Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 40 : Perasaan Kecewa


__ADS_3

Clara Lunoks


Clara melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Menembus jalanan dan keramaian kota. Tentu saja dengan perasaan yang tidak menentu. Perasaan bersalah yang tidak terkira.


Clara melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Dia tidak akan menyangka kejadiannya bakal seperti ini. Clara menangis dalam diam, kini perasaannya bercampur aduk menjadi satu.


Hiks ... Hiks ... Hiks


Jadi selama ini penyebab hancurnya rumah tangga Papa dan Bu Laura adalah Mama!


Kenapa Ma? Kenapa Mama tega melakukan itu?


Pantas saja Bu Laura sangat membenci Papa!


Hatinya benar-benar sangat sedih. Dia butuh seseorang untuk menenangkan hati dan pikirannya, setidaknya seseorang yang bisa menguatkan hatinya. Memeluknya dan mendekapnya.


Clara pun memutar motornya menuju suatu tempat. Yang ada dipikirannya adalah Fabyan, mungkin sedikit bercerita dengannya bisa membuat bebannya sedikit berkurang.


Motor Clara berhenti di depan halaman rumah Fabyan. Dengan bergegas dia turun dari motor. Ia mengetuk rumah itu. Rumah Fabyan.


Tok ... Tok ... Tok


"Non Clara!" Pak Mun membuka pintu. Clara menyapa Pak Mun dengan ramah. Dia mengulas senyum tipis.


"Pak Mun, Maaf mengganggu! Apakah Pak Fabyan ada?" tanya Clara pada Pak Mun dengan sopan.


"Eh, itu, Pak Fabyan ada kok, Non! Sebentar, Saya panggilkan!" ucap Pak Mun.


Pak Mun masuk dan memanggil Fabyan, seperkian detik Fabyan pun keluar. Dia nampak kaget melihat Clara tiba-tiba datang ke rumahnya.


Clara sangat merindukan pria itu. Pria yang sudah memporak-porandakan dunianya. Pria yang sudah membuat hatinya tidak tenang. Ingin rasanya Ia berhambur ke pelukan Rektor itu. Mendekapnya erat, dan menceritakan semua masalahnya.



"Clara?" Fabyan terkejut dengan kondisi wanita itu. Clara nampak kacau hari ini, "Kau kenapa?"


"Pak Fabyan!" Clara hendak memeluk rektor muda itu, dia ingin mencurahkan seluruh isi hatinya, namun ...


"Sayang, Siapa?" Belle keluar dari kamar Fabyan hanya dengan melilitkan handuk ditubuhnya.


Clara nampak terkejut melihat Belle yang keluar dari kamar Fabyan. Apalagi melihat keadaan Belle yang hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya. Clara tidak menyangka itu. Dia juga baru sadar kalau Fabyan juga hanya memakai boxer tanpa memakai baju. Dan sudah bisa dipastikan, mereka pasti sudah melakukan hubungan yang intim.


Clara memundurkan tubuhnya. Mungkin selama ini dia salah mengartikan perasaannya pada rektor itu. Mungkin juga dia salah mengartikan kebaikan Fabyan padanya.


"Hey, Apa yang kau lakukan disini?" teriak Belle, membuat lamunannya buyar.


"Ma-af, Sa-ya sudah mengganggu kesenangan kalian! Maaf! Saya permisi, Pak!"


Clara memutar tubuhnya meninggalkan rumah Fabyan. Dari luar pintu, Clara bisa mendengar dengan jelas. Fix, mereka ribut.


Clara tidak perduli. Dia hanya ingin pergi dari sana. Dengan membawa luka dan kekecewaan di hatinya.

__ADS_1


Dengan kecepatan penuh, Clara melajukan motornya. Dia harus mencari tempat untuk tempat tinggalnya sekarang. Tempat untuk menyendiri. Tempat untuk memenangkan pikirannya. Baru besok, dia akan memikirkan langkah selanjutnya.


Sementara di rumah Fabyan terjadi keributan besar. Belle meminta penjelasan pada tunangannya mengenai Clara yang datang ke rumah tiba-tiba.


"Bagaimana dia tahu rumah kamu, Sayang? Apakah kalian memiliki hubungan?"


"Berhenti Belle!" bentak Fabyan.


"Atau jangan-jangan dia tidur dengan mu juga! Apakah dia wanita murahan yang kau bayar untuk menemani mu saat aku tidak ada?" teriak Belle.


"Dia bukan wanita seperti Kau!" bentak Fabyan pada tunangannya, "Dia wanita baik-baik! Dia tidak akan mudah memberikan mahkotanya seperti kau!"


"Apa? Kau membandingkan aku dengannya!" marah Belle.


"Dia memang berbeda dengan mu! Dia tidak seperti yang Kau pikirkan!"


Fabyan memakai pakaiannya. Kemudian dia menyambar jaket dan kunci mobilnya untuk mencari Clara. Jujur, melihat Clara seperti itu, hati Fabyan sangat khawatir. Dia berencana mencari Clara.


"Kau mau kemana?" tanya Belle.


"Minggir! Aku akan mencarinya!"


"Apa kau bilang? Kau lebih memilih wanita murahan itu dari pada aku tunangan mu!" teriak Belle tepat di muka Fabyan.


Fabyan tersenyum miring, "Bukan dia yang murahan! Tapi Kau yang murahan! Kau pikir aku tidak tahu, siapa saja teman kencanmu selama di Amerika! Aku juga bisa menghitung pria mana saja yang sudah meniduri mu! Dasar wanita murahan!"


Fabyan melenggang pergi. Dia menyuruh Pak Mun untuk melakukan pembersihan pada rumahnya. Dia tidak mau melihat wanita itu ada dirumahnya. Dengan raut wajah yang dingin, dia pergi meninggalkan Belle begitu saja.


"A-pa? Apa yang dia katakan? Oh, aku tidak percaya hal ini!" mendadak wajah Belle pucat.


Belle menelan ludahnya dengan susah. Jika Fabyan berkata seperti itu, berarti dia memang harus pergi dari rumahnya. Kalau tidak, maka nyawanya sudah tidak aman.


Sial, Bagaimana Fabyan bisa tahu apa yang aku lakukan selama di Amerika?


Apakah selama ini dia memata-matai ku?


Bagaimana bisa?


Brengsek! Sialan!


____


____


Fabyan mencari keberadaan Clara. Dia berusaha untuk menghubungi nomor Clara. Dia sangat cemas dengan keadaannya. Dia sangat khawatir sesuatu terjadi pada gadis itu.


Namun panggilannya sengaja dimatikan oleh Clara. Fabyan cemas, khawatir dan merasa bersalah.


Kemana kau?


Ah, sial. Harusnya tadi aku langsung mengejarnya!

__ADS_1


Harusnya aku tidak meladeni wanita sialan itu!


Clara, Kau ada dimana?


Fabyan kembali menghubungi nomor Clara. Namun lagi-lagi Clara mematikan ponselnya. Bahkan sengaja wanita itu menonaktifkan benda pipihnya.


°°°°°°°


Keesokan paginya,


"Kaakh!'


Seseorang terpental jauh setelah mendapatkan satu serangan. Fabyan berdiri di tengah-tengah empat puluh orang anak buahnya yang terjatuh karena serangan Fabyan.


"Apa hanya ini pasukan khusus Black Rose? Aku kecewa!" teriak Fabyan menatap tajam ke arah anak buahnya yang memakai setelan jas berwarna hitam dengan earpiece ditelinganya, "Kemari, Tony!"


Tony yang mengerti, dia melepaskan earpiece, jas dan dasi dipinggir agar tidak kotor.


"Serang aku sekuat tenagamu!"


Tony berlari kencang ke arah Fabyan, memutar tubuhnya, menendang Fabyan, dan dengan gesit Fabyan mampu menghindarinya. Tony melayangkan tinjunya secara bertubi-tubi. Fabyan berhasil menangkis dengan satu tangannya.


Merasa muak dengan permainan menangkis dan memukul, dia mencari celah untuk memukul perut Tony dengan kuat. Hingga pria itu mundur beberapa langkah.


"Jangan bercanda, Tony!"


"Tuan sepertinya saya tahu apa yang terjadi! Bukan pasukan Black Rose yang lemah, tapi Anda yang semakin kuat! Padahal Anda sudah lama tidak berlatih di markas Black Rose!"


Fabyan menatap telapak tangannya sendiri, "Ini belum kuat untuk melindungi apa yang sekarang aku miliki!"


Fabyan berjalan ke pinggir mencari kemejanya, dia memakai kemejanya, dan meletakkan jasnya di bahu, "Lanjutkan latihan kalian! Jangan bermalas-malasan!" tegas Fabyan.


Pasukan Black Rose berdiri untuk melanjutkan latihan mereka.


"Tony ikut aku!"


"Baik, Tuan!" Tony mengikuti Fabyan dari arah belakang. Pria itu duduk di sofa empuknya sambil menatap lekat ke arah Tony.


"Kerahkan orang-orang mu untuk mencari seorang wanita bernama Clara!"


Tony mengernyitkan alisnya, "Siapa Clara, Tuan?"


"Seseorang yang sangat penting di dalam hatiku setelah Liora!" jawab Fabyan.


Fabyan berdiri, dia memberikan foto Clara pada Tony. Tony nampak lekat memandang wanita yang ada di foto.


"Cantik, seperti Nona Liora!"


"Tidak, mereka tidak sama! Wanita ini tidak seperti dugaan mu, dia seperti kucing liar yang manis!" gumam Fabyan tersenyum miring.


Ah, Anda rupanya sudah bisa move on dari masa lalu, Tuan!

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya akan mengerahkan orang-orang saya untuk mencarinya!" jawab Tony, kemudian pria bertubuh tinggi itu mengundurkan diri dari hadapan sang pimpinan Black Rose.


To be continued ...


__ADS_2