Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 30 : Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Clara merebahkan tubuhnya di kasur busa yang tidak terlalu empuk, tapi lumayan bisa untuk beristirahat. Tubuh dan otaknya terasa sangat lelah untuk berfikir. Ditambah lagi dijejali dengan pelajaran yang harus dia hapalkan dengan waktu sekejap, yang kemudian akan dia ajarkan di depan mahasiswanya. Rasanya dunianya sudah berputar dan berbanding terbalik.


"Lho, Kenapa lesu begitu, Neng?" tanya Bu Laura tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Nih Ibu buatkan susu hangat! Ayo minum!" suruhnya.


"Terimakasih banyak, Bu Laura! Saya jadi nggak merepotkan!"


"Nggak enak sama siapa sih? Ibu sudah menganggap Neng seperti anak sendiri! Jadi nggak usah merasa nggak enak ya!" ujarnya.


"Terimakasih!"



Manik Laura nampak mengamati ruangan kamar Clara. Ternyata ruangan yang dulunya adalah gudang sekarang disulap Clara menjadi tempat yang sangat nyaman dan bersih. Banyak tanaman di dalam pot yang ditempatkan Clara di jendela kamar dan sudut ruangan. Ada hiasan dinding, dan hiasan lampu menambah suasana sangat nyaman.


"Apakah kamu betah dikamar ini?" tanya Bu Laura tiba-tiba.


"Tentu saya betah, Bu!" jawabnya.


"Baguslah! Dulu ini kamarnya Sofia! Tapi, semenjak Sofia kenal dengan anak-anak bandel itu, dia sering keluyuran malam! Kalau ibu melarang, anak itu akan nekad turun dari jendela langsung ke bawah! Makanya Ibu memindahkan kamarnya di dekat kamar ibu! Agar ibu bisa memantau pergerakannya!" gelak Bu Laura mengingat kejadian lalu.


"Pasti Ibu sangat berat melalui ini semua hanya berdua dengan Sofia!" pancing Clara.


"Iya, sangat berat sekali! Kami selalu dihina dan dicaci maki! Mereka pikir Sofia itu lahir tanpa seorang ayah! Karena tidak pernah sekalipun saya mengijinkan ayahnya untuk datang melihat perkembangan Sofia!"


"Lho, kenapa?" Clara sangat penasaran dengan cerita Bu Laura.


"Karena ayahnya Sofia itu seorang Mafia!" lirih Ibu Laura.


"A-pa?" Clara sangat terkejut. Ternyata Bu Laura tahu kalau Papa seorang Mafia.


"Papanya Sofia dulu adalah seorang bodyguard. Tapi setelah menikah dengan saya, saya menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaan membahayakan itu. Karena menurut saya pekerjaan itu taruhannya adalah nyawa! Setelah keluar dari pekerjaannya, kehidupan kami sangat susah. Kami selalu berpindah-pindah tempat, dari tempat satu ke tempat yang lain! Suatu hari tanpa disengaja, Papanya Sofia menemukan seorang perempuan pingsan di jalanan sepi. Lalu dia membawa perempuan itu pulang ke rumah. Keadaan perempuan itu sangat kacau dan memprihatinkan. Kami pun memutuskan membawanya ke Rumah Sakit. Dan pihak RS mengatakan bahwa wanita itu adalah korban pemerkosaan. Sontak kami sangat terkejut! Kami pun menghubungi nomor keluarganya yang ada di kontak ponselnya! Kami ketakutan, kami takut disalahkan, kami pun memutuskan untuk pergi dari Rumah Sakit. Bahkan saking ketakutannya, kami juga pindah kontrakan. Yang letaknya jauh dari tempat kontrakan kami sebelumnya!" jelas Bu Laura panjang lebar.


"Lalu? Apa yang terjadi pada perempuan itu?"


"Kami nggak tahu nasibnya. Kami sudah pergi!" jawab Bu Laura, "Empat tahun berlalu, saat itu saya sedang mengandung. Hidup kami semakin susah, ditagih uang kontrakan, listrik, air dan lain-lain, belum lagi memikirkan biaya untuk kelahiran bayi kami. Kami sangat bingung saat itu. Tiba-tiba ada orang yang menawarkan pekerjaan untuk suami saya sebagai bodyguard. Awalnya saya menolak, tapi mereka berani bayar mahal untuk jasa suami saya. Akhirnya saya menyetujuinya, dan ini semua saya lakukan untuk anak yang ada di dalam kandungan saya!" Laura mulai terisak.


"Saya menyesal, harusnya saya tidak mengizinkan suami saya untuk menjadi bodyguard!"


"Apa yang terjadi dengan papanya Sofia?" Clara semakin penasaran dengan cerita Bu Laura.


____


____


"Ibuuuuuu?" panggil Sofia dari lantai satu, "Ibuuuuuu?"

__ADS_1


"Ibu ada di kamar Bu Clara!" sahut Bu Laura keras.


Terdengar sudah derap langkah Sofia menaiki anak tangga demi anak tangga. Lalu dia melongok kan sedikit kepalanya di celah pintu.


"Apa yang Ibu lakukan disini?" tanya Sofia mengembangkan senyum.


"Ibu sedang cerita sama Bu Clara!" jawabnya.


"Bu, Sofia lapar!" ujarnya.


"Iya sudah, Ibu buatkan makan malam dulu!"


"Ayo dong, Bu, Sofia sudah lapar banget! Sofia bantu ya, Bu!"


"Iya, Nak! Ayo kita ke dapur!"


Dengan manja Sofia merangkul pundak sang Ibu. Ada rasa iri di dalam hati Clara. Karena sejak kecil dia tidak pernah memeluk seorang ibu ataupun merasakan kasih sayangnya. Hanya Kakek, Papa dan ke tiga bersaudara yang menyayanginya.


Eh, tunggu! Bu Laura belum selesai menceritakan masa lalunya!


Uh, semua gara-gara Sofia yang tiba-tiba muncul!


"Kira-kira siapa wanita yang ditolong Papa? Lalu, kenapa mereka bisa sampai berpisah? Bu Laura juga tahu kalau Papa seorang Mafia!" gumam Clara sendiri.


Entah kenapa cerita Bu Laura membuat Clara kepikiran. Hatinya gelisah, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Jika Ia menekan Bu Laura untuk bercerita, maka Ia akan terkesan sedang mencari informasi.


Apa yang harus kulakukan?


Come on, Clara! Berpikirlah!


Tapi aku sangat penasaran dengan wanita yang ditolong oleh Papa! Siapa dia?


Lalu siapa orang-orang yang memperkerjakan Papa sebagai Bodyguard? Bagaimana bisa Papa menjadi Mafia yang notabenenya bukanlah keluarga Mafia?


Clara mengacak rambutnya sendiri karena frustasi. Memikirkan masalah ini membuat badannya kelelahan dan tentunya kepalanya pusing.


Clara kembali ke atas ranjang. Ia bertelungkup di bantal. Tidak lama dengkuran halus terdengar ternyata dia sudah tertidur.


_____


_____


Keesokkan harinya, Clara sudah bersiap akan ke kampus. Sentuhan terakhir, dia memakai kacamata bening yang kemarin baru saja Ia beli sebagai pengganti kacamata tebalnya yang rusak.


Dia tidak mau ada seseorang yang mengenalinya. Apalagi sampai anak buah Black Shadow tahu keberadaannya. Dan itu akan sangat bahaya sekali.


Dia menoleh ke arah kanan dan kiri. Suasana sedikit tenang, dan pengawal bayangan sepertinya sedang bersantai.

__ADS_1


Selama dia pergi, dia menyuruh beberapa pengawal bayangan untuk menjaga rumah yang ditempati Bu Laura. Besar kemungkinan, Black Shadow akan tahu keberadaan Bu Laura dan Sofia. Bagaimanapun mereka ada hubungannya dengan Ferdinand.


Apa karena Papa mafia, Bu Laura sengaja menjauh dari Papa? Atau ada alasan lain yang membuat Bu Laura harus menjauhi Papa!


Ah, aku harus memecahkan misteri ini!


Setelah sarapan, seperti biasa Clara berpamitan dengan Bu Laura. Hari ini dia berangkat ke kampus sendiri. Karena Sofia sudah terlebih dulu berangkat dengan Rafael.


Di jalan ponselnya bergetar. Dia menepikan motornya untuk mengangkat panggilan tersebut. Ternyata dari Shane.


"Hallo, Shane! Kau kemana saja? Aku menghubungi mu, kenapa kau tidak mengangkatnya?" cecar Clara.


"Apakah Nona rindu padaku?" godanya.


"Jangan mengada-ada ya! Mana mungkin aku rindu pada orang brengsek sepertimu!" kesal Clara.


"Aku pikir Nona rindu padaku!" gelaknya.


Hahahaha ...


Tawa tertawa lebar.


"Walaupun di dunia ini hanya ada satu pria yaitu kau! Aku lebih baik tidak menikah seumur hidup ku!" gelak Clara.


"Hey, Nona! Hati-hati kalau bicara! Bisa-bisa apa yang Anda katakan tenyata justru kebalikannya, bagaimana kalau ternyata saya adalah jodoh Anda?"


"Apa?"


Hahahaha ...


Clara tertawa lagi. Ternyata pagi-pagi Shane mampu membuatnya tertawa. Dan itu membuat perutnya lapar.


"Berhenti bercanda, Shane! Perutku lapar karena kebanyakan tertawa!" Clara mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat kebanyakan tertawa.


"Kau ada dimana?"


"Saya ada di jalan, ini saya akan ke kontrakan Anda!"


"Jangan! Aku nggak mau Bu Laura curiga!" ujar Clara, "Termui aku di Cafe X! Ada hal penting yang ingin aku katakan!"


"Oke, Saya langsung ke sana saja!"


_____


_____


Dengan kecepatan tinggi, Clara kembali melajukan motornya. Tujuannya untuk pergi ke Cafe X, karena dia ada janji dengan Shane. Dan ternyata Cafe tersebut letaknya tidak terlalu jauh dengan kampusnya mengajar.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2