
Jam di dinding menunjukkan pukul 20.00 dan Vyona pun pamit kepada yang lainnya untuk pulang lebih dulu.
"Jazz aku pulang dulu ya" pamitnya kepada Jazz sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku antar ya"
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, kamu disini aja dulu sama anak-anak"
"Tapi aku nggak tega ngebiarin kamu pulang sendiri Queen"
"Gapapa, ini masih sore juga kok"
"Yaudah deh, tapi kamu hati-hati ya"
"Iya bawel" ucap Vyona sembari mencubit kedua pipi Jazz.
"Emang cuma kakak ipar yang berani nyubit pipinya si boss" ucap Eric sembari menyandarkan tangannya pada bahu Agam.
"Ember, selain kakak ipar sama bunda gue rasa nggak ada lagi" ucap Agam menyetujui perkataan Eric.
"Ibu saya pamit pulang dulu ya" pamit Vyona kepada ibu panti.
"Hati-hati dijalan ya mbak"
"Iya buk" jawab Vyona sembari tersenyum. "Semuanya gue pamit ya"
"Hati-hati kakak ipar" ucap Aldi, Aldo, Agam, Andi, dan Eric secara bersamaan, sedangkan Rafa sedang pergi ke kamar mandi.
"Oke" jawab Vyona sembari berlalu keluar dan segera masuk kedalam mobilnya.
"Hati-hati dijalan, kalau ada apa-apa langsung kabarin"
"Iya-iya, yaudah aku pulang dulu. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Setelah mengantar Vyona sampai mobilnya, Jazz segera kembali kedalam panti, dan bergabung dengan teman-temannya.
*****
Baru saja Vyona berjalan beberapa ratus meter dari panti tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menghadang dirinya, hingga membuat Vyona mau tak mau langsung menghentikan mobilnya.
"Siapa sih! Kurang kerjaan apa ya. Dia fikir ini jalan nenek moyangnya"
Tak berselang lama dari dalam mobil van itu keluar tiga orang pria dengan bertubuh besar, dan wajah yang terlihat garang.
"Mampus mereka preman. Gimana nih" gumam Vyona panik sendiri.
"Woii keluar loe" ucap salah satu preman yang berbadan gempal.
"Loe keluar sekarang juga, atau gue pecahin kaca mobil loe"
"Keluar cepat"
Vyona semakin ketakutan, ditambah tempat itu lumayan sepi dan jarang sekali ada orang lewat.
"Jazz tolong" gumamnya sembari mencoba menghubungi cowok itu, namun baru saja Vyona akan menelfon Jazz, ponselnya mati karena kehabisan baterai.
"Kenapa harus mati disaat genting kayak gini sih. Ahh sial, kenapa juga gue tadi harus pulang lebih dulu sih"
"Keluar sekarang" teriak salah satu preman yang berambut gondrong sembari menendang spion mobil Vyona, hingga membuat Vyona yang berada dalam mobil terlonjak kaget.
Hingga pada akhirnya Vyona pun keluar. Karena Vyona Fikir keluar mati, tak keluar pun pasti juga akan mati kan. Jadi lebih baik menyerahkan diri, sembari berusaha memikirkan cara untuk kabur.
"Huahh ternyata cewek cantik boss"
"Mau apa kalian?" Ucap Vyona sembari menatap tajam ketiga preman itu.
"Jangan galak-galak dong cantik. Mumpung sepi gimana kalau kita bersenang-senang dulu" ucap preman berambut gondrong yang tadi sempat dipanggil boss.
"Kalian jangan macam-macam ya. Mau kalian apa? Gue bakal kasih berapa pun yang kalian minta, tapi gue minta sekarang kalian minggir"
"Kita nggak butuh duit loe. Yang kita butuh cuma tubuh kamu, gimana kalau malam ini kamu melayani kami"
"Cuihh, jangan mimpi" ucap Vyona sembari meludah.
__ADS_1
Melihat Vyona yang merendahkan dirinya membuat ketiga preman itu geram, hingga pada akhirnya pemimpin mereka melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan Vyona.
"Anj*ng" Vyona mengumpat begitu merasakan kebas di pipinya.
Dengan penuh keberanian Vyona pun membalas dengan menendang area sensitif pria itu, hingga membuat sang empunya langsung memegangi aset pribadinya sembari menahan sakit.
"Mampus" ucap Vyona sembari berlari.
"Bangs*t, ngapain kalian diam aja. Cepat kejar"
Mendapat perintah dari atasannya, kedua preman itu segera mengejar Vyona. Sedangkan Vyona berlari sekuat tenaga, untuk kembali ke panti asuhan dimana Jazz dan teman-temannya berada.
"Jazz, tolong" gumam Vyona, air matanya pun sudah mulai jatuh membasahi pipinya.
Karena terlalu terburu-buru hingga akhirnya Vyona jatuh tersungkur, karena tak sengaja tersandung batu.
"Mau kemana lagi cantik?" Ucap preman berambut kribo sembari menyeringai, dan segera menangkap pergelangan tangan Vyona.
"Lepasin" ucap Vyona sembari berusaha memberontak.
Melihat Vyona memberontak, membuat pria yang bertubuh gempal tak tinggal diam. Hingga akhirnya pria itu juga ikut mencekal pergelangan tangan Vyona sebelah kiri.
"Mau kabur kemana lagi cantik. Dari pada kamu menghabiskan tenaga untuk kabur, bukannya lebih baik kamu melayani kami" ucap boss dari kawanan preman tersebut.
"Tubuh mulus kamu ini pasti akan sangat nikmat cantik" ucapnya sembari membelai pipi Vyona.
"Jazz, tolong" teriak Vyona, sembari berderai air mata. Ahh sial, Vyona rasa keputusannya keluar dari dalam mobil salah, ini namanya ia menyerahkan dirinya kepada singa yang tengah kelaparan.
"Teriak, teriak sekeras mungkin. Karena disini nggak akan ada yang bisa dengerin teriakan kamu cantik"
"Jazz,,, Jazz,, Jazz tolong" Vyona terus berteriak sembari meronta. Tubuhnya kini sudah mulai bergetar karena menahan takut.
"Kita eksekusi sekarang" ucap pria itu memberi perintah kepada kedua bawahannya.
Kedua bawahannya pun langsung menarik Vyona mengikuti langkah pemimpinnya.
"Woi lepasin cewek gue" ucap Jazz yang baru saja turun dari mobil, dan segera menendang punggung pria gempal yang menarik tangan Vyona.
"Jazz tolong"
Bugg.. satu pukulan mentah, Jazz berikan pada pria gempal itu.
"Woi bocah, nggak usah ikut campur loe"
Dengan segera Rafa, Agam, Eric, dan juga kembar langsung membantu Jazz untuk menghajar preman-preman itu, sementara Andi berusaha menenangkan Vyona yang kini terlihat sangat ketakutan.
Hanya butuh hitungan jari, mereka berenam sudah membuat ketiga preman itu tak berkutik, bahkan pemimpin mereka sudah memutarkan darah, karena menjadi pelampiasan emosi Jazz.
"Siapa yang nyuruh kalian?" Ucap Jazz sembari mencengkram kerah baju pria gondrong itu.
"Nggak ada" ucapnya sembari tersenyum remeh.
"Jangan coba-coba bohong sama gue. Gue tau betul daerah sini, loe jujur atau gue bakal kirim loe ke neraka" ucapan Jazz tak main-main, begitu ia selesai bicara seperti itu, cowok tampan itu langsung mencekik pria yang kini berada dibawah kukungannya.
"O... Ok.. oke" mendengar pria itu ingin menjawab Jazz segera melonggarkan tangannya yang sedang mencekik pria itu.
"Dah.... Dahlia, Dahlia. Yang nyuruh gue Dahlia, ibu dari gadis itu" ucap pria itu dengan terbata-bata.
Seluruh tubuh Jazz langsung menegang, begitu mendengar pengakuan pria itu. Bukan hanya Jazz yang kaget, Vyona dan yang lainnya pun sama kagetnya, terlebih lagi Vyona, bagaimana bisa mamanya Setega itu kepada dirinya. Walau bagaimanapun dirinya tetap putri kandungnya, bahkan Dahlia yang mengandungnya selama 9 bulan dan melahirkannya pun mempertaruhkan nyawa, tapi bagaimana bisa mamanya Setega ini.
"Jangan coba-coba bohong sama gue" ucap Jazz sembari kembali mencekik pria itu.
"G.. gue nggak bohong"
Jazz segera menghempas tubuh compang -camping itu dan segera mendekati wanitanya yang sedang duduk sembari memeluk kedua lututnya, Jazz tau sekarang Vyona pasti sedang hancur-hancurnya.
Direngkuhnya tubuh itu kedalam pelukannya, dapat Jazz rasakan tubuh itu bergetar karena menahan tangis.
"Jangan takut, ada aku disini"
"Jazz, aku takut. Kenapa mama tega banget sama aku"
"Jangan takut, aku bakal urus semuanya. Aku pasti bakal selalu disamping kamu"
"Aku takut"
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik aja, ada aku disini" ucap Jazz sembari mengelus punggung Vyona, berusaha menyalurkan ketenangan pada gadisnya. "Kalian urus mereka bertiga, pastikan mereka dapat hukuman yang setimpal karena udah berani nyentuh cewek gue"
"Siap boss" jawab Agam, Eric, Rafa, Andi, dan juga kembar.
"Rafa, Andi loe bawa mobil Queen, sekalian bawa ke bengkel biasanya biar diperbaiki"
"Oke boss"
"Urusan mereka gue serahin sama kalian berempat " ucap Jazz sembari menatap Agam, Eric, dan kembar secara bergantian.
"Siap boss"
Dengan perlahan Jazz menggendong Vyona ala bridal style, dan segera membawanya masuk kedalam mobil.
"Jangan takut lagi, ada aku. Maaf, aku hampir terlambat " ucap Jazz sembari memeluk gadis kesayangannya.
"Makasih karena kamu nggak terlambat, makasih kamu datang nyelametin aku" ucap Vyona sembari membalas pelukan Jazz.
"Mulai sekarang aku janji sama diri aku sendiri Queen, nggak bakal aku biarin siapa pun nyakitin kamu. Kalau sampai ada yang nyakiti kamu, aku bakal langsung habisin orang itu" gumam Jazz dalam hati. Bahkan kini Jazz mulai berkaca-kaca, hatinya begitu sakit melihat Vyona seperti saat ini.
*****
"Apa? Kenapa kalian bisa ceroboh, untung anak setan itu datang tepat waktu" Bram langsung naik pitam begitu dengar berita yang Aris sampaikan.
"Anak buah kita sedang beli kopi, sampai tidak menyadari kalau nona Vyona pulang lebih awal tuan"
"Perketat pengawasan Vyona, jangan sampai gadis itu mengalami hal serupa"
"Baik tuan"
"Kalau gitu kamu keluar sana"
"Tapi, tuan. Masih ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan"
"Apalagi Aris" ucap Bram sembari menatap tajam Aris yang kini berdiri dihadapannya.
"Menurut bawahan saya, preman-preman itu disuruh oleh nyonya Dahlia"
"APA?" Bram kembali berteriak dan kembali menggebrak meja, Aris sampai merasa kasihan terhadap meja itu, meja itu tidak bersalah tapi selalu dibuat pelampiasan oleh atasannya.
"Kamu nggak bercanda kan ris!"
"Mana mungkin saya bercanda, untuk hal sepenting ini tuan"
"Oke, kamu boleh keluar. Biar saya yang mengurus semuanya"
*****
Setelah sampai rumah Vyona. Jazz segera menggendong gadis itu, karena tadi dijalan gadis itu tertidur.
"Non Vyona kenapa, den?" Pak Agus langsung mengikuti Jazz begitu melihat anak majikannya terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Tanyanya nanti aja ya pak, ini saya bawa Queen ke kamar dulu "
Dengan sigap pak Agus pun membantu membukakan pintu untuk Jazz.
Begitu sampai ruang tengah disana sudah ada Alan, mbok sum, dan bik yam yang terlihat tengah menunggu kedatangan Vyona.
"Loe apain adik gue?" Ucap Alan sembari bangkit dari duduknya.
"Gue bawa Vyona ke kamar dulu, baru gue jelasin semuanya bang" ucap Jazz sembari meneruskan langkahnya.
Setelah selesai membaringkan Vyona di ranjangnya, Jazz segera melepas sepatu gadis itu, tak lupa menyelimuti tubuh Vyona.
"Istirahat yang nyenyak ya Queen" gumamnya sembari memberikan kecupan singkat di kening Vyona, sebelum akhirnya Jazz keluar dan segera menghampiri Alan yang sedang menunggu penjelasannya.
"Duduk, dan jelasin semuanya. Kenapa, adik gue bisa berantakan kayak gitu"
Dapat Jazz lihat jika kini, Alan terlihat sedang menahan emosinya. Jazz paham betul bagaimana perasaan Alan saat ini.
Dengan berat hati Jazz pun akhirnya menceritakan semua kejadian yang barusan menimpa Vyona kepada Alan.
"Breng*ek" ucap Alan sembari membanting cangkir kopinya.
"Bang, tolong jangan emosi. Sekarang ona butuh kita" ucap Jazz sembari mencengkram, kedua pundak Alan.
__ADS_1