
A*tas nama cinta, kuserahkan seluruh dunia ku padamu,
Atas nama kasih kurelakan hidupku padamu,
Karena aku tak akan pernah bisa menjalani hidupku tanpa dirimu
__________________
**Keyra Attala Haryanto***
bagaimana bisa seorang Julian Attapasha mencintai ku, bahkan memohon - mohon cinta padaku
padahal yang aku dengar dari orang-orang, Julian adalah duda beranak satu tapi menjadi incaran para wanita
banyak gosip beredar kalau dia memiliki banyak kekasih dan selalu bergonta ganti pasangan, bahkan para artis yang sedang naik daun juga pernah berada disisi nya
siapa yang tidak kenal Julian Attapasha, selain karirnya didunia politik dia juga merupakan salah satu pengusaha perkebunan kelapa sawit, belum lagi usaha mebel barang antik yang di expor kebeberapa negara
tidak-tidak pipiku memerah mengingat ciuman hangat kami dan aku merasa telah mengkhianati Jonathan
'maafkan aku Jo, aku mencintaimu' batinku
drttttt... drttttt..
kuraih ponsel yang ada disaku celana ku
*my love calling*
senyum ku mengembang ketika melihat siapa yang menelepon ku
"assalamualaikum halo sayang" sapanya dari seberang telepon
"waalaikumsalam Jo, sudah makan Jo" tanyaku
"belum sayang, aku baru sampai rumah"
"jangan lupa makan Jo" perintah ku lagi
"iya sayang ku, cinta ku"
"maaf non tuan Julian meminta saya untuk memanggil nona turun makan malam" kudengar suara seorang perempuan paruh baya memanggil ku
dia tampak terkejut melihat ku sedang telepon, yang kemudian menutup mulutnya dengan tangan
"maaf non saya tidak tahu kalau nona sedang telepon" ucapnya lirih
"tidak apa bi, sebentar lagi aku turun" titah ku
yang kemudian mendapat anggukan dari nya lalu pergi meninggalkan ku di kamar Nanda
"kenapa ada Julian sayang, kamu dimana" tanya Jonathan dengan suara cemburu nya
"aku dirumah Julian sayang, Nanda anaknya sakit dan gak mau makan kalau buka. aku yang nyuapin"
"itu akal-akalan nya Julian biar bisa dekat dengan mu key, pulang sekarang key, aku gak mau kamu lama-lama dirumah Julian" titah nya tak ingin dibantah
"iya sayanku aku akan pulang, lagipula Nanda sudah tidur"
"ya sudah.. hati-hati sayang, i love you" suara Jonathan diseberang
"iya sayang i love you to, assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawabnya
"maaf mas lama"
"hmmm.. tak apa, duduklah ayo makan dulu, setelah itu aku antar kamu pulang" jawabnya
ketika aku sampai diruang makan bersama nya
belum selesai makan aku dengar teriak kan Nanda dari kamar
segera aku berlari naik menuju kamar Nanda kulihat wajahnya penuh dengan keringat sedangkan baby sitter nya berusaha mendekat untuk mengelap keringat
bukan hanya marah Nanda berusaha meraih benda apapun disebelahnya untuk dilempar kan ke arah baby sitter nya
"Nanda mau Bu guru cantik bukan bibi" teriaknya lagi
segera kuraih mainan mobil-mobilan ditangannya yang siap ia lempar ke baby sitter nya, ternyata kalah cepat dengan lemparannya dan malah mengenai dahulu saat berusaha menghalangi agar tidak kena baby sister nya
"auww..." teriakku, membuat Nanda terkejut karena merasa bersalah telah melempar secara sembrono dan sembarangan
"Bu guru cantik masih dirumah nanda" tanyanya
__ADS_1
"iya sayang, Bu guru kan janji jagain Nanda"
"bawa kesini Bu handuknya biar aku saja"
mendapat anggukan dan segera dia mengulurkan handuk kecil di tangan nya
"kenapa marah-marah sih" tanyaku lembut sambil melap keringat diwajahnya
"ganti baju ya sayang, lihat nih basah semua kan" kubujuk lagi dengan perlahan kulepas baju dan celana tidur nya
"bibi ambilkan baju untuk Nanda"
"iya non" sambil melangkah menuju lemari, mengambil baju kemudian memberikan nya padaku
"maaf Bu guru, Nanda gak sengaja" ucapnya dengan penuh penyesalan
"Bu guru dahinya berdarah" teriak Nanda seketika
"key.. dahimu berdarah biar kuobati, bibi ganti baju Nanda
"sudahlah mas nanti dulu biar kuselesai kan mengganti baju Nanda dulu baru nanti diobati"
"gak bisa key, darahnya makin banyak mengalir" teriak Julian lalu menarikku paksa
"lihat kan hasil perbuatan kamu nak, Bu guru jadi berdarah, gimana kalau bu guru pingsan kehabisan darah" teriak julian memarahi Nanda
"mas.. aku gak apa-apa, jangan teriak dan memarahi Nanda, dia masih sakit" teriakku tak mau kalah
"maaf sayang" sekita dia sadar telah memarahi anaknya, kemudian mendekat dan mengusap kepala Nanda
"ganti baju sama bibi ya, papa ngobatin Bu guru dulu. jadi anak penurut.. ok" titahnya lagi
"iya pa.. maafin Nanda"
"hmm.. anak papa memang pintar"
"ayo key aku obatin dulu" dibawanya aku keruang kerja nya tadi
dengan cekatan dia mulai mengoleskan obat merah serta menutup lukaku dengan perban
"apakah sakit" tanyanya
"hmmm... nyeri" jawabku jujur
"maafkan kelakuan Nanda, gak biasanya dia marah seperti itu"
"sudah kan mas, ayo kembali ke kamar Nanda lagi, dia pasti menunggu, ingat jangan memarahinya apalagi menghakimi soal dahi ku" ucapku memberi peringatan
"iya" jawabnya kemudian sekilas mencuri kecupan singkat dikeningku
kemudian berlalu mendahului ku sebely mendapat protes dariku
"tuh kan murid Bu guru sudah rapi lagi, coba ibu guru cium wangi gak ya" tanyaku kemudian mendekat untuk mencium pipinya
"kok bau asem ya" ledekku
seketika Nanda memanyunkan bibirnya
"hahahaha... Bu guru bercanda sayang"
langsung senyum ceria di wajah nya
"tidak terlalu panas lagi, gimana mas perlu dibawa ke Rumah sakit, tadi dokter ada pesa. apa"
"kalau masih tinggi panasnya disuruh bawa ke rumah sakit"
"menurut mas gimana baiknya"
"gak perlu kayaknya" sambil menarik termometer diketiak Nanda
"38.15... biar dirumah saja, daripada mendengarkan dia menangis gak berhenti- berhenti" ucapnya lagi
"ya sudah kalau begitu aku pamit pulang"
"Bu guru cantik mau pulang" tanya Nanda padaku
"iya sayang Bu guru harus pulang, kasian nenek nungguin Bu guru"
"Bu guru bobok dirumah Nanda sekali ini saja ya" pintanya
"sekali saja Nanda mau tidur ditemani Bu guru" rengeknya lagi
"ya sudah, malam ini aja ya, kamu harus cepat sembuh dan gak boleh mogok makan lagi, nanti Bu guru marah, pergi ninggalin Nanda"
__ADS_1
"iya Bu guru Nanda janji makan yang banyak"
"bener ya makan yang banyak, mas... " belum selesai aku berucap ternyata baby sitter nya sudah membawa nampan berisi makanan
"woww... bubur bayam, wortel dan brokoli, eh ada telur rebus juga lo" seruku semangat
"mau Bu guru suapin" ucap ku menawarkan bantuan
setelah mendapat anggukan segera dia membuka mulutnya lebar-lebar
kusuapi dengan telaten, hingga benar-benar habis bubur di piring, kemudian memberikan nya obat
"key kamu gak mandi dulu" tawar Julian
"hmmm... aku gak bawa ganti baju" jawabku
"nanti ku cari bajuku mungkin ada yang agak kecil"
"baiklah.. sayang Bu guru mandi dulu ya, UMM.. Bu guru bau asem" pura-pura aku menutup hidung ku dihadapan nya, mendapat kan tawa cekikikan dari Nanda
"hahahaha... Bu guru cantik belum mandi jadi bau asem juga kayak Nanda" tawanya
"ya udah Bu guru mandi dulu ya" segera ku beranjak dari tempat tidur nya
"mandi dikamar ku key, sekalian ambil baju"
"ok"
segera ku ikuti Julian menuju kamarnya
"kamu pilih aja sendiri bajunya, yang bagian bawah seperti nya lumayan kecil" titahnya
"aku kembali ke kamar Nanda dulu"
"iya mas"
segera kupilih kemeja lengan panjang, kebesaran sih tapi ini paling kecil, lalu memilih boxer yang ada talinya
segera aku masuk kekamar mandi, kemudian mandi singkat ala bebek kwek-kwek
hahahaha..
________________
Julian Attapasha
setengah jam di kamar Nanda, anakku mulai rewel menanyakan keberadaan ibu guru cantik nya
"papa kok Bu guru lama mandinya"
"iya papa susulin kalau gitu
segera aku kembali ke kamar ku lagi memastikan keyra baik-baik saja
ku buka pintu kamar ku, kulihat dia duduk disofa malas ku sedang menelepon nenek meminta ijin menginap dirumah ku, kudengar ada perdebatan dengan menyebut ma Usu. mungkin ma Usu tidak setuju kerya menginap dirumah seorang duda
"hai mas.. maaf lama" serunya
"gak apa-apa kenapa? nenek tidak memperoleh kan mu menginap"
"oh.. boleh kok, cuma ma Usu tadi sebenarnya tidak sety tapi setelah kujelaskan barulah dia memperbolehkan" jawab ku cepat
kulihat keyra berdiri dengan kemeja putih milikku, kebesaran hingga hampir selututnya kemudian bagian lengan dia menggulung nya banyak-banyak
sedangkan celananya kulihat boxer dengan tali.
cantik dan imut, membuat darah lelakiku bergairah, apalagi kulihat pucuk nona kembarnya yang tidak memakai bra
segera kutarik lengannya hingga jatuh kepangkuan ku belum selesai keterkejutan nya, sudah kulumat bibir manis miliknya
dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan, kedua tangan nya dipukul kedada ku untuk menghindar
dengan cepat ku pegang kedua legannya dengan satu tanganku
kutarik dia menuju kasur ku, kubuka kancing kemeja bagian atasnya hingga menyembulkah dua bukit kembar miliknya yang benar-benar tidak memakai bra sehingga memudahkan ku kecup dan kukulum seperti bayi yang kehausan
dia mendesah disela-sela kemarahan nya
tubuhnya makin menegang ketika kusentuh bagian luar dari area paling sensitif nya.
"mas lepaskan, jangan mas kumohon, lepasin" teriaknya frustasi, bukannya melepas kannya malah dengan gerakan melawan nya menambah nafsu ku menjadi makin panas
"ku mohon mas lepaskan aku" tak kupedulikan tetesan air mata nya
__ADS_1
"mas Julian.. sadar mas, kumohon"
"jika mas bertindak lebih maka aku akan membenci mas seumur hidup ku, dan jangan harap mas melihat ku lagi seumur hidup mas" teriak nya frustasi