
Mama Santi menarik tangan Clara ke butik untuk memilih baju yang bagus, tentunya baju bermerek dan mahal. Banyak sekali model gaun yang sangat cantik dan indah berjejer di butik tersebut, ada juga yang seksi dan mini. Tapi itu tidak membuat Clara tertarik dengan gaun-gaun tersebut.
"Ayo kamu mau yang mana? Ini juga cantik dan bagus! Kamu akan terlihat sangat cantik dengan memakai baju seperti ini!" ucap Mama Santi.
"Duh, Ma, Clara ambil satu aja deh!" Clara mengambil satu gaun karena merasa nggak enak sama Mama Sinta.
"Ih, Kamu ini, Kok cuma satu! Ni Mama pilihkan ya!" Mama Santi mengambil banyak gaun yang cantik-cantik dengan motif berbeda. Ada sepuluh lebih gaun yang Mama Santi belikan untuk Clara.
"Mah, Ini banyak sekali!"
"Sudah, kamu terima saja! Lagian hanya sepuluh gaun tidak akan membuat keluarga Bramantyo miskin!" ucap Mama Santi dengan santainya, kemudian membawa baju-baju itu ke kasir.
Hari ini mereka belanja banyak barang-barang. Ada baju, tas dan sepatu, Mama Santi sengaja membelikannya untuk Clara. Sebenarnya Clara tidak membutuhkan barang-barang itu, mengingat dia bukanlah wanita feminim.
"Sudah semuanya! Ayo kita pulang!" ajak Mama Santi.
"Iya, Ma!"
_____
_____
Di dalam perjalanan pulang tiba-tiba mereka dihadang oleh empat kawanan begal. Terpaksa mobil mereka berhenti mendadak. Mama Santi dan sopir terlihat ketakutan, keringat dingin keluar dari tubuh mereka.
"Woi, keluar kalian!" seorang pria berambut gondrong menggedor kaca mobil. Tubuh Mama Santi dan sopir bergetar hebat.
"Siapa mereka? Penampilan mereka menakutkan sekali!" ujar Mama Santi, "Anto, telfon Fabyan. Minta pertolongan!" suruh Mama Santi masih dengan tubuh bergetar.
"Tenang, Ma! Mama dan Pak Anto di dalam mobil saja. Biar Clara yang keluar!"
"Apa yang kau katakan, Nak? Kau jangan keluar dari mobil. Mereka itu orang-orang berbahaya!" seru Mama Santi. Tapi, Clara tetap keluar dari mobil, membuat Mama Santi berteriak histeris karena ketakutan.
"Mau apa kalian? Kenapa kalian menghalangi mobil kami?" tanya Clara dengan santai.
"Wow, ternyata yang keluar gadis cantik! Beruntung sekali kita hari ini. Dapat mangsa empuk, kaya dan cantik!" pria gondrong itu menoel dagu Clara.
Clara langsung menepis kasar tangan itu.
"Oh, sok jual mahal rupanya!" pria itu menyeringai lebar.
"Sebelum kalian babak belur, sebaiknya kalian pergi!" suruh Clara pada orang-orang itu.
"Apa?" mereka saling berpandangan, kemudian tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha ...
"Ternyata kau lucu juga ya?" kata pria bertubuh kurus dan kerempeng dengan tato di lengannya.
__ADS_1
"Apa yang bisa dilakukan oleh wanita cantik seperti dirimu?" tanya pria bertubuh gondrong.
Clara mengulas senyum, "Kau mau lihat?"
Bugh ...
Clara meninju hidung pria di depannya dengan satu bogeman keras, membuat hidung pria itu mengeluarkan darah. Ketiga temannya membulatkan mata dengan sempurna. Mereka tidak terima, kawannya di hajar oleh seorang wanita, mereka pun mendekat ke arah Clara untuk memberikan pelajaran.
Dengan gesit Clara menghajar dan menendang tiga yang lainnya hingga tumbang. Pria yang tadi Clara hajar hingga mengeluarkan darah sangat geram melihat ketiga temannya tumbang, dari balik jaketnya dia mengeluarkan sebuah pisau lipat. Dia hendak menusuk perut Clara, tapi gerakan Clara yang cepat, dengan mudah dia menarik tangan pria itu dan memelintirnya, hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Mau aku patahkan tanganmu!" teriak Clara.
"Ti-ti-tidak, Nona. Maafkan kami!" ucapnya terbata.
"Maaf, Kau bilang!"
Kreek ...
"Aaaaaaaaaa," pekik pria itu kesakitan. Tangan pria itu ditekuk sedemikian rupa hampir patah, "Ampun!"
"Ampun kau bilang!"
"Maafkan kami, Nona! Tolong lepaskan teman saya!" pinta laki-laki bertubuh paling besar.
"Cih, Maaf kalian bilang! Hampir saja dia membunuhku! Biarkan aku mematahkan tangannya!"
"Am-pun, Ampun, Nona! Saya minta maaf! Tolong tangan saya sakit! Ini sudah patah!"
Clara mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur ke aspal. Teman yang lainnya membantu temannya berdiri.
"Pergi kalian, sebelum kalian aku habisi!" seru Clara.
Mereka pun lari terbirit-birit meninggalkan tempat. Bergegas mereka malajukan motornya. Clara bisa melihat mereka berlari ketakutan.
Mama Santi keluar dari mobil, diikuti oleh Pak Anto. Mama Santi dibuat takjub dengan aksi keren Clara, melawan empat begal dengan tangan kosong, dan Ia hadapi sendiri.
"Clara, Mama nggak nyangka kamu ternyata jago beladiri!" puji Mama Santi.
"Iya, Mba Clara hebat banget. Persis kaya di film yang saya tonton. Apa ya itu judulnya! E, Mafia Queen. Iya, judulnya itu! Hebat banget!" puji Pak Anto.
Clara mengulas senyum, "Hanya untuk jaga-jaga, Ma! Clara nggak jago-jago amat kok!"
"Terimakasih ya, Kamu sudah menyelamatkan nyawa Mama!"
"Nggak masalah, Ma! Yang penting Mama selamat!" ujar Clara, "Pulang yuk, Ma!"
"Ayo kita pulang!"
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di sepanjang perjalanan Mama Santi terus saja memuji-muji kehebatan Clara, soal Clara memelintir tangan pria itu. Katanya sungguh sangat sadis, tapi Mama Santi salut dengan keberanian calon menantunya.
Akhirnya mobil sampai dengan selamat sampai tujuan. Mama Santi mengandeng tangan Clara masuk ke dalam rumah. Seperti seorang Ibu dan anak, mereka nampak sangat akrab.
"Dari mana sih, kok lama banget?" ternyata Fabyan menunggu kedatangan dua wanita cantik yang Ia sayangi.
"Kami berbelanja, Byan!" jawab Mama Santi, sementara Clara hanya tersenyum.
"Kok lama banget! Apa sih yang kalian beli?" tanya Fabyan, jiwa kekepoannya meronta-ronta.
"Kami beli baju, tas dan sepatu!" jawab Clara.
"Oh, selama itu?" tanya Abrisam ikut nimbrung bertanya pada istrinya.
"Namanya juga wanita, Pah!" jawab Mama Santi, "Terus tadi di jalan kami hampir di begal!" ujarnya lagi.
"Apa? Di begal?" Abrisam begitu terkejut mendengar ucapan istrinya, lalu dia memutar-mutar tubuh Mama Santi. Abrisam takut kalau ada luka pada tubuh istrinya, "Apa ada yang luka? Sini Papa cek?"
"Ih, Papa apaan sih? Jangan lebai deh! Mama nggak apa-apa!" jawab Mama Santi, "Untung ada Clara. Dia yang melawan 4 begal itu!"
Papa mengernyitkan dahinya, menatap Clara tidak percaya. Masa iya dia yang hanya wanita bisa melawan empat begal. Pikir Abrisam.
"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" Fabyan khawatir sesuatu terjadi pada calon istrinya.
"Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja!" jawab Clara.
"Ah, syukurlah!" Fabyan bernafas lega.
"Clara tadi hebat banget. Dia menghajar 4 begal itu sendirian!" ujar Mama lagi.
"Masa sih? Papa nggak percaya ah!"
"Iya sudah kalau nggak percaya!" kesal Mama Santi, "Mama capek, Mama mau istirahat!" ucap Mama Santi, "Clara, sebaiknya kamu juga istirahat! Kamu pasti capek!"
"Iya, Ma! Nanti aku langsung istirahat!"
"Baiklah, Mama ke atas dulu ya!" Mama dan Papa beranjak ke lantai dua, masuk ke kamarnya.
Kini tinggal Fabyan dan Clara di ruang tamu. Fabyan mendekat ke arah Clara, menatapnya lekat.
Cletak ..
Fabyan menyentil kening Clara.
"Auw, Sakit!" pekik Clara, "Kenapa kau menyentil kening ku?"
"Hey, hati-hatilah bertindak. Kau tahu aku sangat mencemaskan mu!"
__ADS_1
"Iya, Maaf!" jawab Clara sambil memegangi keningnya.
Bersambung ...