Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen

Identitas Tersembunyi : My Beloved Mafia Queen
Bab 59 : Isi Hati Shane


__ADS_3

Felix dalam perjalanan arah pulang setelah mengantarkan Sofia ke rumah barunya, kemudian dia berencana kembali ke hotel. Namun ditengah perjalanan pulang tiba-tiba ponselnya berdering. Dia lihat nomor tidak dikenal dikontak teleponnya.


"Hallo, Siapa ini?"


"Apakah Anda, Tuan Felix?" tanya seorang perempuan.


"Iya, betul! Siapa Anda?"


"Nama saya Amel. Ini saya mau memberitahukan, Pak Shane ada di tempat karaoke. Dia mabuk. Apakah Anda bisa kesini?"


"Apa?" Felix sangat terkejut, "Oke, Sherlock saja lokasinya. Nanti saya langsung ke situ!"


"Oke. Saya Sherlock lokasinya!"


"Terimakasih banyak!"


Tut ... Tut ... Tut


Aduh, kenapa dengan Shane? Nggak biasanya dia kayak gitu!


Aku harus ke sana!


Felix melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang menunju alamat yang di Sherlock oleh wanita bernama Amel. Felix nggak habis pikir, rasanya baru kali ini dia mendengar Shane mabuk berat, padahal jika mereka semua berkumpul, hanya Shane yang bisa mempertahankan kesadarannya, tapi kali ini sepertinya Shane sedang ada masalah berat.


Sepanjang perjalanan otak Felix dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Namun dia masih belum menemukan jawaban kenapa Shane sampai mabuk begitu.


Felix sampai di alamat yang dikirim wanita itu, sebuah tempat karaoke. Dia memasuki sebuah ruangan dengan minim pencahayaan, karena dari TV LED nya saja sudah cukup terang. Suara menggema di dalam ruangan, dentuman musik memekikkan telinga.


Shane tergeletak di sebuah sofa panjang dengan wanita-wanita seksi di kanan kirinya, wanita dengan pakaian yang sangat minim.


"Shane!" Felix menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya. Tidak bergerak.


"Apakah Tuan yang bernama Felix?"


"Iya,"


"Saya Amel, tadi yang menelfon Anda!"


"Oh, terimakasih banyak! Saya akan membawanya pulang!" ucap Felix.


"Silahkan!" jawab wanita seksi itu.


Terpaksa Felix harus memapah tubuh Shane hingga parkiran. Sepertinya Shane sangat mabuk, dia sampai tidak sadar beberapa kali kepalanya kebentur pintu.


Felix meletakkan tubuh sahabatnya di mobil. Kemudian barulah Ia menjalankan mobil meninggalkan tempat karaoke tersebut.


"Kau kenapa sih, Shane? Kenapa kau jadi kacau begini?" ucap Felix merasa aneh dengan sahabatnya itu.


Hoek ... Hoek ... Hoek


Shane mengeluarkan semua isi perutnya, dan muntah di mobil milik Felix.

__ADS_1


"Ah, SHITT!" umpat Felix, "Kenapa kau muntah di mobil ku sih? Ah, kau ini!" Felix sedikit kesal. Felix menghentikan mobilnya, dan menarik tubuh Shane supaya keluar. Di tepi jalan Shane kembali mengeluarkan isi perutnya.


Hoek ... Hoek ... Hoek


"Auh!" Shane menyeka keringat yang keluar membasahi dahinya.


"Kau ini minum berapa banyak sih? Kenapa kau bisa semabuk itu?" gerutu Felix.


"Ah, cuma 3!" jawab Shane mengatur nafasnya.


"Cuma 3 tapi kau semabuk itu?"


"3 botol,"


"Apa?" mata Felix membola, "Astaga! Kau ini kenapa? Tidak biasanya kau minum sebanyak itu!"


Shane hanya mengulas senyum.


"Ayo kita pulang, aku ingin istirahat!" ucap Shane langsung naik ke mobil Felix, dan duduk di kursi penumpang.


"Hey, Kau bersihkan dulu sisa muntahmu! Kenapa langsung duduk di belakang?"


"Besok saja! Langsung bawa ke car wash!"


"Enak sekali kau bicara!" manyun Felix.


"Kau tenang saja, nanti kau bisa pakai mobilku!"


"Ck, Kau ini ya! Untung Kau saudaraku, Kalau bukan aku pastikan kau tidak akan selamat!" berengut Felix. Shane hanya duduk bersandar sambil terkekeh.


_____


_____


"Huft, entahlah. Aku tidak tahu!"


"Jujurlah, Apa yang terjadi padamu? Aku sangat khawatir melihat keadaan mu!"


"Andai saja Clara yang mengkhawatirkan keadaan ku!"


"Oh, jadi ini karena Clara. Apa yang kemarin memecahkan vas bunga itu kau?" Felix mengira-ngira. Shane hanya mengangguk, Felix bisa melihat dari kaca spion mobil depan kalau Shane mengangguk.


"Jadi Kau mendengar semuanya?"


"Iya. Aku mendengar semuanya. Clara akan menikah!"


Felix menghela nafasnya berat. Sekarang dia mengerti kenapa Shane sebegitu hancurnya. Pasti dia sangat perduli dengan Clara, mendengar Clara akan menikah, menjadi sebuah pukulan berat bagi sahabatnya.


"Lo harus bisa melupakan Clara! Bukankah dulu kita berlima selalu baik-baik saja. Kita saling melindungi dan saling menyayangi!" tutur Felix, "Kenapa kita tidak seperti dulu saja?"


"Iya, akan aku usahakan!" jawab Shane singkat, tatapannya menerawang jauh melihat langit yang sudah gelap. Hanya terlihat bintang-bintang berkelap-kelip.

__ADS_1


Sementara Clara di rumah Fabyan diperlakukan seperti Ratu oleh Mama Santi. Betapa bahagianya, akhirnya putra pertamanya akan menikah. Akhirnya Fabyan menemukan kebahagiaannya, setelah bertahun-tahun dia kehilangan senyuman karena telah kehilangan seseorang yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Kini ada seorang wanita yang mampu membuat putranya kembali tersenyum, bahkan bibir itu menyunggingkan senyum lebar.


Berbeda dengan Abrisam, raut mukanya tidak sebahagia istrinya. Dia nampak masam melihat mereka tertawa dan tersenyum. Apalagi melihat istri dan putranya begitu senang dengan kehadiran wanita yang tidak jelas asal-usulnya.


*Ck, belum juga tahu asal-usulnya sudah bahagia seperti itu! Mama akan menyesal kalau ternyata menantunya itu orang kere alias miskin.


Papa heran dengan Fabyan, sudah jelas Papa memberikan calon anak seorang pengusaha. Eh, malah milih dosen yang nggak jelas*!


"Clara, temani Mama ke mall yuk! Mama mau belanja!"


"Hah, belanja? Tapi kan Ma, Clara nggak suka belanja!" jawab Clara.


"Lho kok nggak suka belanja. Wanita itu kan kebanyakan hobi belanja dan shoping-shoping!" ujar Mama Santi.


"Iyalah Ma. Dia nggak suka belanja. Mana ada duit dia untuk belanja?" Abrisam meremehkan Clara.


Ya Ampun, nih orang mulutnya pedes banget! Untung dia Papanya, Fabyan. Coba kalau bukan, aku tembak dia!


"Kamu nggak sedang mengumpat Papaku kan?" bisik Fabyan membuat bola mata Clara membulat sempurna. Kemudian dia tersenyum tipis.


"Nggak kok! Nggak berani! Hehehehe!"


"Jangan ambil hati kata-kata Papaku. Anggap saja angin lalu!" bisik Fabyan lagi. Clara terkekeh mendengarnya.


"Ih, Papa. Nggak baik merendahkan seseorang!" ujar Mama Santi.


"Papa nggak merendahkan orang, Mah! Papa bicara sesuai kenyataan!"


"Hhhhh, Pah. Cukup ya, Papa menyudutkan dan merendahkan Clara. Fabyan nggak suka. Jika Papa nggak mau menghargai Clara sebagai calon istri Fabyan, lebih baik kami pergi!" tegas Fabyan.


"Jangan dong, Nak!" Mama Santi menghalang-halangi Fabyan untuk pergi dari rumahnya.


"Papa, Ini semua gara-gara Papa! Kayaknya Papa tuh seneng ya, kalau anak-anak kita pergi dari rumah ini! Kalau sikap Papa kayak gini terus, mulai hari ini Mama mau tinggal di rumah Fabyan saja!" ucap Mama Santi.


"Eh, Eh, jangan dong, Ma! Masa Mama tega ninggalin Papa di rumah sendiri!"


"Habisnya Papa kayak gitu! Mama nggak suka, Pa! Kenapa sih Papa nggak pernah mendukung keinginan anak-anak kita?" Mama Santi mulai kesal dengan sikap Papa, "Kalau Papa kayak gini terus, lebih baik Mama ikut Fabyan dan tinggal dirumahnya!" tegas Mama Santi.


"Iya, iya, Mah! Papa nggak akan mengekang keinginan anak-anak kita. Tapi Mama jangan pergi ya!"


"Bodo amat!" ucap Mama Santi.


"Clara, Ayo kita jalan-jalan! Lebih baik kita cari udara segar diluar!" ucap Mama sambil menggandeng tangan calon menantunya.


"Mama!" panggil Papa, tapi Mama nggak menggubris panggilan Papa. Dia langsung pergi begitu saja. Sementara Fabyan tergelak bahagia melihat Papa menderita ditinggal Mama.


"Makanya, Pa! Jadi orang itu jangan suka merendahkan orang lain, tuh Mama saja nggak suka! Apalagi aku dan anak-anak Papa yang lain!" cibir Fabyan.


"Ah, tutup mulut kamu! Jangan kamu pikir kamu dibela sama Mama kamu, terus kamu jadi besar kepala ya!" kesal Abrisam. Fabyan hanya terkekeh geli melihat tingkah Papanya.


*Astaga orang tua ini mulutnya seperti cabe! Hahahaha, Fabyan tergelak.

__ADS_1


To be continued ...


Bantu Like dan Komentar, Sayang.....🥰🥰🥰🥰🥰🥰*


__ADS_2