I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
sebuah fakta


__ADS_3

Weekend ini Jazz sudah berjanji akan menemani Vyona untuk pergi ke makam Dahlia, jadi disinilah mereka sekarang, duduk diantara ribuan makam, ditangan Vyona juga sudah ada satu buket bunga Lily kesukaan Dahlia.


"Hai ma, kita ketemu lagi" ucap Vyona sembari menaruh buket bunga yang ia bawa. "Mama apakabar? Ahh pasti mama lagi main-main di surga ya sekarang. Maaf ya, ma. Vyona baru sempat kesini tengokin mama"


Vyona merasa hatinya seperti ditusuk oleh benda yang tak kasat mata. Ia sungguh rindu mamanya, walaupun dulu Dahlia jarang sekali pulang tapi setidaknya Vyona masih bisa bertemu dengan Dahlia. Tapi sekarang sudah tak bisa Vyona temui sosok itu, sekarang jika Vyona rindu ia hanya akan menemui gundukan tanah yang sekarang ada dihadapannya.


"Pulang yuk, aku punya sesuatu buat kamu" ajak Jazz sembari merangkul Vyona.


"Apa?"


"Suprise dong"


"Ihh bikin penasaran aja, kasih tau dong" ucap Vyona memohon sembari memasang wajah seimut mungkin.


"Kalau aku kasih tau nggak jadi kejutan, udah ayo pulang"


Pada akhirnya Vyona hanya bisa pasrah ketika Jazz menarik tangannya.


"Gendong" ucap Vyona sembari merentangkan kedua tangannya.


Jam dipergelangan tangan baru saja menunjukkan pukul 10.00 tapi matahari bersinar dengan teriknya, hingga membuat Vyona merasa malas untuk berjalan menuju parkiran.


"Nona kamu manja sekali ya" ucap Jazz sembari menunduk, menyamakan tingginya dengan tinggi badan Vyona.


"Ini sangat panas tuan, dan aku sangat malas untuk berjalan. Ini lumayan jauh dari tempat kita parkir tadi"


"Hemtt, baiklah tuan putri. Silahkan naik" ucap Jazz sembari sedikit berjongkok agar Vyona tidak kesusahan saat naik keatas punggungnya.


Dengan penuh semangat Vyona langsung saja naik keatas punggung Jazz.


"Oke, mari kita pulang tuan" ucap Vyona sembari melingkarkan tangannya pada leher Jazz.


"Jangan kenceng-kenceng pegangannya"


"Iya maaf"


Disepanjang jalan keduanya asik mengobrol, dan juga bercanda. Terkadang keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan sedang berziarah.


"Hai cantik ketemu lagi kita"


"Sorry, apa kita saling kenal?" Tanya Vyona pada cowok yang kini berdiri di depan Jazz hingga menghalangi jalan. karena cowok itu tidak sendiri, melainkan bersama ketiga temannya.


"Minggir loe" ucap jazz dengan dinginnya.


"Santai dong, gue cuma mau nyapa cewek cantik yang ada di gendongan loe"


"Dia cewek gue. Jadi nggak usah loe sapa-sapa dia"


"Terus kalau dia cewek loe kenapa? Selama janur kuning belum melengkung, maka masih milik bersama bukan"


"Cihh, sok cakep loe" sarkas Jazz sembari menunjukkan senyum remehnya.

__ADS_1


"Ihh, nggak usah sok kegantengan loe. Loe itu bukan park Chanyeol" ketus Vyona.


"Park Chanyeol teh saha boss?" Tanya salah satu teman cowok itu.


"Mana gue tau" jawab Yuda sembari berbisik. Tapi, cowok itu adalah Yuda dan juga para antek-anteknya.


"Emangnya park Chanyeol siapa?" Tanya Yuda dengan alis bertaut.


"Suami gue. Udah minggir sana loe berempat, pengen muntah gue lihat muka loe pada"


"Anjing, nih cewek bener-bener minta dihajar" ucap salah satu teman Yuda, namun dengan cepat Yuda menahan cowok itu.


"Sayang ayo pulang, panas ini" ucap Vyona sembari merengek.


"Minggir loe semua, cewek gue kepanasan ini" ucap Jazz sembari menerobos tubuh Yuda, hingga membuat Yuda mengepalkan kedua tangannya.


"Awas aja loe Jazz, gue bakal rebut cewek loe" gumamnya sembari menatap Jazz dan juga Vyona yang mulai menjauh.


*****


Sesampai dirumah Vyona, Jazz bukannya menunjukkan kejutan yang ia maksud tadi, cowok itu justru malah bermain game bersama Areksa dan juga Alan.


"Jazz" panggil Vyona untuk yang kesekian kalinya, namun Jazz benar-benar tidak menggubrisnya.


"JAZZ" Vyona berteriak dengan nyaring, ketika cowok itu benar-benar tidak mempedulikannya.


"Astagfirullah, Queen jangan teriak-teriak. Aku belum budek kok"


"Habisnya kamu nyebelin, mana kejutan yang kamu maksud?" Ucap Vyona sembari menengadahkan tangannya.


"Mau kemana?" Tanya Vyona ketika Jazz menarik tangannya.


"Katanya mau kejutan"


"Lah kok kesini?" Tanya Vyona dengan sedikit heran, pasalnya ini arah menuju ruang kerja papanya.


"Kejutannya ada di dalam" ucap Jazz, sembari mulai membuka pintu yang berada di depannya, namun belum selesai Jazz membuka kunci pintu itu, Vyona sudah menahan tangannya.


"Kenapa?"


"Jangan dibuka, ini ruangan pribadi mama. Selama ini nggak ada satu orangpun yang boleh masuk sini"


"Tapi aku boleh, aku bahkan dapat kuncinya dari Tante"


"Kamu dapat kuncinya dari mama?" Tanya Vyona dengan sedikit tak percaya.


"Iya. Yuk masuk" ajak Jazz sembari menggandeng tangan Vyona.


Sementara itu Vyona hanya bisa pasrah ketika Jazz mengajaknya masuk kedalam ruangan pribadi milik Dahlia. Jujur saja tidak pernah ada seorang pun yang berani masuk kedalam ruangan ini.


Sesampainya didalam ruangan itu, didalamnya terdapat banyak sekali kotak-kotak bertumpukan.

__ADS_1


"Ini semua apa Jazz?"


Bukannya menjawab pertanyaan Vyona, Jazz justru duduk di kursi yang terlihat seperti meja kerja.


"Sini"


Lagi-lagi Vyona hanya bisa Menuruti perintah Jazz. Vyona berdiri disamping cowok itu, sedangkan Jazz sendiri membuka sebuah buku yang terlihat sudah usang.


"Buku apa?"


"Coba baca deh"


Surabaya, 02 Maret 2009


Hai putri kecilku, tak terasa sekarang kamu sudah berumur 3 tahun. Kamu sekarang sedang aktif-aktifnya, maafkan mama ya karena mama nggak bisa jadi ibu yang baik buat kamu. Melihat kamu dan kakak kamu tumbuh dengan saling menyayangi membuatku merasa bahagia, semoga kalian bisa terus saling menyayangi.


Jakarta, 09 November 2015


Ahh, sudah lama sekali aku tak menulis. Itu karena aku memang tak pandai dalam mengungkapkan perasaanku. hari ini Vyona sedang mengikuti olimpiade matematika, aku berharap dia bisa membawa pulang piala. Kalaupun nanti dia tidak mendapatkan juara tetapi aku tetap bangga kepadanya, dia tumbuh tanpa kasih sayang dariku, tapi dia bisa menjadi sehebat sekarang. mas Agra terimakasih, terimakasih karena kamu sudah menjadi ayah yang baik untuk anak-anak, aku sungguh beruntung memiliki suami seperti dirimu. Maafkan aku yang egois ini, maaf karena aku juga nggak bisa jadi istri yang baik untuk kamu.


Jakarta, 15 mei 2019


Hari ini aku kembali memukul dia, entah mengapa tanganku bisa seringan itu ketika menampar dan juga memukul dia. Tapi setelah melakukan hal itu, hatiku terasa tercabik-cabik. Walau bagaimanapun dia adalah darah dagingnya, dia putriku. Maafkan mama Vyona.


Jakarta, 02 April 2021


Hari ini dirumah sedang ada acara keluarga, namun lagi dan lagi aku menyuruh Vyona untuk pergi dari rumah. Aku hanya tak ingin Vyona digunjing oleh keluarga mas Agra, karena selama ini mereka memang tak pernah mau menerima keberadaan Vyona. Sudah cukup aku saja yang sakit hati karena omongan jahat mereka, tapi jangan dengan Vyona.


Jakarta, 17 mei 2021


Hari ini aku tak sengaja melihat Vyona jalan bersama seorang anak laki-laki. Ahh, ternyata Vyona ku sudah besar. Dia sekarang sudah memiliki seorang kekasih, ya walaupun kekasih Vyona tak setampan mas Agra, tapi setidaknya selera anak itu lumayanlah. Mama cuma berharap, semoga dia bisa mencintai kamu setulus papa kamu mencintai mama. Berbahagialah selalu putri kecilku.


Jakarta, 03 Juni 2021


Hari ini Vyona berulang tahun, usianya genap 16 tahun. Aku hanya bisa memberikan doa saja untuknya, sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah gaun cantik untuknya tapi seperti biasa aku hanya mampu menumpuk hadiah untuknya dikamar ini, sudah tak terhitung berapa banyak hadiah yang aku beli untuknya, tapi tak satupun pernah aku berikan kepadanya. Hahaha, aku bodoh ya! Sejujurnya aku begitu menyayangi dirinya, tapi setiap kali aku bertubrukan dengan matanya, bayangan laki-laki brengsek itu selalu menghantui diriku. Disini aku akan menulis, pengalaman pahit yang pernah ku alami, hingga Vyona ada di dunia ini. Orang-orang berfikir aku selingkuh dengan Pras, tapi mereka semua salah. Tak pernah sekalipun aku menghianati mas Agra, waktu itu hujan turun dengan derasnya tapi tiba-tiba saja mobilku mengalami trouble, dijalan yang cukup sepi, hingga membuat aku akhirnya memutuskan untuk meneduh disebuah rumah kosong yang tak jauh dari tempat itu. Namun tiba-tiba saja mobil lain datang, kulihat Pras sahabat baik mas Agra berlari menghampiriku.


Awalnya aku merasa sedikit lega karena ada teman, karena waktu itu sudah hampir magrib. Kondisi jalan pun juga sudah lumayan gelap, tapi sialnya situasi itu digunakan oleh Pras untuk memperkosaku, bahkan dia memukul diriku hingga pingsan. Namun ketika aku sadar aku sudah tak berada di rumah kosong itu, Pras membawaku ke apartemennya. dan disana dia mengurungku selama satu Minggu, dan selama itu juga Pras memperkosaku berulang-kali.


Pras benar-benar gila, aku tidak tau kalau dia begitu terobsesi kepadaku, bahkan di kamar itu terdapat banyak sekali fotoku. pada hari ke empat itu aku benar-benar sudah lemah Pras memperkosaku sembari merekamnya, dia bilang kalau aku harus mengaku pada mas Agra kalau aku sudah berselingkuh dengannya atau kalau tidak video itu akan dia sebar luaskan. Pada saat itu aku hanya bisa terpaksa mengikuti permainannya, aku juga tak ingin menanggung malu. Walaupun aku tau kalau itu jelas akan melukai hati mas Agra, tapi aku juga benar-benar tidak punya pilihan lain. Hah, setelah menulis ini rasanya sedikit lebih lega. Rahasia ini aku pendam sendirian selama belasan tahun, tanpa satu orangpun tau. Harapanku hanya satu, semoga nanti putriku bisa hidup dengan bahagia, dan semoga nanti dia bisa menemukan pasangan yang benar-benar tulus mencintainya, seperti mas Agra yang begitu tulus mencintaiku.


Vyona hanya bisa terisak ketika membaca kata demi kata yang ditulis oleh sang mama, ternyata begitu banyak penderitaan yang mamanya alami selama ini.


"Apa papa udah tau ini?"


"Belum. Yang tau baru kita, kak Areksa, dan juga bang Alan"


"Papa harus tau ini Jazz, papa harus tau kalau selama ini mama sama sekali tidak pernah menduakan papa"


"Itu tugasmu"


"Jadi ini semua, hadiah dari mama buat aku?"

__ADS_1


"Emt, mau buka hadiahnya nggak?"


Vyona menggeleng sebagai jawaban, Vyona berencana akan membuka kado-kado itu ketika dirinya sedang merindukan sang mama.


__ADS_2