bunda justru langsung memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Bunda, Jazz mana?"


"Sayang, yang sabar ya. Kita doakan semoga Jazz baik-baik aja didalam sana" ucap bunda setenang mungkin, walaupun pada kenyataannya bunda sangat rapuh dan hancur sekarang. Bagaimana tidak, putra semata wayangnya kini tengah bertaruh nyawa didalam sana.


"Bunda, Jazz pasti baik-baik aja. Besok kita kan mau tunangan, jadi nggak mungkin Jazz mau melewatkan hal sepenting itu"


"Kalau nanti Jazz melewatkan hari penting kalian, bunda harap Vyona nggak marah ya"


"Vyo mana bisa marah sama Jazz, Bunda. Vyona sayang banget sama Jazz, kalaupun Jazz nggak bangun sampai besok, Vyona bakal tetap tunggu dia"


Mendengar jawaban Vyona, Octavia semakin mengeratkan pelukannya kepada gadis itu. Hati Octavia semakin hancur, ketika melihat Vyona mulai terisak didalam pelukannya.


"Ya Tuhan kenapa begitu banyak ujian yang menerpa hubungan anak-anakku, tolong sembuhkan Jazz. Karena disini ada gadis cantik yang menantikannya" gumam Octavia dalam hati.


"Ini sebenarnya kenapa?" Tanya Areksa meminta penjelasan pada teman-teman Jazz. "Bukannya tadi kalian semua lagi di bengkel"


Dengan segera Aldi menceritakan semua kejadian yang baru saja ia alami, mulai dari pergi mencari makan, hingga saat Jazz menyelamatkan gadis yang hampir tertabrak oleh mobil.


Plakkk.


Satu tamparan keras Vyona layangkan pada gadis yang kini duduk tepat disamping Eric. Gerakan Vyona sangat cepat hingga tak bisa di cegah oleh yang lainnya.


"Loe bisa nggak sih kalau jalan jangan ceroboh? Loe lihat nggak, calon tunangan gue sekarang terluka gara-gara loe"

__ADS_1


"Ma____ maaf" ucap gadis itu sembari memegangi pipinya, air matanya pun sedari tadi juga belum berhenti. Apalagi tamparan Vyona tadi menambah luka lebam baru pada wajah gadis itu. Sakit, seluruh tubuhnya sangat sakit, sekarang hatinya pun juga bertambah semakin sakit. Karena kecerobohannya, sekarang ada orang yang celaka.


__ADS_2