
Clara mengelilingi rumah Fabyan saat pria itu tidak ada. Ternyata rumah Fabyan sangat nyaman. Berada di tengah-tengah hutan, yang dikelilingi pepohonan yang lebat. Dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia dan polusi udara.
Clara duduk di sofa, kemudian dia beranjak dari duduknya untuk melihat sisi lain dari rumah ini.
"Nyamannya!" Clara merentangkan kedua tangannya, menghirup udara banyak-banyak. Mungkin bisa dibilang rakus, tapi, ini pertama kalinya dia tinggal di rumah senyaman itu.
Clara berjalan ke arah kolam renang. Dari kolam renang, dia duduk dipinggiran dan memainkan air dengan kakinya.
Clara mendengar pintu dibuka. Dia yakin, yang datang adalah Fabyan. Dia pun berlari mencari keberadaan Fabyan.
"Pak Fabyan!" panggil gadis cantik itu. Fabyan tersenyum.
"Pak Fabyan dari mana?" tanya gadis itu.
"Aku habis belanja," jawabnya seraya menaruh semua barang-barang belanjaannya di dapur, "Bisa bantu aku!"
"Oh, tentu!" jawab Clara.
Sebagian belanjaan Fabyan tata di kulkas, dan sebagian belanjaan yang kering dia simpan di dalam lemari.
"Bapak belanja sebanyak ini mau memasak?" tanya Clara. Karena memang belanjaan yang Fabyan beli semuanya bahan-bahan makanan.
"Hem, aku akan memasak untukmu!" jawabnya.
"Memang Bapak bisa masak?" tanya Clara meremehkan.
Fabyan tersenyum miring, "Kita lihat saja nanti!"
Fabyan mengambil bahan-bahan makanan dari kulkas. Kemudian memotong-motongnya menjadi bulatan kecil. Menyiapkan bumbu-bumbu. Dan peralatan memasak.
Clara duduk dipinggiran kaca jendela yang besar, sambil memperhatikan apa yang dilakukan Fabyan. Fabyan sangat lihai menggunakan peralatan memasaknya.
Clara sangat kagum dengan pria itu. Dia tidak menyangka selain bisa mempergunakan pistol, ternyata tangannya sangat ahli memotong daging dan sayuran dengan sangat cepat, bahkan menjadikan bahan makanan tersebut menjadi makanan yang aromanya menggugah selera.
Sentuhan terakhir ia berikan saus di atas daging bistik nya. Dan hasilnya Perfecto..👌👌
"Wow, Anda hebat sekali!" puji Clara.
Fabyan tersenyum, dan memberikan satu piring bistik daging kepada Clara, "Cobalah!"
"Buat saya?" tanya Clara, Fabyan mengangguk.
Fabyan membantu memotong-motong dagingnya. Kemudian menyuapkannya ke arah gadis cantik itu.
"Aaaaaaaaaa!" Clara membuka mulutnya, ternyata suapannya itu ditujukan pada mulutnya sendiri.
"Ih, jahil!" Clara memukul-mukul pelan dada Fabyan.
"Oke, oke, sekarang giliran mu!" ujarnya, "Ayo buka mulut kamu! Aaaaaaaaaa!"
Clara sedikit mencebikkan bibirnya.
"Ayo buka mulutnya!"
"Nggak mau, nanti Bapak jahil lagi!" manyun Clara.
"Ayo! Aaaaaaaa!" Clara pun membuka mulutnya lebar-lebar, dan ...
Hap ...
Rasanya memang sangat enak. Tidak kalah dengan masakan hotel bintang lima. Dagingnya empuk, bumbunya sangat meresap.
"Gimana?"
"Enak, Pak!" jawab Clara.
"Baguslah kalau kamu suka!"
Fabyan mendekat ke arah Clara. Dan mengusap bumbu yang menempel di bibir gadis itu dengan tangannya, membuat Clara tersipu malu.
__ADS_1
"Kau sangat Cantik! Kau berbeda dengan wanita manapun!" lirihnya.
"Gombal!" Clara mendorong dada bidang Fabyan, dan menarik kumis Fabyan dengan keras, membuat Fabyan memekik kesakitan.
Clara yang berhasil membuat Fabyan memekik kesakitan, dia pun berlari sambil menjulurkan lidahnya. Dan semua itu membuat Fabyan semakin gemas melihat gadis itu.
Fabyan pun berlari mengejar wanita cantik itu, hingga berhasil menangkap tubuhnya, dan mereka jatuh secara bersamaan di sofa yang empuk.
Tatapan mereka saling bertemu. Saling mengunci.
"Gadis nakal!" ucap Fabyan hendak menyentil dahi Clara, tapi dengan sigap Clara menutupinya. Membuat Fabyan terkekeh.
"Apa kau sudah tidak sedih?" tanya Fabyan menatapnya intens. Bahkan Clara bisa merasakan deru nafasnya yang hangat.
"Nggak, Pak! Saya nggak sedih!" jawabnya, "Saya cuma syok! Dan saya butuh waktu untuk menerima semua ini!"
"Bagus. Aku suka dengan pemikiran mu!" ujarnya sambil mengacak rambut Clara.
"Please ya, jangan acak rambut saya, Pak! Orang saya sudah cantik begini!"
Fabyan tergelak melihat bibir Clara yang mengerucut, "Oya, tuh tadi aku beliin baju buat kamu! Mudah-mudahan kamu suka!"
"Terimakasih banyak, Pak!" senyum Clara.
Bersambung ...
Hey² mampir juga yuk ke ceritaku yang lain...
Judul : Kadarsih ( pelet pengasihan lintrik )
Sudah ada audio booksnya lho....🥰🥰🥰
# Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik )
Lolongan serigala saling bersahutan, suara burung gagak terdengar jelas. Malam yang semakin temaram membuat hawa disekitarnya semakin mencekam. Angin berhembus kencang, menggoyangkan daun bambu yang menjuntai hingga tanah.
Kadarsih keluar dari bilik bambu milik Nyai Suketi. Maniknya melihat halaman sekitar. Kuduknya berdiri merinding, melihat gelapnya malam tanpa ada cahaya sebagai penerang. Karena memang, bilik bambu milik Nyai Suketi berada ditengah hutan. Jauh dari perkampungan.
"Darsih?" panggilnya seraya memegang bahu Kadarsih. Membuat Darsih terhenyak dari lamunan horornya.
"Ganti pakaianmu dengan ini!" suruh Nyai Suketi.
"Baik, Nyai," hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Darsih. Dia menuruti apa yang diperintahkan oleh Nyai Suketi. Darsih menutupi tubuhnya dengan jarit, dari dada sampai lutut.
"Kita akan kemana, Nyai?" tanya Darsih, melihat Nyai Suketi membawa obor sebagai penerangan.
"Ikuti saja aku!"
Nyai membawa Darsih memasuki bagian dalam hutan. Hanya kegelapan demi kegelapan yang nampak didepan mata. Dia menelisik lebih jauh. Sekelebatan muncul, kemudian menghilang kembali. Entah apa itu. Darsih mengekor di belakang Nyai.
Hingga tibalah ditengah hutan terdalam. Ada tanah yang cukup lapang. Dimana di sana terdapat satu tempat air besar, terbuat dari tanah liat. Yang isinya air dan berbagai jenis bunga.
"Darsih, duduklah di sini!" surah Nyai Suketi. Darsih menurut seperti anak ayam yang mengikuti kata-kata induknya. Nyai membaca sesuatu, terlihat mulutnya komat-kamit, entah apa yang dibaca oleh Nyai. Selesai membaca sesuatu, dia menyiramkan air bunga ke tubuh Darsih, seraya mulutnya terus membaca sesuatu. Dan meniupkan ke tubuhnya.
Kadarsih merasakan tubuhnya sangat panas. Ada sesuatu yang masuk di dalam dirinya, entah apa itu. Dia berkeringat, saat panas itu terus masuk lewat ubun-ubun kepalanya, membuatnya berteriak dengan keras, seraya meremas ujung jaritnya. Tiba-tiba rasa panas berubah menjadi rasa dingin yang luar biasa. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tubuhnya kembali normal seperti sedia kala.
"Sekarang, Kau sudah menjadi muridku. Dan, Kau sudah melakukan ritual pertama!" ucap Nyai, "Besok adalah ritual kedua. Kau harus siap!" ucapnya.
"Baik, Nyai," jawab Darsih menganggukkan kepalanya. Mereka kembali ke bilik kayu sebelum subuh menjelang.
Disepanjang perjalanan pulang ke bilik, ada sesuatu yang aneh dipenglihatanya. Banyak sekelebatan yang hilir mudik didepannya. Bahkan ini sangatlah jelas. Mata Kadarsih membulat sempurna, saat makhluk bertubuh tinggi besar, berdiri di dekat pohon beringin dengan mata melotot tajam menatap ke arahnya. Tentu, Darsih sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat.
"Bukan hanya itu yang akan kau lihat!" ucap Nyai. Darsih mengalihkan pandangannya ke arah Nyai.
"Nanti akan ada makhluk lain yang akan kau lihat," imbuhnya lagi.
"Maksud, Nyai?"
"Itu adalah genderuwo, penunggu pohon beringin itu," jawab Nyai. Sontak Darsih bergidik ngeri.
Mereka kembali meneruskan perjalanan pulang keluar hutan. Daun bambu yang menjuntai ke tanah, semakin menjuntai. Seketika suara nyaring bertengger di pohon bambu itu. Mata Darsih bisa menangkap dengan jelas, sekelebat makhluk berpakaian putih, dengan mata yang hitam pekat, wajah yang pucat, terkekeh ke arahnya.
"Apa itu?" kejut Darsih.
__ADS_1
"Kuntilanak," sahut Nyai datar tanpa menunjukkan ekspresi takut atau apapun.
"Kuntilanak?" merindingnya.
"Kita harus cepat pulang sebelum subuh menjelang!" ucap Nyai.
"Baik, Nyai,"
Darsih melangkahkan kakinya cepat, mengekor tepat dibelakang Nyai. Entah makhluk apa yang akan ditemuinya lagi, Darsih tidak tahu. Dia hanya berusaha untuk mempersiapkan diri untuk tidak takut kepada apapun.
Ritual Kedua
Darsih terbangun dari tidur, kala dia memimpikan kedua buah hatinya. Mereka datang dan memeluknya. Namun, keadaannya sangatlah memprihatinkan. Tubuhnya gosong, dan berbau daging panggang yang membuat perutnya seperti diaduk-aduk. Seketika dia terbangun dari alam bawah sadarnya.
Keringat dingin mengucur di dahi. Dia menyeka dengan punggung tangannya. Darsih bangkit dari tidur, kala mendengar suara anak-anak riuh di depan. Dia mengintip dari jendela kamar, dan melihat dari sembarang arah. Banyak anak-anak bertubuh kecil dengan kepala yang pelontos, raut mukanya sungguh menyeramkan. Mendekat ke arahnya.
Darsih beringsut dari tempatnya berdiri. Dia ketakutan ketika anak-anak itu mendekatinya. Semakin mendekat, dan sangat dekat. Saat, dirinya menutup mata untuk tidak melihat, anak-anak itu menghilang entah kemana. Darsih menarik nafasnya lega.
"Darsih?" panggil Nyai.
"Iya, Nyai," sahutnya, seraya mendekat ke sumber suara.
"Ikuti aku!" ajaknya.
Nyai Suketi mengajaknya ke sebuah ruangan yang sangat tertutup. Dia membuka gembok pintu itu. Pertanda bahwa ruangan tersebut jarang ia gunakan. Bahkan mungkin ruangan khusus yang tidak boleh seorangpun tahu ada apa didalamnya.
Mereka memasuki ruangan yang gelap. Nyai menyalakan lilin sebagai penerangnya. Cat dinding berwarna serba merah, dan kain penutup juga berwarna merah. Sungguh sangat mistis, batin Kadarsih sendiri.
Nyai menyuruh Darsih duduk di depannya. Dengan menyilangkan kedua kakinya, Darsih duduk tepat di depan Nyai Suketi. Nyai membakar menyan di atas cinglo ( tempat untuk membakar kemenyan ). Aroma kemenyan menyeruak hingga indera penciuman.
Nyai mengambil sesuatu dari peti kecil. Dengan perlahan dia membuka kotak tersebut. Satu kotak kartu domino ia letakkan di atas meja. Kadarsih belum mengerti apa maksud Nyai mengeluarkan kartu domino. Namun nampak terlihat kartu Domino yang digunakan Nyai berbeda dengan kartu Domino yang pernah ia lihat. Darsih menautkan kedua alisnya.
"Ilmu yang aku ajarkan kepadamu adalah ilmu pelet pengasihan lintrik," ucapnya. Darsih mendengarnya dengan seksama.
"Apakah saya boleh tahu Nyai? Apa itu ilmu pengasihan lintrik?"
"Ilmu lintrik adalah ilmu untuk meramal dan memelet seseorang dengan ritual tertentu. Ilmu ini adalah ilmu yang diturunkan atau diwariskan oleh para leluhurku dulu. Untuk mendapatkan kesaktian dari kartu ceki atau kartu lintrik, kita membutuhkan ritual-ritual khusus yang sangat berat. Apakah kau siap?" tanya Nyai.
"Iya, Nyai. Saya siap!" sahutnya.
"Bagus. Nanti malam ambillah tanah di pemakaman angker. Tanah kuburan milik Mbah Jambrong. Di sanalah tempat paling angker di desa. Pergilah ke sana tanpa memakai busana sehelai benangpun. Kau harus bertelanjang, dan jangan sampai ada seorangpun yang mengetahuinya," ucap Nyai.
"Bertelanjang?"
"Iya, itu adalah persyaratannya," jawab Nyai. Darsih nampak berfikir.
"Baiklah, Nyai," jawab Darsih menganggukkan kepalanya.
"Makhluk apapun yang kau temui di jalanmu nanti jangan kau hiraukan. Teruslah berjalan hingga kau berhasil membawa segenggam tanah kuburan. Kau mengerti?"
"Baik, Nyai. Saya mengerti," jawab Darsih.
to be continued .....
☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️
Hey, para Readers ku....
Cerita ini hanya pandangan pribadi dari Author sendiri, Mohon maaf apabila ada kesamaan tokoh, tempat kejadian, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Untuk penjelasan Ilmu Lintriknya sendiri, Silahkan cek di google ( Kabar Besuki of part pikiran rakyat media network ), karena Author mengacu pada tulisan tersebut.
Terimakasih banyak atas dukungannya, tetap like, komentar, dan votenya....❤️❤️❤️