
"Kau!" Vena membelalakan matanya melihat pria yang duduk di samping kursi kemudi. Perasaan kaget langsung menjalar dalam hatinya, dia yang niat awalnya akan berpura-pura di hadapan nyonya Stella sebagai korban dari kebiadaban sang putra sejenak tertegun dengan wajah yang sangat pucat.
Aldo hanya tersenyum tipis melihat iblis kecil yang sok pintar itu kini sedang gugup, hatinya tentu sangat puas melihat ekspresi wajah jelek dari wanita tak tahu diri di belakang nya.
"Bukan kah kau ingin menemui mamaku? Dan berniat membuat berita kebohongan dengan berpura-pura hamil olehku? Lalu kenapa kau terlihat begitu pucat? Apa kau takut terhadapku?" tanya Aldo sambil menyunggingkan senyuman smirk nya.
Vena langsung merinding, seluruh bulu-bulunya meremang, badan nya pun mulai berkeringat dingin, bahkan tatapan nya seolah sedang shock mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh mantan bos nya itu.
"Ti-tidak seperti itu! Se-sepertinya anda telah mendapatkan berita yang salah, saya memang berniat untuk datang ke rumah sakit untuk mengunjungi seorang teman yang di rawat disana!" ucap Vena mengelak, badannya terlihat gemetar, bahkan wajahnya semakin pucat pasi karena takut ketahuan oleh Aldo.
"Benarkah? Tapi aku mendengar berita yang beredar diluaran jika saat ini kau berencana untuk menemui mamaku yang sedang di rawat dengan berpura-pura telah ku gauli! Dan bukan kah kau juga ingin mengatakan kehamilan mu padanya? Sungguh bodoh! Apa kau fikir kau bisa membodohi seorang Aldo Damian?" tanya Aldo.
Tangan kanan Aldo mencengkram dagu Vena dengan sangat kencang, hingga wanita itu meringis merasakan sakit. Vena ingin sekali berteriak dan juga memaki Aldo, namun ternyata cengkeraman tangan pemuda itu semakin kuat dan menekan rahangnya dengan kencang.
"Apa kau tahu sedang bermain-main dengan siapa? Tanya Aldo sambil melepaskan cengkraman tangan nya, bekas cengkraman terlihat merah pada dagu dan juga pipi Vena.
Vena menggelengkan kepala nya perlahan, dia sungguh tak menyangka jika kelakuan mantan bos nya itu sangat kejam, bahkan Aldo tak pandang bulu untuk menyiksa musuh yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Mobil hitam yang di tumpangi mereka pun melaju dengan cepat meninggalkan kota C, arah nya saat ini menuju ke hutan tempat dimana markas mafia Eagle Eye berada.
Vena membelalakan matanya saat melihat pemandangan di luar, dia benar-benar tak percaya akan di bawa menuju ke hutan itu, apalagi jalan nya sungguh curam dan di penuhi belokan tajam.
Tebing batu muncul di hadapan Vena, membuat tubuh ibu hamil itu benar-benar takut, tidak salah lagi ini adalah jalan menuju ke perbukitan terjal yang ada di belakang gunung.
Vena mencoba untuk mendorong pintu mobil hitam itu dengan sekuat tenaga, dia berencana untuk meloncat dan melarikan diri.
Tapi naas, pintu mobil itu terkunci dari dalam.
Orang yang berada di samping Vena pun menyeringai melihat kelakuan wanita itu, tentu saja dia sudah memahami pemikiran Vena saat ini.
Vena duduk dengan sangat santai, matanya terpejam, otak nya terus berputar untuk mencari jalan keluar, dia tak akan membiarkan dirinya mati begitu saja, apalagi saat ini dirinya belum sempat untuk membalas dendam pada Aldo dan juga semua komplotannya atas kematian dari Markus Sebastian sang kekasih.
Perlahan Vena pun melirik pria yang duduk di samping nya, pria itu nampak tertidur dengan santai, Vena baru saja akan merogoh pistol dari belakang punggung pria itu agar bisa menyelamatkan diri.
Tapi baru saja tangannya itu dia gerakan, seruan dari orang yang berada di belakang kemudi mobil yang di tumpangi nya pun terdengar.
__ADS_1
"Apa kau fikir dengan mengambil pistol itu kau bisa bebas dari sini? Ingatlah jika saat ini kita berada di hutan! Walaupun kau bisa terbebas dari kami, bisa saja kau jadi mangsa empuk untuk binatang buas yang ada di hutan ini!" ucapnya dengan sinis.
Deg...
Deg...
Jantung Vena pun berdegup sangat kencang, keringat dingin muncul di wajahnya, Vena memang sangat penakut terhadap berbagai macam hewan buas, hatinya kembali khawatir dan akhirnya kembali duduk dengan tenang.
Perjalanan pun kembali normal, hanya kebisuan yang ada di dalam mobil hitam. Bahkan saat ini, hanya untuk mengambil nafas saja pun Vena merasa harus sangat hati-hati.
Tubuh Vena terasa lunglai, entah apa yang akan di lakukan oleh Aldo terhadap dirinya, apalagi saat ini, pria itu sudah mengetahui seluruh rencana dan juga trik yang di lakukan oleh Vena, dia merasa sangat khawatir sekaligus takut, jika Aldo pun ingin melenyapkan nyawanya.
Apalagi senjata miliknya pun kini tertinggal di mobilnya, Vena benar-benar tak membawa apapun saat ini, dia merutuki kebodohan dirinya sendiri, andai saja tadi dia tak keluar dan terus menggedor mobil hitam itu, mungkin saat ini dia masih selamat dan sudah sampai di rumah sakit untuk melanjutkan rencana nya menjebak Aldo dengan menjadikan nyonya Stella sebagai pion nya.
Vena menatap gusar lewat jendela mobil, berkali-kali wanita itu pun menghembuskan nafas kasar, dan terus meyakinkan dirinya jika ia pasti akan selamat dari kematian, dan Aldo tak mungkin berani bertindak kejam terhadap dirinya yang merupakan seorang wanita dan juga sedang berbadan dua.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa untuk terus mendukung author ya, klik like, subscribe dan juga kolom komentar nya. Jika berkenan lemparkan juga vote dan gift nya agar author semakin semangat untuk up bab selanjutnya.
Mohon maaf author tidak bisa triple up hari ini, karena dari tadi sore jaringan di tempat author nyangkut-nyangkut 🙏🙏🙏