
Siang ini jam penjas di isi oleh anak-anak XI IPA 1 untuk bermain basket, dan juga voli karena pak Abas sedang izin untuk menemani istrinya yang tengah melahirkan.
Seperti saat ini Vyona, Reva, Astrid, Ghea, Riska, dan juga indah sedang bermain bola voli. Sedangkan Riri, gadis itu hanya duduk dibawah pohon mangga sembari menonton teman-temannya bermain tanpa ada niat sedikitpun untuk ikut bergabung. Padahal biasanya dirinya paling antusias dengan pelajaran olahraga.
"Woi ngelamunin apaan loe!" Vyona yang terlihat sudah mandi keringat duduk disebelah Riri sembari meminum air mineralnya.
"Gapapa"
"Lemes banget sih! Biasanya loe yang paling antusias kalau olahraga gini"
"Gue gapapa kok, V"
"Serius?" Tanya Vyona dengan alis yang ia angkat sebelah. Sementara itu Riri hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Vyona.
Vyona merasa ada yang aneh dengan temannya yang satu ini, tapi walau bagaimanapun Vyona juga nggak berani memaksa Riri untuk bercerita kepada dirinya, siapa tau aja itu masalah pribadi.
Pada akhirnya Vyona kembali melihat ke arah lapangan melihat Jazz dan yang lainnya yang kini tengah sibuk bermain basket. bahkan peluh sudah membanjiri tubuh Jazz, akan tetapi cowok itu tampak masih bersemangat dan tak sedikitpun merasakan lelah.
"Gue kemarin ketemu dia, V" ucap Riri secara tiba-tiba hingga membuat Vyona sedikit kaget.
"Maksud loe dia!"
"Mantan gue"
"Terus?"
"Ngelihat dia bikin gue ingat sama sakit yang dia kasih ke gue dulu" jawab Riri sembari menerawang jauh kedepan. "Dulu dia hianatin gue sama temen dekat gue, V"
"Loe masih suka sama dia?"
"Nggak, tapi sakitnya masih begitu terasa"
"Jadi itu alasan kenapa loe memilih buat jomblo sampai sekarang!"
"Emtt"
"Gue tau kok gimana sakitnya di hianati sama orang yang kita suka. Tapi hidup ini terus berjalan Ri, loe nggak bisa ngestuck sama masa lalu loe, loe harus bisa berusaha bangkit. Jalan loe masih panjang, Ri"
"Waktu loe putus sama Karel apa loe juga mikir gitu, V!"
"Iya, dulu gue sempat berfikir buat hancurin balik hubungan Karel dan Aretha" jawab Vyona sembari menatap Karel yang kini bermain voli bersama teman-temannya yang lain.
"Tapi kenapa loe nggak lakuin itu, V?" Tanya Riri dengan penasaran, pasalnya ia tau betul Vyona, gadis itu bisa saja membalas Aretha lebih kejam dan sadis karena sudah berani-beraninya merebut Karel.
"Karel mutusin gue dengan alasan karena gue ini antagonis kan!"
"Iya, terus?"
"Kalau gue hancurin hubungan mereka apa Karel nggak tambah makin benci sama gue?" Tanya Vyona sembari menoleh pada pada Riri.
"Iya juga sih, V"
"Dan apa kalau gue hancurin hubungan mereka, itu bakal ngejamin Karel balik lagi sama gue?"
"Nggak" jawab Riri sembari menggeleng.
"Nah maka dari itu, loe harus bangkit, Ri. Karena nggak semua cowok itu sama"
"Jazz gimana?"
"Jazz!"
"Iya, apa dia sama kayak Karel?"
"No, dia berbeda. Dari sekian banyak cowok yang gue temui, dia benar-benar beda, Ri"
__ADS_1
"Itu karena loe bucin sama dia"
"Mungkin loe benar" ucap Vyona sembari terkekeh "tapi Jazz emang benar-benar berbeda, Ri. Dia emang terlihat dingin tapi dia punya caranya sendiri buat membahagiakan pasangannya, termasuk juga dalam hal menjaga perasaan pasangannya" tambah Vyona sembari tersenyum, dan tak henti-hentinya menatap ke arah Jazz.
"Loe nggak takut Jazz direbut orang, sama kayak Aretha rebut Karel?"
"Nggak" jawab Vyona sembari menggeleng, bahkan senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya.
"Tapi cowok loe hits banget, V. Bahkan Jazz lebih nge-hits dibandingkan Karel"
"Gue tau, tapi gue percaya sama dia. Dia nggak akan mungkin berpaling ke yang lainnya"
"Gue berharap loe bahagia terus, V" ucap Riri sembari memeluk Vyona.
"Gue juga berharap hal sama buat loe, Ri. Dan gue juga berharap semoga loe cepat dapet cowok yang tepat, biar ada yang jagain temen gue yang savage ini" Vyona pun membalas pelukan Riri dengan tak kalah eratnya.
Kalau Riri bertanya apakah Vyona tidak takut kehilangan Jazz! Tentu saja Vyona takut, bohong kalau Vyona tidak takut kehilangan cowok sebaik Jazz, apalagi sekarang Vyona sadar betul kalau ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada cowok itu.
"Vyo, loe bau matahari" ucap Riri sembari mendorong tubuh Vyona.
"Sialan loe, Ri. Tadi loe yang meluk gue, tapi loe juga yang ngebuang gue" Vyona terkekeh geli ketika melihat Riri tengah mengelap keringatnya yang menempel pada tubuh Riri.
"Seru banget sih kelihatannya!" Ucap Jazz yang baru saja datang dan langsung duduk disamping Vyona.
"Ini nih Jazz, cewek loe laknat betul keringatnya nempel semua ke gue"
"Dihh kok nyalahin gue sih, orang tadi loe duluan yang meluk gue"
"Mak lampir loe ngapain meluk-meluk si Vyo, lesbian ya loe!" Tuduh Andi sembari menunjuk-nunjuk Riri
"Luambemu" Riri yang tak terima di tuduh seperti itu langsung melepas sepatunya dan memukulkannya ke punggung Andi.
"Sakit, bege" Andi meringis kesakitan sembari memegangi punggungnya yang terasa panas "loe sama Astrid demen banget sih nabokin gue, anj*ng loe berdua emang"
"Tampang loe emang tabokable sih ndi"
*****
Jam pulang sekolah disambut dengan penuh antusias oleh anak-anak SMA Satria Mandala, begitu pula dengan Vyona dan juga Jazz.
Apalagi tadi Jazz berjanji akan mengajak Vyona untuk membeli Boba, tapi sebelum pulang Vyona izin kepada Jazz untuk ke kamar mandi terlebih dahulu, dan membuat Jazz bersama yang lain jalan lebih dulu ke parkiran.
"Kita cabut dulu ya boss" pamit Andi, dan Rafa secara bersamaan.
"Hmtt, hati-hati" ucap Jazz dan di angguki oleh kedua sahabatnya.
"Kita juga duluan" kini giliran Niko dan Astrid yang berpamitan, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Jazz.
"Loe nggak pulang, Ri?" Tanya Jazz begitu semua teman-temannya telah pulang dan menyisakan Riri.
"Masih nunggu supir gue, ya udah gue ke pos satpam aja"
"Oke"
Setelah kepergian Riri tiba-tiba saja datang seorang cewek yang dapat Jazz pastikan kalau dia adalah adik tingkatnya.
"Hai kak Jazz" sapanya sembari tersenyum.
"Ngapain loe cengar-cengir kayak orang gila"
"Emtt, ini buat Kak Jazz" ucapnya sembari menyerahkan setangkai bunga mawar merah kepada Jazz.
"Apaan nih?"
"Emtt, i___itu kak se__"
__ADS_1
"To the points aja, gue nggak suka ngomong sama orang yang suka berbelit-belit"
"Sebenarnya aku suka kak Jazz" ucapnya langsung pada intinya. Setelah mengatakan itu gadis itu menundukkan kepalanya.
Sedangkan Jazz hanya mampu tersenyum remeh atas pengakuan cinta dari adik tingkatnya itu. Bisa-bisanya dia senekat ini mengutarakan perasaannya, Jazz rasa seantero sekolah juga tau kalau dirinya itu pacarnya Vyona, tapi bisa-bisanya gadis ini malah baru saja membuat pengakuan cinta kepada dirinya.
"Loe sadar nggak sama apa yang baru aja loe lakuin!"
"Sadar kok kak"
"Loe tau kan kalau gue udah punya cewek?"
"A___aku tau kok kak, tapi selama janur kuning belum melengkung aku masih punya kesempatan kan kak!"
"Loe nggak punya kesempatan, karena gue nggak akan membuka peluang buat orang ketiga masuk dalam hubungan gue dan Queen"
"Sebenarnya apa hebatnya kak Vyona sih, diakan jahat kak"
"Mau cewek gue jahat atau apapun, itu urusan gue. Dan lagian gue tulus sayang sama dia"
"Tapi ka___"
"Hust" ucap Jazz sembari mengangkat telunjuknya memberi isyarat untuk juniornya itu diam. "Loe itu cewek, takdirnya di kejar, Bukan malah ngejar-ngejar cowok. Karena nggak ada istilahnya sel telur ngejar sel ******" lanjut Jazz sembari tersenyum sinis.
"Jazz kenapa?" Tanya Vyona yang baru saja kembali dari toilet.
"Gapapa sayang, yaudah yuk pulang" ucap Jazz sembari memasang helm ke kepala Vyona.
"Oke" jawab Vyona.
Sementara itu tak jauh dari situ Riri hanya dapat tersenyum ketika melihat wajah melas adik tingkatnya. Ternyata benar kata Vyona tadi, Jazz memang cowok yang berbeda. Diam-diam Riri berdoa kepada Tuhan, supaya Tuhan kasih satu yang seperti Jazz untuk dirinya.
*****
"Aku mau dua cup" ucap Vyona dengan penuh antusias begitu keduanya Sampai di kedai Boba.
"Satu aja Queen"
"Nggak mau, aku mau dua" Vyona langsung cemberut begitu Jazz tak mengizinkan dirinya untuk membeli dua cup Boba.
"Hemt, oke. Tapi yang satu diminum nanti malam ya, aku nggak mau kamu habiskan dua-duanya sekaligus. Yang ada nanti kamu malah nggak makan"
"Iya bawel"
Setelah membeli Boba, keduanya berjalan untuk menuju kedai mie yang tak jauh dari tempat penjualan Boba tadi.
"Mau mie, atau bakso?"
"Emt, bakso aja deh"
"Yaudah tunggu sebentar ya" ucap Jazz sembari mengelus puncak kepala Vyona, sedang Vyona hanya mengangguk patuh.
Tak berselang lama Jazz sudah kembali dengan dua mangkuk bakso dan juga satu es jeruk di tangannya.
"Aku nggak beliin kamu minum, kamu mau minum lagi nggak?"
"Nggak usah. Aku minum Boba aja" jawab Vyona sembari mengangkat cup bobanya.
"Yaudah sekarang makan, harus di habiskan ya"
"Siap komandan"
Suasana menjadi hening karena keduanya tak ada yang membuka percakapan, hingga yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan mangkuk.
"Gimana Persiapan ujian Minggu depan? Udah mulai belajar kan!" Tanya Jazz membuka topik pembicaraan setelah makanannya habis.
__ADS_1
"Udah kok, tenang aja"
"Anak pintar" ucap Jazz sembari mencubit gemas pipi Vyona, sedangkan yang dicubit hanya mampu tersenyum.