
Setelah mengambil posisi, mereka mulai bergerak ke kiri dan ke kanan. Fabyan membimbing Clara hingga gerakan Clara mulai lincah. Mereka terus menatap sambil tersenyum, Clara tidak menyangka, dirinya berlatih dansa. Padahal dulu saat sang Papa memberikannya guru dansa, Ia selalu menolak keras keinginan sang Papa. Sekarang dia baru merasa, ternyata belajar dansa itu tidak ada salahnya.
"Kerja bagus!"
"Aku berhasil!" Clara memeluk Fabyan dengan erat.
"Kau cukup hebat. Tetap saja, Aku gurumu. Orang yang sudah mengajarimu dengan sebaik-baiknya!"
Clara melepaskan pegangannya dari tangan Fabyan, "Kau memang sangat pintar merusak suasana hati seseorang ya!"
"Dan Kau wanita yang bisa membuatku terus tersenyum!" ujar Fabyan. Mendengar kata-kata Fabyan, sontak Clara tersipu malu.
"Ih, Kau membuatku tersipu malu!" pipi Clara sudah bersemu merah.
"Istirahatlah, sudah malam!"
"Ehm, Baiklah,"
Fabyan menarik dagu Clara, dan mencium keningnya, "Selamat beristirahat! Mimpi Indah!"
Clara memegangi keningnya sembari menatap kepergian Fabyan. Saat tangan Fabyan hendak meraih gagang pintu, Clara memanggilnya.
"Pak Fabyan!"
"Iya."
"Mimpi indah!"
Fabyan tersenyum tipis menatap Clara, "Kau juga harus mimpi indah!"
Pintu tertutup. Dia terduduk di atas kasurnya yang empuk. Kemudian memegangi kembali bekas kecupan Fabyan dikeningnya.
Dia merasa sangat aneh. Biasanya kehidupannya berjalan dengan normal. Tapi setelah bertemu dengan rektor muda itu, hatinya seakan loncat dari tempatnya.
Apakah ini yang disebut jatuh cinta?
Tapi kenapa rasanya sangat aneh? Ada rasa bahagia, haru dan perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Ahhhhhhh!
Clara menjambaki rambutnya sendiri. Dia senyam senyum mengingat kejadian barusan. Rasanya dia sangat senang dan bahagia.
°°°°°°°°
Keesokan Paginya
Setelah mandi dan berdandan cantik, Clara langsung keluar dari kamar mencari keberadaan Fabyan. Dia hendak mengajak Fabyan untuk menemui seseorang yang penting dalam hidupnya. Dan Fabyan harus mau mengikuti keinginannya.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!" suara Fabyan dari dalam kamarnya. Seseorang membuka gagang pintu, dan membukanya.
"Aaaaaaaa," Clara langsung menutup mata.
Fabyan menoleh ke arah Clara, "Apa?"
__ADS_1
"Apa yang Anda lakukan? Tutup itu!" Clara menunjuk burung yang sedang duduk bersantai di dalam sangkarnya.
"Apa yang harus ditutup?" ujar Fabyan dengan santainya.
"Itu yang manggut-manggut!" tunjuk Clara, hampir saja Fabyan terbahak.
"Tidak usah drama seperti novel ataupun film roman. Bukankah Kau pernah melihat pria bertelanjang seperti ini? Lagipula aku tidak bugil!" kata Fabyan yang masih belum memakai celana panjangnya. Burungnya yang masih tertutup ****** *****, Ia biarkan terekspos begitu saja di depan wanita cantik itu.
"Ish, Kau ini menyebalkan ya!" sungut wanita itu. Fabyan hanya terkekeh melihat ekspresi Clara saat pipinya merona merah. Mungkin dia malu, tapi penasaran juga ingin melihat ada makhluk apa disangkar hitam itu.
"Setelah menikah, Kau akan melihatnya setiap hari! Bahkan bisa lebih dari ini!" Fabyan berlalu ke kamar mandi.
"Apa?"
Clara yang mendapat perlakuan itu, berdecak sebal. Dia memukul-mukul pipinya, karena saat dirinya bersama pria itu, pipinya langsung berubah menjadi warna pink.
"Dasar singa jantan mesum!" sungut Clara.
"Siapa yang kau bilang singa jantan?" ternyata Fabyan mendengar umpatan Clara, "Aku?" ujarnya kepedean, "Aku memang setangguh dan segarang singa jantan!"
"Ck," Clara berdecak sebal.
"Ada apa?" tanya Fabyan.
"Ehm, sebelum kita menikah, kau mau tidak bertemu dengan anggota keluargaku?" tanyanya lirih.
Fabyan mengulas senyum, "Kapan?"
"Jadi Anda mau?"
"Kenapa tidak? Aku siap kapanpun kau mau mengajakku!"
Fabyan nampak berpikir, "Baiklah. Ayo bersiap-siap!"
"Yeay, Terimakasih banyak!" ujar Clara.
Lagi-lagi wanita itu membuat Fabyan tersenyum.
____
____
Setelah sarapan, mereka berencana untuk menemui Uncle Jo di Restaurant hotel. Clara ingin memperkenalkan Fabyan kepada Uncle Jo dan saudaranya yang lain. Selain itu, Clara juga ingin meminta restu pada pamannya tersebut. Bagaimanapun sekarang hanya Uncle Jo dan sepupunya, keluarga Clara sekarang. Clara sangat menyayangi mereka.
Sampai di Restaurant hotel ternyata mereka sudah berkumpul di sana. Di Restaurant tersebut juga ada Bu Laura dan Sofia. Clara begitu merindukan mereka berdua. Melihat mereka, Clara langsung berhambur kepelukan Bu Laura dan Sofia.
"Bu Clara!" panggil Bu Laura.
"Panggil Clara saja! Ibu adalah istri Papa. Jadi seperti Papa, Ibu panggil Clara saja!"
Bu Laura memeluk Clara seperti putrinya sendiri, bagaimana tidak. Clara dengan berani mengantarkan nyawa hanya untuk membebaskan dirinya dan Sofia.
"Kak!" panggil Sofia setelah tahu semua kebenarannya, "Bolehkah aku memanggil mu Kakak!" Clara terisak, kemudian memeluk Sofia.
"Jadi beginikah rasanya menjadi seorang Kakak!" senang Clara, "Sejak kecil aku selalu meminta kepada Papa. Agar Papa dan Mama membuatkan adik untukku. Tapi mereka selalu menolak. Sekarang aku tahu apa alasan mereka menolak!" Clara menoleh ke arah Bu Laura, "Dan aku sangat bahagia, aku langsung mendapatkan adik secantik kamu!" puji Clara.
__ADS_1
"Aku juga sangat bahagia. Kakak adalah kakak terbaik yang aku miliki!"
"Sofia!"mereka kembali berpelukkan.
Manik Clara menoleh ke arah Uncle Jo. Uncle Jo merentangkan kedua tangannya, Clara berlari memeluknya.
"Uncle!" isak Clara dipelukkan Uncle Jo, "Lama kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu Uncle!"
"Uncle juga!" Jonathan mengusap kepala Clara dengan lembut, "Kau sudah menjadi gadis dewasa yang sangat cantik seperti Mamamu. Kau juga tumbuh dengan baik dan hebat!" Clara tersenyum.
Setelah memeluk Uncle Jo, manik Clara menoleh ke arah Felix. Ia langsung membuang muka melihat Felix.
"Kenapa kau tidak menyapaku, Kelinci Kecil?"
"Untuk apa? Bukankah kemarin kita sudah bertemu!" galak Clara.
"Ih, dasar tidak tahu berterimakasih. Sudah ditolong, malah seperti itu!"
"Hey, berhentilah memanggilku Kelinci Kecil! Aku sudah bukan kelinci kecil!" ketus Clara.
"Bagiku Kau masih kelinci kecil!"
"Bukan!"
"Iya."
"Bukan!"
"Iya."
"Kalian ini seperti anjing dan kucing saja! Tidak pernah akur!" ucap Uncle Jo. Kemudian maniknya menatap ke arah pria yang berdiri sambil tersenyum melihat tingkah laku Clara dan Felix.
"Siapa pria tampan ini?" tanya Uncle Jo. Sontak semua mata menatap ke arah Fabyan.
Clara berjalan mendekati Fabyan. Dan menggandeng tangan Fabyan untuk Ia perkenalkan dengan anggota keluarganya.
"Kemarilah, akan aku perkenalkan dengan semua keluargaku!" ajaknya. Fabyan menurut saja.
"Mohon perhatiannya!" pinta Clara, "Semuanya bisa duduk di kursinya masing-masing! Aku ingin memberikan pengumuman penting!" ucap Clara seperti seorang MC.
"Perkenalkan, pria yang ada disampingku namanya Fabyan Bramantyo. Dia adalah seorang rektor dari sebuah Universitas ternama di kota ini. Sofia juga mengenalnya, bukan begitu Sofia!" Sofia hanya tersenyum canggung.
"Dan kedatangannya kemari ... !" Clara menggantungkan kalimatnya. Fabyan mengerti, mungkin karena mendadak Clara bingung harus mengatakan apa kepada keluarga besarnya.
"Perkenalkan saya Fabyan Bramantyo. Seperti yang dikatakan oleh Clara, saya seorang rektor di sebuah Universitas. Dan kedatangan saya kesini, saya ingin meminta izin kepada Uncle Jo sebagai pamannya Clara, dan juga saudara sepupunya, saya Fabyan Bramantyo meminta izin menikahi Clara untuk menjadi istri saya!" ucap Fabyan to the points.
"APA?" semua sangat terkejut mendengar ucapan Fabyan.
To be continued ..
°°°°°°
Hey², Bantu like.dan komentar.
Ayo pembaca kesayangan, bantu Author . Caranya gampang, kasih 5 komentar untuk karya ini. Gampang kan....😂😂😂
__ADS_1
Jadi jangan ragu-ragu kasih komentar. Author berterima kasih sekali buat para pembaca yang mau bersedekah komentar....😘😘😘
Salam sayang dari Author....🥰🥰🥰🥰🥰🥰