
setelah acara perkemahan kami selesai, aku dan guruku semakin dekat. terkadang jam istirahat aku menemaninya dikantor, pura-pura menanyakan pelajaran dan memang pelajaran fisika salah satu pelajaran yang paling sulit dicerna otakku.
tapi semenjak kedatangan guru baru yang tampan, hampir semua siswi mendapatkan nilai yang bagus dipelajaran fisika.
yah... dengan alasan gue yang tampan tentunya.
sudah hampir seminggu ini aku merasa tidak enak badan, mual sering kurasakan dipagi hari, setelah kuingat ternyata aku tidak mendapatkan siklus bulanan ku 2 bulan ini.
'astaga apa aku hamil?' batinku
segera kutemui guruku sekaligus kekasih ku dijam istirahat kedua
"pak.. pulang sekolah saya mau ketemu dengan bapak" ucapku
"ada apa Lin, bukankah hari ini ada jam tambahan dikelas mu" ucapnya
"saya perlu bicara serius dengan bapak, ini menyangkut masa depan saya pak" ucapku lirih, memang suasana kantor saat itu sepi hanya kami berdua
"baiklah lah sayang, dengarkan aku, apapun yang terjadi padamu aku siap bertanggung jawab Karena aku mencintaimu, jadi jangan takut dan merasa sendiri, ada aku disini selalu menemani mu" ucapnya dengan menggenggam tangan ku
sepulang sekolah aku bolos tidak ikut pelajaran tambahan, disekolah ada jam pelajaran tambahan tiap hari Senin hingga Kamis, mengingat kami kelas tiga dan dua bulan lagi kami akan mengadakan ujian nasional.
untuk menghindari kecurigaan teman-teman dan juga mobil jemputan ku, aku berjalan kearah belakang sekolah, disana sudah ada guru ku menunggu diatas motor bututnya
aku segera naik membonceng dibelakang nya
"ayo pak sudah" ucapku karena ia tak juga menjalankan motornya
jangan-jangan macet batinku, mampuslah aku kalau sampai ketahuan, bodyguard atau sopir papi.
"kalau sudah ya turun" ucapnya menggoda, segera ku cubit pinggang nya hingga mengeluh antara sakit dan geli
"ahh... ampun sayang" ucapnya
membuat ku malu, entah kenapa Setiap ia memanggil ku sayang aku merasa malu sekaligus bahagia
"kita kekota ya pak, tapi sebelum nya saya ganti baju dulu, dirumah bapak aja ya" ucapku
"ngajak kerumah mau minta jatah ya" ucapnya
"ihhh.. bapak mesum" ucapku
"hahahaha..." ia malah tertawa
segera kami pulang kerumah dinas guruku, setelah selesai ganti baju kami segera menuju kota
kami makan diwarung makan Padang kesukaan nya.
"kamu mau makan apa?"
"saya samain aja sama bapak?"
"diluar sekolah jangan panggil bapak lah, kok berasa tua aja" ucapnya
membuat ku tertawa cekikikan
"ya udah karena bapak orang Jawa saya panggil mas aja ya"
__ADS_1
"nah gitu kan mesra" ucapnya dengan mengelus pipi ku
kemudian dia berdiri mengambil makanan kami, 2 porsi nasi rendang dan sotong.
kemudian pelayan datang membawa 2 minuman jeruk hangat
kulihat dia makan dengan lahapnya
bahkan aku baru makan satu suap dia hampir menghabiskan setengah dari isi piring nya.
"kenapa gak dimakan? kamu gak suka?" tanyanya, aku menggeleng
kalau gak suka kenapa tadi bilang disamain aja
aku berusaha menahan rasa perutku yang semakin mual.
"kamu pucat sekali, kamu sakit Lin" tanyanya, dipegang nya dahiku
aku segera berlari kearah pintu belakang menanyakan arah toilet
segera kumuntah kan makanan yang baru saja ku makan, bahkan makan siangku tadi ikut aku muntah kan
aku berdiri didepan wastafel melihat sosok wajah pria kecintaan ku, menatapku sayu
"apa kamu hamil Lin" tanyanya
aku menggelengkan kepala ku
"saya gak tau pak, tapi selama saya berhubungan badan dengan bapak saya sudah tidak mendapatkan siklus bulanan saya selama dua bulan ini"
"aku sudah pernah bilang apapun yang terjadi aku siap bertanggung jawab"
"kita beli alat test kehamilan atau langsung ke dokter kandungan saja, jadi lebih akurat" ucap nya lembutnya
kami menunggu, mengantri dokter kandungan
"nyonya Marlina" seruan seorang perawat memanggil
"ayo masuk" ajaknya dengan memeluk pinggang ku
"aku takut pak"
"kenapa takut ada aku disini, tenang ya"
"selamat sore tuan nyonya!" sapa seorang dokter kandungan
"sore dok"
"mau konsultasi atau periksa"
"mau periksa dok" ucap nya
"mari nyonya tidur diranjang biar saya USG"
Marlina pun beranjak dari tempat duduknya dan beralih naik ke atas tempat tidur,
perawatan kemudian mengoleskan gel berwarna bening kemudian dokter mengusap alat USG,
__ADS_1
tampak dilayar sebuah embrio yang samar-samar kemudian makin jelas terlihat jari tangan dan kaki
"kalau dilihat dari ukuran janin berumur sekitar 2 bulan, bisa kita hitung biar lebih jelas nya dengan sistem kalender"
"selamat ya tuan nyonya bayi nya sehat, tapi belum bisa diketahui ya janin nya laki-laki atau perempuan"
setelah tanya jawab seputar kehamilan dan masalah yang timbul selama hamil
kemudian dokter memberi beberapa Vitamin serta obat penguat kandungan
setelah keluar dari rumah sakit, aku lebih banyak terdiam tidak tau bagaimana caranya memberi tahu kehamilan ku kepada kedua orang tua ku.
"pak saya takut, bagaimana reaksi papi sama mami" ucapku
"kamu tenang saja, biar aku yang bicara, kita pulang dan langsung kerumah mu. ok!!"
"tidak-tidak.. jangan sekarang pak, saya belum siap"
cup.. satu kecupan dibibir ku
"Ahhhh.... bapak apa-apaan sih" ucapku terkejut karena dia menciumi ku didepan umum
cuppp... lagi-lagi kecupan dibibir dan sekarang agak lama
"masih panggil bapak" ucapnya
"maaf pak.. eh.. mas" ucap ku
dia pun terkekeh melihat tingkah laku ku yang gelagapan
"sekarang kamu mau kemana" ucapnya
"kerumah mas aja ya, saya capek"
"ya sudah ayo"
kamipun segera kembali ke rumah guruku tercinta
setelah sampai aku langsung masuk kamar merebahkan tubuhku, karena terbiasa dirumah masuk dirumah ini
"capek banget sayang?" tanyanya dengan membelai rambut ku
"Ummm..." ucapku sambil memejamkan mata merasakan belaian tangan nya
"mas.."
"ya sayang" ucapnya kemudian merebahkan tubuhnya disebelah ku kemudian memeluk ku erat dari belakang
"gimana kalau digugurkan aja"
"Marlina kamu ngomong apa sih"
"tapi aku belum siap mas"
"maafkan aku sayang, sudah menghancurkan masa depan mu" ucapnya lirih dengan mengeratkan pelukannya
"bukan maksud ku nyalahin mas, tapi aku hanya belum siap dengan semua ini"
__ADS_1