Ibu Cerdas Putri Jeniusku

Ibu Cerdas Putri Jeniusku
Part 31


__ADS_3

Aldo memandang tuan alexander sambil mengerutkan kening nya, pria tua itu masih saja terbengong di tempat duduknya.


Disisi lain nyonya Stella dan tuan Dimitri pun menunjukan reaksi yang sama, mulut mereka menganga dan mata nya pun melotot.


Semua orang tak ada yang percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Aldo, seolah mereka saat ini tengah bermimpi mendengar permintaan nya untuk melamar Keyra.


Tak lama kemudian, ketiga nya pun terlihat bergerak sedikit dari tempat duduknya dengan tawa yang membahana memenuhi mension milik Aldo.


Tuan Alexander tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit, dari sudut matanya setetes bening terjatuh, akhirnya pria tua itu bisa merasakan kebahagiaan di masa tuanya.


Sang cucu yang selalu bersikap dingin dan juga tak tersentuh, akhirnya mau menikah juga, pria tua itu sudah bermimpi ingin sekali mendapatkan banyak cicit dari Aldo.


Akhirnya keempat orang itu pun bercengkerama dalam damai, Aldo tak lagi mengabaikan nyonya Stella, baginya kini yang terpenting adalah Keyra dan juga Kyara bersedia menerima dirinya.


Nyonya Stella terlihat begitu bahagia saat mendengar dan juga melihat sendiri, bagaimana putra nya yang selama ini seperti kulkas berjalan itu bercerita tentang lamaran nya yang telah di tolak oleh Keyra.


Dia tentu sangat menghargai usaha dari Keyra untuk kembali mendekatkan dirinya dengan putra satu-satunya itu, walaupun dengan alasan lamaran yang formal.


Tepat jam 23:00 semua orang pun kembali menuju kamar nya masing-masing dan akan segera beristirahat, Nyonya Stella menunjukkan sebuah kotak berisi banyak sekali perhiasan yang telah dia kumpulkan selama ini untuk dia berikan pada menantunya.


Tuan Dimitri melihat sang istri menangis saat menyampaikan keinginannya itu, dia pun segera mendekati nyonya Stella dan berusaha untuk menenangkan nya.


"Papa yakin, mama pasti bisa memberikan semua perhiasan itu pada Keyra, Keyra wanita yang baik, dia pasti mau memaafkan mama" ucap tuan dimitri sambil memeluk nyonya Stella dan mengelus rambut istrinya itu dengan penuh kasih dan sayang.


Nyonya Stella membenamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya itu, ada rasa sesak di dalam hati wanita paruh baya itu, seakan dirinya merasa bahwa kotak itu tak akan pernah bisa dia berikan pada Keyra.


"Mama takut pa, bagaimana jika Keyra dan juga Ara tak bisa menerima dan juga memaafkan mama?" tanya nyonya Stella sambil mendongakkan kepala nya, menatap dalam mata suami yang telah dinikahinya selama 26 tahun.


"Ma.. Percaya sama papa, papa yakin Keyra pasti bisa melihat ketulusan mama" ucap tuan Dimitri kembali sambil menatap wajah istri tercinta nya itu.

__ADS_1


Tangan kanan tuan Dimitri terulur, mengusap air mata yang terus mengalir tanpa henti dari pipi istrinya itu.


Tuan Dimitri mengecup kening nyonya Stella dengan penuh cinta, entah kenapa sejak tadi hatinya terus saja merasa gelisah setiap kali melihat wajah sang istri yang terus bersedih.


Tepat jam dua belas malam, pasangan suami itu pun merebahkan tubuh mereka menjemput mimpi, keduanya terlihat begitu lelap sambil terus saling memeluk.


Tap...


Tap...


Tap...


Dari kegelapan, sepuluh orang berpakaian hitam bermunculan tak jauh dari mension milik Aldo. Penampilan mereka terlihat seperti seorang ninja dengan samurai terselip di punggung nya dan juga surikhen di tangan kanan dan kirinya.


Merasakan keadaan telah aman dan juga suasana semakin sunyi, kesepuluh orang itu pun langsung bergerak cepat tanpa meninggalkan suara, mereka mulai memanjat dinding rumah Aldo sambil sesekali menyelinap dari satu tempat ke tempat lain melihat situasi penjagaan yang semakin ketat.


Mereka terus bergerak dalam diam, bahkan gerakan nya terlihat begitu cepat bagaikan bayangan, mereka menerobos dengan sangat mudah dan juga tanpa hambatan sedikit pun.


Bergerak dengan cepat, sambil sesekali bersembunyi dan mulai menggelindingkan bom asap, itulah yang ke sepuluh orang itu lakukan, hingga akhirnya langkah mereka mengarah pada satu kamar besar dengan pintu berwarna coklat tua yang kokoh.


Brak...


Pintu itu pun di tendang dari luar, Tuan Dimitri terlihat begitu terperanjat saat mendengar suara pintu kamarnya di dobrak dari luar, bahkan kini sepuluh orang berpakaian serba hitam muncul di hadapannya.


Buru-buru pria itu pun membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya dan mengambil pistol, namun naas, saat dirinya hendak menarik pelatuk pistol itu, sebuah pukulan telak mengenai tangan nya hingga suara tulang berderak pun terdengar.


Kratak...


Krak...

__ADS_1


Lengan tuan Dimitri di buat patah hanya dengan satu pukulan saja, sedangkan pistol yang tadi berada di tangannya kini telah terlempar jauh ke dekat kaki salah seorang dari pria berbaju hitam itu.


Mata tuan Dimitri di buat melotot tak percaya melihat kekuatan dari pria berbaju hitam itu, sedangkan nyonya Stella mulai terusik dari tidur nya dan segera bangkit sambil memperhatikan ruangan kamarnya yang kini tengah di datangi sepuluh orang pria berbaju hitam.


Dengan cepat, salah seorang pria berbaju hitam itu mendekat ke arah tempat tidur nya, dan langsung menjambak rambut nyonya Stella dan menyeret nya keluar dari kamar.


Sedangkan pria yang lain langsung mengambil pistol dan langsung menembakkan pelurunya menuju tuan Dimitri.


Dor...


Dooor...


Untung saja tuan Dimitri bergerak dengan cepat hingga peluru itu tak mengenai badannya, tapi tembakan kedua tak bisa dia hindari sepenuhnya, hingga akhirnya menembus bahu pria separuh baya itu dan langsung tersungkur di lantai.


Kesepuluh orang itu pun langsung pergi meninggalkan mension milik Aldo setelah menyelipkan sepucuk surat di samping kanan tuan Dimitri yang saat ini tengah pingsan.


"Ayo.." aba-aba dari seorang pria berbaju hitam yang langsung melesat keluar di ikuti oleh kesembilan orang anggotanya dan juga nyonya Stella yang saat ini tengah pingsan dan di gendong di bahu salah seorang pria berbaju hitam, seperti sedang memanggul karung.


Bom asap yang di gelindingkan oleh kesepuluh orang tersebut ternyata mengandung obat tidur, hingga membuat seluruh penghuni mension itu pun tak bisa menahan kantuk dan terlelap di tempat mereka masing-masing.


Keesokan harinya, para pelayan berteriak histeris melihat pintu kamar tuan Dimitri terbuka, apalagi keadaan pria itu yang telah terkapar di lantai dengan darah yang membanjiri tubuh nya.


Dengan cepat, para pelayan itu pun memberitahukan hal itu pada Aldo maupun tuan Alexander, bahkan salah satu dari mereka kini telah memanggil dokter pribadi Aldo untuk merawat tuan Dimitri.


Tap...


Tap...


Tap...

__ADS_1


Aldo melangkah setengah berlari menghampiri papanya yang tengah sekarat karena kehabisan banyak darah.


__ADS_2