
kediaman keluarga Julian
"Oma.. Nanda mau ketemu papa" ucap Nanda pada Oma nya, nyonya Marlina ibu kandung julian
"papa masih masih diluar kota sayang" ucap Marlina
"kenapa lama Oma, kalau gitu Nanda mau ketemu ibu guru cantik deh" ucap Nanda lagi
"eh.. ibu guru Cantik, kan udah pindah sayang, jadi gak bisa datang dong" ucap Marlina lagi
"kenapa sih semua nya benci nanda, gak ada yang sayang Nanda" ucapnya dengan air mata yang mulai mengalir
"gak ada yang benci Nanda sayang, semua sayang sama Nanda" hati Marlina terasa perih teriris iris, ibarat luka yang tersiram air garam
tangisan cucunya begitu menyakitkan
kenapa jadi seperti ini nak, batin Marlina
ia bahkan bingung bagaimana bisa anak laki-laki satu-satunya bisa bernasib seperti dia, selalu gagal dalam menggapai cinta
ingatan Marlina kejadian 30 tahun lebih dimana saat dia jatuh cinta pada seorang laki-laki sederhana, tampan, penyayang dan sabar.
Marlina benar-benar jatuh cinta pada laki-laki tersebut, dia guru adalah baru yang ditugaskan didaerahnya nya
guru muda yang sangat tampan, menjadi incaran siswi-siswi di SMA nya
pada waktu kelas 3 diawal tahun semester kedua ada kegiatan Pramuka, di daerah lapangan dekat perkebunan kelapa sawit milik keluarga nya
di sanalah kisah cinta mereka bersemi, Marlina yang notabene nya anak manja, galak dan tidak pernah takut apapun, mungkin karena dari keluarga yang kaya jadi apapun keinginan selalu terpenuhi.
saat malam tiba sekitar jam 10'an Marlina diminta tolong seorang guru untuk menemani beberapa murid kelas 1 yang ingin buang air kecil ke sungai yang dekat dengan perkemahan mereka.
segera Marlina mengantar anak-anak tersebut ke tepi sungai, pada saat akan pulang kebetulan Marlina sedang membenahi tali rambut nya sehingga senter yang dia bawa diberikan kepada anak-anak lainnya
selang beberapa saat ada suara grok grok
yang semakin mendekat, ternyata ada **** hutan yang tersesat, langsung anak-anak yang berjumlah 5 orang tersebut lari pontang-panting meninggal kan Marlina
sebenarnya **** tersebut masih anakan jadi tidak galak, segera Marlina giring **** tersebut pergi menuju ke dalam perkebunan kelapa sawit, agar menuju hutan yang ada diujung perkebunan kelapa sawit
Marlina akhirnya kebingungan karena terlalu jauh masuk kedalam perkebunan, suasana yang gelap membuat dia tidak bisa melihat sekitar, mungkin bila siang dia hafal tempat tersebut, karena sering bermain-main disana bersama beberapa anak-anak pekerjaan perkebunan kelapa sawit milik keluarga nya.
kelima anak yang sudah sampai di perkemahan terkejut mengetahui bahwa Marlina tidak bersama mereka apalagi senter Marlina mereka bawa, pasti Marlina bingung mencari jalan
akhirnya mereka melaporkan kejadian tersebut ke pihak guru
para guru kemudian berpencar dengan berkelompok mencari Marlina
"pak guru bagaimana ini pak" tanya seorang muridnya pada guru yang mereka ikuti, salah satu murid nya ada yang terluka kakinya menginjak ujung pohon bekas ditebas, hingga mencap ke kaki, sebenarnya tidak berdarah hanya memar tapi membuat murid tersebut berjalan pincang
__ADS_1
"sebaiknya kalian kembali ke perkemahan biar bapak yang melanjutkan mencari teman kalian yang hilang" ucap guru tersebut
"lalu bapak bagaimana"
"saya akan cari sendiri, sesuai kesepakatan kalau teman kalian sudah ketemu jangan lupa buat sandi 2..1.. ok"
"baiklah pak"
setelah kepergian murid-murid tersebut dia kembali berjalan kedalam perkebunan, menyusuri pinggiran sungai hingga masuk kedalam perkebunan
sayup-sayup terdengar suara minta tolong disebelah kanannya, segera dia berjalan mendekat, ternyata murid yang hilang tersebut terjatuh kakinya terkilir
"Marlina" ucap nya
"pak guru" betapa senang hati Marlina melihat wajah guru tampan didepannya, guru yang membuat Nya jatuh cinta
segera guru tersebut mendekati Marlina
"kaki ku sakit pak gak bisa berdiri" ucap Marlina
"sini bapak liat" ditariknya pelan-pelan kaki Marlina, kemudian dilepas sepatu serta kaos kakinya
"kayaknya terkilir deh" sebentar bapak kasi kode dulu ke teman-temanmu dan guru kalau kamu sudah ketemu
segera guru tersebut membuat senter menyala dua kali cepat lalu memberi jeda satu kali, begitu seterusnya hingga 3x
"ni kamu pegang senternya, biar kamu bapak gendong, bisa naik ke punggung saya" ucapnya
segera guru tersebut mengangkat tubuh Marlina mengendong nya ala bridal
"maaf kalau saya tidak sopan" ucap guru tersebut
jantung Marlina seperti akan meledak berdekatan dengan guru yang ia kagumi dan diam-diam dia cintai
perlahan Marlina mengalungkan tangannya dileher guru tersebut
entah alam yang tidak berpihak atau malah berpijak pada mereka
hujan tiba-tiba turun, hingga mereka basah kuyup, senter yang tadinya menyala terang tiba-tiba mulai meredup dan kehabisan daya
"ahh... pak hujan, dan ini juga kenapa senternya ikutan mati" jerit Marlina
baru saja hatinya senang karena yang menemukan nya adalah guru kecintaan nya
sekarang malah hujan senterpun ikutan mati
lengkap sudah penderita mereka
sudah terlanjur basah kuyup, tersesat bukan keluar malah makin masuk kedalam perkebunan, hingga mereka menemukan pondok tempat para pekerja perkebunan istirahat siang hari
__ADS_1
"Alhamdulillah paling tidak kita dapat tempat berteduh" ucap guru tersebut
mereka kemudian masuk kedalam pondok tersebut, gelap gulita benar sekali, Marlina Ingat pondok ini letaknya paling ujung dekat dengan hutan, berarti ada senter disini batin merlina
kebetulan waktu Marlina digendong masuk kakinya menyenggol bagian pinggir meja hingga membuat benda diatasnya jatuh.
"Alhamdulillah ada senter disini" ucap guru tersebut ketika tersandung senter yang jatuh
segera dinyalakan senter tersebut, kemudian menidurkan Marlina diatas dipan yang hanya beralaskan tikar
"kamu kedinginan, ini ada kain Jarit seperti nya bersih" ucap gurunya dengan mencium bau kain tersebut masih bau sabun cuci
"lepas aja bajunya pake kain ini" ucapnya
membuat Marlina melongo
"tenang saja saya gak akan mengintip" ucap gurunya lagi
segera setelah gurunya membalikkan badan Marlina melepaskan semua baju yang menempel di badan nya kemudian membungkus tubuhnya dengan kain tersebut
"emm... sudah pak" ucap Marlina
segera gurunya berbalik menatap nya lagi, guru tersebut terpesona melihat tubuh Marlina karena Marlina hanya menalikan Dengan model kemben, terlihat bukit kembar milik Marlina yang menonjol ke atas
segera guru tersebut mengalihkan pandangannya
'ya ampun ni bocah benar-benar menguji keimanan ku' batin guru tersebut
"bapak gak lepas baju juga" ucap Marlina
seolah dihipnotis segera guru tersebut melepas jaket serta kaos yang dikenakan, sebenarnya kaosnya tidak terlalu basah karena jaketnya tebal hanya saja dingin karena hujan yang lebat hingga kaosnya terasa dingin
kemudian melepaskan celana panjang nya, hanya menyisakan celana boxer miliknya
segera dia menjemur baju Marlina dan juga miliknya ditali yang melintang dibuat seperti jemuran
kemudian membungkus dirinya dengan kain yang lain
"tidurlah sebentar lagi subuh jadi kita bisa kembali ke perkemahan"
guru tersebut merebahkan badannya dibawah dipan tempat Marlina tidur
tengah malam guru tersebut menggigil karena kedinginan
Marlina terbangun melihat gurunya dengan wajah pucat, guru tersebut baru sebulan pindah didaerah terpencil jadi masih menyesuaikan diri dengan iklim makanya ketika kehujanan dia tidak tahan dan menggigil kedinginan
"pak guru, pak.. " ucap Marlina turun pelan kebawah karena kakinya masih sakit
"pak tidur diatas aja" ucap Marlina lagi
__ADS_1
segera ditariknya tangan gurunya hingga bangun dan menuntunnya naik ke atas dipan