
Setelah Jazz pulang mengantarkan dirinya, Vyona pun bergegas keluar. Tujuannya sekarang adalah apartemen mamanya, tadi dirinya sudah membuat janji dengan Mita.
"Kak Mita" panggil Vyona begitu ia sudah sampai di apartemen mendiang mamanya.
"Ehh udah datang, V. Sini duduk, kakak buatin minum dulu"
"Nggak usah repot-repot kak, kakak kenapa nyuruh gue kesini?"
"Ada sesuatu yang mau kakak kasih tunjuk" jawab Mita sembari bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar Dahlia, namun tak lama gadis itu kembali keluar dengan membawa sebuah amplop coklat ditangannya.
"Apa ini kak?" Tanya Vyona begitu Mita menyerahkan amplop coklat itu kepada dirinya.
"Baca aja"
Dengan segera Vyona membuka amplop itu dan segera membaca isinya.
"Depresi!" Gumam Vyona dengan sedikit tercengang.
"Iya, begitu pak Agra menghubungi ibu untuk mengajak pisah, ibu benar-benar nggak bisa ngontrol emosinya, V. Ibu juga hampir bunuh diri" ucap Mita sembari menatap foto Dahlia yang tergantung di dinding, matanya pun mulai memerah ketika mengingat kejadian waktu itu.
"Kenapa kak Mita nggak bilang sama gue!"
"Apa kita sedekat itu V?" Tanya Mita sembari terkekeh. "Sebenarnya gue pengen banget ngomong sama loe, ataupun mas Areksa. Tapi gue takut V, gue tau ibu sering kasar sama loe, dan gue yakin pada saat itu mas Areksa pasti juga lagi marah sama ibu, terbukti di hari pertama ibu kecelakaan mas Eksa nyari ibu dengan kondisi marah. Jadi gue mohon sama loe, maafin ibu ya, V. Maafin semua kesalahan ibu, termasuk yang dia nyewa preman buat melecehkan loe. gue bener-bener nggak tau kejadian itu, waktu itu gue lagi di Surabaya ada acara jadi gue nggak bisa cegah ibu buat ngelakuin hal bodoh itu" ucap Mita panjang lebar, gadis itu sedari tadi menunduk, dan dapat Vyona pastikan jika kini Mita sedang menangis.
"Kak udah, yang lalu biar berlalu"
"Gue ngerasa gagal, V. Ibu ngelakuin hal sejahat itu tapi gue nggak bisa mencegahnya, apalagi itu sama loe yang notabene anak kandungnya sendiri"
"It's oke kak, gue gapapa. Gue emang sempat merasa takut dan sedikit trauma dengan hal itu, tapi gue juga punya seseorang yang begitu hebat yang selalu ada di samping gue" ucap Vyona sembari memeluk Mita. "Jangan sedih lagi, loe tambah jelek kalau nangis kayak gini kak"
"Sialan loe, V " Mita terkekeh sembari mencubit perut Vyona yang kini tengah memeluknya dari samping.
"Ahhh, sakit kak"
"Abisnya loe ngeselin"
"Karena mama udah anggep loe jadi anaknya, meskipun mama udah nggak ada loe harus tetep jadi kakak gue ya kak"
"Emtt" jawab Mita sembari memeluk Vyona dengan erat.
******
"Gam, berisik banget deh loe" Andi menimpuk Agam dengan singkong goreng yang tadinya ia makan.
"Anak anj*ng itu emak gue bikinnya dengan sepenuh hati, malah loe buang-buang" Eric langsung protes begitu singkong goreng buatan emaknya dibuang-buang oleh Andi.
__ADS_1
"Abisnya Agam berisik banget"
"Ngapa lagi sih loe, kena ghosting lagi?" Tanya Aldi sembari tersenyum mengejek.
"Kagak, gue baru aja putus" jawab Andi dengan lesu.
"Putus! Emang loe punya pacar?" Ucap Eric, Agam, dan si kembar secara bersamaan, ke empat anak cowok itu nampak kaget begitu teman gilanya bilang baru saja putus, padahal mereka tidak pernah melihat Andi dekat dengan cewek.
"Punyalah, emang kalian jomblo sejak zigot"
"Emang janc*kk loe, ndi. kita-kita jomblo bukan berarti nggak laku ya, emang belum Nemu yang cocok aja"
"Nah setuju gue ama si Agam. ibaratnya mobil kita-kita itu Lamborghini, sedangkan loe Avanza, harga jualnya jelas beda" timpal Ando dan langsung diangguki oleh Aldi, Eric, dan juga Agam.
"Gue seganteng ini loe ibaratkan Avanza, emang asy* loe pada"
"Impian gue itu bisa kayak si boss" ucap Eric sembari menatap langit.
"Kenapa?" Tanya ke empat temannya dengan penasaran.
"Jomblo dari lahir, sekalinya dapet cewek speak bidadari" jawab Eric sembari tersenyum.
"C*kk halu aja loe" Aldi langsung menempeleng kepala temannya itu hingga membuat Eric langsung meringis kesakitan.
"Sakit bege"
Wekkk,,,, wekkk,,,, wekkk
Ditengah perdebatan kelima sahabat itu tiba-tiba saja terdengar suara bebek yang berjalan ke arahnya.
"Elah ini beban nggapain pada kesini sih" ucap Aldo sembari melotot galak kepada dua bebek tak berdosa itu.
"Zam loe ngapain lepasin mereka sih?" Agam langsung ngegas kepada Azam adiknya.
"Elah bang kasian, mereka kangen bapaknya tuh" ucap Azam sembari menunjuk dua bebek yang mulai mendusel di kaki Andi.
"Masalahnya ini nanti kalau si boss kesini bisa ngamok kalau tau si bebek keluar kandang" ucap Eric ikut-ikutan Agam emosi.
"Yaelah bang selow aja. Itu si bebek udah gue mandiin kok kagak bau"
"Anj*ng lama-lama adik gue gesrek juga kayak si Andi" Agam mengumpat sembari kembali mengambil obeng untuk membenahi pekerjaannya yang belum sempat selesai.
"Woi, ngapain tuh curut loe keluarin" Jazz yang baru saja datang langsung ngegas begitu melihat keberadaan dua bebek.
Nahkan benerkan apa kata Eric tadi, kalau Jazz tau cowok itu pasti akan langsung ngamok. Terbuktikan sekarang, belum turun dari motor aja bossnya itu udah langsung ngajak war.
__ADS_1
"Wei-wei sabar bang, orang sabar semakin tampan" ucap Azam sembari menutupi Andi yang kini tengah bermain dengan kedua bebeknya.
"Apa kontribusinya sabar sama ganteng, zam! Adik loe makin hari makin kesana kesini ya, gam" ucap Aldi sembari geleng-geleng kepala.
"Udahlah nggak usah ngurusin si Azam, nih ayo kelarin dulu kerjaan" ujar Agam sembari melempar obeng yang ia bawa ke arah Aldi.
"Matamu, untung kagak kena pala gue nj*ng" Aldi jadi kesal sendiri karena obeng yang Agam lempar hampir saja mengenai jidatnya yang paripurna.
*******
Pagi ini Jazz dan Vyona baru saja sampai namun Astrid dan Niko langsung menarik keduanya.
"Ehh-ehh loe kenapa sih, trid?" Vyona bingung sendiri ketika temannya itu tiba-tiba menariknya dan segera mendudukkan dirinya di kursi.
"Loe lihat!" Ucap Astrid sembari menunjuk Andi yang duduk didepan Vyona, cowok itu terlihat sedang menelungkupkan kepalanya diatas meja.
"Kenapa?"
"Loe masih tanya kenapa, V. Gila loe, sama aja kayak Riri" Astrid benar-benar tak habis fikir dengan Riri dan juga Vyona, kenapa keduanya sama sekali tidak bisa menangkap perubahan Andi.
Vyona lalu melirik Riri yang duduk di sebelahnya berusaha meminta penjelasan dari temannya itu, akan tetapi Riri hanya mengendikkan bahunya tanda kalau gadis itu juga tak paham akan maksud Astrid.
"Ngomong ya jelas deh, trid. Jangan mancing emosi gue pagi-pagi gini" ketus Vyona.
"Loe berdua lihat ini bocah, biasanya dia bakal pecicilan kayak jangkrik. Tapi lihat sekarang dia malah diem-diem bae, kalian nggak merasa aneh apa" Astrid langsung ngegas sembari memukul punggung Andi, namun yang ia pukul sama sekali tak bergerak sedikitpun meskipun Astrid memukulnya lumayan keras.
"Anj*ng kira-kira loe, trid. Anak orang tuh main pukul-pukul aja, mana kenceng banget lagi" Riri langsung mengumpat dan meringis ngilu ketika Astrid memukul punggung Andi dengan kekuatan super.
"Tapi dia nggak gerak woi" Vyona cukup kaget ketika Andi sama sekali nggak bergerak ketika Astrid memukulnya dengan sangat kuat. "Jazz teman kamu nggak meninggalkan?"
"Biarin aja kalau dia mati, orang kalau hidup cuma jadi beban" jawab Jazz dengan entengnya.
"Ihhh, boss loe kok tega sih sama gue" Andi langsung bangun ketika mendengar jawaban super kejam yang keluar dari mulut Jazz, bahkan cowok itu juga memasang wajah yang super ngenes.
"Gue fikir loe udah mati"
"Tega banget loe boss"
"Lagian loe sok-sokan galau. Besok paling juga udah dapat gebetan baru"
"Oh jadi lagi patah hati" ucap Vyona, Riri, dan Astrid secara bersamaan. Lalu ketiga gadis itu secara bersama-sama menjambak rambut Andi. Vyona dari sisi kanan, Astrid dari sisi kiri, dan Riri dari belakang. Ketiga gadis itu sangat kesal karena Andi selalu saja mempermainkan perasaan perempuan.
"ASTAGFIRULLAH, SAKIT ANJ*NG" Andi berteriak sembari menahan rasa sakit di kepala.
"Abis istighfar langsung ngumpat, temen loe tuh Jazz" ucap Niko sembari mengelus dada.
__ADS_1
"Temen loe juga kalau loe lupa"