
Akhirnya mobil hitam itu pun berhenti di depan sebuah mension mewah yang ada di tengah hutan. Mata Vena kembali terbelalak melihat keindahan dan juga kemegahan dari mension itu, hatinya bersorak gembira, ternyata Aldo tak berniat untuk membunuh nya, dan mungkin saja sebentar lagi dia akan segera menjadi nyonya dari mension itu.
Senyum manis tersungging di bibir tipis milik Vena, dia terus berkhayal dan berandai-andai sambil menatap ke arah Aldo yang masih duduk malas di jok depan.
Antony keluar dari kursi kemudi dan dengan cepat membukakan pintu untuk bos nya, setelah Aldo beranjak untuk keluar, Antony pun segera membukakan pintu untuk Vena.
Vena keluar dari dalam mobil hitam itu dengan sorot mata yang di penuhi dengan keserakahan, dia mulai berjalan melenggang sambil mengangkat dagunya tinggi menunjukan arrogansi dan juga kesombongan nya.
Sedangkan Aldo hanya menyunggingkan senyuman sinis di bibir nya, tentu Aldo sangat memahami apa yang membuat wanita yang tadi terlihat begitu ketakutan seperti anak ayam yang kehilangan induknya, dan kini berubah total seperti singa betina yang haus kekuasaan.
Terkadang uang dan kekayaan memang membutakan hati manusia, mereka bahkan rela melakukan apapun agar apa yang mereka inginkan bisa terjadi. Ah... Sungguh perumpamaan yang tak bernilai sama sekali untuk orang-orang yang serakah seperti Vena.
Bahkan hanya demi uang dan juga kekayaan, Vena bersedia melakukan apa pun, termasuk menjilat kaki tuannya laksana seekor anak anjing.
Tak...
Tak..
Tak...
Suara high heels yang di pakai wanita itu terdengar begitu nyaring, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa ngilu.
Vena seolah sengaja menunjukan kharisma dan juga kualitas dirinya yang lebih tinggi dari yang lain, bahkan wanita itu terlihat terus saja berdecak kagum melihat tatanan perabotan mahal yang terpampang di depan matanya.
"Ah... Vena! Kau memang di ciptakan untuk menjadi seorang nyonya besar, istri dari seorang Aldo Damian, sebentar lagi aku akan menjadi semakin kaya dan juga berkuasa. Tidak sia-sia aku tadi diam dan bertahan di dalam mobil! Ternyata Aldo ingin menunjukkan kediaman baru nya untuk ku!"gumam Vena dalam hati sambil terus saja berjalan kesana kemari menikmati keindahan dan juga kemewahan yang di suguhkan di depan mata nya.
Sungguh indah khayalan yang kini tengah di rasakan oleh Vena, dirinya bahkan tak menyadari lambang mata elang yang ada di depan mension besar itu sebagai identitas dari sang pemilik kediaman.
"Lemparkan dia ke tempat yang seharusnya!" ucap Aldo berbisik pada Antony.
Aldo langsung melenggang ke lantai dua dan meninggalkan Antony dan juga Vena di ruangan itu, sedangkan Vena saat ini tengah berusaha untuk menyusul Aldo.
__ADS_1
Dia pun mulai melangkahkan kakinya mengikuti arah Aldo menghilang, namun sesaat dia berhenti dan merasakan cekalan pada pergelangan tangan nya, membuat wanita itu pun melotot tajam pada orang yang telah lancang menghalangi jalannya.
"Lepaskan tangan mu pria brengsek! Berani sekali kau menghalangi jalan ku! Jangan hanya karena kau itu orang kepercayaan Aldo, lalu kau berani mencegah ku untuk menemui calon suamiku!" ucap Vena berang sambil mrnatap sengit wajah Antony yang kini tengah tersenyum sinis padanya.
Bahkan cekalan tangan Antony itu tak sedikit pun mengendur, justru sebaliknya malah semakin kencang membuat Vena kembali terbawa emosi dan berteriak semakin kencang.
"Lepaskan aku pria brengsek!" ucapan Vena benar-benar sangat tajam dan juga menohok, apalagi di sertai dengan teriakan kekesalan nya.
Drap...
Drap...
Drap...
Vena mendengar langkah kaki banyak orang, dia pun menoleh, ada lebih dari seratus orang pria bertubuh kekar dan juga tinggi yang kini tengah mendekat ke arah dirinya dan juga Antony.
Seringaian muncul di bibir Vena, yang menyangka jika pria berbaju hitam yang kini mengelilingi nya itu merupakan orang suruhan Aldo untuk menyelamatkan dirinya dari orang yang seperti Antony.
Hahahaha...
Hahahaha...
Semua orang pun sontak tertawa mendengar pengakuan dari Vena. Bagaimana tidak? Vena di bawa masuk ke dalam markas Eagle Eye adalah untuk di siksa dan di bunuh, tapi wanita itu dengan sombong nya mengaku-aku sebagai calon nyonya dari ketua mereka.
Vena mengerutkan dahinya melihat semua orang tidak menunjukkan kesopanan dan terlihat seperti tengah mencibir dan juga meremehkan nya, membuat Vena kembali naik pitam dan berusaha untuk melepasakan pergelangan tangannya dari cekalan Antony.
"Lepaskan bodoh!" teriak Vena sambil berusaha untuk menyerang antony dengan tangan kanan nya.
Antony hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke arah kanan, dan akhirnya serangan yang di berikan oleh Vena pun meninju angin.
Vena mendengus kemudian kembali mengepalkan tangan kanan nya dan berusaha untuk kembali meluncurkan bogem mentah nya ke arah antony, namun lagi dan lagi serangan dari Vena pun tidak mengenai sasaran.
__ADS_1
Hei.. Bagaimana mungkin serangan kecil seperti itu bisa melukai Antony, si ahli taekwondo yang sudah sampai YiDan atau DAN II, malu dengan sabuk hitam yang memiliki satu garis putih nya jika serangan dari seorang wanita seperti Vena yang sama sekali tak memiliki dasar beladiri itu bisa sampai mengenai dirinya.
Antony hanya tersenyum kecut melihat Vena yang belum juga menyerah dan terus berusaha untuk menyerang nya, dengan gerakan cepat, dia pun memiting tangan wanita hamil itu dan memutarnya hingga ke belakang punggung, membuat Vena meringis seketika.
Tak tanggung-tanggung, Antony pun mendorong tubuh Vena ke arah anak buah nya dan meminta agar mereka mengurung nya di dalam penjara yang ada di bawah tanah.
Bruk...
Tubuh Vena pun langsung terhuyung dan menabrak salah seorang pria berbaju hitam itu.
"Kurung wanita merepotkan itu di di dalam penjara bawah tanah! Dan jangan beri dia makanan sedikit pun!" teriak Antony lantang.
Orang-orang berbaju hitam itu pun dengan segera menggusur tubuh Vena layaknya karung beras dengan menenteng salah satu tangannya, Vena terkejut saat merasakan tubuh nya di seret dengan sengaja oleh orang-orang itu, dia merasa sangat marah dan terus berteriak memanggil Aldo.
"Aldoo..! Aldo..." teriak Vena.
Namun Aldo tak kunjung menunjukkan batang hidung nya membuat Vena kembali menggertakkan giginya.
"Aldo..! Cepat bantu aku Aldo..! Lihatlah orang-orang gila ini terus menyeret ku Aldo! Ayo kita bicara! Kenapa kau terus diam Aldo? Cepat bantu aku!" teriak Vena menggelegar membuat orang-orang yang menyeretnya pun emosi karena suara cempreng dan juga jeleknya telah membuat telinga mereka sakit.
Plak...
Satu tamparan di layangkan oleh salah satu pria berbaju hitam itu dengan sangat keras, hingga meninggalkan jejak lima jari di pipinya.
Vena melotot sambil merasakan sakit dan juga perih, dia benar-benar merasa sangat emosi dengan tingkah orang-orang berbaju hitam itu yang benar-benar biadab dan tak berperasaan.
Bruk...
Tubuh Vena pun di lemparkan ke dalam penjara bawah yang ada di dalam markas Eagle Eye.
"Sial! Dimana Aldo?" rutuk Vena sambil terus berjalan kesana kemari mengumpat Aldo yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
__ADS_1