Ibu Cerdas Putri Jeniusku

Ibu Cerdas Putri Jeniusku
Part 39


__ADS_3

Tap...


Tap...


Tap...


Terdengar langkah kaki menuju penjara bawah tanah, Vena menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang.


Ada dua orang pria menggunakan topeng tengkorak yang kini perlahan muncul di hadapan sel yang mengurung Vena, semua penjaga yang ada di sana terlihat begitu menghormati kedua nya, bahkan mereka membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


Vena sesaat tertegun melihat pemandangan itu, namun aroma musk dan amber yang tercium dari salah seorang pria bertopeng itu membuat mata Vena seketika membola.


Dia sangat familiar dengan aroma itu, dan juga si pemakai nya, bagaimana tidak? Vena pernah bekerja selama dua tahun di kantor milik pemuda itu dan pernah menduduki posisi sekretaris pribadi.


"A-aldo? Kau datang untuk menyelamatkan ku kan? Ini-ini lihatlah pipiku! Mereka telah menampar ku dengan sangat kencang! Bahkan orang kepercayaan mu juga telah memelintir pergelangan tanganku hingga merah" ucap Vena dengan mata berkaca-kaca sambil menunjukkan pipi nya yang merah dan juga pergelangan tangannya.


Aldo hanya tersenyum sinis menanggapi ocehan wanita rubah yang kini tengah memainkan drama teraniaya d hadapannya sambil ekor mata nya melirik Antony yang tersenyum kecut mendengar aduan dari Vena.


Antony merasa mulut nya saat ini tengah gatal dan ingin segera memuntahkan bubuk cabai pada Vena yang terlihat pura-pura ketakutan melihat nya.


Namun Aldo abai dan tak mempermasalahkan tindakan keduanya dan seolah mempersilakan pada Antony untuk menyiksa Vena, Antony yang melihat kode dari Aldo pun langsung melangkahkan kaki nya perlahan menuju sel yang kini di huni oleh mantan sekertaris Aldo itu, dia juga meminta agar para penjaga segera membuka kunci sel nya.


Vena masih belum mengerti situasi yang kini di hadapinya, dengan langkah cepat, dia pun segera berlari dan hendak menubruk Aldo, pemuda itu hanya tersenyum melihat kelakuan mantan sekertaris nya, tapi tinggal selangkah lagi Vena sampai di hadapan Aldo, pemuda itu menggeser kaki nya selangkah ke samping kiri, dan alhasil Vena pun menubruk angin.

__ADS_1


Bruk...


Tubuh Vena tersungkur dengan tak elit nya saat dia terjatuh dengan wajah yang mencium lantai, bahkan kini dia merasakan sakit di pinggang nya karena tak sengaja terkilir.


"Aww.." Vena meringis merasakan sakit pada persendiannya, belum lagi jidat nya yang kini terlihat memar dan terdapat benjolan sebesar telur ayam membuat Vena makin membelalakan matanya.


Akhirnya Vena pun kembali pada kesadarannya, dia sekarang tahu persis jika keberadaan dirinya di tempat ini bukanlah untuk menjadi nyonya Damian, tapi merupakan upaya yang dilakukan oleh Aldo untuk menyiksanya.


"Sial..!" Vena kembali merutuki dirinya yang tak peka terhadap bahaya yang kini mengincar nyawa nya, sedangkan Antony tertawa terbahak-bahak melihat Vena yang berusaha bangkit namun seperti nya wanita itu kesulitan karena high heel 11 cm yang kini terpasang di kaki lentik nya.


Vena sejenak menatap Aldo, pria itu tetap diam di tempat nya tak bergeming sedikit pun membuat Vena kembali berdecih keras.


"Cih.. Apa kau fikir aku sebodoh itu? Kau mungkin tahu rencana ku untuk menjebak ibumu! Tapi kau tak mungkin tahu bagaimana hidupmu kedepannya bukan? Hahahaha.." ucap Vena sambil tertawa bahagia.


Sedangkan Aldo hanya diam sambil menggerakan kaki nya, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di pojokan.


"Memang apa yang harus aku takutkan?" tanya Aldo santai sambil menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya.


Vena mendengus dingin melihat Aldo yang tak termakan oleh provokasi yang di buat nya, dia lalu menggeser tubuhnya ke arah dinding untuk berpegangan agar bisa kembali berdiri dengan tubuh yang tegak.


Namun pergelangan kaki nya terasa sangat sakit saat Vena berdiri, seperti nya Vena juga mengalami keseleo saat terjatuh tadi.


"Apakah kaki mu itu perlu ku amputasi agar tak terasa sakit lagi?" tanya Aldo sambil menatap tajam pada Vena.

__ADS_1


Vena terkejut mendengar ucapan dari Aldo, dia sangat tak menyangka jika pria dingin di hadapan nya itu akan mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati.


Namun kali ini Vena tak mau kalah gertak, dia juga menunjukkan wajah dengan ekspresi yang sangat jelek sambil memandang Aldo yang tengah menatap sinis padanya.


"Apa kau tahu? Aku sudah menyewa banyak sekali pembunuh bayaran untuk melenyapkan mu dari dunia ini! Kau telah menghilangkan pohon uangku dan membuat aku miskin kembali! Aku benar-benar membenci mu Aldo!" teriak Vena dengan sangat lantang.


"Itu bagus! Karena aku juga tak sudi di dekati oleh rubah betina seperti mu! Kau itu tak lebih dari ulat bulu yang menyebarkan gatal pada orang lain" sarkas Aldo tanpa merubah ekspresi wajah nya.


Vena menggigit bibir bawah nya, nampaknya rencana apa pun tak akan bisa menjatuhkan pria dingin itu, dia harus kembali memutar otak agar tak mati di tempat itu, dan bisa segera melaksanakan rencananya untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga Aldo.


Sedangkan Antony saat ini hanya memutar bola matanya dengan malas melihat perdebatan unfaedah antara Aldo dan juga Vena. Jari tangan Aldo bergerak memberi tanda pada Antony, pemuda itu pun mengerti jika saat ini bos nya tak ingin berlama-lama lagi melihat pertunjukan lotus putih itu di hadapan nya, dengan segera dia pun menyergap tubuh Vena dan memasukannya ke dalam karung.


Vena terus memberontak saat Antony dengan tidak sabarannya mengikat karung itu dengan tambang dan juga batu yang sangat besar untuk pemberat, pemuda itu pun segera memanggil anak buah nya yang saat ini masih tetap berdiri dengan gagah di depan pintu.


"Lemparkan dia ke laut! Pastikan tubuhnya terbenam bersama batu besar itu! Jika sampai mayat nya mengapung... Kalian tahu sendiri apa yang bisa kulakukan!" ucap Antony sambil menyerahkan karung itu pada anggota mafia Eagle Eye.


Orang-orang itu pun mengangguk, mereka mengerti dengan perintah dari wakil ketuanya, seperti nya sang bos saat ini sedang malas berbicara dan menyerahkan seluruh masalah pada Antony.


Mereka pun bergegas membawa Vena yang masih saja terus meronta di dalam karung itu sambil sesekali berteriak minta di lepas kan.


Namun teriakan dari Vena sama sekali tak mengubah kesetiaan mereka pada sang bos hingga tak ada satu pun yang berani membuka ikatannya meskipun Vena telah mengiming-imingi dengan uang yang sangat banyak.


Mereka tentu saja sangat tahu jika uang yang tak seberapa dari yang di janjikan oleh Vena itu, mereka bisa saja kehilangan nyawa bahkan juga seluruh keluarga nya jika sampai Aldo mengetahuinya.

__ADS_1


Byur...


Karung itu pun segera mereka lemparkan ke laut setelah speed boat yang membawa mereka telah berlayar ke tengah, Vena kaget saat merasakan dinginnya air laut yang kini mulai merendam tubuh nya, bahkan membuat dia kesulitan untuk bernafas.


__ADS_2