
hubby kamu terlalu kejam" ucap Keyra "kenapa kejam, aku dulu harus banyak berkorban untuk mendapat mu, menerima banyak syarat dari papi. bahkan kita terpisah hingga 7 tahun" ucap Jonathan
"terus mau ayah gimana" tanya keyra "biar Vava tetap kuliah disini tapi ayah akan mengirimkan Jaka ke rumah kakek atta. ayah membuka cabang hotel disana ayah mau Abang Jaka yang pegang" ucap Jonathan "ayah gak kejam lo, mereka masih dekat, lagipula ayah mana tega melihat anak gadisku hidup sendiri dinegeri orang"
"sudah jangan bicara tentang anak-anak dulu, malam itu waktu nya bunda buat manjain ayah" ucap Jonathan kemudian mulai dengan aksinya yang akan membuat istrinya merintih sepanjang malam dan akhirnya tertidur karena kelelahan.
_____________________________
Jonathan akhirnya memilih mengalah dengan perdebatan dia dan istrinya. akhirnya Vava pun kuliah di Harvard memilih kuliah dengan jurusan kedokteran dia memilih jurusan spesialis jantung, Karena memang dia lahir dengan kelainan jantung bawaan dari lahir karena dia lahir prematur.
Vava benar-benar ingin mempelajari seluk beluk organ paling penting milik manusia, didasari pada kasus yang dia miliki maka Vava memilih spesial jantung.
Vava berada di apartemen yang dulu digunakan sang Abang pada waktu kuliah di negeri Paman Sam ini. kini dia bisa bebas dari pantauan keluarga nya dari ayah dan bundanya, juga abangnya.
Tapi apa yang Vava inginkan kan tidak sesuai dengan yang dia angan-angan kan.
sang Abang akhirnya menyusul ditahun kedua dia kuliah disini. Vava tidak pernah mau pulang kerumahnya. Vava yang sakit hati setelah mendengar informasi dari kak Willi bahwa kak Lyra akan bertunangan. bahkan William memberi tahu waktu dan tempat acara, sedangkan keluarga nya tidak ada satupun yang memberikan kabar, Vava pun tak kembali hingga hari yang ditentukan.
Vava yang kala itu baru saja pulang kuliah terkejut mendapati sang Abang tengah tertidur pulas dikamar nya.
antara rasa percaya dan tidak percaya dengan penglihatan nya.
sosok yang selalu dia rindukan selama satu setahun ini. Vava pun segera berjalan keluar kamar, menuju dapur cacing di dalam perutnya sudah mulai unjuk rasa ingin segera diisi, ia pun memasak.
Dua tangan kokoh melingkar diperutnya, jantung Vava bedegup kencang. tubuhnya meremang kaku. apalagi ketika kepala sang Abang yang sudah berada diatas bahunya.
Vava memandang melihat kearah sang Abang tak percaya dengan keberanian sang Abang.
cup.. satu buah kecupan dibibir Vava. Vava melongo "hai.. " ucap Jaka
"Abang... ngapain sih" setelah sadar Vava segera mendorong tubuh sang Abang, bukannya lepas malah tubuh Vava dibalik oleh jaka kini mereka berhadapan Jaka memeluk pinggang Vava. perlahan Jaka mendorong tubuh Vava mendekati kompor kemudian mematikan kompor yang masih hidup tersebut.
__ADS_1
"A.. Abang ngapain sih, lepas vava lapar" ucap Vava berusaha melepaskan pelukan sang Abang. "kamu gak kangen sama abang dek" ucap Jaka "enggak, buruan minggir aku lapar" ucap Vava.
Jaka mengangkat tubuh Vava kemudian mendudukkan nya di kursi meja makan.
Jaka berjalan kearah mesin pendingin kemudian dia mengambil kue tiramisu coffelatte buatan sang bunda, yang ia bawa.
menghidangkan nya dihadapan Vava "ni dari bunda harus segera dimakan takut jamuran" ucap Jaka. mata Vava langsung berbinar melihat kue kesukaan nya tersebut, kue buatan sang bunda, walau banyak kue-kue enak bertebaran dimana-mana. baginya kue buatan bunda nya adalah yang paling enak didunia.
dengan lahap Vava memakan kue tersebut antara lapar dan juga rindu akan bunda, ia menghabiskan hampir setengah bagian kue tersebut.
"lapar apa rakus sih dek" ucap Jaka yang dengan lembut membersihkan butter yang menempel dipinggir bibir sang adik.
"dua-duanya Abang, cuma beda tipis aja" jawab Vava masih melahap kue didepannya.
"bunda bawakan 3 loyang tuh, makan sepuasnya" ucap Jaka, ia pun berdiri menyangka jus jeruk kedalam gelas dan memberikan nya pada Vava, Vava meminum jus tersebut hingga bersih.
"Alhamdulillah kenyang" ucap Vava, kemudian diapun bersandar, "Abang ada perlu apa kesini" tanya Vava
"Dapat tugas dari ayah bunda untuk menemani putrinya yang nakal Karena sudah setahun lebih gak pulang kerumah, takut anak gadis nya diculik pria bule" ucap Jaka
"idihhhh.... betah gitu jauh dari calon istri" jawab Vava "enggak, makanya Abang nyusulin"
"kak Lyra apa kabar" tanya Vava "seperti nya baik" ucap Jaka "Abang sendiri apa kabar"
"abang baik bahkan sangat baik dan sangat bahagia"
'sungguh menyebalkan, bisa-bisanya bilang sangat bahagia, mau pamer hidup bahagia dengan kak Lyra' batin Vava
dia pun beranjak dari duduknya segera pergi dihadapan sang Abang
Jaka menarik tubuh Vava hingga kini dia berada dipangkuan sang Abang
__ADS_1
"mau kemana sih" tanya Jaka, ia membelai pipi Vava menyingkirkan anak rambut dan menyisipkan nya dibelakang telinga. Jaka menangkup kedua pipi Vava melihat dikedua netra coklat milik sang adik, netra yang begitu dia rindukan.
"Abang rindu dek, dari tadi kamu nunduk melulu gak mau lihat wajah Abang" ucapnya
mata Vava mulai berkaca-kaca, rindu ya dia rindu serindu rindunya pada sang abang, bahkan hampir tiap malam dia menangis saat merindukan sang Abang, dia benar-benar frustasi mendengar kenyataan bahwa sang Abang bertunangan dengan kak Lyra.
tunggu dulu, kalau Abang tunangan harusnya Abang memakai cincin kan, tapi kenapa jari Abang bersih semua gak ada satu cincin pun, batin Vava
Jaka menghapus air mata adiknya "kenapa nangis, segitu bencinya sama Abang ya" ucap Jaka, Vava menggeleng kan kepalanya.
"Abang sakit hati Lo waktu kamu berangkat gak pamitan dengan Abang, kamu beli tiket mendadak"
"sekarang kamu mau pergi menghindari Abang lagi" tanya Vava
Vava menelan Saliva nya, dia ingat betul setahun yang lalu dia nekat beli tiket untuk dirinya sendiri, Ngotot tidak ingin diantar sang Abang, apalagi sang Abang ikut menetap di sana selama ia kuliah.
padahal alasan utama dia pergi untuk menghindari sang Abang, untuk menghilangkan rasa cinta nya pada sang Abang. tapi kenapa malah sang Abang sekarang nyusulin dia dan akan tinggal bersama disini. 'matilah aku' batin Vava
perlahan Jaka mencium bibir gadis yang ada dihadapannya, melum.. nya dengan lembut, gadis cantik yang sudah beranjak dewasa tersebut memejamkan matanya meresapi dan menikmati ciuman hangat yang dia rindukan. hingga mereka kehabisan nafas Jaka pun melepaskan ....... dibibir itu.
"maaf sekali lagi Abang katakan Abang cinta kamu dek, Abang sayang kamu Abang benar-benar mencintai mu" ucap Jaka, ia pun melanjutkan ciuman hangat tadi, Vava yang mendengar pernyataan cinta kedua kalinya dari sang Abang hanya mampu menangis, ia menangis karena bahagia. karena pernyataan cinta sang Abang dulu adalah benar dan nyata, bukan permainan.
seketika Vava melepas ciuman mereka tiba-tiba kemudian berdiri dan berlari menuju kamar, dia menangis sejadi-jadinya diatas bed milik nya. dia lupa bila sang Abang kini milik kak Lyra dia lupa bila sang Abang sudah bertunangan bahkan akan menikah. bodoh betapa bodohnya aku yang mau diperdaya Abang nya.
Jaka terkejut melihat Vava yang mendorong nya secara kasar dan berlari menuju kamar, dengan cepat Jaka menyusul Vava dikamar, namun kamar terkunci dari dalam, tanpa pikir panjang Jaka melompat balkon lewat kamar yang ada disebelah nya.
tapi sayang nya pintu nya pun terkunci, untunglah jendela balkon terbuka sehingga Jaka dapat masuk lewat jendela tersebut.
Jaka mendekati Vava lalu dia pun menarik adiknya kedalam pelukannya, Vava berusaha meronta berusaha melepaskan pelukan itu.
"adek lihat Abang, kamu kenapa" Vava lebih kuat berusaha lepas dari pelukan sang Abang "Valentina Joera Atmaja.. lihat Abang" teriak Jaka frustasi
__ADS_1
Vava berhenti memberontak, ia mendongak memandang mata sang Abang "Abang jahat" itulah kata pertama yang mampu ia keluarkan
___________________________________________