Ibu Guru Cantik "I Love You"

Ibu Guru Cantik "I Love You"
Tujuh puluh tujuh


__ADS_3

Vava menyesal dengan ucapannya, bagaimana bisa dia mengatakan ingin melupakan sang Abang, bagaimana bisa dia mengatakan kalau dia berhasil melupakan sang Abang, pantas saja abangnya marah.


Vava menangis sendiri dikamar, menyesali semua perkataan yang sudah ia keluarkan dan diucapkan nya pada Jaka. Ia mendengar suara pintu depan dibuka, ia yakin Abang nya pasti pergi keluar. segera ia berlari keluar kamar untuk mengejar Abang nya.


dilihat nya pintu lift sudah tertutup, dia pun berlari mengejar lewat tangga berharap bisa mengejar Abang nya dan meminta maaf.


ia terlambat sampai diparkiran abangnya sudah tidak ada, dengan langkah gontai ia berjalan kembali ke kamar.


sampai dikamar barulah ia merasa perih dikaki, ia lupa tak memakai sandal ketika keluar kamar, dan ia menginjak pecahan beling vas bunga yang dibanting Jaka, ternyata banyak jejak darah berbentuk telapak kakinya.


ia berusaha untuk menelpon namun ternyata handphone sang Abang berada disofa kamar nya. berkali-kali Vava membodoh bodohi dirinya sendiri, ia pun menghubungi om jacob namun ternyata om Jacob dirumah dan tidak mengetahui keberadaan Jaka, ia pun menelpon cafe black, nomor yang baru saja ia dapat kan dari om Jacob. ternyata abangnya juga tidak ada disana.


____________________________________________


"bel bawalah Jack masuk ke apartemen nya, aku angkat telepon dulu" pamit Felix pada Belevia. Belevia pun memapah Jaka, ia mengetuk pintu apartemen milik Jaka, lama barulah pintu dibuka oleh Vava.


"Abang.. apa yang terjadi pada Abang Jaka, kak?" tanya Vava, "maaf aku tidak tau yang kudengar dia meracau memanggil namamu" jawab Belevia.


Vava pun membantu Belevia memapah Jaka menuju kamar nya. "dengarkan aku val, aku tidak tau apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi ku harap kamu bisa menjaga hatinya, dia begitu terluka, bisa kulihat dia begitu menyayangi mu. dulu kamu berhubung tapi dia tak pernah memberi ku perhatian, ia memperlakukan ku sama seperti teman-teman lainnya, bukan layaknya perhatian kepada pasangan, aku merasa aku menjadi tameng untuk nya agar tidak didekati para mahasiswi di kampus kami. jadi jika kamu memang tidak bisa menjaga hatinya jangan salahkan aku, bila aku merebutnya kembali. karena hingga kini belum ada kata berakhir diantara kami.


Belevia pun meninggalkan Vava dikamar Jaka , ia pun berjalan ke arah ruang tamu menunggu Felix.


"dimana Jaka? apa dia dikamar" tanya Felix pada Belevia ketika masuk apartemen Jaka. "dia bersama adiknya, sebaiknya kita pulang sekarang" ucap Belevia kemudian beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"ok... tunggu lah sebentar aku akan berpamitan pada Valen" ucap Felix "terserah, aku tunggu kamu diparkiran" jawab Belevia ketus kemudian pergi keluar dari apartemen Jaka.


Felix pun menghela nafas panjang, "aku kira kamu sudah melupakan Jaka, ternyata kamu masih mengharapkan Jaka" batin Felix


"hai Val, bagaimana keadaan nya" ucap Felix ketika masuk kamar yang ditempati Jaka.


"kak Felix ada disini" tanya Valen


"aku bersama bele, tapi aku tadi mengangkat telepon dulu, jadi bele mengantar Jaka lebih dulu" jawab Felix " maaf kan aku Val, aku tidak bisa menghentikan nya, tidak biasanya dia se kacau ini, apa yang terjadi?" tanya Felix


Vava menatap wajah Felix kemudian menunduk kembali menatap wajah abangnya.


"ya sudah lah, aku tidak memaksa mu bercerita sekarang, aku hanya berpesan cobalah mengerti diposisi Jaka juga, Jaka adalah teman yang paling baik yang aku kenal seumur hidup ku ini, bicara lah baik-baik" ucap Felix


"akau pamit pulang dulu, telpon lah aku bila ada apa-apa" Felix pun meletakkan kartu namanya ditangan Valen. kemudian ia pun beranjak pergi berjalan keluar kamar.


___________________________________________


Vava pun kembali duduk di tepi ranjang, perlahan ia lepaskan pegangan tangan sang Abang, ia pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Jaka, dan memeluk tubuh abangnya, ia pun ikut terlelap.


Pagi hari Jaka terbangun ia merasa kepalanya begitu pusing dan berat, tangannya terasa kram, ia mendengar suara nafas beraturan disampingnya. ternyata adik perempuan nya tengah tertidur pulas. Jaka pun tersenyum ia mencium pucuk kepala Vava, terus memandangi wajah cantik adiknya.


Vava pun membuka matanya "good morning dear" ucap Jaka, Vava pun tersenyum ia mencium bibir Jaka "morning kiss" ucap Vava, "ternyata calon istri ku bisa bersikap manis" ucap Jaka, ia mengernyit kan dahinya.

__ADS_1


"pusing" tanya Vava, jaka mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum.


"makanya jangan cari penyakit" ucap Vava, Jaka hanya nyengir menanggapi ucapan ko adiknya. Vava pun mengambil air putih diatas nakas yang sudah ia siapkan semalam lalu menyerahkan pada Abang.


"aku buatkan teh jahe kata teman teman itu dapat membantu menghilangkan efek Hangover" ucap Vava ia pun segera beranjak berdiri sebelum bangun dia sudah ditarik Jaka kembali, Jaka pun memeluk nya dari belakang " i'am sorry dear" Vava hanya mengangguk kemudian melepaskan pelukan jaka, ia berlalu meninggalkan Jaka memuji dapur untuk membuat teh jahe.


Selesai membuat teh jahe, ia melihat Jaka sudah duduk dikursi makan, wajahnya sudah segar sehabis mandi


"Abang minumlah, aku mau mandi dulu" ucapku. "terima kasih dek" jawab Jaka. Vava pun segera berlalu menuju kamar nya, ia ingin melaksanakan ritual mandinya.


Ia berusaha untuk tidak mengabaikan Jaka, namun setiap berbicara pada Abang nya ia merasa canggung, ia akui dia masih sedikit kecewa dengan tanggapan enteng sang Abang tentang pernikahan, seolah hal tersebut masalah sepele.


Vava terkejut melihat Abang nya sudah berada di dalam kamar nya dan duduk ditepi ranjang milik nya. Vava mengambil baju dilemari nya kemudian kembali masuk ke kamar mandi tanpa melihat kearah sang Abang. Jaka hanya menarik nafas panjang.


"mau kuliah" tanya Jaka, melihat Vava keluar kamar mandi dengan pakaian rapi.


"iya" jawab Vava singkat, ia pun berjalan kearah meja rias, untuk menyisir dan mengeringkan rambut nya. Jaka mendekat ia mengambil alih hairdryer dari tangan vava dengan telaten ia mengeringkan rambut Vava


Jaka melihat kearah cermin dimana ada pantulan wajah Vava yang terlihat melamun. "maaf dengan kelakuan Abang semalam" ucap jaka.


"aku yang harus nya minta maaf dengan perkataan ku kemarin" balas Vava.


"apa memang hubungan ini masih bisa dilanjutkan" tanya Vava, "apa benar sudah tidak ada wajah sang Abang, apa benar sudah tidak ada cinta, sedangkan semalaman melihat abangnya bersama wanita lain ia tidak rela.

__ADS_1


vava menggelengkan kepalanya berkali kali. Jaka pun menangkup kedua belah pipi Vava.


"bilang dek kalau sudah tidak ada cinta lagi dihati kamu, maka Abang akan berusaha untuk melepaskan dan melupakan mu, meskipun rasanya tidak mungkin bisa" ucap Jaka. tumpah lah air mata Vava yang ia tahan sejak tadi, entah siapa yang memulai kini mereka sudah berciuman, hingga nafas mereka hampir habis.


__ADS_2