
Clara mulai mengerjapkan mata, maniknya menatap asing ke penjuru ruangan. Saat hendak berdiri, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada bagian tengkuknya. Dia baru ingat kalau dirinya di pukul dengan benda tajam oleh seseorang.
"Byan!" panggil Clara berusaha untuk berdiri tapi tangan dan kakinya terikat.
"Sudah bangun rupanya, Nyonya Fabyan?" suara seseorang membuatnya terkejut. Clara mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara, "Lama sekali kau tidur, sudah 7 jam lamanya!"
Apa 7 jam? Lalu kemana suamiku? Kenapa aku hanya sendiri?
"Martin!" Clara sangat terkejut, "Jadi Kau yang melakukan semua ini? Apa maksudnya? Kenapa kau menculikku? Keparat kau! Aku bersumpah akan menghabisi mu! Dimana suamiku?" teriak Clara.
Martin tersenyum lebar.
"Jangan takut, aku adalah teman Fabyan, "
"Dimana suamiku?" teriak Clara lagi.
"Suamimu? Hahahaha!" Martin terbahak, "Tenang saja, suamimu ada bersamaku. Apa kau menyadari kalau suamimu sudah menipumu?"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" ketus Clara.
"Saat di pesta dansa bukankah aku pernah mengatakan. Fabyan itu masih sangat mencintai Selena. Dan dia memanfaatkan mu untuk membalas dendam!"
"Balas dendam? Kau jangan mengarang!" marah Clara.
"Kau tahu, kenapa Selena bunuh diri?" Clara menatap tajam ke arah Martin, "Dulu, Fabyan, aku dan Selena bersahabat baik. Kami bertiga selalu bersama-sama. Sekolah bersama hingga kami dewasa bersama. Aku dan Fabyan memiliki perasaan yang sama pada Selena. Siapa sih yang tidak menyukai gadis cantik, baik, ramah dan cerdas seperti Selena. Namun hubungan persahabatan kami mulai renggang setelah aku tahu Fabyan dan Selena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Aku memilih pergi dari kehidupan mereka dengan perasaan cintaku pada Selena. Lalu aku mendengar bahwa wanita yang aku cintai telah diperkosa oleh seorang pria brengsek. Dan kau tahu siapa pria brengsek itu!" teriak Martin seraya mengatupkan rahangnya, "Pria itu adalah NIKO. Saudaramu!" teriaknya lagi.
"Nggak mungkin! Kau pasti bohong! Aku tidak percaya!" Clara mematahkan tudingan itu. Dia tidak percaya kalau Saudara sepupunya yang memperkosa Selena. Yang Clara tahu memang tempat tinggal Niko tidak pernah menetap. Kadang di Indonesia, kadang juga di luar negeri.
"Baiklah kalau tidak percaya!" ujar Martin, "Tapi itu adalah kenyataan yang perlu kau tahu. Pria brengsek itu sudah memperkosa wanita yang aku cintai. Selama 4 tahun aku mencari keberadaannya. Dan hari ini terjawab sudah. Apa kau tidak curiga, kenapa tiba-tiba Fabyan mengajakmu menikah? Hahahaha!" Martin menunjukkan tawa mengejek.
"Tidak. Aku tidak percaya!" Clara masih belum percaya.
"Kau sungguh naif!" cibir Martin, "Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Dia ingin membalas dendam pada keluargamu. Terutama kepada Niko! Apa kau tidak sadar!" Martin mengeluarkan ponselnya, dan mengaktifkan rekaman suara saat dirinya dan Fabyan sedang berbicara.
Fabyan : "Kenapa kau mengikuti ku?"
Martin: "Bukannya mencari siapa penyebab kematian Selena, kau justru menikah dengan wanita lain! Apakah hanya segitu rasa cintamu pada Selena?"
Fabyan: "Apa maksudmu?"
Martin : "Jika memang kau tidak bisa mencari orang yang sudah menyebabkan Selena bunuh diri, maka aku sendiri yang akan mencarinya!"
Fabyan : "Berhentilah seolah-olah Kau perduli!"
__ADS_1
Martin : "Aku memang perduli. Sepertinya memang hanya aku yang perduli!"
Fabyan : "Ck, Aku juga perduli. Karena itu aku menikahi saudaranya! Dan aku memiliki rencana sendiri, yang tidak perlu orang lain tahu. Termasuk Kau!"
____
____
Martin mematikan rekaman tersebut dan menyeringai lebar, "Kau dengar sendiri kan! Dia hanya memanfaatkan mu untuk kepentingannya sendiri!"
Clara menangis, dia tidak menyangka Fabyan hanya memanfaatkan dirinya. Memanfaatkan cintanya. Memang Fabyan tidak pernah mengatakan cinta, tapi sikapnya selama ini, apakah tidak berarti apa-apa.
"Sekarang, Aku akan menghabisi mu! Agar Niko juga merasakan saudara perempuannya meregang nyawa!"
Martin mencambuk tubuh Clara dengan brutal, "Aaaaaaaaaaaaaa!" Clara berteriak, namun tidak sekalipun dia mengeluarkan kata sakit. Karena hatinya jauh lebih sakit saat dikhianati dan dimanfaatkan.
Martin mengeluarkan pisau, yang ia simpan di belakang punggungnya. Kini Ia ingin menusukkan pisau tersebut ke perut Clara, namun Fabyan dan anak buahnya sudah keburu datang. Fabyan menembak Martin tepat di kakinya, membuat Martin melemparkan senjata tajam itu ke sembarang arah.
"Bajingan, Kau! Brengsek!"
Bugh ... Bugh ... Bugh
Fabyan menghajar Martin secara membabi-buta, tapi laki-laki itu hanya menyeringai lebar saat sahabatnya menghajar wajahnya hingga babak belur.
Fabyan menodongkan pistol tepat ke arah Martin. Dia tidak segan-segan untuk membunuh siapapun yang berusaha untuk merusak kebahagiaannya, dan apa yang dilakukan Martin menurutnya sudah keterlaluan.
"Bunuhlah aku jika memang itu membuatmu puas!"
"Aku memang akan membunuhmu!" seringai Fabyan.
Dorr ... Dorr ... Dorr
Fabyan menembak sebanyak tiga kali tepat di tubuh Martin, hingga pria itu tewas seketika. Baginya tidak ada ampun bagi orang yang sudah menyakiti miliknya, walau Martin adalah sahabat semasa kecil. Manik Fabyan menoleh ke arah Clara, segera dia melepaskan ikatan tali pada tangan dan kaki istrinya. Tubuh Clara membeku, menatap lekat ke arah sang suami. Dia berusaha untuk mengingat semua apa yang dikatakan Martin, antara percaya atau tidak, sekarang dirinya benar-benar bimbang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Fabyan sambil mengelus puncak kepala istrinya. Fabyan begitu khawatir saat terbangun, dia tidak mendapati wanitanya.
"Kita berdua. Ehm, maksudku aku dan kau diculik. Bagaimana bisa kau bersama dengan orang-orangmu? Apakah ini salah satu strategimu?" tanya Clara.
"Apa?" Fabyan bingung harus menjawab apa, karena saat dirinya dikeroyok oleh orang-orang Martin, dia kalah dalam jumlah, dirinya tidak sadarkan diri, dan ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Saat terbangun dia tidak melihat istrinya, bergegas Fabyan menelfon anak buahnya.
Clara menoleh ke arah pistol Fabyan yang tergeletak di lantai, secara refleks Clara mengambil pistol tersebut dan mengarahkannya tepat ke arah Fabyan. Fabyan sangat terkejut dengan sikap istrinya.
"Kenapa harus aku? Aku tidak tahu apa-apa!" marah Clara, "Kenapa kau tega melakukan ini padaku?" teriak Clara.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu semuanya. Tujuanmu menikahiku. Kau hanya ingin memanfaatkan ku untuk membalaskan dendam mu!" teriak Clara.
"Apa yang sudah Martin katakan padamu? Kau salah paham!"
"Salah paham apa? Rekaman itu sudah jelas kau mengatakan kalau kau akan membalaskan semuanya kepadaku! Kau dendam dengan Niko, tapi kau melampiaskannya kepadaku! Hah!" Clara benar-benar tidak bisa menahan emosinya.
Dorr ...
Satu tembakan tepat mengenai pundak sebelah kiri Fabyan. Darah mengucur dengan deras di sana, pria itu memekik kesakitan dan hanya mampu menahan rasa sakit di sana.
"Kau sa-lah pa-ham, Clara!"
"Apaaaaaaaa!" teriak Clara terisak, "Aku membencimu Fabyan. Aku membencimu. Matilah kau!" tangan Clara bergetar saat akan menembakkan peluru kedua. Dia menjatuhkan pistol itu ke lantai. Dia sadar yang Ia tembak adalah suaminya. Seorang pria yang baru saja dinikahi, dan jujur dia sangat mencintai pria itu, sekarang pria itu terluka gara-gara dirinya, satu tembakan berhasil menembus pundak suaminya.
"Bodohnya aku!. Kenapa aku harus terjerat dengan laki-laki macam kau?" hardiknya, "Harusnya dari awal aku tahu, kau hanya memanfaatkan ku saja!"
"Kau salah paham! Biar aku menjelaskan semuanya!" ucap Fabyan terbata.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" jerit Clara sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Clara maafkan aku!" lirih Fabyan sambil meringis dan memegangi pundaknya. Sementara anak buah Fabyan berusaha untuk menolong, tapi Fabyan memberikan kode untuk mundur.
Clara melemparkan pistol itu, dan keluar dari gedung penyekapan tersebut. Dia lari pergi meninggalkan suaminya yang terluka.
"Claraaaaaaaa!" seru suaminya, namun Clara menatapnya sayu, dengan rasa sakit di hatinya. Dia pergi meninggalkan gudang tua itu tanpa mengindahkan panggilan dari suaminya.
To be continued ....
°°°°°°°°°°°°
"***Kamu suka baca novel online?" tanya Abi.
"Iya, aku suka baca novel. Apalagi kalau waktu ku senggang. Aku suka baca karya CF ( Cahyaning Fitri). Ceritanya tuh bagus-bagus. Actionnya ada, romantisnya ada, religinya ada, pokoknya paket lengkap deh!" jawab Ica.
"Beneran. Aku jadi penasaran!"
"Makanya baca. Tapi harus download dulu!"
"Iya, iya. Aku mau download!"
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗***
__ADS_1