I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
Vyona pingsan


__ADS_3

"bisa minggir dari bangku gue nggak!" Ucap Karel yang ditujukan entah untuk siapa, namun orang yang melihatnya pun tau kalau Karel sedang berbicara dengan Jazz.


Sedangkan Jazz sama sekali tak merespon, bahkan cowok itu masih asik dengan game yang ia mainkan pada ponselnya.


"Woi gue ngomong sama loe"


"Maksud loe apaan sih, rel!" Seru Rafa yang mulai jengah dengan tingkah Karel.


"Inikan emang bangku gue, fa"


"Gue nggak ada lihat di bangku ini ada tulisan milik Karel, dan lagian dari awal gue masuk ini udah jadi bangku gue. Salah loe sendiri ngapain loe pindah-pindah, kalau pun loe mau bangku ini cuma buat deketin cewek gue, itu nggak akan ngerubah keadaan" ucap Jazz sembari tersenyum smirk. "Karena hatinya udah jadi milik gue" lanjutnya sembari menatap remeh Karel.


Diam-diam Karel mengepalkan kedua tangannya, karena merasa kesal. Tidak-tidak Karel tidak boleh terpancing oleh Jazz, Karel yakin hati Vyona masih miliknya.


"Dihh ada manusia nggak tau malu" sarkas Riri yang baru saja masuk kedalam kelas bersama Astrid.


"Ngapain loe disini? Nggak tau malu" timpal Astrid.


"Dia mah muka tembok, mana tau arti malu" ujar Niko tak mau kalah.


Karel semakin geram ketika teman-teman malah lebih memilih membela Jazz yang baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu, ketimbang dirinya. Bahkan setelah putus dari Vyona, Karel merasa kalau Niko maupun Rafa sama sekali tak ingin dekat dengan dirinya, padahal sebelum kedatangan Jazz, Karel berteman baik dengan Niko maupun Rafa.


"Mending loe pergi deh, takutnya kalau loe deket-deket cewek gue nanti dia bisa celaka lagi. Loe kan pecundang" bisik Jazz tepat ditelinga Karel. Setelahnya cowok itu tersenyum smirk dan menepuk pundak Karel dua kali.


Perkataan Jazz barusan sukses membuat tubuh Karel menegang, apa jangan-jangan Jazz tau kalau dirinya lah yang telah menabrak Vyona.


"Muka loe biasa aja, nggak usah tegang gitu. Gue tau semuanya, bahkan cewek gue pun juga tau" ucap Jazz dengan santainya bahkan cowok itu sekarang sudah bermain-main dengan bulpoint ditangannya.


Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuh Karel, Vyona tau kalau dirinya yang telah menabraknya.


"Gue emang tau semuanya, gue emang nyuruh kakak-kakak gue buat nggak laporin loe Karena gue ngerasa kasihan sama loe. Jadi sekarang gue mohon loe pergi dan jangan pernah ganggu gue lagi"


Setelah mengucapkan itu Vyona segera bangkit dari duduknya dan menarik tangan Jazz untuk pergi.

__ADS_1


"Jangan jadi pebinor loe, awas aja loe kalau berani bakal berhadapan sama kita-kita loe" peringat Andi dan langsung disetujui oleh Niko, Astrid dan juga Riri.


******


Setelah rapat OSIS selesai Aretha segera menarik tangan Karel menuju taman belakang sekolah, Aretha harus meminta penjelasan kepada cowok itu kenapa bisa-bisanya Karel memutuskan dirinya begitu saja, padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja.


"Maksud kamu apa sih! Kenapa kamu mutusin aku gitu aja?"


"Aku cuma ngerasa kalau kita ini nggak cocok, ta" dusta Karel, Karel tak mungkin berkata jujur kepada Aretha.


"Bohong, kamu pasti mau balik lagi sama Vyona kan!" Ucap Aretha dengan mata berkaca-kaca. "Iyakan, kamu balikan sama antagonis itu"


"Nggak, ta" ucap Karel dengan lembut, ia merasa sangat bersalah karena telah menyakiti perasaan Aretha.


"Bohong" teriak Aretha. "Kamu pembohong, aku bakal ngomong sama Vyona kalau kamu yang udah nabrak dia" lanjutnya dengan nafas yang tersengal-sengal karena semakin terisak.


"Nggak usah repot-repot, gue udah tau kok" ucap Vyona yang kini sudah berdiri tak jauh dari tempat Karel dan Aretha berdiri. bahkan Vyona tidak sendirian, gadis itu datang bersama Jazz, Rafa, Ghea, Andi, Riri, Astrid, dan juga Niko.


"Loe tau!" Seru Aretha dengan sedikit terkejut. bagaimana bisa Vyona tau semuanya, namun kenapa Karel masih bisa berkeliaran bebas seperti ini.


"Terus kenapa loe nggak laporin kita, ke polisi?" Tanya Aretha dengan alis yang mengerut.


"Loe fikir gue tega lihat kalian dipenjara! gue bukan loe berdua, dimana gue sakit berdarah-darah karena ulah kalian, kalian malah kabur gitu aja. padahal loe berdua tau gue sekarat"


"V, maafin aku. Aku bener-bener minta maaf" ucap Karel sembari berlutut dihadapan Vyona, bahkan suaranya pun terdengar bergetar. "Maafin aku, V. Aku salah, kamu boleh hukum aku"


"Apa dengan loe minta maaf, ingatan gue bisa balik lagi!" Seru Vyona sembari tersenyum remeh, Vyona benar-benar tidak habis fikir dengan Karel, kenapa cowok itu baru minta maaf sekarang, kemarin-kemarin kemana saja cowok itu.


"Berdiri loe, jangan rendahkan harga diri loe cuma buat berlutut di depan gue. Karena itu juga nggak akan merubah apapun, mulai sekarang gue minta sama loe jauhin gue, jangan pernah gangguin gue lagi" ucap Vyona sebelum akhirnya gadis itu pergi dan disusul oleh teman-temannya.


"Selamat ya, rel. Selamat karena sekarang cewek yang loe suka udah benci sama loe, dan gue merasa sedikit lega karena setelah loe putusin gue, loe nggak lebih bahagia" ucap Aretha dengan wajah datarnya yang syarat akan kekecewaan, ternyata sekeras apapun ia berusaha untuk mendapatkan hati Karel, pemenangnya akan tetap Vyona.


Setelah kepergian Aretha, tangisan Karel semakin jelas terdengar. Aretha benar bahkan kini Karel tak lebih bahagia ketika ia masih bersama dengan Aretha, kini Karel bukan hanya kehilangan gadis yang ia cintai, akan tetapi juga kehilangan gadis yang begitu tulus mencintai dirinya.

__ADS_1


*****


Siang ini setelah pulang sekolah Vyona memilih untuk menunggu Jazz yang kini tengah berlatih basket dengan timnya.


Ditengah teriknya matahari Vyona duduk di pinggir lapangan sembari terus melihat Jazz. Sudah ratusan kali atau mungkin jutaan kali Vyona menatap wajah itu tapi nyatanya tetap sama dan tak pernah berubah. Tampan, ya satu kata yang dapat memvisualisasikan pria yang kini menyandang status sebagai kekasihnya itu.


"VYONA AWAS" teriak Andi dengan lantangnya ketika bola yang akan ia oper ke arah Rafa justru meleset dan melambung tinggi ke arah Vyona.


Duuggg....


Belum sempat Vyona melakukan pergerakan bola itu mendarat tepat di kepalanya.


"Auu sakit" gumam Vyona sembari memegangi kepalanya yang terkena bola, rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat ketika potongan-potongan ingatan berputar di otaknya layaknya kaset rusak.


"Vyona loe gapapa?" Tanya Riri yang nampak khawatir ketika melihat Vyona nampak menahan sakit.


"Riri sakit, kepala gue sakit"


"Queen kamu gapapa?" Tanya Jazz. Cowok itu langsung berlari ke arah tribun ketika bola yang Andi lempar melesat dan mengenai gadisnya.


"Jazz, sakit" gumam Vyona sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.


"Queen, bangun. Jangan bikin aku khawatir" ucap Jazz sembari menepuk pelan pipi Vyona, dari raut wajahnya terlihat sangat jelas bahwa ia sangat khawatir.


Dan tanpa menunggu lama, Jazz segera membopong tubuh Vyona untuk membawa gadis itu ke rumah sakit.


"Andi gue pinjam mobil loe"


"Siap boss" tanpa membuang waktu Andi segera mengikuti langkah Jazz yang sudah lebih dulu menuju parkiran sekolah.


"Loe bawa motor gue, mobil gue pinjem dulu"


"Santai boss, maafin gue. Gara-gara gue Vyona jadi kayak gini"

__ADS_1


"Santai, gue tau loe nggak sengaja" ucap Jazz sebelum akhirnya ia berlalu pergi.


__ADS_2