
Aldo segera melemparkan kunci mobil nya pada Antony, dan langsung bergegas membuka pintu kemudi mobil Keyra.
Dengan kecepatan penuh, Aldo pun mengemudikan mobil sport merah itu sambil sesekali melirik ke arah Keyra yang tengah merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
Kyara hanya mendengus jengkel melihat Aldo yang terus memandang wajah Keyra diam-diam.
Bocah itu masih terlihat jengkel pada Aldo, mengingat kejadian di rumah Aldo kemarin, yang mana Aldo hanya diam saat Keyra di hina oleh nyonya Stella.
Aldo yang memahami ketidak puasan Kyara hanya tersenyum tipis, dirinya tentu menyadari kekecewaan Kyara padanya kemarin.
Tapi sepertinya bocah itu tak bisa lagi di dekati oleh Aldo, Kyara bukan hanya mengganti panggilan nya tapi juga terus menjauhkan Keyra dari Aldo.
Bahkan dengan terang-terangan, bocah itu juga berusaha mendekatkan Keyra dengan Lucas.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mobil itu pun sampai di depan mension milik Keyra, Aldo yang berniat untuk mengantar hingga di depan rumah, segera di halau oleh gerakan bocah di kursi penumpang.
"Cukup! Lebih baik om pulang, biar penjaga saja yang mengemudikan mobilnya hingga ke dalam" ucap Kyara.
Aldo mengerutkan dahi saat mendengar ucapan bocah itu, lalu berbalik menatap Kyara yang masih saja acuh tak acuh terhadap nya.
"Biar papi yang antar kalian berdua ke dalam, momy mu sepertinya kecapekan, biar papi yang gendong" ucap Aldo sambil menunjuk ke arah Keyra yang telah tertidur di kursi depan.
"Tak perlu! Lagi pula di sini kami juga memiliki banyak penjaga yang bisa kami suruh! Lebih baik om pulang dan urus tuh nenek peot menyebalkan itu sebelum Ara buat dia mati terkena penyakit jantung" ucap Kyara sambil melotot dan melontarkan sebuah ancaman pada Aldo.
"Apa maksud mu baby?" tanya Aldo masih mempertahankan sifat lembutnya pada bocah itu.
"Ara harap om jauhi momy Ara mulai saat ini! Atau perlu Ara buat perusahaan om bangkrut seperti yang lain?" tanya Kyara sambil bersedekap dada.
Aldo pun menelan ludah nya dengan pahit, kali ini bocah itu tak lagi bisa di ajak berdamai, sakit hati dan kekesalannya terhadap nyonya Stella berbuntut panjang terhadap kelangsungan perusahaan yang di pimpin nya.
"Maafkan papi Ara, papi tahu papi salah. Papi janji tak akan menyakiti Ara dan juga momy Ara" ucap Aldo sambil menunjukkan jari kelingking nya mengajak Kyara untuk membuat janji.
__ADS_1
Kyara hanya membuang muka melihat kelakuan keras kepala Aldo, sambil terus saja bibir nya mengoceh tak jelas.
Akhir nya Aldo pun turun dan bergegas untuk pulang kerumah nya.
Kyara segera meminta salah satu penjaga rumahnya untuk menyetir hingga mereka masuk ke dalam pekarangan mension yang luas.
Setelah meminta bantuan dari orang kepercayaannya untuk mengangkat momy nya ke kamar, Kyara pun segera pergi untuk mandi dan berganti pakaian.
Kali ini Kyara di buat jengah setengah mati oleh perilaku tak tahu malu Aldo, seperti nya dia harus bertindak sedikit tegas dengan memberikan peringatan keras pada Aldo.
Ting... Tong...
Bel rumah Kyara pun berbunyi, Bi Marni dengan cepat melangkah dan segera membuka pintu untuk mengetahui siapa tamu yang datang berkunjung malam-malam?
Seorang perempuan paruh baya namun masih terlihat cantik berdiri di depan pintu, tangan nya menjingjing kantong berisi kue, sambil celingak celinguk, wanita itu pun bertanya pada bi Marni.
"Apakah nona mu ada di rumah? Saya Stella, ibu dari pemilik mension depan datang berkunjung ingin berkenalan" ucap nyonya Stella sambil menyodorkan kantong berisi kue itu pada bi Marni.
"Silahkan tunggu sebentar" ucap Bi Marni sambil melangkahkan kakinya ke dapur hendak membuat minuman. Sedangkan Lina bergegas naik ke lantai dua untuk memanggil Kyara.
Nyonya Stella begitu kagum melihat isi rumah Keyra yang tertata begitu rapi. Meskipun terlihat biasa, namun nyonya Stella jelas tahu jika barang-barang di rumah itu merupakan barang yang berkualitas dan juga sangat mahal.
Kaki nya melangkah pelan sambil melihat satu persatu ornamen rumah Keyra, hingga sesaat kemudian matanya terlihat melotot begitu kaget saat beberapa photo di dinding menunjukkan siapa sebenarnya sang pemilik rumah.
Jantung nyonya Stella seolah terlepas dari tempat nya melihat photo Kyara yang di gendong oleh Keyra sambil tersenyum manis, dia ingat dengan jelas siapa bocah itu, bocah yang telah memanggil putra kesayangan nya itu dengan sebutan papi.
Antara percaya dan juga tak percaya, berkali-kali nyonya Stella pun mengucek mata nya dengan tangan nya, tapi tetap saja, Photo itu tak berubah. Itu memang bocah itu, anak dari seorang janda yang sudah dia hina kemarin malam.
Tak... Tak... Tak...
Terdengar langkah kecil dari tangga, tak lama muncullah Kyara sambil menyunggingkan senyuman sinis saat melihat nyonya Stella berada di rumah nya.
__ADS_1
"Apa yang di lakukan nenek gila ini di rumahku? Apa kah anaknya yang manja itu telah merengek dan meminta dia untuk datang dan meminta maaf?" pikir Kyara.
Bocah itu pun segera duduk di kursi sambil bersedekap dada, matanya terlihat sedikit memicing saat menyadari jika nyonya Stella terlihat kaget melihat photo di dinding rumahnya.
Bi Marni muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman untuk tamu, tapi tangan Kyara segera di kibas ke belakang pertanda dia tak memerlukan minuman itu.
"Bawa kembali minuman itu ke belakang bi, lagi pula tamu nya juga akan segera pulang. Dan jangan lupa untuk mengantarkannya sampai di depan, jangan sampai dia tak tahu jalan keluar dari rumah ini" ucap Kyara dengan sarkas sambil bangkit dari duduknya dan hendak kembali ke kamarnya.
"Tunggu!" nyonya Stella berusaha untuk menahan kepergian Kyara, tapi bocah itu terlihat tak peduli dan terus melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua.
Tap.. Tap.. Tap...
Tiga orang body guard berbadan tegap pun muncul di depan nyonya Stella, wajah mereka terlihat begitu sangar dan juga garang. Salah satu dari mereka segera mendekat sambil sedikit membungkuk dengan sopan.
"Pintu keluar ada di sebelah sana nyonya, mari kami antar hingga kedepan!" ucap body guard itu sambil menunjuk ke arah pintu.
Bi marni pun datang dengan tergesa-gesa sambil mengembalikan bingkisan yang tafi di bawa oleh nyonya Stella.
"Jangan lupa untuk membawa kembali barang anda nyonya!" ucap bi Marni dengan dingin sambil menyodorkan kembali kantong yang tadi di berikan oleh nyonya Stella.
Nyonya Stella pun segera keluar dari rumah Keyra dengan raut wajah yang tak bisa di artikan, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan bocah menggema dari dalam mension.
"Cepat sapu dan pel kembali lantainya, jangan lupa untuk membuang sofa itu dan menggantinya dengan sofa yang baru!" teriak Kyara dengan sangat lantang.
Deg...
Hati nyonya Stella terasa begitu sakit saat mendengar teriakan Kyara, dia benar-benar tak menduga jika bocah itu sanggup mempermalukan dirinya hingga seperti ini.
Sedangkan Kyara tersenyum iblis dari dalam mension nya sambil bergumam
"Ini baru permulaan nenek tua! Kau bahkan tak akan pernah tahu apa yang bisa aku lakukan pada orang-orang yang berani menghina dan juga menyakiti momy, persiapkan saja jantung mu dengan baik! Agar nyawamu tak lepas dari badan"
__ADS_1