Ibu Cerdas Putri Jeniusku

Ibu Cerdas Putri Jeniusku
Part 36


__ADS_3

Aldo bergegas melangkahkan kakinya menuju ke lantai tiga, dimana kamarnya sebagai ketua dari mafia Eagle Eye berada. Dia dengan terburu-buru melepaskan seluruh pakaian nya dan merendamkan dirinya di dalam sebuah bath tub yang berisi air panas.


Lilin aromaterapi telah menyala di sekeliling kamar mandinya, wangi maskulin perpaduan dari musk dan amber tercium di hidung nya.


Membuat Aldo merasa rileks dan betah berlama-lama di dalam kamar mandinya.


Setelah dirasa cukup, Aldo pun segera menyambar handuk kimono putih nya, sambil menggosok rambut basahnya dengan sehelai handuk kecil.


Penampilan Aldo terlihat begitu manly, apalagi dengan aroma tubuh nya yang segar membuat Aldo semakin menawan mata siapa pun yang memandang nya.


Aldo berniat untuk kembali kerumah sakit saat ini, keadaan kedua orang tua nya tentu saja menjadi prioritas utama bagi sang ketua mafia Eagle Eye itu. Meskipun tangan nya penuh darah, tapi kasih sayang dan kelembutannya sebagai seorang anak tentu saja tak ingin siapa pun mencelakai keluarga nya.


Tok...


Tok...


Tok...


Pintu kamar Aldo di ketuk dari luar, tak lama pintu pun terbuka, menampilkan sosok Antony yang kini berdiri dengan malas sambil menyenderkan tubuh nya ke dinding.


Di tangan Antony terdapat beberapa berkas yang ingin di berikan pada Aldo, tentunya Aldo tak ingin terlalu di pusingkan dengan masalah ini.


Dengan cepat, tangan Aldo pun menyambar pena dan langsung membubuhkan tanda tangan nya disana.


"Apa ada informasi baru?" tanya Aldo sambil menghentikan kegiatan nya.


Antony hanya mengangguk sambil menunjukkan beberapa berkas yang masih berada di tangannya.


Aldo menerima berkas itu dan langsung membacanya, seringaian muncul di bibir pemuda itu, sambil melirik ke arah Antony yang kini berpura-pura acuh dan memandang ke arah lain.


Aldo pun melemparkan pena yang di pegang nya tepat mengarah ke dahi Antony.


Tuk...

__ADS_1


Ujung pena itu langsung saja mengetok dahi Antony hingga muncul benjolan sebesar kelereng, Antony hanya meringis kemudian menatap Aldo sambil mengerutkan dahinya.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan? Lakukan dengan cepat dan jangan sampai meninggalkan jejak apa pun." ucap Aldo sambil berjalan ke arah lemari pakaian nya mengambil T-shirt putih polos dan juga celana training panjang nya.


Sedangkan Antony memilih keluar dari kamar bos nya dan langsung menghampiri anggota nya untuk menyampaikan pesan.


Drrrt...


Drrrt...


Suara ponsel Antony pun bergetar, dengan cepat dia segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan itu sambil menjauh dari anggota yang lain.


📱"Katakan!" ucap Antony to the point pada si penelpon yang merupakan orang kepercayaan nya.


📱"Dia sudah mulai bergerak bos!" ucap si penelpon kembali.


📱"Tetap jaga jarak! Jika ada kesempatan segera habisi dia! Dan ingat untuk tidak meninggalkan bukti apa pun di tempat kejadian!" ucap Antony.


Dia tak tahu saja jika selama ini dirinya di awasi dari segala penjuru arah oleh Mata-mata Aldo, bahkan apa pun yang dia lakukan tak lepas dari pantauan orang-orang nya Aldo.


Tak...


Tak...


Tak...


Suara langkah sepatu Vena menggema di lantai apartemen, dia berjalan berlenggak lenggok dengan kepala sedikit terangkat, menunjukan keangkuhannya.


Vena tak ingin di pandang miskin oleh orang lain, karena itulah dia memakai semua barang branded di tubuh nya. Bahkan kacamata yang kini bertengger di hidung nya pun seharga 30 jutaan.


Vena berjalan cepat menuju ke parkiran dan langsung masuk ke dalam mobilnya, dia langsung tancap gas menuju ke rumah sakit, entah kenapa jalanan terasa lengang malam ini, Vena yang sudah terlanjur merasa senang dan yakin jika rencana yang dia susun akan berjalan dengan lancar, bahkan tak memperhatikan sekeliling nya.


Vena terus menjalankan mobil nya sambil bersenandung, dia bahkan menyalakan musik dengan sangat keras hingga memekakkan telinga orang yang mendengar nya.

__ADS_1


3 buah mobil hitam berjalan di belakang mobil Vena, ketiganya masih terus menjaga jarak untuk menghindari cctv yang terpasang di jalan raya itu, namun jika di lihat dengan baik-baik, ketiga mobil itu di kendarai oleh orang-orang yang berpakaian hitam, bahkan mereka memiliki senjata api dan juga senjata tajam.


Vena berbelok ke arah kiri untuk membeli bunga dan juga kue kecil untuk nyonya Stella yang masih terbaring di rumah sakit, dia merasa sangat yakin jika wanita paruh baya itu akan merasa suka dan sangat berterima kasih kepada nya yang begitu perhatian, apalagi saat melihat wajah cantik nya kini, pasti nyonya Stella tak akan menolak pesona kecantikannya yang luar biasa mewah dengan riasan mahal yang di pakai nya.


Bibir Vena menyunggingkan senyuman manis, sebuket mawar merah dia pilih sebagai hadiah pertama untuk calon mertuanya, begitu juga dengan sekotak mini cake yang dia pilih sebagai cara untuk mendekati si nyonya sosialita itu.


Dia akan menampilkan sosok calon menantu idaman, seperti yang selama ini di idamkan oleh nyonya Stella.


Setelah pembayaran selesai, Vena pun langsung kembali menuju mobilnya, dia kembali melanjutkan perjalanan nya menuju ke rumah sakit.


Lampu merah muncul tiba-tiba, Vena langsung mengerem mobil nya, disisi kiri kanan mobil yang di kendarai oleh Vena, muncul dua mobil hitam, Vena sedikit mengerutkan kening nya, melihat penampilan kedua mobil yang terlihat gelap itu.


Bruuumm...


Mobil pun kembali melaju, tanpa di duga mobil hitam yang tadi berada di sebelah kanan Vena tiba-tiba saja berbelok mendadak, Vena menginjak pedal rem nya dengan cepat sambil terus menggerutu.


Nampak nya Vena mulai naik pitam, dia pun keluar dari dalam mobil nya dan langsung menggedor pintu kaca si pengemudi mobil hitam itu dengan sangat keras sambil meneriaki si pengemudi.


"Hei keluar kau sialan! Kau fikir ini jalan milik nenek moyang mu? Seenaknya saja berbelok seperti itu! Cepat keluar!" teriak Vena sambil terus menggedor pintu mobil hitam itu.


Namun bukannya keluar, si pengemudi mobil itu terlihat sangat santai memainkan ponselnya, dan tanpa aba-aba, pintu belakang mobil hitam itu pun terbuka.


Vena langsung di dorong oleh seseorang yang entah kapan telah berdiri di belakang tubuh nya sambil menodongkan pistol.


Bruk...


Tubuh Vena pun langsung terjatuh di jok belakang mobil hitam, orang itu pun kembali menutup pintu mobil itu dengan cepat dan langsung pergi mendekati mobil yang tadi Vena bawa.


"Bagaimana kabarmu nona Vena?" tanya seseorang yang duduk di sebelah kursi pengemudi.


Deg...


Deg...

__ADS_1


__ADS_2