Ibu Cerdas Putri Jeniusku

Ibu Cerdas Putri Jeniusku
Part 82


__ADS_3

Tak...


Tak...


Tak...


Langkah kaki itu semakin mendekat, David mengerutkan dahinya, siapa yang mendatangi mension Aldo malam-malam begini? Apakah Keyra sudah satu rumah dengan Aldo? Pikiran nya terus menerawang jauh, membayangkan jika mantan ibu tirinya itu sudah hidup satu atap dengan pria yang telah menyiksanya.


Krieet...


Pintu terbuka, seorang bocah masuk dengan kaki pendeknya, dia berjalan dengan santai masih menggunakan piyama tidur bergambar kartoon, bahkan sandal yang dipakainya juga sandal rumahan.


"Astaga papi! Apa yang papi lakukan? Oh lihatlah wajah pemuda itu! Benar-benar mirip kesemek busuk! Bukankah seharusnya papi tidak melakukan itu? Bagaimana jika momy tahu? Oh tuhan! Momy pasti marah besar!" ucap Kyara seraya melangkahkan kakinya ke arah Aldo.


Bocah itu memperhatikan satu persatu wajah orang yang telah di hajar oleh anak buah Aldo dengan sangat teliti, hingga tiba-tiba saja dia mendekati beberapa orang teman David dan langsung menghadiahi tamparan, tinjuan dan juga tendangan.


Plak...


Plak...


Plak...


Bak! Buk!


Bak! Buk!


Duagh...


Bocah itu menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghajar kelima teman David, hingga membuat pemuda itu melotot tak percaya, adik tirinya yang baru saja berusia lima tahun sudah bisa menghajar orang dengan begitu ganas.

__ADS_1


Bahkan lima orang teman David begitu kaget mendapatkan serangan dadakan dari Kyara yang membuat wajah mereka semakin lebam hingga beberapa giginya tanggal.


Anak buah Aldo juga hampir saja terjatuh dari posisi berdirinya, mereka begitu kaget melihat perbuatan bocah itu, terutama melihat kekuatannya yang tak jauh dari orang dewasa.


Sangat mengerikan...


Tanpa terasa semua orang pun bergidik melihat perilaku bocah itu, selama ini mereka memang sering mendengar tentang kemampuan bela diri dan juga penguasaan beberapa macam senjata oleh Keyra, tapi mereka tidak menduga jika putrinya bahkan lebih ganas dan lebih berbahaya di bandingkan sang ibu.


"Nah itu baru benar! Kalau wajahnya jelek seperti itu, papi sudah bisa melepaskan mereka ke kandang si molly, sepertinya dia belum makan dari pagi!" ucap Kyara seraya menaik turunkan alisnya.


Sementara semua orang tengah berfikir siapa molly, tiba-tiba saja seekor singa putih masuk ke dalam ruangan, itu adalah binatang peliharaan Aldo yang baru saja dibelinya pagi tadi.


David dan teman-temannya langsung melotot, mereka beringsut ke dinding takut jika di jadikan santapan oleh singa itu, sementara darah yang menetes dari tubuh mereka karena pukulan yang mereka terima dari anak buah Aldo semakin membuat singa itu terlihat ganas karena mencium bau darah.


"Oh... Ternyata Molly semakin imut saja!" Ucap bocah itu seraya mengelus singa yang langsung mendusel-dusel kepalanya ke badan Kyara.


"Papi... Bukannya bandot tua itu akan menculik Ara? Tapi kenapa dia belum juga datang? Apakah ban mobil nya kempes? Atau mobilnya mogok? Harusnya dia mengecek dulu semua persiapan sebelum berangkat untuk menculik Ara!" ucap Kyara sembari merengut, wajah bocah itu terlihat begitu sedih.


"Sabaaar! Papi yakin jika si kambing tua Adrian itu pasti akan segera sampai di rumah Ara, lebih baik Ara segera kembali agar dia tak kesulitan mencari Ara nanti." ucap Aldo menenangkan.


Plak...


Semua anak buah Aldo pun serempak menepuk kening mereka, apakah bos nya sudah gila hingga mengucapkan kata-kata seperti itu? Bukannya menyembunyikan Kyara, Aldo malah dengan sengaja menyuruh bocah itu kembali agar memudahkan para penculik.


Kyara langsung tersenyum manis, dia juga merentangkan kedua tangannya agar Aldo menggendongnya, Aldo dengan senang hati meraih tubuh bocah mungil itu dan langsung menggendong nya.


Cup...


Cup...

__ADS_1


Cup...


Kyara memberikan ciuman di kening dan juga kedua pipi Aldo, begitu juga dengan pemuda itu yang langsung membalas memberikan ciuman pada Kyara.


"Sekarang cepat pulang dan tidur! Jangan lupa untuk menghajar kambing tua itu dengan manis setelah dia menculik Ara nanti!" ucap Aldo seraya menurunkan gendongannya.


"Itu pasti papi! Ara sudah mempersiapkan pisau berkarat untuk mengkebiri bandot tua itu! Akh.. Jangan lupa untuk menghancurkan tangannya yang dulu pernah di pakai untuk menyiksa momy." ucap Kyara sembari tersenyum manis.


"Anak papi memang paling pandai, jangan lupa share lock agar papi juga bisa memberikan kejutan untuk kambing tua itu! Papi rasa kepala pemuda itu cukup untuk membuat kambing tua itu stress dan mati!" ucap Aldo seraya menaik turunkan alis nya.


"Tentu saja! Bermain sendiri itu tidak asyik! Tentu saja Ara butuh papi sebagai tim hore agar Ara semangat!" ucap bocah itu.


"Pasti! Kalau perlu papi akan dandani anak buah papi untuk jadi tim hore untuk Ara!" ucap Aldo.


"Papi memang yang terbaik! Terima kasih papi! Ara pulang dulu ya pi, semoga saja bandot tua itu cepat datangnya sebelum Ara benar-benar bosan!" ucap Kyara sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Gubrak...


Gubrak...


Beberapa orang anak buah Aldo seketika terjatuh karena kaget, apa tadi bos nya bilang? Dia akan mendandani anak buah nya untuk jadi tim hore? Benar-benar keluarga yang ajaib. Bagaimana bisa bos nya melakukan hal itu? Mereka terus saja bertanya-tanya dalam hati.


"Bereskan semua sampah itu, kubur saja mereka di hutan! Kurasa Molly ku juga tak akan ngiler untuk memakan daging mereka! Rasanya pasti kelat dan asam!" ucap Aldo.


Dia langsung melangkahkan kakinya untuk beristirahat di dalam kamar, sementara anak buah nya menyeret satu persatu teman-teman David dari sana dan meninggalkan pemuda itu sendiri.


David terlihat nanar saat melihat seluruh temannya di seret seperti sampah, dia juga merasa bersalah karena telah melibatkan teman-teman nya yang tak bersalah, tapi penyesalan David sudah terlambat, dia bahkan tak bisa menyelamatkan mereka dari cengkeraman anak buah Aldo.


"Dasar badjingan! Berani sekali dia memperlakukan teman-teman ku seperti itu! Lihat saja kalau aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini, aku pasti akan melenyapkan kalian semua!" gumam David dengan pelan.

__ADS_1


Dia mengepalkan tangannya, wajah nya terlihat merah dengan mata yang berbinar penuh dendam. David merogoh saku celananya berharap bisa menemukan ponsel miliknya, dia akan menghubungi para mafia agar menyelamatkan nya dari rumah Aldo dan juga membunuh pemuda itu.


Sayang nya ponsel David sudah raib entah kemana, mungkin terjatuh saat dirinya di keroyok tadi, akhirnya dia menarik nafas perlahan dan memikirkan jalan lain untuk kabur dari rumah Aldo.


__ADS_2