
Bastian baru saja sampai di kota kecil itu. Dia tersenyum senang bisa menghirup aura ketakutan yang sebentar lagi dia lihat dan dia dengar.
Empat puluh orang anak buahnya berbaris berjejer saling berhadapan. Membungkukkan tubuhnya, sebagai penghormatan kepada ketua mafia Black Shadow.
Bastian masuk ke mobil. Lalu dia menjetikkan satu jarinya. Mobil pun berjalan menuju suatu tempat.
Lima mobil mengikutinya dari arah belakang. Semuanya serba hitam, berderet seperti memainkan sebuah parade budaya. Dan semua isinya adalah pengawal khusus Black Shadow.
Mobil Bastian melesat dengan kecepatan tinggi. Sekitar 2 jam akhirnya mereka sampai di markas besar Black Rose.
Tempatnya berada ditengah hutan, dengan Medan yang cukup sulit dilalui. Mobil mengalami guncangan dengan naik turun bukit. Markas besar ini tidak seorangpun tahu kecuali rekan bisnis dan anggotanya. Dan penjagaannya juga sangat ketat.
Markas besar milik Black Rose adalah tempat untuk menyimpan senjata, barang dagangan dan pelatihan khusus pengawal-pengawal Black Rose. Semua yang berhubungan dengan Black Rose ada di sana. Dan rencana Bastian menemui pimpinan Black Rose adalah ingin menawarkan sebuah bisnis.
"Selamat datang Tuan Bastian!" ucap Fabyan menyapa ramah.
"Terimakasih atas sambutannya! Saya merasa terhormat!"
"Bagaimana perjalanannya? Apakah cukup nyaman?"
"Wah, saya tidak menyangka, untuk datang kesini perjalanannya cukup menegangkan!" gelaknya.
Fabyan mengulas senyum, "Tapi saya salut dengan Anda! Diusia Anda masih aktif!"
Hahahaha ...
"Tuan Fabyan bisa saja!"
"Ayo masuk!" Fabyan mengajak Bastian masuk ke sebuah markas besar.
Markas itu memang terletak di tengah hutan. Keamanannya saja sangat ketat. Bahkan lebih ketat dari penjara sipil. Masuk ke markas tersebut, selama mata memandang, Bastian disuguhkan dengan sebuah kemewahan diluar logika.
Ternyata markas yang terlihat menyeramkan dan seperti penjara. Di dalamnya terdapat ruangan yang sangat besar. Di desain begitu mewah dengan perabotan yang serba mahal.
Di sana ada begitu banyak ruangan. Dimana diruangan tersebut memiliki kode sendiri-sendiri. Bastian bisa melihat, banyak pengawal khusus yang sedang berlatih beladiri diruangan B. Ada pasukan khusus penembak di ruangan C. Ada juga pasukan khusus yang terdiri dari 15 orang, di ruangan A. Mereka sedang serius menghadap layar laptop, sepertinya mereka sedang sibuk meretas jaringan data.
Fabyan mengajak Bastian ke sebuah ruangan senjata. Ruangan yang mirip dengan gudang. Bastian begitu kagum. Dia melihat berbagai senjata yang dimiliki Fabyan diruangan yang besar itu.
"Silahkan! Anda bisa memilih!"
"Luar biasa!" senang Bastian. Dia bisa melihat begitu banyak senjata yang dimiliki mafia berdarah dingin itu. Bastian yakin, Fabyan bukanlah orang sembarangan. Auranya terlihat sangat kuat saat berada didekat pemuda itu.
"Dua miliar!" tawar Bastian untuk satu kotak peti pistol.
"Oh, tidak. Semua senjata ini kualitas terbaik! Lima miliar paling murah!"
"Baiklah, deal!" mereka saling berjabat tangan.
"Aku suka dengan sikap tegas mu! Bagaimana kalau kita kerjasama?" tawar Bastian, "Jika kita bekerjasama, kita akan menguasai perdagangan ilegal ini! Dan kita bisa menjadi King Mafia di dunia bawah!"
Hahahaha ...
Fabyan terkekeh.
"Sayangnya, Saya tidak tertarik!" tukas Fabyan.
__ADS_1
"Lho, kenapa?"
"Aku lebih senang kerja sendiri. Jadi maaf, Saya tidak tertarik!" tegas Fabyan.
Ternyata dia sombong sekali! Tawaranku ditolak mentah-mentah!
Baiklah, tidak mengapa! Masih banyak waktu untuk membujuknya!
Aku penasaran! Apakah dia sehebat kata orang? Dia masih sangat muda.
"Baiklah. Saya pergi dulu! Saya senang bisa berbisnis dengan Anda!"
"Iya, tentu! Saya juga sangat senang berbisnis dengan Anda!" jawab Fabyan tersenyum tipis.
°°°°°°
Clara mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Kemudian dia berhenti di sebuah lorong gang yang sempit. Dia berteriak sekencang mungkin karena kesal. Dia merasa dibodohi oleh seorang pria.
Berkali-kali dia mengacak rambutnya sendiri. Merutuki kebodohannya, karena sudah terjerat dengan pesona seorang pria.
Hah, SIAL!
Padahal aku tahu, tidak ada cinta yang tulus di dunia ini!
Pernikahan Papa dan Mama juga hanya sebuah kedok!
Lalu bagaimana aku bisa menyukai seorang pria?
"Toooooolong! Lepaskan aku!"
Hal seperti ini wajar terjadi di tempat yang sepi. Karena nampaknya wanita itu memakai pakaian seksi dan bermobil. Tentu menjadi sasaran empuk bagi begal dan preman jalanan.
Ah, kebetulan sekali, tanganku sedang gatal pengen menghajar orang!
"Hey!" teriak Clara menatap ke arah mereka.
Para pria dan wanita itu menoleh ke arah Clara yang mendekat tanpa merasa takut, "Lepaskan wanita itu! Apakah kalian tidak malu mengeroyok wanita?"
"Hah, mau apa Kau? Siapa Kau berani-beraninya mengganggu kesenangan kami?" tanya pria bertubuh besar.
"Oh, tapi aku tidak suka ada seorang pria mengeroyok wanita! Apalagi tepat di depan mataku!" ujar Clara.
"Girl, dengar!" seseorang merangkul bahu Clara, "Sebaiknya kau tidak ikut campur urusan kami! Atau kau akan menyesal!"
"Kenapa aku harus menyesal?" tanya Clara.
Fftttt, Hahahaha ...
Mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kau sangat berani ya?" ucap salah satu diantara mereka, "Hey, ternyata kau cantik juga!" pria itu menarik dagu Clara.
"Ternyata kau sangat cantik!" ucap pria satunya.
"Bagaimana kalau kau juga bersenang-senang dengan kami?" tanya pria yang kurus dan tinggi.
__ADS_1
Clara tersenyum miring sambil menepis tangan kotor mereka, "Tapi maaf, seleraku bukan orang jelek seperti kalian!"
"Apa kau bilang?"
Seseorang mengangkat tangannya, hendak menampar Clara, namun dengan mudah Clara menangkisnya. Lalu meninju ulu hati orang itu dengan kuat.
Kyakkkkk ...
Yang ditinju tumbang sambil memegangi ulu hatinya.
"Dasar ******!"
Para pria lain langsung menyerang Clara. Dengan mudah Clara menghindari serangan itu. Dia mampu menghindar dan membalas gerakan lawan. Bahkan saat lawannya hendak menusukkan sebuah pisau, dia mampu menahannya dan memelintir tangan orang itu ke belakang.
Orang itu mengaduh kesakitan, dan sebagian tumbang dalam waktu singkat. Sementara Clara tidak apa-apa.
"Mau lagi?" bentak Clara.
Mereka menggelengkan kepalanya, "Nggak, ka-mi nggak lagi! Tolong lepaskan tangan teman saya! Itu bisa patah!"
Clara mendorong kasar orang itu. Sehingga orang itu terjerembab ke depan.
"Jangan coba-coba mengganggu wanita lagi! Atau kalian akan berurusan dengan saya! Ingat Itu!"
"Ba-baik!"
"PERGI KALIAN!" bentak Clara.
"Iya, iya. Kami akan pergi!"
Clara berjalan mendekat wanita itu. Wanita itu menampilkan ekspresi ketakutan dan juga takjub.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Clara.
"I-iya. Aku baik-baik saja! Terimakasih banyak!" jawab wanita itu.
"Lain kali Kau harus berhati-hati! Tempat sepi seperti ini sangat rawan. Banyak orang jahat berkeliaran!" ujar Clara.
"Iya. Tadi saya baru saja ke rumah teman. Karena keasyikan mengobrol, saya jadi lupa waktu!"
"Oh, iya sudah! Cepat sana pulang! Kamu nggak mau diganggu lagi bukan?"
"Eh, nggak. Tentu saja saya nggak mau!"
"Kalau begitu, cepat sana pulang!"
"Baiklah. Oya, siapa nama Nona?"
"Clara Lunoks. Kamu bisa memanggil Saya, Clara!"
"Perkenalkan nama saya Jessica!"
"Oh, Baiklah!" mereka pun saling berjabat tangan. Selepas itu Jessica berpamitan pada Clara, Clara hanya melambaikan tangan pada wanita cantik itu.
To be continued ..
__ADS_1