I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
pasar malam


__ADS_3

Baru saja Vyona dan Jazz menginjakkan kakinya di sekolah, keduanya langsung dibuat kaget ketika tiba-tiba saja ada seorang gadis yang menerjang tubuh Jazz, sampai pada akhirnya menjadi pusat perhatian.


Bahkan beberapa orang nampak kasak-kusuk karena menganggap gadis itu kelewat berani, padahal disamping Jazz ada pawangnya.


"Jazz, gue kangen"


"Dihh, lepas. Apa-apaan sih loe" ketus Jazz sembari mendorong tubuh gadis itu, Jazz tak peduli sekalipun dia seorang wanita, yang Jazz fikirkan hanyalah menjaga perasaan gadisnya.


"Dia siapa?" Tanya Vyona sembari menatap Jazz dan gadis itu secara bergantian.


"Haii kenalin gue Yuna, pacar masa kecilnya Jazz"


"Ohh, kalau gitu kenalin gue Vyona, pacarnya Jazz yang sekarang" ucap Vyona sembari mengulurkan tangannya dan menatap remeh Yuna. "Emtt, dan yang jelas calon masa depannya sih" lanjut Vyona sembari menyeringai.


"Woii Yun, dari dulu sampai sekarang loe masih aja ngehalu jadi ceweknya Jazz" ucap Abel yang tiba-tiba saja nongol entah darimana, gadis itupun juga langsung merangkul bahu Yuna.


"Comel diem deh loe"


"Nggak ada takut-takutnya loe gangguin Jazz. Padahal ada pawangnya, mana pawangnya galak lagi"


"Dia!" Ucap Yuna sembari menunjuk Vyona. "Apa yang perlu gue takuti dari dia" lanjutnya sambil menatap Vyona dengan remeh.


"Loe nggak tau aja siapa Vyona. Udah ayo ke kelas "


"Emang gue sekelas sama loe, bel!"


"Iyalah. Emang loe berharap apa? Sekelas sama Jazz gitu! Jangan mimpi, otak loe yang hanya sebesar biji ketumbar nggak akan mampu masuk kelas XII IPA 1"


"Ahh, ****" Yuna langsung mengumpat begitu Abel telah menyeretnya menuju ke kelas XII IPA 5.


*****


Sampai kedalam kelas Vyona hanya diam saja, fikirannya melayang pada gadis yang tadi tiba-tiba saja memeluk kekasihnya, ternyata gadis itu lebih cantik aslinya dari pada di foto, entah mengapa Vyona merasa tak percaya diri, ia takut jika Jazz berpaling ke lain hati.


"Udah nggak usah dipikirin" ucap Riri sembari duduk di atas meja Vyona.


"Sopan kah kayak gitu?" Tanya Vyona sembari melotot tajam. Namun bukannya merasa takut, Riri justru hanya terkekeh.


"Gue tau apa yang loe pikirin sekarang. Gue yakin kok sama si kulkas, gue percaya dia nggak akan pernah nyakitin hati temen gue yang galak ini" ucap Riri pelan agar tak ada yang mendengar termasuk Jazz.


Bukkk..


"Asyuu, sakit bege" Riri langsung mengumpat begitu Andi memukulnya menggunakan buku paket yang lumayan tebal.


"Bodoamat, loe tuh ganggu pemandangan"


"Emang sialan loe, ndi"


"Berantem terus. Lama-lama jadi cinta baru tau rasa loe berdua" goda Niko.


"Nggak Sudi" ucap Andi dan Riri secara bersamaan.


*****


Malam ini Jazz berjanji pada Vyona untuk mengajak gadis itu pergi ke pasar malam, jadi setelah selesai sholat isya, Jazz segera bersiap-siap.


"Perfect" ucapnya sembari menyugar rambutnya kebelakang dan melihat pantulan wajahnya didalam cermin.


Setelah dirasa semuanya cukup, Jazz segera menyambar kuncin motornya. Naik motor malam-malam bareng sama ayang, memanglah paling syahdu, apalagi udara yang sedikit dingin karena diluar sana sedikit mendung.


"Semoga nggak ujan" gumam Jazz sebelum akhirnya menggeber motornya menuju rumah pujaan hati.


Malam ini kondisi jalan lumayan padat karena memang kebetulan malam Minggu, jadi tak heran jika banyak muda-mudi tengah berkencan dengan pasangnya.


"Hei"


Ketika di lampu merah tiba-tiba saja ada seorang cewek yang menarik lengan Hoodie yang Jazz pakai, hingga pada akhirnya Jazz menoleh pada gadis yang duduk didalam mobil tepat berada disebelahnya berhenti.


"Sendirian aja, boleh kenalan nggak? Kan sayang ganteng-ganteng tapi nggak punya pasangan"

__ADS_1


Dibalik helm full facenya Jazz hanya tersenyum remeh, pada jaman sekarang banyak sekali gadis yang nggak tau malu.


Sadar kalau lampu merah sudah berubah menjadi hijau Jazz segera melanjutkan perjalanannya tanpa menghiraukan gadis gila yang mengajaknya berkenalan di lampu merah.


Gila, satu kata yang dapat mendeskripsikan gadis itu. Apalagi Jazz adalah cowok yang paling jijik dengan gadis yang suka mengejar cowok.


Setelah 10 menit menempuh perjalanan akhirnya Jazz sampai juga dirumah Vyona.


"Kamu telat 1 menit" ucap Vyona sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Namun setelahnya fokus Vyona tertuju pada mobil yang baru saja berhenti tepat di belakang motor Jazz.


"Maaf, sayang. Tadi macet. Padahal habis sholat isya aku langsung berangkat loh" ucap Jazz sembari melepas helm full facenya. Setelahnya Jazz langsung berbalik melihat ke belakangnya ketika ada sebuah mobil yang berhenti tepat di belakangnya.


"****" gumam Jazz ketika sadar itu mobil gadis yang mengajaknya berkenalan di lampu merah tadi.


"Hei, loe tadi belum jawab gue" seorang gadis keluar dari dalam mobil dengan pakaian yang cukup seksi, gadis itu juga langsung menyodorkan ponselnya kepada Jazz.


"Maksud loe apa?"


"Minta nomor loe" jawab gadis itu dengan santainya.


"Loe jauh-jauh ngikutin gue cuma buat minta nomor doang! Harga diri loe sebagai cewek dimana sih"


"Gue nggak peduli, yang penting gue dapet nomor loe" ucap gadis itu kembali menyodorkan ponselnya.


"Maaf ya mbak mending cari yang lain, dia suami saya. Bentar lagi udah jadi bapak" ucap Vyona sembari mengelus perutnya.


"Dia istri loe?" Tanya gadis itu sembari menatap Jazz.


"Iya, udah pergi sana loe"


"Gue nggak percaya kalau dia istri loe"


"Itu urusan loe" ketus Jazz "sayang ayo pergi sekarang, papa nggak dirumah?" Lanjut Jazz sembari mendongak menatap rumah yang ada di depannya.


"Papa sama yang lainnya lagi keluar"


"Yaudah ayo pergi"


Disepanjang perjalanan Vyona hanya diam saja. Pikiran melayang-layang pada gadis-gadis yang berusaha mengejar kekasihnya.


"Jazz memang begitu tampan, nggak heran kalau ada begitu banyak cewek yang berusaha buat dapetin hatinya" gumam Vyona sembari mengeratkan pelukannya.


"Pokoknya jijiel cuma punya ona, ona nggak mau berbagi sama siapapun" tanpa terasa mata Vyona mulai memanas, cairan bening itu siap jatuh kapan saja. Vyona benar-benar merasa takut, takut jika cintanya direbut orang lagi. Cukup dulu Vyona kehilangan Karel sekarang Vyona nggak mau lagi, apalagi cowok itu adalah kekasih masa kecilnya.


"Queen kita udah sampai" ucap Jazz begitu keduanya sudah sampai di pasar malam, namun gadisnya sama sekali tidak ada pergerakan. "Sayang, kita udah sampai ini" lanjutnya ketika Vyona masih saja diam sembari memeluknya erat.


"Hah, udah sampai ya. Maaf aku nggak tau"


"Kamu kenapa?"


"Gapapa" dusta Vyona.


Namun sepandai apapun Vyona menyembunyikan Jazz akan tetap paham akan apa yang gadisnya fikirkan. Dengan perlahan Jazz genggam tangan Vyona lalu ia cium.


"Mau sebanyak apapun gadis yang datang menghampiri kamu tetaplah pemenangnya, jadi jangan pernah takut kalau aku pergi dan berpaling dari kamu"


Kata-kata yang Jazz ucapkan barusan sedikit mampu menenangkan Vyona, ya harusnya Vyona percaya pada Jazz.


"Mau makan apa?"


"Mau kebab sama Boba" jawab Vyona dengan penuh antusias saat melihat stand Boba dan kebab yang bersebelahan.


"Yaudah tunggu sini dulu, aku beliin buat kamu"


"Oke, jangan lama-lama"


"Iya" jawab Jazz sebelum akhirnya meninggal Vyona di kursi panjang yang ada di dekat bianglala.


Dari tempatnya duduk sekarang Vyona dapat melihat Jazz yang tengah mengantri makanan untuk dirinya.

__ADS_1


"Tuhan aku sungguh beruntung punya dia, tapi terkadang aku takut, takut kalau dia juga pergi ninggalin aku. Dia terlalu sempurna untuk aku yang biasa-biasa aja" gumam Vyona dalam hati sembari menengadahkan kepalanya menatap langit yang hitam kelabu tanpa dihiasi bintang.


"Sayang, nih makan dulu" ucap Jazz yang baru saja kembali dengan kebab dan Boba permintaan Vyona.


"Makasih, tapi aku mau makan sambil naik bianglala"


"Yaudah yuk" Jazz segera mengulurkan tangannya, dan Vyona pun segera menggenggam tangan Jazz.


Setelah membeli tiket keduanya langsung naik ke atas bianglala. Cuaca yang sedikit mendung membuat udara semakin dingin.


"Dingin nggak?"


"Nggak terlalu kok" jawab Vyona sembari terus melahap makanannya.


"Pelan-pelan, nggak akan ada yang minta. Nanti kalau kurang, aku bakal beliin lagi" ucap Jazz sembari mengelap bekas makanan Vyona.


"Makasih"


"Sama suami sendiri kok bilang makasih terus"


"Dihh, apaan sih" wajah Vyona langsung bersemu merah ketika Jazz menggodanya seperti itu.


"Manis banget pacar aku kalau lagi malu kayak gini" ucap Jazz sembari mencium tangan Vyona.


Namun tiba-tiba saja hujan turun tanpa aba-aba, hingga sedikit menggangu momen manis yang tengah dibangun oleh Jazz dan juga Vyona. hingga pada akhirnya bianglalanya terpaksa dihentikan sejenak.


"Dingin?" Tanya Jazz ketika air hujan dengan nakalnya menerobos masuk karena dibawa oleh angin.


"Lumayan" jawab Vyona sembari mengeratkan jaket yang tengah ia pakai.


Melihat gadisnya kedinginan, Jazz segera melepas Hoodie yang ia pakai dan segera memasangkannya kepada Vyona.


"Nanti kamu yang kedinginan"


"Aku gapapa, yang paling penting itu kamu"


"Tapi kamu juga penting buat aku"


"Aku tau" ucap Jazz sembari menangkup kedua pipi Vyona. "Sayang, kamu tau nggak mitos tentang bianglala?"


"Mitos?"


"Iya, mitos"


"Memangnya apa?"


Bukannya menjawab pertanyaan Vyona, Jazz justru langsung mencium bibir Vyona. Vyona yang lagi-lagi mendapat serangan dadakan hanya bisa terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia membalas ciuman Jazz.


"Kok malah cium aku?" Tanya Vyona begitu Jazz telah melepaskan ciumannya.


"Kata orang-orang pasangan yang ciuman diatas bianglala, hubungannya akan langgeng"


"Iyakah?"


"Iya sayang"


"Hanya mitoskan!"


"Iya mitos, tapi aku berharap hubungan kita akan langgeng sampai kakek dan nenek"


"Amin" ucap Vyona mengamini.


"Kalau kita menikah gimana?"


"APA?" Tanya Vyona sembari berteriak, bahkan orang yang ada di tabung sebelah langsung menengok kearah mereka padahal hujan masih turun dengan berisiknya.


"Kamu nggak mau?" Tanya Jazz dengan wajah yang sudah berubah sedikit murung.


"Aku mau" jawab Vyona dan langsung mengecup bibir Jazz.

__ADS_1


Jazz yang merasa senang akan jawaban gadisnya segera membalas ciuman Vyona dengan penuh cinta.


yang Jazz inginkan Vyona menjadi miliknya, jika gadisnya mau menikah dengannya maka Jazz tak akan ragu untuk meminta izin kepada orang tua mereka, apapun resikonya akan Jazz hadapi yang terpenting Vyona menjadi miliknya, selamanya.


__ADS_2