
Percaya dan yakinlah bahwa seluruh hidup dan dunia ku hanya tertuju padamu
____________________
Keyra Attala Haryanto
*assalamualaikum..halo mas Julian ada apa?* tanyaku ditelpon
*waalaikumsalam.. maaf key aku ganggu bisa gak kamu kerumah Nanda panas manggil manggil nama kamu terus* jawab Julian dari seberang telepon
*atau kamu mau aku jemput key* tanyanya lagi memohon
*nanti aku kesana sendiri mas, mas jagain Nanda aja
"ya sudah. assalamualaikum"
"siapa sayang" tanya Jonathan
"Julian papanya Nanda"
"ada apa lagi"
"nanda panas dia minta aku datang kerumahnya"
"dia papanya emang gak bisa apa ngurus anaknya" ketus Jonathan
"tapi Nanda manggil aku terus sayang" kucoba merayu agar dia mengerti
"tiap sakit kenapa harus kamu yang ngurusin, kamu tu cuma gurunya, cukup disekolah aja kalau dirumah bukan urusan kamu lagi key" bentak Jonathan
"Jo... kamu apa-apaan sih, inikan cuma anak kecil minta perhatian aku aja"
"bukan anaknya tapi bapaknya itu key, dia itu suka sama kamu , makanya manfaat in anaknya buat dekatin kamu"
"Jo cukup, mau dekatin seperti apapun aku tetap milik kamu"
"tapi aku gak suka, ok.. cukup sekali ini aja, selanjutnya aku gak akan pernah ijinan kamu ngurusin anak orang diluar jam kerja kamu"
"sayang jangan jadi egois dong" kupeluk erat tubuhnya untuk membuat nya tenang.
kalau sama-sama meninggikan ego yang ada malah berantem, aku harus banyak mengalah
"bukan egois sayang, perasaan ku gak pernah tenang kalau kamu sama orang itu"
"sekarang kan ada kamu, mau antar kan" tanyaku lirih
"iya udahlah ayo aku anter"
"nah gitu dong, senyum dulu" kukecup bibir nya sekilas
"nempel doang gak asik" ditariknya lagi Tengkuk ku, mulai lagi dengan cumbuan panas nya
"ahhh... Jo lepasin. matilah aku" dicubit nya pipiku
"gemes deh" ucapnya
"ketahuan nenek baru tau rasa" ucapku
"nenek udah tidur, lagipula nenek kan nyuruh aku tidur disini, gak bolehin aku balik ke kota tidur dihotel" jawabnya
"ah udah, keburu malam kasian Nanda, aku ke kamar nenek dulu pamit"
"hmmm.."
ceklek... kubuka pinta kamar nenek yang memang tidak pernah dikunci, atas saran anak-anaknya.
"nek..." ku usap perlahan kakinya agar tidak terkejut
"nek.. nenek"
"hmm.. ada apa cu"
"maaf key gangguin tidur nenek, key pamit kerumah mas Julian, Nanda anaknya panas, dan sekarang butuh Rara disana"
"ya sudah hati-hati, jangan terlalu dekat dengan Julian cu, cukup ke anaknya saja, kasian calon suami kamu"
"iya nenekku sayang, Rara kesana sama Jonathan kok nek, ya udah nenek lanjut tidur lagi, key bawa kunci sendiri"
"hati-hati cu"
"iya nek
"ayo sayang" ajakku ke Jonathan yang masih duduk diruang keluarga
"cium dulu buat semangat" jawabnya
"tadi kan udah jo, ayolah keburu malam sayang"
__ADS_1
ditarik nya pinggang ku hingga aku duduk dipangkuan nya, dengan cepat dilumatnya bibirku mengulum, menyesapnya, bermain diantara gigi dan lidah kami yang saling bertautan
tangan nakalnya mulai menjalar ke dua bukit kesayangan nya, bermain disana, entah kapan tiga kancing baju tidur ku sudah lepas, dan Jonathan yang makin menggila dengan nafsu nya, mulai .... disana seperti seorang bayi yang kehausan. yang membuat ku mendesah menahan nafsu ku yang ikut memuncak
tangan nya mulai turun kebawah bermain diantara rumput liar yang tertata rapi karena sering kupangkas 😝😝 (panas dingin author nulis bingung)
"kamu sudah basah sayang, lanjut dikamar" ucapnya
bukan menolak karena nafsuku yang sama-sama sudah memuncak aku hanya mengangguk kan kepala ku
segera diangkat nya tubuhku dengan dua kakiku yang masih dipinggang nya
sampai dikamar kami melanjutkan aksi panas kami
"uhhh... Jo kita mau kerumah julian, kamu sih"
"kenapa mau lagi, mau berapa ronde" godanya
"udah lemes Jo, minggir aku mau mandi dulu"
"ayo mandi bareng"
"gak mau"
memang dasar Jonathan belum sempat aku berdiri dengan cepat digendong nya aku kekamar mandi, bukan Jonathan namanya kalau mandi berdua sebentar tetap ada lanjutan ronde berikutnya.
hingga aku kedinginan barulah ritual mandi bersama kami selesai
"Jo lihat kan udah jam 10 malam"
"ya udah ayo berangkat, trus pulang lanjut lagi"
"dasar mesum"
"hahahaha... kamu nya juga suka kan"
"permisi bi, maaf kemalaman gimana Nanda masih panas bi" tanyaku ke bibi yang membukakan pintu
"eh.. tuan muda sedang tidur"
"oh.. pak Julian dimana?"
"ada diruang kerjanya Bu guru"
"ya udah saya ke kamar Nanda dulu ya bi"
"iya Bu guru"
"mungkin obatnya sudah bekerja jadi suhu badannya normal lagi"
"kita pulang aja sayang, ngapain juga disini" ucap Jonathan kesal
"ya udah aku cari Julian dulu
---------------
tok..tok..
"masuk" seru Julian
"maaf tuan ibu gurunya Nanda sudah datang"
"oh ya... makasih bi, dimana dia sekarang"
"dikamar tuan muda, tuan"
"ya sudah sebentar lagi aku kesana"
---------------
"bibi, mas Julian ada dimana?" tanyaku
"masih diruang kerja Bu guru"
"ya sudah saya kesana, mau pamit an, Nanda gak panas lagi badan nya"
"iya Bu guru" memangnya badan tuan muda panas batin bibi, ya sudahlah untung Bu guru bersama seorang pria juga semoga tidak apa-apa
---------
tok..tok...
"masuk.. ada apa lagi Bi"
"permisi maaf mas ganggu"
"hai key, maaf menunggu ada kerjaan harus kuselesai kan sebentar lagi"
__ADS_1
"hmmmm..." akupun duduk di kursi depan meja kerjanya
"maaf ya key jadi menunggu"
"gak apa-apa mas, Nanda sudah gak panas kan"
"o ya.. sukurlah, tadi aku tinggal soalnya ada kerjaan penting"
"ya sudah mas, maaf kalau aku ganggu,mas lanjut in aja kerjaan mas aku pulang dulu"
"tunggu key" ucapnya berdiri dari duduknya
"ada apa mas"
"aku merindukan mu" dengan cepat dia menarik tubuhku hingga berada dalam dekapan nya
"lepasin mas, aku akan segera menikah, dan calon suami ku sekarang ada dirumah ini"
"aku gak peduli" ucapnya
"apapun yang kuinginkan harus aku dapatkan dengan cara apapun dan saat ini aku menginginkan mu" dengan kasar dilumatnya bibirku.
segera kugigit bibirnya hingga terlepas ciumannya
"lepasin aku mas" sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri dari pelukan nya
"kalau mas gak lepasin aku akan teriak"
"JOOO.. " sekuat tenaga aku teriak namun langsung dibungkam mulut ku dengan tangan nya
"ok..ok.. sayang aku lepasin kamu tapi jangan teriak lagi" ucapanya menyerah
"kamu gila mas"
"minggir" kudorong tubuh nya segera setelah ia melonggarkan pelukannya
"aku pamit, ini untuk yang terakhir kali, urus anakmu dengan benar, bagaimana pun kamu papanya, harusnya kamu lebih faham dengan sifat Nanda, jadi gak perlu batuanku, dan jangan ganggu aku lagi permisi"
segera aku keluar dari ruang kerja nya
kucari Jonathan terdengar suaranya sedang mengobrol dengan bibi, ternyata ada dibawah diruang tamu
"ayo Jo kita pulang, maaf bi, kami permisi pulang dulu"
"ah.... iya Bu guru, besok kalau tuan muda bangun, saya akan bilang kalau ibu guru semalam datang kerumah"
"iya Bu terima kasih, ayo Jo kita pulang"
"maaf bi, kami pamit pulang"
"iya den Jo, hati-hati dijalan"
---------------
"ada apa sayang, dari tadi kok cemberut"
"gak apa-apa Jo"
"diapain Julian" tanya Jonathan lagi
"gak apa-apa sayang"
"Jo.. kayaknya mobil dibelakang ngikutin kita terus deh"
"iya aku tau, dari keluar rumah Julian tadi mobil itu mengikuti kita"
"Jo... awassss"
bruuuakkkk... suara tabrakan mobil yang kami tumpangi dengan truk didepan yang langsung menghadang dengan memotong jalur kami
spontan Jonathan merangkulku melindungi nya
"Jo.. Jo bangun sayang"
kuraba kepala nya darah mulai mengalir banyak pecahan kaca menancap dikepala dan punggung nya
segera ku aktifkan alarm bantuan dijam tangan Jonathan
karena semua jam tangan Jonathan dimodifikasi dengan alarm dan sinyal pelacak, yang dipasang papi Sebastian, untuk melindungi putra semata wayangnya putra kesayangannya.
"ya Allah semoga ada sinyal disini, Jo bertahan sayang"
bau anyir dari darah semakin membuat ku mual dan pusing, mataku mulai berkunang-kunang, kurasakan ada yang menggendong ku, apa ini Jonathan, tidak mungkin Jonathan pingsan.
kudengar sayup-sayup suara bentakan seperti suara Julian, tapi untuk apa dia disini
menolong ku kah?
__ADS_1