
Clara sudah bersiap-siap akan pergi ke kampus. Hingga satu pesan masuk ke ponselnya. Dia lihat, ada nama Shane di sana. Dia sedikit memicingkan mata. Menatap penuh curiga dengan notif dari Shane.
Clara pun menyimpan ponselnya. Mengurungkan niatnya untuk membaca pesan dari Shane. Karena Ia akan terlambat ke kampus jika tidak buru-buru berangkat.
Setelah berpamitan pada Bu Laura. Clara pun bergegas melajukan motor. Sofia juga sudah berangkat dari tadi dengan menggunakan motor bututnya.
Dengan kecepatan maksimum motornya melaju. Membelah jalanan yang lumayan macet. Clara hanya ingin cepat sampai di kampus. Dia tidak mau terlambat.
Sampai di kampus Ia langsung memarkiran motornya. Mengajar seperti biasa. Tenang dan santai, itu adalah karakternya.
____
____
Jam pelajaran pun usai. Semua mahasiswa berhamburan keluar. Clara menghela nafasnya. Dia baru teringat bahwa tadi ada notif dari Shane yang belum sempat Ia baca.
Clara sedikit menjetikkan jarinya di dagu. Dia pun membuka notif tersebut. Namun seseorang memanggilnya. Hingga Ia mengurungkan niat untuk membaca notif pesan dari Shane.
"Bu Clara!" panggil Fabyan.
"Iya, Pak Rektor!"
"Bisa saya bicara sebentar!"
"Bi-bisa, Pak! Maaf ada apa ya, Pak?"
Clara mengambilkan kursi untuk Fabyan. Agar Fabyan bisa duduk.
"Silahkan, Pak!"
"Terimakasih banyak!" ujarnya, "Begini Bu. Nanti Minggu depan akan ada proyek kemanusiaan yang akan dilakukan oleh mahasiswa kita. Dan tahun-tahun sebelumnya proyek ini juga sudah berjalan. Saya ingin tahun ini juga berjalan sebagaimana mestinya. Saya ingin Ibu yang memimpin proyek kemanusiaan ini!"
"Ehm, Gimana ya?"
Proyek kemanusiaan? Itu berarti aku harus membantu dan menolong orang dong!
Bagaimana aku bisa mengikuti acara itu? Pekerjaan ku saja menghilangkan nyawa orang tanpa perikemanusiaan! Sekarang aku harus dihadapkan dengan tugas yang membuat harga diri seorang mafia terinjak-injak.
Aduh, Papa! Kenapa sih papa memberikan tugas seberat ini?
"Bagaimana, Bu Clara? Anda bisa kan?" tanya Fabyan.
Ya Ampun tatapannya itu, benar-benar membuatku tidak bisa menolak keinginannya!
"Baiklah, Pak Fabyan. Saya akan mencobanya!"
__ADS_1
"Jangan dicoba Bu Clara! Ibu memang harus melakukannya!"
"Hahahaha, iya, Pak! Saya siap!" ucap Clara, "Di daerah mana proyek kemanusiaan itu diselenggarakan, Pak?"
"Ada. Di desa terpencil, Bu! Kalau nggak salah nama desanya, Desa Suka Maju! Desa tersebut mengalami bencana tanah longsor, Bu! Kampus ini selalu membantu mengatasi bencana melalui program-program kemanusiaan! Mahasiswa dengan jiwa muda, kompetensi ilmu, dan yang berminat akan menjadi “foot soldiers” dalam proyek-proyek kemanusiaan ini!"
"Wah bagus tuh, Pak! Proyek tersebut sangat bagus untuk menyiapkan mahasiswa unggul yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika! Saya setuju, Pak!"
"Jadi Ibu bisa memimpin proyek kemanusiaan ini bersama mahasiswa dan mahasiswi kampus kita?"
"Bisa, Pak! Saya usahakan ya, Pak!" jawab Clara nyengir kuda.
Aduh gimana nih? Aku bisa nggak ya?
Ayo Clara, kamu pasti bisa!
Selepas kepergian Fabyan, Clara pun memutuskan untuk pulang. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Tugas-tugas yang menumpuk, ditambah tugas dari Fabyan yang membuatnya menjadi sangat frustasi.
Clara hanya menghela nafasnya panjang. Dia berharap, dia bisa melaksanakan proyek kemanusiaan itu dengan baik dan lancar. Dan semua itu pastinya perlu mahasiswa yang kompeten dan yang berminat pada proyek tersebut.
Sepertinya aku harus memasang papan pengumuman bagi siapa saja yang mau berpartisipasi dalam proyek ini!
Ya, aku harus membuat pengumuman yang menarik supaya mereka banyak yang ikut!
____
____
Ditengah perjalanan, tiba-tiba dia dihadang oleh empat kawanan begal. Sontak Clara memberhentikan laju kendaraannya.
Satu orang bertubuh kurus dengan rambut gondrong, yang satu bertubuh gemuk. Satu lagi bermuka codet dengan tubuh tinggi dan besar. Dan yang terakhir sedikit tambun, memiliki kulit hitam legam.
Clara turun dari motornya. Dia tidak takut dengan empat begal itu. Bahaya di jalan sudah menjadi makanannya sehari-hari.
"Mau apa kalian?" ketus Clara.
"Serahkan motor kamu beserta kuncinya!" ucap begal satu dengan nada tinggi.
"Kalau aku nggak mau, Kalian mau apa?" tantang Clara.
"Hey cupu! Apa kamu nggak takut dengan kami?" seperti penampilan Clara. Pria bertubuh tambun itu memanggil Clara dengan panggilan cupu.
"Nggak! Saya nggak pernah takut pada siapapun!" ujarnya.
"Dasar wanita cupu! Serahkan nggak kunci motornya!" bentak pria dua.
__ADS_1
"Nggak akan!"
"REBUT!!!!!"
Aksi baku hantam pun terjadi. Clara dikeroyok oleh empat orang begal bertubuh besar. Dia memukul dan menendang. Mengeluarkan semua keahlian bela dirinya. Namun tiba-tiba, seseorang mengeluarkan pisau lipat dari saku jaket. Dan mengarahkan padanya, syukur Clara bisa menghindarinya.
Namun untuk yang kedua kalinya, dia tidak bisa menghindari benda tajam itu, membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar.
Bukan hanya terluka. Seseorang juga menendangnya dari arah belakang. Tubuh ramping Clara terjerembab ke aspal.
Hahahaha ....
Mereka tertawa terbahak-bahak setelah berhasil melumpuhkan Clara. Clara hendak bangkit, kemudian hantaman keras berhasil mendarat ke tengkuknya. Clara terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Membuat mangsanya tidak sadarkan diri. Pria dua berusaha untuk mencari kunci disaku celana Clara. Dengan tangan nakalnya, pria itu berniat meraba tubuh putih dan mulus Clara.
Tiba-tiba seorang pria datang. Menepis kasar tangan kotor yang hendak menjamah tubuh seorang wanita yang tidak berdaya. Pria itu menghajar lawannya dengan brutal. Menendang dan memberikan pelajaran lawannya tanpa ampun.
Mereka memegangi perut dan pipi karena kesakitan. Darah segar keluar dari mulut mereka. Pria itu mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan mengarahkan ke mereka semua. Mereka ketakutan, dan berlari menuju motornya untuk kabur.
Pria itu mendekat ke arah Clara. Melepaskan kacamata tebal yang sudah retak itu, dan membuangnya entah kemana. Pria itu tersenyum simpul. Membopong tubuh Clara ke mobilnya.
Pria itu menyuruh sang asisten mengamankan motor Clara. Sedangkan Clara yang masih tidak sadarkan diri di bawa ke suatu tempat.
____
____
Keesokkan paginya
Kelopak mata indah dengan bulu mata lentik perlahan terbuka. Langit-langit tinggi dengan ukiran khas Mediterania seketika terpampang di depan mata.
Clara mengerjapkan mata. Dia menelisik tempat sekelilingnya. Tempat yang sangat indah dan mewah. Clara berusaha mencari tahu siapa pemilik kediaman mewah itu.
Ia bangun dari ranjangnya. Tubuhnya terasa sakit, bahkan pada bagian tengkuknya. Masih sangat sakit. Tangannya juga diperban. Dia ingat, sepulang dari kampus dia di hadang oleh empat kawanan begal. Namun saat itu Dewi keberuntungan tidak berpihak padanya, dia kalah jumlah dan tenaga. Membuatnya terbaring seperti ini.
"Kau sudah bangun?" suara bariton telah mengejutkannya. Ia pun memutar tubuhnya ke asal suara.
"Pak Rektor!"
Tentu saja Clara terkejut. Berbagai macam pertanyaan menggelayut dipikiran dosen itu. Clara menoleh ke arah Fabyan mencari sebuah jawaban.
"Jika masih lemah, tiduran saja dulu!" ucap Fabyan sambil tersenyum.
"Aku ada dimana?"
__ADS_1
Bersambung ...
Mana dukungannya???????